
Ucapan Josua dianggap Naya sebagai ungkapan perasaan yang membuat langkahnya jadi semangat dan menggebu untuk kembali ke kost. Sejenak semua masalah Ia lupakan, mau itu masalah dengan Lilis, keluarga, pelajaran atau apapun itu.
Masih dalam keadaan suasana hati yang senang, Naya melihat Roy dengan wajah lesu di dekat salah satu pohon di luar gerbang sekolahnya. Gadis itu menghampirinya dan menyapa,
"Hai,"
Roy menoleh. "Langsung pulang yuk, mendung nih." Naya menurut.
Sampai di kost, Roy kebelet. "Aku mampir sebentar ya, mau ke kamar mandi." Ucap Roy setelah mematikan motornya.
Naya mengangguk. Gadis itu masih di teras, mencoba merasakan rasukan angin yang menepis kulitnya di tengah mendung. Melihat gerimis kecil-kecil dan dedaunan yang jatuh manja akibat angin membuatnya memejamkan mata.
Hujan sudah mulai turun membuat semangat gadis itu bergelora, Ia tidak bisa menolak panggilan alam yang ada di dalam dirinya. Naya melepas sepatu dan tasnya, meletakkan di sembarang tempat agar tidak kena hujan.
Di tengah derasnya hujan yang sedari tadi di nanti, gadis itu merentangkan tangannya. Menengadahkan wajahnya ke langit, lagi-lagi ia terpesona dengan ciptaan Tuhan melalui hujan.
"Ning, Nang, heeee, hoooo, syalalalala..."
Berbagai jenis iringan musik mulai merasuki Naya, tentu hanya gadis itu yang mendengar karena berasal dari hatinya. Dia mulai menghentakkan kakinya satu persatu, mulai memutar tangannya ke depan ke belakang, memainkan jemarinya, sesekali Ia bernyanyi, senyumnya tidak pernah luput saat menari di bawah hujan.
Roy yang baru saja dari kamar mandi panik melihat Naya sudah basah kuyup.
"Naya kamu ngapain?" Roy langsung menarik Naya ke teras. "Nanti kamu sakit."
"Roy tenang aja, aku udah biasa main hujan. Kamu mau ikut?"
"Hn?"
"Udah, ayo."
Naya menarik pemuda itu dan membawanya ke tengah guyuran hujan. "Coba rentangkan kedua tangan kamu, terus tutup mata." Naya memberi instruksi. "Coba kamu bayangin hal-hal indah, terus dengerin musik yang mulai hadir di pikiran kamu."
Roy mempraktekkan apa yang di ucapkan sang kekasih (walau demi balas dendam).
Namun Ia juga terlena dan kemudian tersenyum, membuat Naya jadi teriak kegirangan.
Gadis itu tidak lagi sungkan untuk menari, melompat dan bernyanyi di hadapan Roy. Urat malunya sudah putus. Namun itu membuat Roy ikut menari kecil-kecilan bersama gadis itu. Dan tak sedikit mereka tersenyum dan tertawa di bawah langit yang menurunkan airnya.
Redanya hujan membuat kedua remaja ini jadi menggigil di teras. "Kamu mandi sana, nanti aku kasih baju." ucap Naya.
"Kamu aja dulu, bibir kamu udah pucat itu."
__ADS_1
"Enggak, ah. Aku mau nunggu hujan ronde dua."
"Emang ada?"
Naya melirik ke langit, "masih mendung kok, pasti ada ini."
"Kamu sering main hujan ya?"
"He'em."
"Enggak takut sakit?"
"Udah terbiasa dari dulu, walau hujan gini aku enggak sakit."
"Kamu suka hujan?"
Naya mengangguk tersenyum. "Setiap aku main hujan, aku rasa beban aku tuh enggak ada lagi. Adem, sejuk.."
"Dingin Nay, bukan sejuk."
Naya tertawa pelan, "aku tuh suka main hujan terinspirasi dari film India, tahu enggak? Kan mereka sering nari di hujan gitu."
"Dih, ngikut."
"Karena film India juga?"
"Iya. Coba aja perhatiin di filmnya, mau senang, sedih, pasti nari." Jawab Naya dan kembali tersenyum. "Dan nari di tengah hujan kaya gini buat aku nemuin cara baru bersyukur sama Sang Pencipta."
Roy menoleh. "Maksudnya?"
"Aku bisa nyanyi ucapan syukur tanpa di lihat dan di dengar banyak orang, hanya melalui alat musik yang di pikiran aku." Jawabnya dan membalas tatapan pemuda yang saat ini berstatus kekasihnya.
"Ha,ha,ha,,,, cim!"
Roy mengucek hidungnya hingga memerah. "Ya ampun." Pekik Naya lalu menarik sang kekasih ke kamar mandi.
Sementara Roy mandi, Naya menyiapkan baju untuknya. Gadis itu punya koleksi baju kaos oblong yang netral untuk pria maupun wanita. Namun Ia sudah cengengesan karena punya ide gila.
"Nih, pakai."
Roy melongo melihat celana bola pendek pink dengan kaos oblong pink. "Pink?" Tapi sambil menelan ludah.
__ADS_1
"Kaos aku yang lain belum kering, tuh masih di jemuran, makin di guyur hujan lagi." Naya menunjuk keluar, memang di sana ada beberapa kaos warna hitam. "Kamu pakai ini dulu, aku mau mandi." Ucap Naya berlalu, sampai di kamar mandi gadis itu terbahak.
Jo, kuharap Roy cepat mundur. Dan kamu, bakalan cepat kesini, ke relung hatiku. Naya.
***
Naya sudah siap mandi dengan baju terusan santai. Lagi, Ia tertawa melihat Roy. Tapi kali ini dengan terus terang di hadapan pemuda itu.
Roy mendecak, "aku udah cocok banget nih jadi sales bedak serba pink." Ucapnya memelas.
Naya semakin terbahak, mengambil ponselnya dan memotret sang kekasih berulang kali.
"Jangan Nay, aku malu." Roy menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Namun Naya mencubit gemas perut pemuda itu dan membuatnya menampakkan wajah, lagi Naya mengambil potret.
Karena gemas, Roy merampas ponsel Naya dan menggelitik tubuh gadis itu. "Eh, geliiii.." Pekik Naya sambil tertawa. Ia tidak bisa membalas Roy, karena ukuran tubuh mereka sangat berbeda jauh.
Naya menginjak kaki Roy dan membuat pemuda itu mengaduh, lalu berlari ke arah sofa yang ada di ruang tamu kostnya dengan nafas yang tersengal. Roy dengan tatapan geram sekaligus gemas, menyusul dan melancarkan aksi menggelitik.
Karena terlalu asyik saling tertawa, posisi mereka sekarang sangat dekat. Kedua tangan Roy melingkar di perut gadis itu dan Naya masih tertawa. "Udah, dong."
"Siapa suruh main injak-injak kaki, ha? Rasain nih." Kembali menggelitik.
Naya dengan cepat menghentakkan kakinya agar terlepas dari pemuda itu, maklumlah jurus karate yang melekat pada dirinya sudah terbiasa di gunakan untuk melepaskan diri saat di posisi penguncian tubuh seperti saat ini. Namun sayang, karena sama-sama kuat, akhirnya kedua remaja itu pun jatuh ke sofa, dengan posisi Naya di bawah.
Hening.
"Astaga!!!" Pekik rombongan penghuni kost 21 yang baru pulang dari sekolah.
Naya tersadar, dan mendorong Roy hingga terjatuh ke lantai. "Rh, maaf." Ucapnya jadi tertawa salah tingkah.
Roy cemberut. "Ganggu banget sih." gerutunya.
"Ya kan kami enggak tahu Bang, maaf. Ya udah ulangi aja lagi, kami pura-pura enggak tahu." Ucap Rika menutup mata dengan kedua tangannya lalu berbalik menuju kamarnya dan di susul yang lainnya dengan kebisuan plus senyam-senyum.
Roy menggaruk tengkuknya, "mau di ulang?"
"Eh?!"
***
Hai, aku Maya, senang tulisan untuk "Pemilik Halu" udah 20 eps. Semoga kalian para netizen juga senang.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, ga usah di subrek, novel soalnya bukan yutup.😂