
Sore itu, Naya habis pulang kerja. Dia mampir sebentar ke mall untuk melihat barang-barang yang sekiranya belum ada kost elitnya. Kalau pun barangnya sudah ada, barangkali warna yang lain disuka akan dibelinya.
"Itu tas Pedronya cantik banget. Di kost ada sih, tapi itu ukurannya kecil, ya udah beli yang sedang ah,"
Dan ya, diapun membuka dan mengambil dompet segera ke kasir setelah membawa barang yang ingin beli.
Seboros itu Naya yang sekarang saudara-saudara. Turut berduka atas hikmat yang sudah hilang. Hadeh.
Dia pun bersantai dan tiduran di tempat tidur setelah sampai di kost. Dilihatnya ada panggilan grup dari para sahabatnya dulu. Iya dulu, karena sejak mereka tamat sekolah, mereka hanya jadi penonton story.
"Hm? Tumben." Jarinya menggeser ikon video ke atas untuk menjawab, "hai" sapa gadis itu.
Ada Josua.
"Hai," Balas Niel. Karena hanya pemuda itu yang belakangan ini agak sering mengganggunya.
Apa-apaan, yang di dalam grup video call ada lima orang, kenapa hanya Niel yang balas menyapa?
"Eh, Wid, Din, gimana kabar kalian?" Menghilangkan gengsi. Dan di jawab seadanya dari mereka. Apa yang salah ya Lord?!
"Dinda, kalau ada yang nyapa itu di balas," Ucap seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh telinga Naya.
"Ya suka aku dong." Balas Dinda sewot.
Terdengar Josua menghela nafas, "hidup itu gak boleh suka-suka Din, kita itu hidup saling bergantungan, gak boleh suka-suka."
"Iya, iya, Jo."
Naya terdiam. Bukannya dia tidak senang melihat sahabat-sahabatnya saling menasehati, tapi tetap saja, dia cemburu. Banyak, bukan sedikit.
Beberapa hari lalu, Niel memberi kabar tentang Josua yang katanya sudah kembali ke kota dimana Naya berada. Tapi ada hal yang membuatnya sesak nafas, ternyata Josua dan Widya sudah jadian. Lalu Widya hubungan dengan Niel? Entahlah.
Setelah mendengar kabar itu, Naya berusaha tegar. Dia memblokir semua pertemanannya dengan Josua. Dari Facebook, WhatsApp, Instagram, bahkan nomor hpnya pun diblokir. Kenapa harus main blokir? Anak-anak sekali. Begitu mungkin tanggapan banyak orang. Tapi satu orang yang telah mengajari Naya tentang hal ini,
"Blokir sosmed orang itu bukan sikap anak-anak, terkadang jika ingin melupakan, apa yang bersangkutan dengan orang itu harus di buang sejenak."
Pesan suara dari Niel itu membuat Naya mengambil keputusan untuk memblokir pujaan hatinya. Tapi apa ini? Kenapa mereka malah mengajak video call grup, dia jadi gugup karena ada pemuda itu. Tapi tidak bisa dipungkiri, dia sangat sakit hati pada Widya.
Ha? Sakit hati? Sadar Naya, kau dan Josua itu bukan siapa-siapa pada awalnya. Dipertengahan saja kau tidak pernah dipedulikan apalagi berharap untuk akhir bahagia bersama dia.
__ADS_1
Iya, terimakasih roh dan jiwaku yang baik hati yang telah mengingatkan aku. Betapa bodohnya aku. Racau Naya dalam hati.
"Aku off ya." Naya mengakhiri panggilan grup.
"Salah aku apa sih? Perasaan di keadaan ini aku yang sakit, kenapa jadi mereka sih yang gak mau bicara sama aku? Harusnya aku yang marah!"
Ting!
Niel : Dek, sabar ya.
"Cih!" Naya melempar ponsel mahalnya. "Arrrgghhh!! Apa?Apah! Kau suruh aku menunggu? Sudah! Sudah setahun Jo!"
Dia berulang kali melemparkan kata-kata hujat pada bantal kesayangannya. Bantal itu di cetak dengan gambar wajah Josua di sana. "Aku belum pernah gila, kau mau lihat aku gila? Ha?!" Bentaknya lagi pada Bantal itu. Ditariknya benda bulat itu, di bawanya ke tong sampah. Tidak cukup hanya dibuang, Naya berbalik mengambil bantal itu lagi. Menggigitnya sampai rusak, sampai gigi gadis itu terasa goyang hampir copot. Dia memukul dadanya kencang, "sakit..sakit.. sakit!!"
Diambilnya minyak tanah. Ia pun menyiram benda itu dengan tangis pecah, "pergi!" melempar korek api lalu terbakar lah bantal itu.
Penampilan Naya sungguh berantakan. Hari ini, senja menjadi saksi dia benar-benar patah hati. Ia pun mengambil ponsel miliknya, mengetik kontak 'emak lope', seketika dia berfikir. "Tidak, aku terlalu malu.." Ucapnya putus asa. Karena belakangan ini dia sudah hampir tak pernah memberi kabar pada sang Ibu.
Biasanya disaat dia rapuh, hanya keluarganya yang mampu mengerti dan memberi obat penenang berupa hiburan. "Aku harus bagaimana???"
***
Patah hati adalah milik semua orang. Mau itu ditinggal, disakitin, diselingkuhin, di PHP-in dan di putuskan. Ada lagi versi yang lebih sakit, patah hati melihat dia dengan yang lain padahal status belum ada.
Saat Libur tahun baru, Naya tidak pulang ke kampung dikarenakan ada proyek yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan. Menurutnya. Sebenarnya bisa, tapi karena demi membeli sebuah anting mahal dia rela hari cuti diisi dengan bekerja.
Berawal dari patah hatinya terhadap pemuda yang benar-benar dia sukai, Naya jadi sakit demam selama beberapa hari ini. Dia meminta izin dari perusahaan untuk beristirahat.
Gadis itu merenung sepanjang rebahan. "Masih ada waktu untuk memperbaiki semua ini. Ibu, maafin Naya. Tahun baru nanti Naya pulang, Naya janji." Ucapnya sendu sembari memandangi foto sang Ibu yang sedang tertawa lebar.
Naya bangun dari tempat tidur. Dipandanginya kamar itu. Bertumpuk barang-barang mewah, yang kadang tidak pakai olehnya, bahkan ada yang belum pernah disentuh. Kenapa patah hati ini seperti teguran malaikat sih? Kenapa aku harus sadar semua yang aku lakukan itu salah di saat hatiku benar-benar patah? Hatinya sudah malas berdebat dengan pikirannya. Kini dia harus bangkit untuk merubah segala sesuatu yang rusak.
Malamnya, diapun mengetikkan sesuatu di laptopnya. Diprint, lalu di periksa kembali.
Surat pengunduran diri.
Itu judulnya. Iya, gadis itu ingin mengundurkan diri besok. Dia harus menjalankan apa yang sudah diimpikan. Dia pun mengetikkan alamat website dari sebuah kampus, Naya pun mendaftarkan diri di sana secara online.
Dilihatnya tabungannya masih cukup untuk hidup sederhana beberapa bulan ke depan. Malam ini juga dia memutuskan untuk pindah dari kost elit tersebut.
__ADS_1
"Terkadang patah hati itu jadi ombak pengubah manusia." Ucap Niel sembari tertawa lepas saat mereka video call dari satu jam yang lalu.
"Apaan sih Bang! Aku tuh mau berubah tau gak?"
"Bukan berubah. Tapi kembali pada titik awal. Dimana kamu yang aku kenal sebagai gadis ceria, baik dan sederhana." Naya terdiam, "Gadis sederhana." Ulangnya pemuda itu dramatis.
Niel tahu tentang kehidupan Naya, karena gadis itu selama dua hari ini sudah bercurhat ria pada sang Abang angkat dadakan sekaligus sahabatnya itu
"Ck, iya, aku kembali. Ibu aku mau gak ya maafin aku?" Tanyanya lemah.
Niel tersenyum, "tenang aja. Pasti gak di maafin kok, hehehe"
"Mau mati?"
"Widih, galak benar hahaha, maaf. Ya pastilah. Orang tua yang memaafkan anaknya yang berniat untuk kembali baik itu, kembarannya malaikat."
"Masa sih?"
"Iya,"
"Abang tau dari mana?"
"Dari buku seorang pengarang." Jawab Niel.
Naya terkagum, "Wah, hebat banget ya. Aku jadi pengen nulis lagi. Siapa sih nama pengarangnya?"
"Niel,"
"Ha?"
Niel mengangkat buku tulis miliknya, "itu aku yang tulis di buku aku, semalam aku tuh ngarang."
"Dih, gak ada akhlak, hahaha"
"Nah, gitu dong. Adem dengar suara tawa orang."
Naya mengangguk. Kemudian menatap layar ponsel dan mendapat pertanyaan kenapa dari pemuda dari seberang telepon. "Widya gimana?"
Panggilan tiba-tiba terputus begitu saja, Naya menahan tawa dan air matanya yang hampir meledak serentak. Ia kerap sekali mengingat nama Widya pada Niel dan setelah itu pria akan mengumpat padanya.
__ADS_1