Pemilik Halu

Pemilik Halu
Dilema


__ADS_3

Merasa sedikit lucu dengan tingkah mereka barusan Naya jadi tertawa kecil yang juga disusul oleh Roy. "Kamu bisa juga ya ketawa habis-habisan."


"Kalau di gelitik, mati-matian itu namanya." Jcap Naya. "Aku mau masak, kamu lapar kan?"


Roy tersenyum, "iya, hehehe."


Naya berjalan menuju dapur, dilihatnya satu dus makanan khas anak kost, iya, indomie dan rekannya (supermie, sarimie, ratumie, anjlokmie). ๐Ÿ˜…


Dan dimana-mana mie tidak lengkap tanpa telur tentunya. Wahai lambung bertahanlah, setidaknya tunggu aku lulus dan dapat kerja.


Naya mulai mengiris bawang dan bahan lainnya, sementara Roy duduk sambil mengipas wajah dengan tangannya secara bergantian.


"Panas Nay."


Naya menoleh, "panas-an mana sama lihat gebetan jalan dengan yang lain?"


"Dua-duanya. Imbang." Roy memasang wajah memelas dan tetap mengipas. Kemudian mendongak saat Naya menyerahkan sesuatu.


"Kan belum masak, piringnya buat apaan?"


"Kipas pakai itu aja," Naya tertawa saat Roy melongo, "atau mau pakai robekan dus ini, lebih kuat anginnya."


"Sekian dan terimakasih, nona Naya." Mendengar itu Naya kembali tertawa. Entah apa yang membuat mood gadis itu jadi sangat girang hari ini. Mungkin karena perkataan dari sang pujaan yang ingin memperjuangkannya. Katanya.


Menikung, ralat.


Ting!!


Notif pesan khusus yang sudah di setel Naya untuk Josua berbunyi dan membuat gadis yang sedang mengiris bawang itu jadi tersenyum sendiri. Ia meraih ponselnya,


Josua : Neng.


Naya : Kang.


Josua : ini aku ada baca sesuatu, mau tahu enggak?


Naya : aku maunya tempe, Kang.


Josua : Ya udah nanti aku kasih toge. Mau tau enggak nih?


Naya : apaan, dah?


Josua : katanya kalau udah pacaran lama pasti udah ena-ena๐Ÿ˜Œ


Naya : untung aku masih baru๐Ÿ˜†


Josua : iya, langsung putus aja ya, lamanya entar sama aku aja.


Naya : jangan harap bisa ena-ena ๐Ÿ˜’, ku sentil ginjal kamu Kang.


Josua : wkwkwk,


Diseberang sana Josua tertawa membaca percakapan dirinya dengan Naya, bukan karena bahasannya, tapi itu loh, masa sih dipanggil Kang. Orang kan bingung kalau di panggil seperti itu. Entar di kira Kang ojol, Kang parkir, Kang-kung! Buset, deh.


Naya : eh tapi aku seneng loh kalau ada yg kirim wkwkwk.


Josua : lah kenapa?

__ADS_1


Naya : woi kangen, woi kangen, woi kangen ๐Ÿคฃ


Josua : masak air...


Naya : cakep,


Josua : biar matang dulu Nay.


Naya : oh salah ya?


Josua : enggak, cewek kan enggak pernah salah๐Ÿ˜‘


Naya masih hanyut dalam percakapan tidak penting dengan ponselnya hingga membuat Roy mematung memandanginya. "Sejak kapan nih cewek jadi manis begini." Roy menggeleng kepalanya berusaha menyadarkan diri dari gumamnya.


Sesekali Naya memukul meja karena gemas, namun hal itu membuat Roy semakin jatuh dalam pandangannya, suhu panas yang di rasanya sejak tadi semakin tidak terkendali. Padahal di luar mendung loh.


Ingat, cewek ini yang buat teman-teman Lo dapat masalah Roy!


Roy berusaha mengingat janjinya. Namun tetap saja hatinya memuji gadis yang sedang tersenyum itu, padahal senyumannya jelas bukan untuk dirinya, namun tetap membuatnya sedikit dilema.


Asli, dia alami. Ketawa aja enggak ribet nutup mulut, enggak jaga image lagi.


Sementara Naya semakin lincah mengetikkan tulisan di obrolan chatnya,


Naya : eh, aku tuh nyesek tahu enggak, followers aku enggak seberapa tapi haters udah banyak.


Josua : sabar dan ingat, meski haters banyak tetaplah insecure meski enggak glowing-glowing.


Naya : dih๐Ÿ˜’


Sudah berapa lama aku tertawa seperti ini? ya ampun, "bawangku..." teriaknya. Secepat mungkin ia menyelesaikan tugasnya yang tertunda, lima menit kemudian Indomie sederhana yang dimasak dengan campuran bawang goreng itu telah siap. Hanya itu.


Naya mengambil piring yang sedari tadi dipegang oleh Roy, dan saat itulah pemuda itu sadar dari lamunannya. "nih makan, kalau mau yang pedas nih ada cabai rawit tinggal gigit aja."


"Ha?"


"Aku enggak suka pedas makanya cuma sesederhana ini."


Roy mengangguk dan mengambil satu rawit yang segar, dan menggigitnya, "enak juga, inspirasi dari mana nih makan kaya gini?"


"Ibu aku suka makan rawit kaya gitu, katanya kalau makanan enggak pedas kaya enggak makan katanya." Roy manggut-manggut.


Naya makan dengan lahap, dibiarkannya sejenak ponselnya berdering sendiri, bentar ya pujaan, lagi makan sama pacar soalnya. Hehehe.


Setelah acara makan mie sederhana dengan bahan bawang dan air tentunya, Roy pamit.


***


Dikediaman Roy, pemuda itu tampak merenung. Disini yang bermasalah mereka, kenapa aku juga harus ikut benci sama Naya.


Dia baik, ramah, ya..ya.. baiklah pokoknya, dan manis.


Roy menelan ludah, sulit menentukan pilihannya. Temannya atau Naya? Ia mengambil headphone dan memasangnya dengan lagu galau. Semakin larut dalam pikirannya, hingga bengkelnya pun hampir dilupakan.


Dari awal berjumpa dengan rencana yang sudah di susun rapi olehnya, sebenarnya ia sudah mengagumi gadis itu. Namun rasa pertemanannya lebih kuat saat itu. Tapi kenapa Roy jadi dilema? apakah ia jatuh hati? secepat itukah?


Roy membuka ponselnya setelah bergetar di genggamannya,

__ADS_1


Riko : Besok pulang sekolah, Lo bonceng Naya, gue sama Erwin pura-pura ngehajar Lo biar Naya makin percaya sama Lo.


Roy menghela napas, lalu mengerang kesal.


"Naya!" Teriaknya. Namun tersadar kembali, kenapa nama gadis itu yang terucap dari bibirnya.


Dilema anak mu, Bu.


***


Esoknya, Naya seperti biasa dengan dua sahabatnya sudah mulai tertawa kecil membahas sesuatu.


"Nge-gym yuk, pengen lihat cowok ganteng aku tuh." Ucap Dinda sembari menangkup wajahnya sendiri membayangkan tubuh-tubuh lelaki yang sedang berolahraga.


"Bisa dimaki si Niel aku anak beo!" Protes Widya.


Naya menoleh, "posesif amat."


"Katanya dia enggak suka kalau enggak setia, makanya jangan buat aku berpaling dong."


Naya termangu. "Setia." Gadis itu merenung, aku jahat dong sama Roy, aku pacaran sama dia tapi tetap mengharap sama Josua. Malah kasih lampu hijau buat nikung lagi.


Naya mengutarakan isi hatinya pada kedua sahabatnya itu, "jahat enggak sih kalau aku kaya gitu?"


"Jahat dong. Tapi ya kamu kan dari awal sukanya sama Josua." Jawab Widya.


Dinda melipat tangannya di dada, "jangan egois Nay, kamu yang udah tentuin Roy jadi pacar kamu, setia Nay."


Apa iya aku egois?


"Jadi pelampiasan itu sakit Nay." Ucap Widya kemudian.


"Yang jadiin pelampiasan, siapa?"


Dinda mendecak. "Gini, kamu tahu kalau si doi enggak suka, terus kamu terima orang lain cuma buat di jadiin alat untuk memancing si doi suka atau enggak. Mikir Nay."


Jarang sekali disaat begini sahabatnya bicara dengan serius, Naya sendiri hampir tidak percaya. Dan bodohnya ia baru sadar hari ini, bahwa perbuatannya salah. Meski tak menyukai sang pacar, tapi dia lah yang membuat keputusan itu. Dia harus menjalaninya.


"Sakit loh, kalau kita pacaran terus berhasil buat pujaan cemburu dan ungkapin perasaan, dan kita ninggalin pacar kita tanpa alasan. Hati enggak untuk di bercanda-in Nay." Mendengar perkataan seperti itu membuat Naya jadi mengernyit.


"Hargai perasaan orang lain." Lagi, hati Naya terasa disentil. Ia tidak menyanggah atau membantah, itu benar pikirnya.


Gadis itu sedikit terburu mencari sosok pujaan, dia berlari keluar kelas. Dan ketemu.


"Aku mau bicara." Josua membawa Naya ke kelas yang kosong.


Disinilah mereka, di tempat yang tidak ada penghuninya berhubung guru sedang rapat, jadi semua murid di bebaskan beberapa saat.


Josua bersandar ke tembok memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, "ada apa?"


"Maaf kalau aku mikir kamu serius dengan perkataan kamu buat nikung,.."


"Aku serius." Sanggah pemuda itu.


"Kalau gitu aku minta maaf juga, aku mau setia, gimana pun aku enggak boleh egois. Roy pacar aku." Naya tersenyum tulus. Menandakan bahwa ia akan mulai setia dengan Roy.


"Kamu enggak tahu yang sebenarnya Nay." Gumam Josua yang memandang lekat kepergian gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2