
5 tahun kemudian....
"Loh, Dinda?"
"Loh, Naya?"
"Loh! Kalian saling kenal?" Editor Senior berambut pirang sebahu itu ternyata lebih syok dari mereka berdua. "Wah, bagus dong. Ya udah, Mbak tinggal dulu ya.." Mbak Sry kemudian pergi meninggalkan ruangan yang dimana hanya ada dua wanita dewasa di sana.
"Hai," Sapa Dinda.
"Kita langsung aja bahas kerjaan," Naya membuka MacBook miliknya, mulai mencari dokumen yang berisi beberapa bab novel baru miliknya.
Setelah sekian lama tidak berjumpa, kecanggungan berubah jadi kesombongan. Naya yang dari lima tahun lalu selalu diabaikan yang dirinya sendiri tidak tau apa salahnya, memilih untuk mengambil sikap cuek nan jutek.
Lain dengan Dinda yang kali ini lebih kalem. Karena ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan penerbit dimana Naya menulis dan mengembangkan novelnya. Gadis itu bekerja sebagai editor, kebetulan tahun ini dia mendapat giliran sebagai karyawan transfer dari tempat dia bekerja sesungguhnya. Dan berketetapan dia langsung di angkat menjadi editor Naya.
"Oke, udah sampai bab berapa?" Tanya Dinda.
"Masih permulaan," Naya mendongak, memberanikan diri untuk saling bertatapan. "Menyiapkan novel yang ini agak sulit, butuh waktu yang lama. Sabar aja, aku lagi dalam proses belajar ilmu kehidupan. Apalagi ini temanya tentang persahabatan."
"Persahabatan?"
"Iya, persahabatan." Ulangnya, "cerita dua sahabat yang ujung-ujungnya akan menikah. Begitu." Jawab Naya. "Ya udah, ini berkasnya, susun aja sesuai kemampuan, aku pergi dulu."
Naya meraih tas selempang kuning miliknya lalu berdiri dan siap pergi, Namun terhenti saat Dinda menyebut namanya. Ia pun berbalik dan menjawab ada apa.
"Selamat untuk Wisuda S2 mu."
Sudah basi!
Tapi tentu saja Naya tidak melontarkan kalimat itu. Dia masih waras demi menjaga kariernya. "Hem." Lalu bergegas.
Tinggallah Dinda sendiri diruangan itu. Lima tahun sendiri dan kesepian, lima tahun menjalani semuanya dengan hambar, lima tahun dibohongi dan dikecewakan. Sekarang dia bangkit dengan kekuatan yang masih tersisa, lagi-lagi dirinya lemah karena dihantui rasa bersalah pada sahabat lamanya. Dia harus bagaimana?
***
Terik matahari masih ada kala itu dan masih menyengat. Kulit siapapun akan terasa panas jika terpapar sinarnya, padahal sudah jam 4 sore. Gadis cantik berkulit putih dan berambut panjang sedang duduk di halte bus. Ia menarik kardigan hitamnya agar menutupi seluruh tubuh yang terasa panas.
"Dinda?"
".."
"Kamu ngapain di sini? Yuk aku antar pulang." Ajak Rey.
"Nggak mau, aku mau naik bus aja. Males ngerepotin mulu."
"Sayang dua ribu, sama aku gratis.."
"Huhh, ya udah deh."
Meski berulang kali Rey ditolak cintanya oleh Dinda, tapi pria itu tetap saja baik. Karena pada awalnya pun mereka adalah sahabat.
"Kita makan dulu ya, insentif aku baru keluar tadi,"
"Boleh."
"Ya udah pesan aja apa yang kamu mau," ucap Rey saat mereka sudah sampai di sebuah kafe sederhana.
Dinda mengangguk, ia membolak-balikkan buku menu mencari apa yang enak dimakan. "Eh, aku gak mau ya makan yang harganya dua puluh ribuan,"
"Baiklah tuan putri yang gak tau diri, silakan pilih yang mahal."
__ADS_1
"Hehehe,"
"Eh, Dinda."
"Afifah?"
"Astaga, gak nyangka ketemu disini. Sayang, sini.." Panggil wanita berhijab biru pada tunangannya.
"Eh, kalian disini juga?" tanya Harry pada Dinda dan Rey. Dan dibalas dengan senyum.
"Boleh gabung gak?"
"Boleh dong," sambar Rey, tidak peduli dengan tatapan kesal dari Dinda.
Dinda semakin kesal lagi, Harry berbicara dengan biasa saja tanpa kecanggungan, bukan seperti dirinya yang gugup setengah mati.
"Aku ke toilet dulu."
Dinda bergegas dengan cepat dari sana. Hatinya sangat sesak. Dia sungguh menderita mengetahui bahwa orang yang disukainya sudah lama bertunangan dengan gadis lain tanpa ia tahu. Dan bodohnya, kenapa dia malah cemburu.
Lima tahun yang lalu, setelah perayaan ulang tahun Josua, Harry menghampiri Dinda yang kala itu masih menatap kepergian Naya. "Aku mau ngomong sesuatu Din,"
.
"Apa?"
"Begini.." Sulit memang mengakui suatu hal apalagi tentang kejujuran, "aku udah punya pasangan. Dari dulu kami udah bersama. Aku nyaman sama kamu, tapi hanya sebagai teman."
"..."
"Udah lama Din, udah lama kami dekat. Namanya Afifah."
"Karena aku gak tega nyakitin kamu karena kita udah dekat."
"Terus sekarang kamu tega? Bahkan sekarang rasa suka aku itu sepuluh kali lipat dari waktu kita SMA. Yang kamu lakukan itu jahat Ry," Dinda berucap lirih.
"..."
"Kamu jahat.."
"Maaf."
"Kamu jahat," Dinda menangis dan berlari dari sana mencoba mencari keberadaan Naya. Tetapi sudah tidak ada. Gadis itupun menangis sejadi-jadinya.
Hari ini dia kehilangan dua orang sekaligus. Hanya karena rasa suka, dia dibutakan oleh kenyataan yang bodohnya tak dicarinya tentang status Harry, atau sekedar bertanya pun dia tidak pernah.
Ditambah lagi kehilangan Naya, itupun karena masalah sepele. Apa susahnya sih mengucapkan kata maaf kepada sahabat sendiri?
Ya, Dinda mengambil sikap cuek pada Naya karena dia tidak enak hati. Bagaimanapun dulu dirinya yang sangat mendukung hubungan Naya dan Josua, tapi entah kenapa dia bungkam soal Widya dan Josua karena tak berani menentang.
Dia pun menangis sejadi-jadinya sepanjang malam, hingga Rey datang dan membawanya pulang. Karena di atas segala luka, selalu ada penutup luka yang baik.
"Dinda, kok ngelamun di kamar mandi sih?"
"Eh, Afifah," Dinda tersentak, "kamu ngapain disini?"
"Mau cuci tangan, kan ini toilet," ucapnya kemudian tersenyum.
Cantik banget, baik, sopan lagi. Kalau dibandingin sama aku, ya elah, keset mah. Getir suara hati Dinda.
"Aku keluar ya Afifah,"
__ADS_1
Afifah tidak menjawab malah berkata, "hubungan aku sama Harry udah lama, udah erat, jangan diganggu ya.. aku bisa marah loh" tatapannya dingin ke arah cermin di kamar mandi.
Dinda berbalik. "Astaga... ckckck, tenang aja. Harry itu cuma pelampiasan aja dulu karena Rey kurang peka sama perasaan aku, toh sekarang kami udah sama, gak usah merasa punya saingan." Ketus Dinda. Yang awalnya dia mengagumi kini beralih menjadi kesal.
Dia pun keluar dari sana membawa kesal dan sesak di dada. "Lihat aja, huh!"
Mereka berempat mengucap terima kasih pada pelayan yang sudah membawakan makanan mereka. Posisi duduk dua pasangan ini sekarang saling berhadapan menambah suasana jadi tidak tenang.
"Rey, aaaaaaa" Dinda mengangkat satu sendok ke udara dan hendak menyuapi Rey.
"Dih apaan, gak mau ah, aku bukan anak kecil." Tolak Rey, Dinda melirik Afifah yang tersenyum di sana.
"Sayang," panggil Afifah pada sang tunangan dan di jawab apa, "ini makanan aku enak, cobain deh, aku suap kamu ya.." Harry sempat melirik dua sahabatnya dengan canggung, tapi bagaimana pun dia harus menurut. Kalau tidak, obat ngambek wanita itu mahal saudara-saudara. Dan diingatnya lagi tanggal gajian masih lama.
Iya, hati Dinda memanas. Rey sadar akan hal itu. Jadi dia pun berinisiatif, "Nih, aaa!"
"Eh, nyam-nyam,"
"Yang romantis itu laki-laki yang suap, bukan aku nolak tadi, tapi aku tuh maunya kamu yang aku manjain."
Dinda tertegun. Terimakasih Rey. Rey ku yang baik.
Setelah hari itu, Dinda dan Rey semakin dekat. Karena rasa trauma akan syndrom orang ketiga, jadi akhirnya Dinda memutuskan untuk bertanya.
"Kamu punya pacar gak sih Rey?"
"Ehm? nggak." Pria itu menggeleng. "Kenapa?"
"Gak apa-apa, cuma takut aja."
"?"
"Huffh, takut kalau kita dekat terus, tapi ujung-ujungnya kamu kenalin pasangan sama aku dan bilang kalian udah lama dekat. Berasa pelakor aku tuh,"
Rey tertawa, "itu mah Harry." Mereka pun tertawa di bawah langit malam di depan kost Dinda. "Eh, Din, lihat deh tangan aku."
"Apaan?"
"Ada sesuatu gak?" Dia mengangkat kedua tangannya ke hadapan Dinda.
"Gak ada, kosong."
Rey mengulum tangannya ke belakang lalu menunjukkannya lagi, "masing kosong gak?"
Dinda mengangguk, "iya, karena aku nunggu cincin nikah dari kamu, hehehe"
"Najis! Hahaha, harusnya aku yang buat kayak gitu, kok jadi kamu sih? Hahaha"
"Hahaha, emang kamu mau?"
"Eeeee.. kayaknya kita temenan aja deh."
"Ya selama ini kan udah temenan."
"Ya ditambah lagi jadi teman, teman kuadrat hehehe."
Rey pasrah saja. Toh hubungan mereka masih baik-baik saja meski hanya sebatas zona nyaman dalam berteman.
Siapa kita?
CUMA TEMAN!
__ADS_1