
Setiap pagi seperti kertas putih bagi setiap orang. Karena dari terbitnya matahari, disitulah semuanya memulai aktivitas. Beberapa hari ini juga, hari-hari Naya diisi dengan tinta keceriaan dari Erik. Keduanya selalu membahas apa saja yang menurut mereka bisa jadi bahan perbincangan. Naya pun sejenak bisa melupakan penat di tempat kerja dan di hati tentunya.
"Loh, Mas Erik kok pakai baju kantor gitu, bukannya polisi ya?" Tanya Naya penasaran karena memang pria itu memakai setelan rapi untuk pergi ke kantor pada umumnya.
"Hem?" pria itu menoleh, "iya dulu. Sekarang udah gak jadi polisi lagi. Soalnya Ibu udah mulai tua, gak ada yang urus perusahaan. Kasihan." Sambil membuka mobil untuk Naya, dan memberi isyarat untuk masuk, "jadi mau gak mau harus aku yang turun tangan."
"Oh, gitu. E, tapi Bu Disa kelihatan masih muda kok, cantik lagi." Puji Naya tulus.
Erik tertawa pelan, "tau gak umur Ibu aku berapa?"
"Berapa?"
"55 Tahun."
"Ha? Gak mungkin, Mas bohong." Cerca Naya.
"Dih, mana ada. Emang segitu Nay,"
Naya mendecak kagum. "Wah," kemudian menutup mata mencoba membangkitkan aura kemampuannya dulu. "Mas, lihat ke arah Naya dong."
"Gak bisa, aku lagi nyetir."
"Ya udah tinggal minggir Mas."
Kaum lelaki sudah mempunyai tugas untuk mengalah dalam situasi apapun. Karena apa? wanita tak bisa dibantah.
"Iya ya, Mas gak bohong ternyata."
"Eh? Maksudnya?" Pasalnya hanya tiga detik wanita itu memandangnya.
"Aku tuh punya kemampuan khusus. Aku bisa lihat orang jujur atau bohong cuma lihat matanya doang."
"Wah," takjub Erik, "kalau gitu kamu kerjanya di kantor aku aja, biar bisa introgasi karyawan aku yang korupsi."
"Atuhlah Mas, biarin ajalah mereka korupsi biar makin buncit." Cerca Naya seadanya.
"Kamu ini ada-ada aja."
***
Di rumahnya, Bu Disa tampak mondar mandir. Ia berfikir keras agar bisa menyatukan Naya dan Erik karena wanita itu sangat menyukai anak tetangganya itu.
Ide gila pun muncul dibenaknya. Seorang wanita yang menjabat direktur utama selama kurang lebih dua puluh tahun setelah suaminya meninggal, tidak mungkin mentok ide. Urat akalnya pasti banyak bercabang, pasti itu! Pohon beringin tua mah kalah.
Bu Disa bergegas ke kamar dan mengambil kotak perhiasan miliknya. Beliau pernah mengatakan pada Erik, bahwa siapa pun wanita yang memakai cincin warisan akan menjadi menantu dirumahnya.
"Makan malam!!" Seru Bu Disa, ia segera membuat grup WhatsApp yang berisi anggota keluarga Bu Sila dan tentunya keluarganya.
Tak satu orangpun dia tinggalkan, bahkan Dina yang masih sekolah turut andil dalam perencanaan ini.
***
Keluarga mereka akhirnya makan malam bersama di rumah Erik. Terdengar tawa renyah yang membuat siapapun lewat dari depan rumah akan iri.
"Eh, Naya, Ibu punya sesuatu buat kamu."
"Em? Apa Bu?" bingung Naya, sekilas menatap Erik yang sama bingungnya.
"Ini," Dia memberikan pada Erik, "pasangin dulu sama Naya." Perintah sang Ibu dan dituruti saja, dia tidak terlalu memperhatikan corak cincin didalamnya.
"Kok kasih beginian sama Naya Bu? Naya gak enak."
__ADS_1
Bu Disa tersenyum manis, "Gak apa-apa."
Erik membuka kotak persegi berwarna merah ditangannya, dan mengambil cincin dari sana. Sekilas tampak familiar, tapi Erik masih berfikir positif. Ia tak minat bertanya pada sang Ibu, toh dia tau pasti akan kena omelan.
"Cantik," puji Erik.
"Cincinnya atau tangan aku Mas?"
"Dua-duanya, pas banget sama kamu." Ucapnya, "eh, tapi tunggu dulu." Ia memperhatikan sejenak cincin itu, "inikan cincin wa..warisan!" Pekiknya.
"Ha?" Bingung Naya yang melihat ekspresi kaget dari Erik. "Ada apa Mas?"
"I..Itu.." Gusar Erik menatap sang Ibu yang tampak tak acuh. Tersenyum semaunya. "Ibu..." rengeknya.
Baiklah, waktu yang tepat untuk bersandiwara.
"Ha? Astaga! Ibu gak sengaja loh Erik.."
"Kenapa Bu?" tanya Naya bingung beserta anggota keluarganya yang membisu tiba-tiba yang sebenarnya mereka sudah tahu.
"Itu cincin warisan. Ibu salah kasih."
"Oh, ya udah, Naya kembalikan. Nih Mas," Naya membuka dan memberikannya kembali.
"Gak bisa Nay." Pandangannya tampak menyesal ke arah Naya, menyesal mempunyai Ibu yang begitu cerdik, "ada aturan yang gak boleh dilanggar dari cincin ini. Siapapun wanita yang memakai cincin ini, harus jadi menantu, kalau tidak ada bahaya kedepannya."
"Seriusan? Masa?"
Erik mengangguk pasrah.
"Mas tau sejarah tentang cincin ini gak?"
"Wau,," Kagum Naya, dipikirannya hanyalah sebuah imajinasi untuk menciptakan novel dengan inspirasi si cincin legenda ini. "Eh, tapi... Mas bilang menantu tadi?"
Erik menghela nafas berat, memang dia senang bertemu Naya, tapi tidak langsung menikah juga. Dia hanya senang menemukan wanita yang selama ini dicarinya. Dia juga penasaran siapa sosok Naya yang ditolongnya dulu. Ibunya. Iya, salah Ibunya!
"Naya, udah ambil aja cincinnya, gak baik nolak niat baik orang," Nasihat sang Ibu yang sedari dari sudah tos kemenangan dengan Ibu Disa.
"Udah tua Dek, udah bisa nikah." Tambah Anto, Abang Naya.
"Dina juga keberatan kok Kak, malah senang, ada Abang ganteng jadi anggota keluarga, lumayan Kak perbaikan keturunan." Selorohnya.
Naya menatap Erik. Tatapannya wanita itu memancarkan kesedihan di sana. Naya pamit pada semuanya dan menarik Erik ke teras.
"Mas, aku gak bisa."
"Aku tau, maaf. Tapi peraturannya gitu, gak boleh dilanggar. Kita bisa celaka."
"Bukan soal itu Mas, tapi..."
"Kenapa?"
"Masa lalu aku kelam Mas." Matanya mulai berkaca-kaca, "Kamu pantas buat aku, tapi aku yang gak pantas buat kamu." Air matanya jatuh begitu saja.
Erik tidak mengerti kenapa Naya jadi menangis begini. Ia pun tidak terlalu mencerna perkataan Naya, dipikirannya sekarang adalah.
"NIKAH?!"
***
Hukum wajib yang turun temurun itu diadakan hari ini. Tepat dua Minggu setelah Naya dan Erik bertemu.
__ADS_1
"Sah!!"
Naya memandang Erik, wajah pria yang sudah berstatus suaminya itu tampak berseri. Kelihatan juga saat awal mereka ketemu, sepertinya pria ini banyak mencuri pandang padanya.
Naya juga ingin seperti itu. Tapi ada ganjalan di dada yang memaksanya untuk menolak jatuh cinta. Terhadap Josua sekalipun.
Tapi Erik meyakinkan pada Naya bahwa dirinya akan memulai semuanya dengan perlahan. Naya tak ambil pusing lagi siapa tau memang benar Erik adalah jodohnya. Dan siapa tau pula, Erik akan baik-baik saja ketika mengetahui kebenarannya.
***
Malam pengantin.
Naya sudah mandi, kini tubuhnya dibalut piyama gelap namun sangat manis dipakai olehnya. Sementara Erik baja selesai mandi.
Keduanya membisu. Tidak tau apa yang harus dilakukan. Bernyanyi kah? Menari kah? Atau bermain Ludo king saja, ya?
Di satu sisi Naya sudah sangat gugup. Bagaimana dia harus menceritakan semuanya. Tapi kalau dia tidak jujur malam ini, esok pagi dia tidak tau bagaimana reaksi pria dihadapannya ini.
"Mas,"
"Nay,"
Karena terlalu lama saling diam, mereka serentak memanggil dengan canggung.
"Kamu aja dulu."
"Gak apa-apa, Mas aja."
"Oke."
"Eh, jangan, Naya aja deh Mas."
"Tapi tadi kamu bilang aku aja."
"Nggak jadi, Naya aja" Erik mengangguk saja.
"Ada yang pengen aku kasih tau Mas."
"Apa?"
Naya menunduk, berusaha mencari udara positif disekitar kamar mereka. Matanya memanas, "a..aku"
"Kenapa?" tanya Erik curiga. "Kamu kenapa?"
Aku gak kuat bilang semuanya Mas.
"Kenapa sih? Kamu mau bilang apa, kok gugup gitu? Kayak mau kasih tau gak virgin aja." Celetuk Erik yang memang sedang bercanda.
Naya terisak mendengar itu. Lalu mengangguk. "Kamu benar Mas."
Erik tertawa pelan. "Kamu taruh kamera dimana? Buat konten ya?"
Naya masih menangis. Lalu mendongak. Untuk terakhir, Naya memaksakan senyum, "aku udah gak virgin Mas."
***
Kamar yang harum serta sangat indah dihias malam itu menjadi saksi Naya menangis dalam diam. Erik meninggalkannya dimalam pertama mereka. Sakit sekali.
Jika memang kebodohannya, ia pasti terima. Tapi bagaimanapun juga, dia tidak mau mempunyai takdir seperti itu. Ia sudah menduga hal itu akan terjadi.
Ya, tidak akan ada orang yang menerima kekurangannya. Wahai takdir yang kejam, bunuh saja aku. Racau wanita itu sepanjang malam.
__ADS_1