Pemilik Halu

Pemilik Halu
Selamat Tinggal


__ADS_3

Langit terlihat tak begitu cerah, mendung namun terasa lebih tenang. Angin pun mulai berhembus sesukanya, membuat dedaunan yang gugur ikut beterbangan kesana kemari. Terlihat lah dua insan sedang menuju sekolah menuju mereka dulu. SMK Cadika.


"Wah, cantik banget," Naya berdecak kagum sebelum motor Josua berhenti.


Josua mulai mengerem pelan dan berhenti didepan gerbang. Karena weekend suasana begitu sepi di sana. "Iya, waktu kita di sini sekolahnya biasa-biasa aja tampilannya."


"Iya, apalagi sekolah aku waktu SD sama SMP, beuh, sekarang udah kayak istana. Cantik banget,"


"Sama. Entah kenapa sekolah jadi cantik ketika kita udah tamat." Naya mengangguk menyetujui, "masuk yuk."


"Ha? Ngapain?"


"Mengenang." Jawab Josua dan menatap Naya.


"Mengenang jasa para Pahlawan? Kita mau upacara?"


Josua menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa wanita yang bersamanya ini jadi begitu menggemaskan. Kalau begini terus, bisa-bisa janjinya pada Niel akan teringkar.


"Mengenang masa lalu Nay,"


"Oh."


"Satu hari aja, setelah itu aku janji gak bakalan ganggu kamu."


"Aku gak pernah ngerasa kamu ganggu aku kok, kita kan sahabat." Senyumnya merekah.


"Iya," Josua memalingkan wajah, "sahabat."


Mereka melangkah memasuki sekolah, dan memang sekolah itu memperbolehkan siapa saja masuk pada saat weekend dan hari-hari biasa disaat sudah sore.


Perpustakaan adalah tempat yang pertama kali mereka telusuri, "Eh, ini nih buku yang paling aku suka."


"Buku IPA?" tanya Naya.


"Iya, soalnya ada tentang sistem reproduksi."


Mata Naya membulat sempurna, "astaga! Dasar mesum!" Menghentakkan kaki lalu keluar tak menggubris Josua yang berteriak mengatakan bercanda.


"Wah, kelas kita makin cantik aja." Decak kagum berulang kali dilontarkan Naya, yang memang sekolahnya ini tampak lebih indah dari pada enam tahun yang lalu.


Josua melenggang masuk ke dalam kelas, duduk di salah satu bangku, "dulu ingat banget pas kita sering debat."


"Iya, apalagi kalau pelajaran fisika, pasti nilai kita selalu kejar-kejaran." Balas Naya tak kalah sumringah mengenang masa itu.


"Ingat juga waktu di suruh maju ke depan ngerjain soal, resleting aku rusak terbuka tiba-tiba."


"Hahaha, iya, warna biru dongker kan?" Naya memastikan dengan terkekeh. Dia ingat sekali kejadian itu.


Naya yakin pada saat itu dia melihat pakaian dalam pria itu warna biru gelap namun Dinda dan Widya membantah dan mengatakan warna Hitam. Karena penasaran, mereka bertiga mengirim pertanyaan untuk memastikan melalui pesan chat. Dan Josua memberi tahu warna sebenarnya. Biru dongker.


"Astaga, masih ingat aja." Takjub Josua, tangannya terulur begitu saja menyentuh puncak kepala Naya dan mengusapnya.


"Uang salon aku mahal loh." Omel Naya setengah bercanda.


"Uang aku udah banyak kali, kalau kamu mau aku nikahin sekarang juga, cukup kok buat ngundang Bupati." Balasnya meyakinkan.


"Mohon maaf, suami aku lebih ganteng." Balasnya kemudian pergi.


Meski masih saling berusaha menyembunyikan perasaan masing-masing, kini keduanya harus bisa bersikap biasa-biasa saja. Lagi pula, hanya satu hari ini saja kesempatan mereka untuk melepas penat di hati. Setelah itu harus bisa saling mengikhlaskan semuanya dan membiarkan sang takdir berjalan dengan semestinya. Iya, takdir yang menyatakan dengan tegas bahwa mereka bukan jodoh.


"Setelah ini kita kemana?" Tanya Naya. Josua sudah menyusulnya.


"Entah, jalan-jalan aja dulu. Lagian diluar udah mulai gerimis, gak mungkin kan kita pulang, nanti kena hujan."

__ADS_1


"Justru enak dong."


"Ha?"


"Kan aku suka hujan." Ujar Naya yang sedikit kecewa pria ini memang kurang mengenalnya dengan baik.


Josua mengerjap gugup, dirinya mencoba menimang-nimang, benarkah dirinya tidak tahu atau memang lupa. "Ya udah, kita pulang aja supaya bisa main hujan."


"Nggak ah, nanti aku sakit."


"Ck, dasar wanita!"


***


"Nay, foto dulu yuk."


"Eh?" Naya sempat terkaget, pasalnya dulu pria ini sangatlah anti dengan kamera. "Oke."


Naya tersenyum dua jari, sementara Josua berpose biasa saja, namun sudah terlihat sangat... Kalian tahulah.


"Kalau foto itu harus senyum ya, Bambang!"


Merebut ponsel pria itu."Kayak gini!" Naya menampakkan dirinya di kamera yang sedang tersenyum lebar.


Josua tertawa melihat Naya seperti ini. Tatapannya tak mau dilepas dari Naya, "cantik." Pujinya.


"Apanya?"


"Sekolahnya."


"Emang."


"Kamu juga."


"Makasih."


"Bodo amat!" Kesal Naya.


Keduanya menunggu hujan reda di pos satpam, duduk berdampingan. Naya dan Josua sama-sama menikmati hawa dingin yang perlahan menerpa kulit.


Naya sangat suka dengan hal ini. Hujan, angin, percikan air di atap, entah kenapa itu seperti refleksi untuk dirinya. Wanita itupun menutup mata untuk menikmati. Ia tersenyum begitu bahagia.


"Nay,"


"Hem?" masih memejamkan mata.


"Maaf untuk semuanya." Pandangannya lurus ke depan. "Maaf udah ingkar janji."


"Gak apa-apa."


"Maaf udah jadian sama sahabat kamu."


"Gak apa-apa, dia juga sahabat kamu kok. "


"Maaf," ucapnya lemah.


"Gak apa-apa."


Keduanya saling membisu. Josua berusaha tak menoleh ke arah Naya, karena dia tidak menjamin bahwa dia bisa mengendalikan diri.


"Lima tahun ini aku berjuang, Jo."


"Hem?"

__ADS_1


"Dicaci dan dimaki, jualan ke sana kemari, promosi ke sana ke mari. Pulang ke kampung malu, karena tiap pulang bawa oleh-oleh itu-itu aja."


"..."


"Rumah di sita Bank, ladang kami juga ditarik sama pihak pegadaian. Sampai harga diriku harus ku buang jauh-jauh untuk sujud di depan keluarga ku yang punya uang. Aku meronta untuk meminta pinjaman."


"Nay.." mengusap pundak wanita itu.


"Selalu dibilang gila karena cita-cita pengen jadi penulis," tersenyum miris, "sampai di juluki Pemilik Halu. Nyatanya halusinasiku yang ternodai ocehan mereka, sekarang udah bisa beli mulut-mulut mereka yang pedas."


"Kamu hebat."


"Sekarang udah bisa beli rumah buat Ibu, Dina juga gak perlu lagi pinjam baju sekolah dari orang lain, gak perlu lagi pinjam sepatu dan tas ke tetangga," Dia mulai menangis.


"..."


"Bang Anto juga gak dihina lagi sama perempuan karena miskin." Berusaha untuk menampilkan senyum. Rasanya lega sekali mengeluarkan unek-unek dihatinya. Ia menoleh pada Josua yang sudah tersenyum kagum ke arahnya.


"Sakit banget masa lalu aku. Disaat aku benar-benar ada dititik nol, berjuang kuliah sambil menulis, keluarga menjauh, teman gak ada, dan kamu juga gak ada." Lirihnya begitu pedih.


"Nay.." Josua mendekat, ingin mendekap tapi sadar ada jarak yang harus ia pertegas untuk batinnya.


Yang bisa diperbuatnya sekarang hanyalah mengusap pundak wanita itu dan menemaninya hingga puas mengeluarkan air mata.


***


Hujan reda setelah hampir satu jam. Selama itu pulalah Josua terus menatap iba pada Naya yang terus saja menangis hingga hidungnya memerah dan matanya sembab.


Saat keadaan sudah tenang, Josua berdiri, "ayo, aku antar pulang." Naya menurut. "Jangan nangis." Imbuhnya.


"Iya," Jawab Naya mengulas senyum kecil.


"Makasih untuk hari ini. Dan aku sadar, aku benar-benar buruk untuk kamu, makanya kita gak jodoh."


Naya tertawa kecil. "Yang paling baik pasti ada buat kamu di depan sana."


"Depan gerbang?"


Naya memukul lengan pria itu dengan gemas. "Istilahnya, Bambang!"


"Bercanda, hehehe. Yuk."


"Mm." Naya mengikuti langkah Josua ke parkiran.


Begitulah cerita mereka berakhir untuk hari ini. Naya harus kembali pada sang suami, Josua juga harus berlari ke depan untuk menemukan siapa takdirnya.


Keduanya sama-sama sudah ikhlas. Satu hal yang mereka sadari, yang mencintai di masa muda, belum tentu layak dicinta ketika sudah dewasa.


Senja pun menyambut kepulangan mereka.


"CADIKA! MAKASIH UDAH JADI TEMPAT PERSINGGAHAN KISAH KITA."


"CADIKA! TANPA KAMU KITA BERDUA GAK AKAN PERNAH KETEMU. BYE!"


Josua melajukan motornya dan hendak mengantarkan sang masa lalu pulang kepada suaminya, Erik.


Terimakasih Cadika telah mempertemukan ku dengan Josua.


Tanpa pondasi mu mungkin tak ada kenangan manis yang tercipta.


Setelah keluar dari sini, kenangan dan janji manis kerap sekali ku tambahkan ke dalam kopi ku yang terasa pahit di setiap malam.


Aku mencintaimu Jo, tapi selalu ada kata selamat dalam ucapan selamat tinggal.

__ADS_1


Mungkin jika dipaksa bersama, ku rasa kita takkan pernah bahagia.


Bersambung...


__ADS_2