Pemilik Halu

Pemilik Halu
Kembali


__ADS_3

Setelah seminggu Riko tidak masuk sekolah, Widya jadi gelisah, takut Naya akan terkena masalah.


"Eh, Nay, si Riko apa kabar ya sejak dia pingsan gegara kamu pukul?" Tanya Widya saat mereka makan di kantin sewaktu jam istirahat.


Naya hanya mengangkat bahu dengan acuh. Sebenarnya Naya juga takut, hanya saja tidak ingin kedua sahabatnya jadi khawatir.


"Eh, itu si Naya kan?" Ucap salah satu siswa yang sedang berkerumun di pojok kantin.


Siswa yang lain menoleh ke arah Naya sekilas "Iya, dengar-dengar tuh cewek baru pecahin kepala anak orang,"


"Dengar-dengar juga nih, dia pernah gebukin kawan-kawannya si Erwin." Saut seorang yang lain.


Naya sedikit terusik saat Namanya disebut-sebut. Tapi gadis itu memilih bersikap tidak peduli.


Seorang siswa yang berada dikerumunan itu berkata lagi. "Gue sih enggak suka sama cewek kasar. Seandainya nih, di dunia ini tinggal gue sama tuh cewek, gue mah ogah!"


Dinda yang sudah geram mendengar perkataan yang Ia rasa menyakiti perasaan Naya hendak berdiri menyiram es kosong yang ada di tangannya.


"Eh, mau kemana?"


"Mau ke sana, mau nyiram tuh bocah-bocah." Dinda dengan kuat menghempaskan tubuhnya kembali untuk duduk setelah Naya membujuk dengan berkata tidak masalah.


Naya menghela nafas, "mereka benar, kodratnya perempuan itu ya lemah-lembut, sopan, ya gitulah "


Widya menoleh. "Tapi kan kamunya kasar karena mereka salah."


Naya menatap lekat ke arah dua sahabatnya. "Aku ini enggak pantas untuk jatuh cinta atau di cintai. Hidup aku penuh kekerasan, kekelaman, dan apa yang di bilang bocah-bocah barusan itu benar."


Dinda mengernyit, "apaan sih?"


Naya tersenyum, "dilain waktu mungkin kalian bakalan ngerti. Untuk sekarang aku belum siap kasih tahu."


***


Dijam pelajaran terakhir yaitu kesenian, Pak Laban membawa masuk gitar ke kelas.


"Hari ini saya mau perwakilan satu laki-laki dan satu perempuan untuk memainkan gitar di depan. Saya mau lihat disini yang menang grup laki-laki atau perempuan." Ucap sang guru yang membuat satu kelas riuh menunjuk-nunjuk temannya yang di rasa mampu.


"Yang pertama tampil laki-laki atau perempuan pak?" Tanya Joni dari pojok sana.


Sang guru tampak berfikir. "Laki-laki saja, di jam pelajaran saya tidak ada yang namanya ladies first." Jawabnya dengan nada bercanda.


Akhirnya kaum Adam memutuskan memilih Niel yang tampil membawakan lagu yang berjudul dengan caraku. Dari awal lagu semua terkagum karena suara Niel yang mampu memukau. Tiba dipertengahan lagu,


Tak mengerti apa yang telah terjadi


Kau tak lagi sama engkau bukan engkau


Yang selalu mencari dan meneleponku


Dering darimu tak ada lagi


Walau kau menghapus menghempas diriku


Mengganti cintaku, semua tak mampu


Hilangkan cinta yang telah kau beri


Walau kau berubah aku 'kan bertahan


Di sepanjang waktuku biarkan aku mencintaimu dengan caraku

__ADS_1


Merasa tersinggung dengan lagu ini, Naya menoleh ke arah Josua yang sedang menatapnya sendu. Gadis itu menelan ludahnya, seperti ingin berkata namun Ia urungkan. Melihat tatapan Josua, membuat Naya luluh dan hampir melupakan janji yang ia buat untuk dirinya, tidak boleh jatuh cinta.


Naya tampak merenung, "tidak bisa jatuh cinta kan bukan berarti tidak bisa berteman." Pikirnya.


Suara tepuk tangan membuyar kan fikiran Naya. "Giliran cewek." Niel menyerahkan gitar ke tangan Naya.


"Loh, kok aku sih?" Tanya gadis itu sedikit terkejut.


"Naya, maju" Perintah sang guru. Naya mendecak namun tetap maju.


"Ehem, ehem" Naya mencoba menetralkan suaranya, "kira-kira suara aku buat kalian pusing jangan di lempar ya." Ucap gadis itu bercanda.


Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa


Hanya memberi tak harap kembali


Bagai sang surya menyinari dunia


Sang guru pun tak kuasa menahan geli saat Naya menyanyikan lagu ini.


Naya yang cengengesan melihat reaksi teman-temannya yang sedikit bingung dan melongo, kemudian berkata.


"Biar ingat orang tua, soalnya anak-anak jaman sekarang tuh ya, omongan orang lain didengerin, disimak, dihayati, omongan orang tua masuk kiri tembus ke kanan"


Sang guru dengan gemas menggulung buku tulis untuk menoyor kepala Naya. Dan itu semakin membuat Naya tertawa.


"Ketahuan ya Pak, jarang dengerin orang tua," ledeknya, Sang Guru pun tertawa.


Jrengggg


Naya memetik gitar lagi. "Bonus nih,"


Waktu pertama kali kulihat dirimu hadir, rasa hati ini, inginkan dirimu


geloranya hati ini tak ku sangka


Rasa ini tak tertahan, hati ini selalu untukmu


"Semuanya.."


Terimalah lagu ini dari orang biasa, tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga aku tak punya harta


yang ku punya hanyalah hati yang setia, tulus padamu


Naya menghentikan petikan gitar. "Udah-udah."


"Yahhhh" Seru lemas terdengar dari setiap suara di dalam kelas.


Naya mencebik, "giliran kaya gini kompak banget dah." Omelnya.


"Jangan dipaksa guys, si Naya ngomel enggak cukup 2 jam" Ucap Dinda cengengesan.


Naya ijin ke toilet setelah mendapat anggukan kepala dari sang guru. Begitu Naya berlalu, Josua juga ikut keluar.


Naya yang keluar dari kamar mandi sedikit terlonjak melihat Josua didepan kamar mandi.


Naya menyipitkan mata, "ngintip ya?" tuduhnya.


Josua mendecak, " ngapain diintip, aku masih sabar kok nunggu sampai siap dihalalin."

__ADS_1


"Kamu, ih!" Naya hendak berlalu dari Josua,


pemuda itu berdeham.


"Kalau ada masalah bilang, jangan ngehindar dari semua orang. Giliran udah baikan, tinggal akunya yang di cuekin, sakitnya tuh disini Nay." Tunjuk pemuda itu pada matanya.


Naya yang berbalik jadi mengernyit, "kok mata sih yang sakit?"


Josua menurunkan tangannya, "ya sakitlah pas lihat kamu senyum, ngobrol, jalan sana jalan sini sama orang lain, aku doang yang dicuekin."


Naya menunduk, "maaf," ucapnya lirih. "Untuk masalah yang ini aku benar-benar enggak bisa bilang ke siapa-siapa."


Josua mengangguk. "Oke, tapi setidaknya kalau udah sembuh, kembali lah."


Naya tampak berfikir, "kembali?"


Josua mengacak rambut gadis itu dengan gemas. Setidaknya keduanya sudah kembali berteman.


***


Hari Sabtu, ada seorang Ibu datang ke sekolah dengan berteriak. "Siapa yang namanya Naya?"


Satpam berusaha menenangkan, namun Sang tamu tidak bisa ditangani. Guru-guru pun turun tangan untuk angkat bicara.


"Maaf anda siapa ya?" Tanya sang Kepala Kekolah.


Ibu yang berpakaian rapi itu berkacak pinggang, "saya orang tuanya Riko. Saya mau menuntut yang namanya Naya, kepala anak saya pecah gara-gara anak itu." Ucapnya berapi-api.


Kepala Sekolah menghela nafas, "masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik, mari ikut saya ke ruangan."


"Kalau sekolah ini melindungi si Naya-naya itu saya juga bakalan tuntut sekolah ini." Ancamnya.


Reyno, teman sebangku Widya yang sudah mendengar kabar Naya memukul kepala Riko, langsung berlari ke kelas gadis itu saat Ia melihat ada Ibu-ibu yang marah-marah.


Reyno masih terengah-engah. "Eh Nay, gawat! Gilak! Parah! Amazing!"


Dengan kesal Dinda melempar buku kearah reyno. "Ngomong yang jelas, apaan?"


Reyno menunjuk ke arah luar pintu, "anu, ada orang tua Riko ngamuk-ngamuk nyariin lo, Nay"


"kalau ngomong sama kita, harus pakai aku-kamu." Sempat-sempatnya Dinda berkomentar.


"Oh,"


Sesaat tersadar, "Eh, gimana-gimana?" Tanyanya panik.


"Katanya lo, eh kau, eh kamu, ih auk akh ribet! Mau di tuntut katanya." Adu pemuda itu dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.


Melihat itu, Josua mendekati Naya dan berbisik. "Hadapin aja, jangan takut. Kamu enggak salah, cuma enggak benar."


.


.


.


.


.


+62 : kirain tadi si Josua mau bilang, jangan takut aku padaku

__ADS_1


Author :sama aja🤣


__ADS_2