Pemilik Halu

Pemilik Halu
Jadian


__ADS_3

Akhir-akhir ini, tiga perempuan dan empat laki-laki tampak sering bersama. Tiga sejoli, Josua, Niel, Rey, Harry, mereka sudah terikat dengan nama sahabat. Tentunya kalau sudah ada lawan jenis, siapapun pasti tahu diantara mereka ada yang menyimpan rasa yang lebih.


Karena ada sesuatu yang selalu menggetarkan saat bertemu, Naya jadi canggung saat melihat Josua. Karena keseringan diam, Josua jadi sedikit lebih akrab dengan Dinda. Hal itu membuat Naya jadi semakin bungkam dan gadis itu lebih memilih untuk sering berbicara dengan Reyno atau Harry.


Lain lagi dengan dua insan yang sedang berbunga-bunga, Widya dan Niel. Mereka tampak biasa-biasa saja dan akrab pada semuanya.


"Widya sama Niel cocok banget, Dinda sama Harry juga, eh tapi sama Josua juga cocok mereka kompak. Mereka kok bisa bicara tanpa canggung ya?" Tanya Naya dalam hati.


Naya mendecih saat melihat Josua bercanda dan Dinda terlihat terbahak. Reyno mengelus pundak Naya. "Sabar Nay, dan juga harus sadar."


Naya kali ini tidak bergeming dan hampir tidak merasakan tubuhnya di sentuh. Harry yang mengerti situasi jadi cekikikan, "sadar kalau enggak boleh cemburu sama sahabat sendiri."


Naya jadi mendecak. "Nasib gini amat, kalau makan sendiri, mandi sendiri, nyuci sendiri mah enak, ini cintanya sendiri koyak nih kantong empedu, pahit." Naya menoleh menatap Harry, "kamu cemburu enggak sama Dinda?"


Harry menoleh sekilas ke arah Dinda. "Enggak sih, yang penting dia masih sering goda aku." Ucapnya enteng. Mendengar itu Reyno jadi mendecih.


Reyno menghela nafas. "Aku kira kita sering kumpul bakalan ketawa bareng tahunya terbagi lagi. Apalagi lihat si Niel bahagia banget kayaknya sama Widya, belum jadian aja bumi udah Selasa milik berdua."


"Serasa Rey." Ralat Naya.


"Udah berubah ya?"


Harry jadi menggeleng. "Enaknya si Rey kita jadiin sate atau rendang Nay?"


"Goreng krispy aja, kan tahan lama buat cemilan ngumpul." Ucap Naya memberi saran.


Wahai para netizen, bayangin saja Reyno memasang wajah seperti ini -_-.


Ada yang mendidih di lubuk hati Josua melihat Naya yang begitu bahagia disamping orang lain. Tapi mau gimana lagi, dia juga sama. Dan dia sadar akan hal itu.


***


Walau sering berkumpul di kost Naya tiap pulang sekolah, namun jarak Josua dan gadis itu semakin terlihat.


Saat ini Naya dikamarnya jadi semakin kepikiran kata-kata teman sekelasnya


"Aku memang jelek banget ya, masa sih enggak ada yang deketin gitu." Gumamnya.


Naya sering di olok-olok sebagai gadis yang tidak lakulah, tidak cantik, tidak punya pengalaman dalam pacaran dan semua hal yang menyangkut percintaan.


"Huff, mana ada jaman sekarang cowok yang mau terima cewek tomboy, enggak bisa make up, kasar." Keluhnya lagi.


"Apalagi berharap sama Josua yang banyak diidamkan orang." Naya semakin frustasi.

__ADS_1


"Pantas aja dia udah mulai jauihin aku, akhhh" Naya mengerang kesal.


Naya jadi semakin bingung, memikirkan nasib yang begitu rumit yang Ia jalani. Terlebih lagi mengingat masa lalunya yang suram.


"Tapi aku juga pengen tau rasanya punya pacar, aku juga punya hak kali buat bahagia." Lagi-lagi gadis menggerutu sendiri.


Ting!


Roy : malam cantik.


Naya jadi tersenyum, setidaknya ada manusia yang memujinya walau hanya lewat WhatsApp. Kedatangan Roy beberapa hari yang lalu membuat Naya jadi risih, namun akhirnya bisa akrab juga karena pemuda itu selalu bisa membuatnya tertawa dalam nyata maupun sosial media.


Naya : apaan sih.


Roy : jangan senyum ya, nanti aku diabetes.


Lagi, Naya tersenyum. Walau ada Roy yang mengisi kesunyian Handphone nya, tetap saja gadis itu mengharapkan Josua memberi pesan kepadanya.


Naya : hehehe, kamu bisa aja.


Naya langsung menutup handphone nya dan mungkin pesan Roy yang berikutnya tidak akan dibalas gadis itu hingga pagi. Kebiasaan para gadis yang selalu mengharapkan ada yang nge-chat, eh ada yang chat tidak direspon karena bukan dari sosok yang diharapkan. Dan pastinya Naya akan membalas dengan kata maaf ketiduran semalam. Hadeh.


Baru saja Naya hendak beranjak, ada pesan spam yang masuk. Dengan terpaksa gadis itu meraih handphonenya lagi.


Widya : aku udah jadian sama Niel.


Widya : amsiong.


Ya, iyalah jadian. Secara siapa sih yang mau nolak Widya.


***


Paginya, Naya langsung menatap dirinya di cermin dan menggerai rambutnya yang panjang dan tidak berponi. Gadis itu melirik gunting yang terletak disampingnya.


"Semoga engga ada yang nge-bully aku." Ucapnya pada diri sendiri setelah memotong rambutnya jadi sebahu dan membuat poni depan.


Penghuni satu kost jadi teriak histeris melihat penampilan Naya yang tampak berbeda. Gadis itu sudah rapi dengan seragamnya dan mengoleskan bedak dan memakai lipcream tipis di bibirnya.


Naya jadi cemberut, "aku aneh ya? a


Aku jelek ya? Astaga." ucapnya sambil berusaha menghapus kembali bedaknya.


Dengan sigap Rika menghentikan Naya, "kita itu teriak karena kaget Kak Naya cantik banget soalnya."

__ADS_1


Naya mengerjap. "Enggak mungkin."


Namun suara anak kost yang setuju dengan. Rika jadi membuat Naya percaya diri.


"Rambutnya jangan di ikat Kak, di gerai aja." saran Inka sambil mengelus rambut Naya.


Senyum Naya melebar apalagi saat bersamaan Jemputan nya sudah datang.


"Bye Adek-adek aku, suami udah jemput soalnya." Ucap Naya cengengesan.


"Ada dasi dua? Punya aku ketinggalan tadi." Tanya Josua saat mereka sudah di gerbang kost.


Naya mengangguk dan mengeluarkan dasi cadangan dari tasnya. Kebetulan Josua sedang makan gorengan jadi tangannya berminyak. Melihat itu Naya jadi bingung, "mau aku pasangin?" Tawarnya.


Josua hampir melepas senyumnya. "Boleh."


Naya langsung melingkarkan dasi dileher pemuda itu dan membuat jarak mereka jadi dekat. Karena gugup, Naya jadi lupa cara memasang dasi keningnya jadi mengkerut.


"Sama aku enggak usah gerogi kali." Ucap Josua santai yang nyatanya telapak tangannya sudah dingin karena penampilan Naya yang berbeda.


Naya menghembuskan nafas kasar, "aku enggak pernah pasangin dasi ke orang, jadi agak susah." Kilahnya.


"Udah sarapan?" Tanya pemuda itu yang membuat gadis itu menggelengkan kepala.


"Buka mulut!" Perintah Josua.


Naya bingung, "ha?"


Hap.


Josua memasukkan gorengan ke dalam mulut Naya dan refleks di kunyah oleh gadis itu. Melihat pemandangan langka, para penghuni kost 21 jadi riuh. "Cieeeeeeeeeeee"


Naya dan Josua menoleh bersamaan kemudian sadar tangan Naya masih berada di antara dada dan leher pemuda itu sambil memegang dasi, sementara Josua menyuapi Naya. Mereka jadi kelabakan saling berdeham.


Perhatian Naya jadi teralihkan saat melihat Widya dan Niel yang lewat berboncengan.


Kemudian kembali menatap Josua yang juga melihat dua pasangan yang baru saja lewat.


"Bakalan kenyang kita ini."


Josua mengangguk setuju, "buat daftar traktiran yuk,"


Naya jadi tertawa dan menepuk pundak pemuda itu gemas. "Aku enggak mau banyak-banyak kok takut gemuk, aku maunya mie goreng doang pake bakwan, risol, minumnya jus jeruk. Terus,"

__ADS_1


Josua mengacak rambut gadis itu dan tertawa pelan, "cita-cita langsing hobby makan." Dan mereka akhirnya berangkat ke sekolah.


Setiap kamu jemput aku, kurasa hanya itu waktu yang bisa aku habiskan bersamamu. Sampai disekolah aku harus rela melewati semuanya dengan rasa canggung dan bungkam. Yang parahnya aku harus rela tubuhmu di sentuh orang lain yang 'tak bisa kucemburui.


__ADS_2