Pemilik Halu

Pemilik Halu
Si gadis 50 juta


__ADS_3

Setelah mengalami insiden yang mengecam dada tadi sore, kini Naya keluar dari kamar Jiny dengan gaun hitam ketat yang melekat ditubuhnya. Tanpa ada kain yang menutupi bahu dan sedikit lebar di bagian dada, gaun itu juga panjangnya hanya sampai setengah paha.


Tono dengan seringai tampak tersenyum sejenak sebelum Naya melemparkan tatapan jijik padanya.


"Dimana Jiny?"


Pertanyaan itu dari Naya. Rahangnya jadi mengeras. Diingatnya lagi kejadian tadi, saat dirinya menolak permintaan, ralat, tawaran dari Jiny. Ia melangkah keluar dari kamar Jiny, yang didapatinya saat ini adalah Tono dan teman-temannya sudah berbaris di depan pintu.


"Apa?"


Tono mendorong bahu Naya, tapi tangan pemuda berambut jingkrak itu segera dipelintir gadis itu.


"Hati-hati jika ingin menyentuh seseorang, semuanya tidak sama dengan ekspektasi mu, bodoh!"


Plak!


Naya terlonjak. Sial! Pipi sebelah kiri Jiny ditampar keras oleh salah satu teman Tono.


"Kau gila Bram!" Bentak Jiny. Pergelangan tangannya dicengkeram dengan kuat membuatnya merintih, jika dia berkata, lari lah Naya, itu akan seperti ada di sinetron, dia tidak se-alay itu.


"Apa mau kalian?"


Tono membalikkan badan setelah puas menampar pipi Jiny secara bergantian. "Ikut kami malam ini!"


Naya mendecih, "sekotor itu ternyata kalian,"


"Airggh!"


Naya melirik ke arah Jiny, wajahnya tampak kesakitan. Punggungnya dicambuk dengan ikat pinggang kulit milik Bram. Jiny menggeleng pada Naya, tatapannya seolah menyuruh Naya untuk pergi.


"Kau pikir aku peduli dengannya?" Tanya Naya dengan nada ketus. "Bunuh saja dia jika kau mau," tambahnya lagi.


Ia terhenti sejenak, erangan dari Jiny berhasil membuat hatinya tergores. Ia tak sejahat itu hingga tega meninggalkan gadis yang masih muda itu.


"Lepaskan dia. Aku akan ikut,"


Jiny, aku akan membawamu pergi dari sini. Aku janji.


"Naya."


Naya menoleh, dilihatnya Jiny yang tadinya kelihatan begitu lincah, sekarang terlihat sangat menyedihkan. Gaun merah nan terbuka itu memang sangat pas di tubuhnya, tapi memar-memar bekas pukulan para pria yang... akh! Sudahlah! Aku tidak tahu mau mengumpat apa-apa lagi. "Tidak apa-apa, kita berangkat sekarang." Naya menggenggam tangannya.


***


"Pembukaan harga dimulai! "


"Lima juta!"


"Hei, kau pikir dia ini semurah itu? Dia ini murahan yang mahal, hahaha" seru seorang mafia yang cukup terkenal di sana. "Lima belas juta," timpalnya.


Maafkan aku Naya.


"Baiklah, karena dia orang baru dan sepertinya sangat segar," jeda pria berkemeja putih berompi hitam sebentar, "tiga puluh lima juta."


"Ada lagi? Hanya tiga puluh lima juta?" tanya pembawa acara memanas-manasi suasana.


Kenapa harga diriku jadi di lelang seperti ini?


"Ah, maaf tuan Robert, tiga puluh lima juta terlalu rendah." Ujar wanita pembawa acara itu, "dia bahkan lebih dari lima puluh juta," jelasnya.


"Cih! Baik, lima puluh juta!" suara lantang dari tuan Robert membuat Jiny menggeleng tidak percaya sekaligus tidak berdaya.

__ADS_1


Kenapa? Kenapa tidak bisa se-tega itu pada Naya? Padahal mereka baru saja bertemu tadi siang. Itupun hanya melalui insiden tumpahnya air minum.


"Hei, gadis lima puluh juta, kemari!"


Naya tertawa. "Aku baru saja memulai dunia gelap, kenapa harus bersama pria berewok dan jelek ini yang harus bersama ku malam ini?"


"Ha?" semuanya tercengang. Termasuk Jiny, apa? Apa ini?


"Lagian aku tidak mau hanya berdua saja, aku belum pengalaman. Aku mau Jiny menemani dan membimbingku didalam kamar. Jika syarat yang aku ajukan diabaikan, ku pastikan tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini."


Naya berani berkata seperti itu, lebih tepatnya dengan kalimat sombongnya, sebab ia sempat mendengar tadi saat gadis-gadis malam tengah bergosip tentang keadaan yang sangat sulit untuk mendapat gadis perawan di zaman ini, hingga berapapun harganya, pasti semua mafia itu mau membelinya untuk dinikmati malam ini.


"Dasar tidak tahu diri!" Tuding Robert padanya.


"Jika Tuan tidak terlalu puas dengannya nanti, aku akan memuaskan Tuan, itulah tujuannya dia mengajukan syarat seperti itu." Jelas Jiny, sekilas melirik Naya.


"Baik, tujuh puluh juta untuk dua orang ini!"


Tatapan iri didapati dari gadis-gadis malam yang sudah senior, apalagi melihat Jiny mendapat tawaran dua puluh juta. Sial sekali, pikir mereka.


Kamar pun disiapkan dengan baik oleh pihak club. Karena mereka akan mendapat untung besar dari dua gadis malam ini.


"Dengarkan aku Naya, aku akan mengalihkan perhatiannya, setelah itu pergilah." Bisik Jiny di dalam kamar.


Naya melihat ke arah Jiny, "bukannya kau yang menawari ku tadi sore?"


"Maaf," ucap Jiny menyesal, "aku tergiur dengan upah, maaf." Ucapnya sungguh-sungguh, "semua orang di sini sudah banyak membawa teman, hanya aku yang tidak pernah mendapat tip"


"Dan kau mengajakku padahal kita baru kenal beberapa jam lalu?" omel Naya. Dia sungguh kesal. Tapi tujuannya di sini adalah, "apa kau senang dengan keadaan ini?"


"Hati kecilmu tidak berontak?"


"Jiny?"


"Hm?" Jawabnya dengan penuh air mata tanpa suara.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Naya, aaahhh" Jiny memeluk Naya. Baru kali itu ada orang yang menanyakan keadaannya. Dan tebakan Naya benar, gadis ini butuh pertolongan.


"Tenanglah, aku di sini. Kita kabur sama-sama."


"Gak bisa Nay, mereka bakalan ngejar kita."


"Ya, udah, kita lari aja, sampai mereka capek."


Keduanya tertawa. Padahal keduanya belum tentu bisa keluar dari masalah ini.


"Hai, gadis-gadis, mari kita mulai pestanya, hahaha"


"Ikutin permainanku Jiny."


Jiny mengangguk, "oke."


Naya berjalan mendekat pada Tuan Robert dan mulai menyapanya, "hai Tuan, mau ku beritahu sesuatu?"


"Ah, kau lincah sekali ternyata. Kau ingin menggoda ku? Baiklah, apa yang ingin kau beritahu?"


Naya tersenyum manis, "aku tidak perawan," gelak tawa Naya memecah di ruangan itu.


"Apa?!"

__ADS_1


"Bercanda, Tuan," Naya mengedipkan mata, membuat dirinya tampak sangat liar. Jiny sudah bersiap di belakang.


BUKK!


"Jiny, lari!" Seru Naya.


"Kau bagaimana?" tanya Jiny yang melihat Naya yang malah mendekat pada Tuan Robert.


"Biar si tua bangka ini aku yang urus,"


"Eh?"


Akh! Bakk! Bukk!


Pukulan bertubi-tubi diberikan oleh Naya tanpa henti.


"Cih!" Dia meludah. Iuh! Ditariknya dompet pria itu dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dari dalamnya. "Kenapa belum pergi?" Yang mendapati Jiny terpelongo di tempatnya.


"Dih, emang mau di tinggalin?"


"Ya, nggak. Ya udah, kita pergi."


***


Berjarak lima ratus meter, segerombolan pria berjas hitam mengejar Naya dan Jiny.


"Sial!" Umpat Naya.


"Mereka gak bisa dihajar ya?" Tanya Jiny ngos-ngosan.


Naya mencoba meredakan nafasnya, "gila, itu terlalu banyak." Dilihatnya lagi ke arah belakang, "sial!" umpatnya lagi. Sudah, sudah, entah berapa kali lagi gadis ini mengumpat.


"Nyebrang, Nay,"


Naya mengangguk. Jalanan memang sepi, namun siapa sangka ditengah malam begini ada orang yang berkeliaran alias berpatroli.


Tinnnn!


Naya memeluk Jiny dengan kuat. Untunglah mobil hitam itu tidak menabrak mereka.


"Hei! Kalian mau cari mati ya?!"


"Hei, berhenti!!"


"Tidak!" Naya menarik tangan Jiny untuk masuk ke dalam mobil, tidak peduli yang dalamnya terus menggerutu. "Aku mohon, jalankan mobil ini," ucap Naya.


"Tidak mau, kalian pasti PSK ya?"


Bahasa formal lagi.


Nafas Naya memburu, sementara orang-orang yang mengejar mereka semakin mendekat. Satu-satunya jalan adalah lari dengan mobil ini, tapi kenapa pemiliknya ini sangat sulit diberi perintah?


"Ini antara hidup dan mati kami. Dan yang lebih penting ini semua tentang masa depan kami. Tolong," Ucap Jiny memohon dengan wajah memelas.


"Aku tidak mau!"


"Aish! Dasar orang tua! Kolot, bolot, bahasa formal lagi!"


Plak!


"Jalan!"

__ADS_1


__ADS_2