
Beberapa karya sudah diterbitkan, membuat seorang Naya sangat berkecukupan dalam kehidupan. Sang Ibu kini tak perlu lagi bekerja ke ladang dengan susah payah. Dia pun membeli rumah di Jakarta, dan meminta keluarganya tinggal di sana. Kini mereka semua satu rumah di Kota ini, jadi tidak perlu repot lagi kalau merindu, tinggal pulang ke rumah.
Tiga hari yang lalu Riko dan Erwin mengumumkan tentang reuni besar-besaran dan semua wajib datang. Niel dengan senang hati mengajak Naya untuk pergi bersama. Tentu saja wanita itu tidak menolak.
Pagi ini Naya sudah bersiap-siap. Kenapa dari pagi-pagi? Iya, karena katanya, acaranya meriah dan ramai dan bisa dipastikan akan seru sampai malam. Tapi bisa dipastikan sampai di sana, keadaan jantung Naya tidak akan stabil. Apalagi pasti ada Josua dan Widya di sana.
Tin! Tin!
"Dek, buruan."
Naya berlari keluar rumah dengan setelan yang berulang kali membuat Niel, sang Abang angkat sekaligus sahabatnya itu kagum.
"Ckckck, ingat woi, udah punya suami, gak boleh cantik-cantik amat," Entahlah, ini nasihat atau apa, tapi kedengaran seperti bercanda.
"Lah, asal gak ketahuan sama suami ya gak apa-apa lah Bang," sela Naya membela diri.
Niel kembali memandangi Naya, gaun berwarna mustard polos dengan polesan make natural ditambah dengan gaya rambut barunya menambah kesan elegan di sana. "Suami kamu mana, Dek?"
"Kerja Bang." Jawabnya singkat. "Jangan liatin aku terus Bang, dosa liatin istri orang." Semburnya.
"Aelah, Adek kok."
Niel fokus menyetir mobil dengan sigap menyusuri jalanan yang tidak ramai namun tidak sepi juga. Alunan musik di setel hingga membuat perjalanan mereka tidak terasa sudah sampai ke tempat tujuan.
"Yuk, turun,"
Naya diam saja tidak bergerak dari mobil.
"Woi, turun!"
"Ck, gak mau, bukain dong Bang, biar aku di kira Tuan Putri,"
"Najis, woi. Turun!"
"Gak mau, bukain dulu."
"Aelah, nih anak bandelnya gak ketulungan!" Niel membuka pintu dan menarik Naya dari sana, sontak Naya terkekeh karenanya dan masih terpingkal-pingkal melihat raut kesal pria itu.
Hal itu tidak lepas dari penglihatan Josua. Dia seberang sana, setelah beberapa detik sampai setelah Niel dan Naya sampai.
"Ya ampun Bang, gak boleh kasar sama perempuan," omel Naya yang masih sibuk membenarkan tatanan rambut pendek sebahunya.
"Kalau perempuannya ngeselin kayak kamu sih ada toleransinya."
"Dih, apaan, hahaha" Naya sudah selesai berbenah diri, "yuk Bang."
"Hem. Nih," Niel menyodorkan lengannya agar Naya menggandengnya.
"Eh, mohon maaf gak minat. Makanya jangan jomblo, Auh! Sakit Bang!" Gerutu Naya saat satu sentilan jari mengenai keningnya.
"Bodo amat!"
__ADS_1
Niel berjalan cepat, sementara Naya dibelakangnya sudah tertawa lepas tanpa suara. Lagi-lagi hal itu membuat Josua mendecak sebal.
***
Acara pun dimulai. Sambutan hangat namun meriah dari MC, cukup membuat semuanya terharu satu sama lain. Erwin yang dulunya mancung ke dalam, kini sudah mancung ke depan menjadikannya MC terganteng hari ini, sungguh terharu! Ia, dari dulu dia tak pernah di katakan ganteng karena pesek, sekarang sudah mancung karena operasi plastik, sungguh terharu. Terharu karena bisa berubah ganteng.
Sementara di sampingnya Riko yang dulunya begitu kurus seperti tiang listrik, kini sudah gembul ke samping. Siapa yang tidak terharu karena perubahan itu.
Enam tahun tamat dari sekolah, ternyata cukup membuat sesama mereka kagum pada satu sama lain. Apalagi Lilis yang menghampiri Naya.
"Wah, buku kamu udah banyak yang diterbitkan ya, selamat, by the way aku gak suka sih baca bukunya, cuma ya biar tenar dan bisa di posting instastory ya aku beli sih."
Naya tak tinggal diam, "wah, kamu jadi selebgram ya?!" Naya menekan suaranya, "aku tuh kagum banget sama kamu, apalagi followersnya, tahun lalu 20ribu tahun ini udah 19ribu, wah 1k nya kemana Lis, kompak unfollow kamu ya, hahaha, ups, sengaja, kagum aku tuh.."
Niel sudah hampir pingsan tertawa. Apalagi Naya menambah kalimatnya, "kamu kan influencerrrrrhh! Selebgramh! 19ribu followershh, masa sih beli buku aku cuma buat instastory dan gak di bayar, gimana sih, masa selebgramhhh mau yang gratisan, ya udah nanti aku bayar dua ratus ribu buat lima instastory kamu ya.."
Naya mendudukkan dirinya setelah Lilis pergi menjauh dari sana. "Haredang, Dek?"
Naya membalas dengan mendecak. Wajah manisnya terlihat kesal. "Kesal aku tuh, masih lima menit sampai atuh Bang."
"Sabar Dek," ia mengelus puncak kepala Naya.
Baru saja Naya hendak mengatakan jangan menyentuh istri orang, tiba-tiba Josua muncul dan duduk di samping Naya. Lantas, wanita bermata cokelat itu terlonjak.
Untuk menepis rasa canggung, Niel pun berucap. "Widya mana Jo?"
"Lagi ke kamar mandi, bentar lagi ke sini." Dia beralih menatap Naya, "apa kabar Nay?"
"Kayaknya kamu lebih bahagia sekarang dari yang dulu."
"Udah pasti dong."
Sepertinya pertarungan makin sengit. Niel melirik lagi pada sosok wanita yang berjalan ke arah mereka, "shit"
"Eh, ada Naya sama Niel." Widya tersenyum lebar dan mendudukkan dirinya di samping Josua. "Niel apa kabar?" tanya sang mantan.
"Baik, Wid. Udah sampai mana persiapan pertunangan kamu?" tanyanya sedikit lebih santai. Padahal hati-hatinya sudah menggebu-gebu, bukan karena masih sayang, dia hanya syok semua temannya akan menaiki panggung pelaminan, sementara dirinya masih sendiri. Atau yang lebih dikenal dengan bahasa awam. Jomblo.
"Udah hampir selesai, Josua sama teman-teman yang lain sering bantuin soalnya." Jelas Widya.
"Tunangan?" Naya bersuara, menggerakkan kepalanya ke arah Widya, "sama siapa?"
"Sama anak rekan Mami aku, Nay." Naya membuka mulut ber-oh ria.
Terus, Josua gimana? Mereka putus? Kapan?
Tentu saja pertanyaan itu di simpan dalam hati. Ia pun menoleh pada Josua, sang pujaan hatinya, dulu. Menatapnya sekilas, kemudian tersadar.
Dosa, woi, dosa! Astaga, ingat udah bersuami!
Naya memalingkan wajahnya dan bertemu pandang dengan wanita manis yang baru saja memasuki gedung tempat mereka mengadakan reuni. Kemudian melihat lagi ke sampingnya, "Loh, kok Dinda sama Rey? Harry mana?" tanya Naya tanpa sadar.
__ADS_1
"Hadeh, Dek, semua udah pada dewasa, jodoh masing-masing sudah mulai ditunjukkan."
"Hah? Seriusan? Wah, bagus dong. Dari dulu sih aku setujunya Dinda sama Rey. Soalnya mereka lucu."
"Iya mereka lucu, dan seharusnya mereka udah dekat dari dulu, tapi setiap ngumpul kamu pasti langsung dekat dan kompak sama Rey, mereka jadi pisah."
"Perasaan ya, kalau kita ngumpul, kamu tuh yang selalu ketawa-ketawi sama Dinda sampai lupa di bumi masih banyak orang, nyadar dong Jo!"
Widya dan Niel saling pandang dan mereka sama-sama angkat bahu. Demi kesejahteraan rumah tangga, Niel harus mengingatkan sang Adek angkat. "Ehem, Nay," tegurnya lembut.
"Atuhlah Bang, namanya lupa ya gak ingat," memalingkan wajah berusaha mengingat bagaimana wajah suami dinginnya agar hatinya tetap untuk yang di sana, bukan pada Josua sang masa lalu.
Gedung itu semakin ramai namun tidak terlalu padat. Para sahabat sudah berkumpul satu meja dan mulai berbincang-bincang. Sesekali Dinda melirik ke arah Naya dan memperhatikan sahabatnya itu, dia pun kemudian menarik kesimpulan bahwa Naya berpasangan dengan Niel. Begitulah kisah mereka, lima tahun belakangan ini tanpa komunikasi, sampai teman sendiri sudah menikah pun tidak ada yang tahu.
"Ada penampilan spesial dari teman kita, kemarin dia udah request ke kita, ya gak Win?"
"Yoi, Ko, please welcome Josuaaaa!" Erwin dan Riko berteriak dan dibalas tepuk tangan yang gemuruh oleh para penonton.
Josua berdiri dan menatap ke arah Naya sekilas, menarik sudut bibirnya ke atas. "Buat kamu Nay." Ucapnya malu-malu lalu naik ke panggung.
"Ehem-ehem, aku mau nyanyi, kalian dengerin ya, ini buat orang spesial yang lima tahun ini buat aku merindu di tengah keramaian."
"Yaaaaaaa" Sorak gemuruh baper pun terdengar.
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan s'lalu memujamu
Disetiap langkahku
Kukan s'lalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Josua menghentikan petikan gitar, membuka mata memperhatikan seseorang dengan gaun mustard, semua pasang mata memandang gadis itu. Lalu Josua pun melanjutkan lirik lagu dengan suara serak basa khasnya.
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semuaa
Hanya bersamamu ku akan bisa....
Berhenti sejenak.
Naya..
Semua bertepuk tangan riuh. Niel terpelongo tak percaya, sedangkan Naya sudah melangkah keluar gedung.
Rasa ini sudah salah sejak dulu!
__ADS_1