
Tiga sejoli sedang berada di kantin membahas tentang Josua. Mereka mencari tahu tanda-tanda seseorang menyukai kita dari beberapa buku.
"Naya, ada lima cara nih." Ucap Dinda sembari menyodorkan buku yang Ia baca, Widya ikut nimbrung untuk melihat.
Widya memiringkan kepalanya sedikit dan mulai membaca, "tanda seseorang menyukai kamu. Pertama sering memberikan perhatian. Misalnya mengingatkan kamu makan, tidur cepat, jaga kesehatan."
Naya berpikir sejenak, "enggak pernah."
"Kedua, sering tertawa pada hal yang kamu ucapkan." Giliran Dinda yang membacakan.
Naya menggigit bibir bawahnya, "itu mah aku, dia belum ngomong aja aku udah ketawa. Terlalu bahagia ada disamping dia."
"Idih, najis! kalau kamu mah enggak usah ditanya, udah kelihatan banget kamu suka Josua." Saut Widya.
Dinda kembali membolak-balik buku yang dipegangnya, "pokoknya kita harus tuntas-in misi ini. Naya harus bisa memilih antara Josua atau Roy." Gadis itu fokus lagi sejenak, "ketiga, si dia akan bertingkah aneh saat kamu bersama orang lain."
Widya menjentikkan jarinya, "aha! satu hari ini coba kamu nempel sama laki-laki lain Nay, Reyno misalnya."
"Aku sih lebih dekat sama Abang angkat aku, si Niel." Ucap Naya.
"Dih, itu pacar aku, jangan dong." Balas Widya sewot.
Kringggggg..
Suara bel tanda istirahat telah usai, mereka bertiga pun masuk ke kelas dengan persetujuan bahwa Naya harus dekat dengan Harry, karena kalau dekat dengan Niel, Widya bisa berubah wujud jadi rubah.
"Ry, tugas kimia untuk lusa udah siap?" Tanya Naya basa basi. Sedangkan Dinda duduk di samping Josua yang berperan sebagai pengawas.
Karena jarak tidak terlalu dekat dan suasana kelas sedikit bising, Josua tidak terlalu mendengar percakapan Naya dengan Harry.
"Si Naya sok dekat banget sih sama Harry, kesal aku tuh." Ucap Dinda yang membuat Josua melirik Naya yang sedikit asyik mengobrol dengan Harry.
"Cemburu?" Tanya Josua.
Dinda mengangguk, "kamu cemburu enggak sama Naya?"
"Ya enggaklah, ngapain aku cemburu. Lagian dia cuma aku anggap sahabat."
Josua kan bilangin si Naya, kok aku yang sakit hati ya? Kalau Naya dengar langsung Josua bilang kaya gini, bisa patah hati tuh anak. Kasihan.
"Kamu enggak suka ya sama Naya?" Tanya Dinda tiba-tiba.
Josua sedikit terkejut namun tetap memasang wajah biasa saja, "enggak lah."
Aku enggak suka Din, tapi sayang.
Belum sempat Dinda memberikan pertanyaan selanjutnya untuk mengintrogasi, Guru bahasa Inggris masuk untuk memulai pelajaran.
Saat Sang guru menulis di papan tulis, Dinda mengeluarkan ponselnya dan memberi pesan pada kedua sahabatnya untuk keluar dan bertemu di toilet.
Naya memegang absen kelas dan ijin untuk mengantarnya kepada Wali Kelas, sedangkan Dinda berakting berlebihan memegang perutnya. Sebenarnya jika bersikap biasa saja tidak akan ada yang curiga, setelah Dinda berakting membuat sebagian jadi berbisik-bisik menatap curiga.
__ADS_1
"Si Dinda makan apa di kantin sampai sakit perut gitu?" Tanya seorang siswi pada temannya.
"Enggak tahu, aku jadi curiga Ibu kantin itu masukin racun ke makanan." Sautnya.
Jadi Ibu kantin kan yang jadi korban, hadeh!
Tiga sejoli sudah berkumpul di toilet.
"Yang ketiga parah." Ucap Dinda membuka pembicaraan.
"Maksudnya?" Tanya Widya.
"Tadi Josua terang-terangan bilang kalau dia enggak cemburu dan emang enggak suka sama Naya." Dinda memberi jeda dan memperlambat kata-katanya. "Dia juga bilang kamu cuma dianggap sahabat."
Naya mendecih. Air mukanya berubah jadi merah. "Ternyata sesakit ini toh rasanya." Gumamnya dalam hati.
"Tenang, banyak loh yang lain dibibir, lain dihati. Kita baca dulu cara yang ke empat sama kelima." Ucap Widya.
Naya mendecak. "Enggak mau akh, percuma!"
Meskipun Naya menolak, namun Ia tetap mendengarkan ketika Dinda membacakan tanda yang selanjutnya, "ke empat, pernah bilang i love you sama kita."
"Ih, pasti enggak pernahlah." Naya sudah menggerutu kesal. "Yang terakhir apaan?" tanyanya penasaran.
"Terlihat canggung dan gugup saat berduaan dengan kamu." Widya membacakan yang terakhir.
"Hadeh! yang ada tuh ya, kalau makin dekat, dia malah makin lancar gombal enggak jelas yang buat jantung aku mau lepas. Dia mah biasa aja." ucap Naya jengkel.
"Auk akh!"
Naya dengan kesal masuk ke kelas, namun Ia melupakan sesuatu.
"Naya, tadi katanya mau ngantar absensi, kenapa masih ada ditangan kamu?" Tanya sang Guru yang sedang mengajar.
****** aku.
Dinda sudah melenggang masuk dan terlihat tertawa mengejek ke arah Naya. "Hukum aja Bu, si Naya udah bohong." Ucap Dinda yang membuat Naya memasang wajah sedatar mungkin.
"Anu Bu." Jawab Naya dengan satu kata seribu makna. Anu.
Tiba-tiba Wali Kelas Naya muncul di depan pintu, "daftar absendinya mana Naya?"
Naya membelalakkan matanya, "eh, ini Bu. Saya tadi cariin Ibu."
"Saya juga cari kamu enggak kelihatan tadi dikelas. Berarti kita saling nyari dong." Ucap sang Wali Kelas.
"Ya begitulah Bu, sekuat apapun kita mencari kalau enggak Jodoh susah ketemunya."
Mendengar itu satu kelas jadi riuh, "yhaaaaa."
Sang Wali Kelas pun pamit, kemudian Naya di suruh melanjutkan tulisan dialog bahasa Inggris di papan tulis. Dan Sang Guru pun pamit keluar karena ada urusan katanya.
__ADS_1
Sepanjang Naya menulis banyak yang mengomentari tulisannya, padahal gadis itu sudah menulis dengan baik dan rapi. Mereka sengaja supaya Naya tidak terlalu cepat menyelesaikan tulisan itu.
Josua yang sedang dalam mode tidak mood untuk menulis jadi ikut-ikutan seolah tidak mengerti apa yang di tulis gadis itu dipapan tulis.
"Nay." Panggil Josua.
Gadis itu membalikkan badan, "apaan?"
"Jangan ketus gitulah Dek, apa Josua sayang gitu dong." ucap Niel yang mendapat cebikan bibir dari Naya.
"Ada apa Jo?" Tanya gadis itu.
"Itu apa bacaannya, Nina said apa sih itu?" Tanya pemuda itu sengaja mengulur-ulur waktu.
"Yang mana? Yang ini?" Tunjuk gadis itu pada salah satu kalimat yang ditulisnya.
Pemuda itu mengangguk, "iya, yang ada to him to him nya."
"Oh, Nina said i love you to him." Jelas Naya.
"Berarti, Nina said.." Baca Josua lagi.
"I love you" Sambung Naya yang berniat menyempurnakan yang dibaca oleh Josua namun semuanya sudah heboh.
"Cie, udah bilang love-love aja nih," teriak murid yang duduk di belakang.
"Balaslah Jo," ucap Niel. Naya membalikkan badannya kembali menghadap papan tulis menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
"Bilang i love you too lah Jo." Teriak Dinda gemas.
"Balas, balas, balas." Satu kelas itu bersahut-sahutan.
"Kalau aku suka aku pasti udah balas." Ucap Josua yang membuat semuanya jadi lemas.
Naya yang mendengar langsung pengakuan dari mulut Josua tidak sengaja menjatuhkan spidol yang dipegangnya, saat hendak mengambil giliran buku ditangannya yang jatuh dan menyenggol sebotol kecil tinta yang ada dimeja. Semuanya jadi berantakan seperti keadaan hatinya.
"Wajar kecewa Nay, tapi enggak usah kelihatan segitunya juga kali." Ucap Lilis diseberang sana. "Lagian sadar diri dong, udah jelek, pendek, kasar, berharapnya sama Josua, berkaca sana!"
Naya menelan ludah berusaha tenang. "Lilis yang cantik nan sempurna, aku tuh orangnya setia. Aku punya pacar diluar sana jadi enggak mungkin dong aku suka sama Josua."
Josua memandang lekat ke arah Naya. Entah apa yang sebenarnya ada dibenak pemuda itu. Entahlah, dia pun tidak mengerti.
Karena jengkel mendengar perkataan Lilis, Dinda angkat bicara, "pacarnya Naya itu jauh lebih keren kali dari Josua. Kaya, baik, punya usaha sendiri. Dan aku akui pacarnya Naya pintar karena udah pilih Naya sebagai pujaan hatinya."
Lilis hanya tersenyum remeh, ia menganggap semua itu omong kosong. Sebenarnya sih iya, tapikan kalau Naya bilang yes sama Roy, mereka otomatis langsung jadian pada hari itu juga.
Dan Naya secepat kilat membuat keputusan.
"Enggak perlu nunggu tiga hari, satu hari aja udah cukup kok buat nyadar-in siapa aku di hati kamu Jo." Gumamnya kemudian meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu kemudian melanjutkan menulis.
Naya : Roy, kita jalani aja dulu ya. Aku sih yes buat jadi pacar kamu.
__ADS_1
Roy : love you.