
Kembali pada masa sekarang...
Suasana kantor terlihat tenang pagi ini. Sinar matahari masuk begitu saja sesukanya lewat kaca-kaca ditembok. Terlihat Dinda sudah ada di sana, mungkin dirinya adalah orang pertama sampai pagi ini.
Naya masuk dengan wajah yang uring-uringan sehabis bertengkar dengan sang suami tadi malam. Wajahnya masih terlihat pucat dan sedikit kusam. Dia tak berniat memakai make up.
Naya mengangkat tangan kanan dan melihat jam tangan miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, masih ada waktu sekitar satu setengah jam lagi untuk menyendiri.
Dia duduk di kursi kerjanya yang berdekatan dengan meja Dinda. Baru saja dia mau mulai drama kehidupan dengan air mata ia tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran seseorang.
"Kamu ngapain?"
Ah, bahkan untuk bersedih saja aku tak bisa. Sial.
"Bukan urusanmu!"
Dinda menghela nafas sembari meletakkan kopi yang baru ia buat, ia pun duduk dan menghadap ke arah Naya. "Kamu ada masalah?"
"Bu-kan urusanmu!" Nadanya lebih ketus.
"Kopi, Nay." Tawarnya, tidak peduli dengan sikap acuh Naya.
Beberapa saat mereka saling diam. Dinda sesekali mencuri pandang pada sahabat lamanya itu, dia khawatir Naya kesurupan pagi-pagi.
"Nay, kamu gak apa-apa?"
Lagi-lagi Naya menatap dengan tajam. "Gak usah sok peduli, lagian ngapain sih pagi-pagi udah kesini, jam kerja mulainya jam delapan kok." Celetuknya kesal.
"Hadeh, malas jelasinnya. Padahal semalam ya, ada yang kasih naskah tapi awut-awutan, mana jalan ceritanya ngawur lagi. Gak tau deh itu siapa."
Dinda dan Naya saling menatap. Beberapa detik kemudian keduanya tertawa. Lalu terdiam. Burrrf. Tertawa lagi!
"Apaan sih, ngapain ikut ketawa." omel Naya.
"Dih, gak ada larangan woi!"
Naya akhirnya tertawa lagi. Lagi, seperti orang gila. Ia terus mengembangkan senyumnya dan tertawa lagi bahkan sampai terbahak-bahak tanpa disadari air matanya turun dengan deras lalu berganti dengan tangis. Dinda jadi panik sendiri.
"Tuh kan, kesurupan." Selorohnya takut sendiri. Tapi tetap menghampiri Naya, memperhatikan wanita itu yang tampak begitu lemah.
"Nay, kamu kenapa?"
__ADS_1
Naya masih saja menangis tersedu-sedu, pikirannya begitu kacau. Dia tidak tau harus bercerita kepada siapa saat ini. Setidaknya untuk mengeluarkan unek-unek saja.
"Nay," tegur Dinda memegang pundak Naya. "Nay!" bentaknya memberanikan diri. "Apa yang harus aku lakukan?"
Dinda meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana. 'TUTORIAL MENGAHADAPI ORANG KESURUPAN DI PAGI HARI' enter.
Dinda berlari ke arah dapur kantor mengambil air putih dan membawanya kembali dengan tergesa.
Naya mengira Dinda akan menenangkan dirinya dengan memberikan air minum. Tapi selanjutnya dia bingung dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Dinda menutup mata sambil memegang air itu, bibirnya komat-kamit tidak jelas untuk waktu yang lama membuat Naya sedikit meredakan tangisnya meski masih sesekali cegukan. Dinda meneguk air namun tak menelannya, kemudian membuka mata bersiap menyembur.
"JANGAN!!!" Pekik Naya.
Nasi sudah menjadi bubur. Naya jadi basah dan semakin berantakan. Wanita itu melongo melihat Dinda yang kemudian tersenyum padanya.
"Ah, syukurlah, ternyata manjur sekali obatnya. Kamu udah sadar Nay? Gak kesurupan lagi?"
"Ya ampun Dinda, bisa gak aku ambil otak kamu terus aku cuci biar bersih." Keluhnya sembari membersihkan wajahnya yang basah dengan tisu.
"Tuh kan, kok jadi ramah gini sih? Kamu masih kesurupan ya? Ah, astaga! Mungkin hantunya ganti-gantian. Yang tadi hantu sedih, sekarang hantu ramah." Cerca Dinda begitu saja dengan wajah dan otak polos miliknya.
"Huh!"
Naya mendesah. Dilihatnya Dinda masih gugup ketakutan yang mengira dirinya benar-benar kesurupan.
"Aku sedih Din.." Bahunya bergetar hebat, moodnya benar-benar aneh hari ini, seketika bisa tertawa, lalu sedetik kemudian menangis lagi. Mungkin perkiraan Dinda tak salah, Naya memang kesurupan.
Dinda mendekat saja, meraih pundak Naya. "Pergi! Jangan ganggu tubuh ini! Pergi! Tinggalin Naya hantu jahat, pergi!" Ia menepuk leher Naya.
"Uhuk-uhuk! Woi! Bused, siapa yang kesurupan? Yang ada kamu tuh yang kesurupan!" Sembur Naya. "Sakit lagi." Memegangi lehernya.
"Nah, yang ini baru Naya yang asli, suka ngegas suka ngomel." Wajah manis Dinda terlihat sangat lega.
"Din, sini deh." Ucap Naya lemah.
"Janji dulu, ini Naya yang asli bukan yang kesurupan."
"Iya, ini aku yang asli."
Dinda menurut dan mendekat saja. "Lebih dekat lagi." Kata Naya.
Dinda maju dua langkah, Naya mendekat dan berbisik, "air dari mulut kamu bau aura kematian, sumpah gak bohong."
__ADS_1
"Ha?"
***
Naya sedikit tersenyum mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Dia sudah mengganti pakaian dan memakai riasan tipis diwajahnya. Kebetulan di kantor itu ada loker khusus buat para karyawan, jadi bisa menyimpan barang apa saja seperti baju dan sepatu.
Dia mengintip ke arah luar, menangkap sosok Dinda yang sangat cemas menunggunya. Dia tertawa, gemas sekali melihat Dinda seperti itu. Tak ada lagi kesal hati padanya, tampaknya hati wanita itu perlahan sudah bisa menerima keadaan Dinda di kehidupannya sekarang. Toh, punya musuh tidak ada artinya.
"Din," tegur Naya saat sudah keluar dari ruang ganti.
"Udah siap? Kamu gak demam kan? Kepalanya gak sakit kan? Soalnya kata Mbah Google, habis kesurupan pasti pening." Selorohnya.
"Aku gak kesurupan Dinda, kamu aja yang salah paham."
"Beneran?"
"Iya."
"Hah, syukurlah. Maaf deh kalau gitu, soal yang tadi. Soalnya aku tuh panik kalau kamu kayak tadi, lebih-lebih dari se..tan. Ups!"
Naya terkekeh. "Lima tahun gak ada kabar, ternyata otak kamu miring sedikit ya," Lalu memeluk Dinda. "Maafin aku ya, sekarang bisa gak temenan aja kayak dulu?"
"Eh?" Dinda tertegun. "Bukannya aku ya, yang harusnya minta maaf?" Tanyanya sedih, pelukan mereka terlepas.
Naya menggeleng, "nggak. Toh semuanya udah berlalu."
"Soal Josua.."
"Udah, jangan bahas dia lagi. Lagian aku udah punya suami, gak boleh bahas laki-laki lain."
"Ah? Masa? Emang ada yang mau sama kamu?" Tanyanya bercanda.
"Ya adalah, tapi harus dipaksa, hehehe" jawabnya cengengesan. "Ya udah, nunggu yang lain datang, kita ngerjain naskah yang semalam aku kirim aja. Soalnya aku gak fokus tadi malam, maaf udah buat repot."
"Gak apa-apa, asal gaji aku di naikkan." Celetuk Dinda.
"Cih!"
Mereka pun mulai membuka pekerjaan yang sempat tertunda akibat drama kesurupan. Kejadian itu masing terngiang-ngiang diingatan Dinda. Ingin sekali dia bertanya, tapi harus di tunda dulu. Karena, "Nay, aku kebelet, sebenarnya ada hal penting yang mau aku tanya, gimana dong ini? Aku harus pipis dulu atau nanya dulu."
"Makan aja dulu." Balas Naya santai.
__ADS_1
"Isssh" Desisnya dan berlari ke kamar mandi, "Naya gila!"