Pemilik Halu

Pemilik Halu
Tunangan


__ADS_3

Remang-remang dan sepi. Begitulah keadaan kamar sepasang suami-istri itu sekarang. Sesekali masih terdengar suara sesenggukan. Erik menunggu sampai tangis Naya reda.


"Mas ngapain disini?" Tanyanya mulai tenang. Penampilannya begitu kacau.


Erik diam saja tak menjawab. Dia lebih tertarik dengan wajah Naya sekarang. Dari awal gadis itu mulai resah dan sampai terbangun seperti ini. Sangat aneh tapi lucu, menurut pria itu.


Naya jadi gugup sendiri mendapat sorotan seperti itu, "aku tidur lagi Mas, maaf mengganggu."


Tetap saja Erik masih diam. Dia tak bergeming, membiarkan saja istrinya tidur kembali dan setelah itu ia pergi menuju ranjangnya.


***


"Ikan hiu sambar gledek, cepat Dek!!" Teriak Niel dari luar. Pria itu sudah sangat tampan dengan setelan jas warna navy dan celana navy juga tentunya.


Naya keluar dan tersenyum pada Niel. "Eh, udah di sini? Sabar ya Bang, aku mandi dulu.." ia nyengir tanpa dosa.


Niel terbengong,"astaga, yang benar aja Dek? Masih mau mandi?" tanyanya takjub dan dongkol tentunya.


Naya hanya bisa nyengir kuda. "Bentar, jangan bawel Bang. Anak-anak nanti gak konsen makan,"


"Ha? Anak-anak? Kamu udah punya?"


"Nih, di dalam perut. Tadi aku tuh baru siap sarapan jadi cacing-cacing aku juga pasti lagi makan. Ssst, jangan bising, cacing-cacing aku yang gemas ini gak suka bising." Ia melangkah masuk lagi ke dalam rumah untuk bersiap-siap sementara Niel terdiam di teras rumah.


"Dek," panggilnya.


"Apaan?" Naya berbalik lagi.


"Nanti aku temani ke rumah sakit ya, siapa tau otak kamu tinggal tempatnya doang."


***


127 menit berlalu. Niel sudah mengumpat dari tadi. Jika saja tidak ada anggota keluarga Naya di sana, mungkin pria itu sudah menyongsong ke dalam dan menjambak wanita yang bernama Naya itu.


"Sabarrr!!" Teriak Naya untuk kedua ratus sekian kalinya.


"Bang, kalau cewek bilang udah on the way, itu tandanya baru bangun tidur. Kalau bilang lagi make up itu baru mulai sikat gigi." Dina mendekat yang memang kala itu sedang libur sekolah berhubung hari ini weekend, "Kalau cewek bilang udah siap, itu adalah hal ter-bulshit yang pernah ada dimuka bumi." Jelasnya dramatis.


"Pintar banget sih kamu, Dina, pasti bukan adiknya Naya kan?!" Sindirnya kesal mendapati Naya keluar dengan cengir kuda.

__ADS_1


"Ya jelaslah Dina adik Kak Naya, gimana sih Bang Niel." Protes Dina.


"Emang kamu mau kayak Naya yang sering bilang udah siap padahal belum mandi?"


"Lah, itu sih kelebihan semua wanita, kan Dina cuma kasih tau aja ke Abang Niel, bukan malah nyalahin Kak Naya."


"Oke." Jawab Niel putus asa. Pria itu mengira Dina sedikit lebih waras dari Naya, nyatanya tidak sama sekali. Bahkan lebih parah! "Iya, wanita tak pernah salah. Cukup, hentikan. Ayo Nay, sebelum aku berubah jadi monyet bertanduk."


Naya terkekeh mendengarnya. Meski wanita itu terlihat cantik hari ini, hati Niel tidak bisa memujinya berhubung dia sudah sangat kesal.


"Ayo, Bang Niel kita berangkat, siapa tau kan di acara pertunangan mantan sendiri dapat jodoh." cengir Naya lagi.


Baru saja Niel benar-benar ingin mengumpat, Erik keluar dengan wajah datar. Niel menyapa dan dibalas seadanya. Naya diam saja, toh tak ada gunanya dia menyapa, sudah pasti sang suami akan mengabaikan dirinya.


Erik mengambil posisi duduk di kursi tamu di teras, sementara Naya sudah mendesak Niel agar segera berangkat.


"Ya ampun Dek, aku gak pernah ya ngajarin kamu gak sopan sama suami sendiri. Pamitan dulu," suruh Niel berlagak bijak.


"Mau berangkat sekarang atau gak jadi?" ancam Naya.


"Et dah, ya udah ayo." Jawabnya mengalah.


Erik memperhatikan punggung Naya dan Niel sampai masuk ke dalam mobil. Pria itu tau apa posisi Niel di hidup Naya, jadi dia tidak terlalu khawatir. Erik tau kalau Niel menyayangi Naya seperti adik sendiri.


"Abang gak cemburu sama Bang Niel?" Tanya Dina yang ternyata masih di sana.


Erik menoleh, salah satu cara agar Dina berhenti menghujaninya dengan pertanyaan seputar kakaknya adalah, "Dina mau baju atau sepatu?"


***


"Wah,, calonnya ganteng banget Bang kayak oppa-oppa Koreaaa" Naya heboh sendiri.


"Apa sih Dek, kasihan loh calonnya masih muda masa kamu bilang kakek-kakek sih?"


"Ih, Abang! Oppa itu artinya Abang dalam bahasa Korea." Jelasnya. "Ah, pengen kesana mau minta foto, ah"


"Eh, eh," menangkap pergelangan tangan Naya. "Ini anak ya, eh, mending ya Nay, kamu ke dapur dulu sana,"


"Dih, ngapain?"

__ADS_1


"Ambil telur, dadar! Dadar diri sana dadar diri!"


"Apaan sih jadi sensi!" ketus Naya.


Naya merintih kupingnya dijewer oleh Niel, pria pun berbisik, "ingat suami kamu!"


Naya pun berdecak. Telinganya kini mungkin sudah merah. "Sakit ya, Wakil Presiden jomblo!"


Seorang pria mengamati kedekatan Naya dan Niel. Hatinya begitu memanas. Apalagi didengarnya dari Niel yang katanya tak punya hubungan spesial dengan Naya. Tapi yang dilihatnya hari ini dan kemarin tidak sesuai dengan kenyataan. Dia pun bersumpah akan membeli boneka Anabelle yang besar dan memberikannya pada Niel. Sialan!


***


"1...2...3... Masuk Pak Eko!!" Seru para tamu undangan mengiring masuknya cincin indah dijari Widya. Widya sah bertunangan dengan seorang pria yang katanya pengusaha muda. Tapi semua tamu tidak tau siapa nama pemuda itu. Dipapan bunga hanya ada tulisan Mr. B.


"Mr. Bambang mungkin," Tebak Naya.


"Salah. Mr. Bean itu." Celetuk Dinda.


"Kayaknya gak mungkin deh, Mister..." Naya tampak berfikir.


"Apa?" Tanya Dinda, Rey, bahkan Niel serentak. Kedua pria itu jadi ikut nimbrung dalam percakapan tidak penting antara Naya dengan Dinda.


"Mr. Baper mungkin, siapa tau dia mantan sad boy kayak si Niel."


Untung saja semuanya masih waras dan tidak melempar Naya dengan apapun.


"Eh, ini gak ada acara lempar bunga gitu?"


"Mana ada Din, ini tunangan bukan nikahan." Cerca Rey.


"Ya siapa tau aja ada, kan bisa si Niel langsung tangkap bunganya biar gak jomblo lagi."


"Apa hubungannya tangkap bunga sama gak jomblo Markonah?"


"Ya ada-adain aja, gak usah ribet." Balas Dinda.


Kini tiba saatnya memberi selamat kepada pasangan yang sudah sah menjadi tunangan. Niel dan Naya maju paling awal. Tentu saja dengan banyak paksaan dari Naya serta menyakinkan Niel bahwa dia bisa bahagia tanpa Widya. Iya, kodratnya pria harus mengalah, dan Niel melakukannya.


Setelah memberi selamat, Naya dan Niel kembali ke meja mereka yang semula. Tapi sejenak Naya berhenti. Matanya tertegun pada satu sosok. Dilihatnya Dinda memasang wajah tak berdosa, pasalnya dia yang mati-matian mengajak Naya untuk datang ke acara ini, yang katanya Josua tidak hadir. Apaan. Ini apa namanya Markonah?

__ADS_1


"Josua?"


__ADS_2