Pemilik Halu

Pemilik Halu
Akhir cerita ini.


__ADS_3

Masih menangis didalam pelukan Erik. Naya terus mengoceh tanpa henti, Erik juga melakukan hal yang sama, terus memberi dukungan pada Naya.


"Dia datang waktu tidur pulas malam-malam Mas."


Naya mulai bercerita lagi disela tangisnya.


"Aku mau bangun karena terkejut tapi semuanya udah terlambat Mas. Aku hina dari dulu!"


"Dari umur 9 tahun sampai sekarang aku terus mimpi wajah pria kurang ajar itu! Aku takut Mas.. hiks"


Tak sadar sampai Erik juga meneteskan air mata. Pedih yang dialami Naya memang tak dapat di rasakan nya. Tapi ia tahu, Naya sangat tersiksa karena itu.


"Sudah ya, memang susah dilupakan, tapi sekarang kamu harus lihat ke depan. Ada aku Naya.. Kita jalani sama-sama sampai kenangan buruk itu perlahan samar dan memudar."


Naya sesenggukan. Semakin mengeratkan pelukannya di dada sang suami.


"Jalan kita dan rumah tangga kita baru aja di mulai Nay, apapun yang kelam, kita tepis bersama."


Naya makin menangis. Perkataan Erik membuatnya terharu. Meski sempat mendapat perlakuan buruk dari Erik dan selalu mengatainya tidak becus jadi wanita, kini Naya yakin pria itu sudah menerimanya karena tahu alasannya.


"Maaf karena aku gak pernah tanya ke kamu, Nay."


Naya menggeleng, tangisnya mulai reda.


"Mas tau gak sih, Mas orang pertama yang tau dimuka bumi ini."


"Emang selain di bumi ada yang tau?"


"Adalah Mas. Yang maha kuasa kan di surga." Jawab Naya tapi sempat-sempatnya sesenggukan.


"Iya, ya hehehe."


Keduanya diam beberapa saat. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Erik pun berdehem pelan mencairkan suasana.


"Nay,"


"Iya, Mas?"


"Semuanya udah berlalu. Cerita yang perlu kita tulis sekarang itu adalah tentang kita, keluarga kita dan anak-anak kita kedepannya nanti."


Naya terharu. Lalu berucap, "makasih Mas."


Mereka pun berpelukan saling menyalurkan rasa yang mulai tumbuh entah sejak kapan. Karena memang sudah seharusnya begitu.


***


Naya dan Sumi masih sering bertemu. Bahkan kerap kali Pak Budi, ayah Sumi ikut untuk menghampiri Naya ke tempat bekerja atau sesekali Naya yang berkunjung ke sana.


Selama masa susah Naya, Ayah dan Anak itu selalu ingin membantu tapi Naya tidak mau. Niatnya hari ini akan mempertemukan Erik dengan mereka tapi ternyata Erik ada halangan. Mungkin suatu hari nanti.


"Jadi gimana persiapan acara pernikahan kamu Sumi?" tanya Naya.


"Alhamdulillah lancar Nay."


"Syukurlah, Pak Budi gimana perusahaan?"


"Lancar aja sih, tapi mungkin lebih lancar kalau ada kamu." Ucap Pak Budi tidak sepenuhnya bercanda, karena beliau masih berharap Naya bisa kembali lagi kesana.


"Maaf ya Pak, Naya udah mandiri, hehehe"


***


Acara pernikahan Widya dengan Mr. B digelar dengan sangat mewah dan meriah. Maklum, nikahan pengusaha cuy!


Tapi, selalu ada pria yang menyatakan cinta di atas acara orang lain. Dialah Rey. Hari ini penampilannya begitu rapi dan terlihat tampan, tapi tidak sesuai dengan tingkahnya.

__ADS_1


"Dindaa!!"


"Dindaaaaa!!"


"I LOVE YOU!"


Dinda yang sudah diperlakukan seperti ini menjadi kebal malu. Lama-lama dirinya pun tersenyum ke arah pria gila itu.


"Kasihan dia Din kamu gantung terus." Cerca Naya.


"Yah, dikira jemuran." Ledek Niel dan disambut tawa dari Josua.


"Makhluk yang belum dapat pasangan, just shut up!" Sembur Naya dan mengundang tawa teman mereka yang lain. Bahkan Harry dan tunangannya ikut nimbrung untuk meramaikan suasana.


Iya, benar. Sekarang Josua dan Niel selalu bersama, kemana pun itu. Karena kata mereka 'sesama jomblo harus saling menguatkan' dan tak bosan-bosannya juga Naya dan lainnya mengingatkan agar mereka tidak belok jalur alias homo!


"Dinda, I love you baby!"


Lagi-lagi mereka tertawa. Dinda sudah gemas sedari tadi, dia pun berdiri angkat suara, "hei stupid! I love you too!"


"Eh?" kejut semua orang. Terutama pengantin yang sudah sah menjadi suami pun memasang ekspresi lebih syok.


"Baby, will you marry me?" Teriak lantang Rey dari atas panggung, ia sudah menjadi penguasa di sana setelah mengusir MC acara.


"Tolak!"


"Tolak!"


"Tolak, tolak, tolak!"


Rey memandang miris, teman-temannya memang sudah tidak ada yang waras lagi!


"Dinda Setiana Dewi, will you marry me?" ulangnya lagi tak peduli dengan sorakan para tamu.


"Pipit terosss! Jangan kasih kendor!!"


***


"Bu Sila kita perlu liburan deh," kata besannya.


"Iya ya, tapi kemana dong?"


"Pantai aja Bu," Dina mengusulkan sambil mengunyah makanannya, mereka sedang makan malam bersama.


"Boleh juga. Sekalian Anto ajak Lili." Ucap Anto. (Lili kekasih Anto).


"Gimana Nay, kamu setuju kan?" tanya sang Mertua.


"Naya ikut apa kata Mas Erik aja Mi." Menoleh pada Erik meminta pendapat.


Erik terlihat mengambil ponsel dan menelepon seseorang, "undur semua jadwal saya, saya ambil cuti."


Naya tersenyum senang.


"Yeay, liburan!!"


***


Hari ini keluarga Naya dan keluarga Erik pergi ke pantai untuk berlibur. Rasanya begitu lega melihat pemandangan sepanjang perjalan membuat Naya tak henti-hentinya tersenyum.


"Kalau udah sampai di pantai, jauh lebih cantik lagi." Kata Erik.


"Wah, udah gak sabar Mas.."


"Emang kamu belum pernah ke pantai?"

__ADS_1


Naya menggeleng. "Belum Mas."


"Eh? Masa?"


"Iya, Mas. Aku terlalu sibuk mengubah nasib hidup dan mengurusi rindu yang ribet, jadi gak sempat kemana-mana. Sekarang udah sukses, taunya udah nikah aja."


Erik menatap sendu pada sang istri. "Mulai hari ini Mas usahain supaya kamu bisa pergi kemanapun kamu mau. Kita jalan kesana kemari,"


Naya tersenyum, "gak perlu Mas. Mas selalu ada waktu bangun pagi aja udah cukup buat aku."


Erik mengulurkan tangan mengacak rambut Naya. Lalu turun mengambil tangan wanita itu dan menggenggamnya erat sembari fokus membawa mobil hingga sampai ke tempat tujuan. Pantai!


***


Naya terlihat duduk di bibir pantai, mengambil ponselnya dari tas. Ia membuka aplikasi dimana ia menulis. Senyumnya tiba-tiba mengembang, Naya benar-benar bahagia karena banyak sekali para netizen yang menanggapi karyanya dengan positif.


Naya mulai mengetik beberapa kata untuk menutup cerita yang hendak ia akhiri pada saat itu juga.


Aku dan kamu itu manusia, sama-sama makan nasi. Sudah, hanya mau bilang begitu saja.


Naya tertawa melihat apa yang ditulisnya. Lalu menghapusnya lagi. "Nanti deh waktu lagi mood." Naya bermonolog.


"Hei," Erik memeluk Naya dari belakang.


"Mas."


"Kamu ngapain?"


"Mau nulis sih, tapi gak jadi."


"Kenapa?"


"Jari-jari aku mager, Mas, hehehe"


"Kamu ini."


Mereka duduk bersama di atas pasir, memandangi sang lautan biru. Sementara keluarga besar mereka asik berbincang-bincang dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Naya dan Erik.


Naya menyenderkan kepada ke pundak Erik.


"Tuhan itu baik banget kan Mas."


"Iya."


"Saking baiknya, ngirim kamu jadi suami aku."


Erik terkekeh. "Iya, aku juga bersyukur kamu jadi istri aku. Karena sejak pertama kali kita bertemu hati aku udah ke bawa sama kamu."


"Wah, maaf ya Mas, lupa kembalikan. Berarti selama ini kamu hidup tanpa hati dong?"


"Iya," jawab Erik yang membuat Naya jadi tertawa.


Kisah mereka pun dimulai dari titik ini. Dimana keduanya akan menjalani hidup sesuai garis dan aturan yang sudah lukis dengan sangat baik oleh sang Pencipta.


Kedepannya pasti banyak masalah dan konflik, tapi siapa yang berhati bersih dan selalu bersyukur, pasti diberi hati yang bijaksana.


Kisah ini pun sah ditutup. Terimakasih buat yang sudah mampir dan baca, buat yang komen dan rate juga salam cinta dan sayang buat kalian♥️


Aku Maya Sofina, mengucap banyak sekali terimakasih. 🙏🤗


Aku lagi cicil buat cerita baru. Kalau gak ada halangan, bulan 11 udah muncul di apk noveltoon, untuk sementara baca cerita aku yang judulnya "KAU CAHAYA" dulu ya teman-teman.🤗🤗


Saranghae🤗🤗


♥️♥️❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2