
Angin sepoi tampak menyapa dedaunan yang ada di jalan raya. Mengangkat dedaunan itu sesekali. Sang Surya pun masih malu-malu menunjukkan dirinya ke bumi. Terlihat sebuah mobil putih melintasi jalanan.
Iya, hari ini Naya sudah bisa pulang kembali ke rumah. Naya tak henti-hentinya membujuk Erik agar pulang sepagi mungkin. Sampai pria itu begitu penasaran apa sebenarnya yang membuat sang istri begitu kukuh ingin pulang.
"Mau ngapain sih harus sepagi ini pulangnya?" Tanya Erik sembari fokus menyetir.
"Anu, Mas, mau nulis novel, soalnya setiap hari Sabtu aku harus update, kalau nggak bisa-bisa pecinta tulisan aku kabur semua. Enak cuma kabur, nah ini ninggalin jejak hate."
Celetuknya Naya panjang lebar.
"Astaga.."
Naya cengengesan. Ia memutar kepala menoleh ke arah jalan, dibukanya sedikit kaca mobil agar bisa menghirup udara segar pagi itu. Karena masih sangat pagi jadi mereka tidak terkena macet atau polusi udara yang berlebih.
Tangannya ia ulurkan ke luar, mencoba menyapa udara di jalan raya, lalu menoleh pada sang suami.
"Kita udah baikan Mas?" Tanyanya tiba-tiba.
Erik menoleh sebentar kemudian fokus lagi ke arah jalan. "Sudah. Malah sangat baik."
"Kok bisa?"
"Bisa dong, kita kan berjodoh. Jadi berantemnya gak boleh lama-lama."
"Apaan." Cerca Naya. "Oh iya, kok bisa aku tiba-tiba ada di rumah sakit, Mas?"
"Mau diceritain nih?"
"Iya."
"Penasaran ya?"
"Iya."
"Banget, gak?"
"Bangettttt Mas!"
Erik tertawa kecil. "Ada syaratnya."
"Apa?"
"Masakin mi instan pakai telur buat aku ya.."
"Yah itu doang, sekalian deh aku tambahin sayur-sayurannya. Gampang itu Mas."
"Oke."
"Jangan oke-oke aja, cerita Mas."
"Aku lapar, nanti aja ya tunggu mie nya masak."
Naya mendecak kesal. Sangat kesal.
"Mas, ih!"
***
Sampai di rumah, Naya dengan semangat empat lima dikali seribu memasak mie instan untuk Erik. Tangannya dengan lihai memotong bawang dan sayuran. Sementara Erik menunggu dengan duduk manis dihadapan wanita itu. Sebenarnya dia ingin membantu, tetapi langsung ditolak oleh Naya karena merasa direpotkan.
__ADS_1
"Sabar ya, bentar lagi mateng."
"Iya."
Selama Naya memasak, Erik terus memperhatikan Naya membuat wanita itu jadi salah tingkah sendiri.
"Bisa gosong ini mienya Mas, jangan dilihatin akunya."
"Loh, apa hubungannya?"
"Ya, ada. Pokoknya jangan lihatin, nanti gosong."
"Iya."
Mie instan yang tunggu-tunggu pun telah masak. Naya menyiapkan semuanya untuk sang suami.
"Makasih."
"Udah kewajiban aku Mas, jangan sering bilang makasih."
Erik mengangguk tersenyum.
"Habis ini kita kemana?"
"Aku mau kerja Mas, mau nulis dikamar."
"Oke. Nanti aku temenin."
"Emang Mas gak kerja?"
"Nggak,"
"Mau temenin kamu aja Nay. Udah ya, jangan banyak tanya, kita makan dulu."
"Iya Mas."
***
Di kamar, Naya fokus berkutat pada MacBook miliknya. Tangan dan pikirannya seolah-olah adalah satu tim yang baik, benar saja, sedikit ia mengernyit kalimat demi kalimat dengan cepat membentuk sebuah paragraf.
Disampingnya Erik juga tak kalah sibuk. Erik tetap bekerja di rumah meski sudah menyerahkan tugasnya pada sekertaris.
Hampir tiga jam mereka diam. Hanya suara ketikan laptop yang terdengar. Naya berhenti sejenak sebelum mengirimkan naskah ke aplikasi. Naya menoleh kepada sang suami dan mendapati wajah serius Erik.
"Tampan." Naya bergumam pelan.
Naya kembali fokus pada pekerjaan dan dengan segera menyelesaikannya. Setelah meng-klik enter, naskah yang ia kerjakan selama beberapa jam lalu sudah berhasil masuk ke dalam tahap revisi. Naya menarik tangannya ke depan, sedikit meregangkan otot-ototnya. Kemudian menoleh ke samping. Kelihatannya Erik masih sibuk bekerja. Naya memtuskan untuk istirahat sebentar, lalu tak lama kemudian terlelap di samping Erik.
***
Perlahan fokus Erik buyar. Telinganya menangkap suara seperti meringis, samar-samar ia juga mendengar suara minta tolong. Erik melempar pandangan ke arah Naya. Mata pria itu langsung terbuka sempurna, ia menemukan Naya berkeringat dingin. Mulutnya komat-kamit tak jelas. Tapi Erik yakin istrinya sedang bermimpi buruk. Sangat jelas terlihat dari wajah sedih Naya.
Erik menepuk pundak Naya pelan.
"Jangan.."
"Nay, bangun.." Mengguncang bahu Naya.
"Jangan.. hiks, JANGAN!!"
__ADS_1
Tangisnya makin pecah tapi masih belum bisa membuka mata. Naya terus menangis dan berkata "jangan" membuat Erik jadi tidak tega. Ia terus mencoba membangunkan Naya.
"Hiks, hiks, tolong.....Jangan, tolong, jangan.. Tidak!! TIDAK!!" Naya tersentak, dia terbangun setelah Erik menepuk-nepuk pipinya sedikit keras. Naya mengatur nafasnya, berusaha sadar dari mimpi buruk sekaligus terkutuk itu!
"Hei," Erik menarik agar lebih dekat dengannya. "Cuma mimpi, tenang ya.." Ujar Erik sembari mengelus puncak kepala Naya dengan lembut.
Naya memandang sang suami yang sedang menatapnya juga. "Mas.."
"Iya."
"Mas... Huaaaaaaaa" Tangisnya kembali pecah.
"Hei, kemari lah." Erik merentangkan tangan, meminta wanita itu masuk ke dalam dekapannya, Naya menurut.
"Mas.." Panggilnya dengan sendu.
"Iya."
"Aku takut... hiks."
"Jangan takut, Mas ada disini."
Naya menenggelamkan wajahnya ke dalam dada sang suami, ini untuk pertama kalinya dia bisa menyentuh pria itu. Dan entah kenapa kehangatan seperti ini membuatnya sangat nyaman.
"Sudah ya, jangan nangis lagi." Bujuk sang suami dengan lembut, tangannya masih sibuk mengelusi rambut Naya.
"Aku gak mimpi Mas.
"Terus?"
Naya mendongak, berusaha menahan sesenggukan karena ia harus memberitahu hal ini. "Hanya memori kelam yang tiba-tiba muncul." Air matanya luluh begitu saja. Lepas tak terkendali meski Naya tak ingin.
"Kamu tenang dulu ya, ceritanya nanti aja. Tenangkan pikiran dulu ya.." Ucap Erik, lagi-lagi nadanya terdengar sangat lembut.
"Nggak, Mas harus tau ini."
"Ya udah, cerita. Tapi jangan sedih kayak gini."
"Iya." Naya mengangguk. Mulai mengatur nafasnya. "Aku.. aku.. aku, hiks!" Kembali menangis.
"Hei, tenang..."
"Aku diperkosa Mas," tangisnya tidak bisa ditahan lagi, dia menangis sekencang-kencangnya. Erik mendekap Naya lebih erat lagi. Hatinya begitu pedih jika melihat Naya terlihat sangat rapuh seperti saat ini.
"Gak apa-apa, lanjutin aja supaya kamu bisa lega." Ucap Erik.
"Laki-laki tua bangka itu, dia harus mati di tangan aku Mas!" Naya histeris. "Dia harus mati ditangan aku!" Ulangnya lirih. "Tapi kenapa dia meninggal dengan tenang? Kenapa dia gak tersiksa di bumi Mas?" Racau Naya. Meski tidak langsung mengerti, Rey berusaha mencerna dengan baik.
"Aku takut Mas. Takut untuk jatuh cinta pada siapapun. Dari tamat SMA gak bisa pacaran karena aku takut. Aku takut Mas."
"Iya."
"Masa depan aku hancur Mas, gak bakalan ada yang terima aku,"
"Ada Nay, ada. Buktinya kita udah nikah."
"Tapi Mas juga jijik kan sama aku?" Lagi-lagi. air mata Naya mengalir.
"Nggak Naya, nggak." Erik ikut sedih. Dia tak henti-hentinya memaki diri sendiri di hati. Betapa bodohnya dia menyalahkan Naya atas kesalahan yang tidak diperbuat wanita itu. "Maaf, aku gak akan tinggalin kamu. Aku janji. Aku sayang kamu Nay."
__ADS_1