
"Cie yang gagal move on padahal belum jadian,"
Ledekan dari Niel membuat saraf Naya satu-satu mulai terputus, dia pun berusaha mencari kosakata untuk mengumpat dengan kata yang lebih halus. Tidak ada! Tidak ada yang halus, baiklah kali ini dia mengambil sikap tak acuh saja.
"Minum kopi good day gak akan buat daymu jadi good."
Naya berhenti menyesap kopinya. "Mohon maaf, ini Torabika." Sangkal gadis itu.
Refleks Niel tertawa. "Cie yang udah kuliah tapi pengangguran, hahaha" Karena dilihatnya Naya mendecak sebal.
"Nyinyir mulu," omel Naya. "Eh, Bang, kapan sih ke sini lagi? Udah lama kan gak pulang kesini," Tanya Naya sembari memperbaiki posisi duduknya agar menghadap pria yang ada dilayar ponsel miliknya.
"Libur Natal kayaknya sih pulang, Dek. Doain aja biar bisa jalan-jalan,"
"Ih, mau.. sama Widya kan?"
"Ck, udahan ya, mau mandi."
Tawa Naya kian melebar. Enak sekali ternyata mengobrak-abrik pria yang sedang patah hati. "Loh, emang kenapa? Dia kan sahabat kita."
"Ck, kan aku nawarin sama kamu Dek."
"Oh,, baperrrr aku tuh."
"Dih."
Setelah melewati perang besar di perusahaan
dengan bos besar, Naya akhirnya dibolehkan untuk keluar. Dengan syarat, harus sukses kedepannya.
Ya, Pak Budi, ayah Sumi, sudah menganggap Naya seperti anaknya juga. Pria yang berumur 49 tahun itu tidak sanggup jika tidak ada Naya di kantornya. Pasalnya, gadis itu selalu baik dan memberi perhatian lebih pada pria itu yang jarang sekali ia dapat dari putrinya sendiri, Sumi.
"Pak, saya mohon."
Pak Budi tidak mau berbalik menghadap pada Naya. Hatinya begitu hancur. Ikatan keduanya sudah terjalin seperti ayah dan anak. Karena di satu sisi jauh di lubuk hati gadis itu dia sendiri ingin mencari sang ayah yang kata sang ibu 'dia sudah meninggal, di hati ibu' sedangkan Pak Budi, dari dulu beliau sering mengabaikan Sumi karena pekerjaan, hingga putrinya dewasa dia tidak menyadarinya. Lalu terciptalah kecanggungan diantara anak dan ayah itu.
Namun kemunculan Naya sedikit mengikis canggung diantara mereka. Kini Sumi pun jadi lebih sering menyapa sang ayah berkat nasihat dari Naya dan Pak Budi pun berterima kasih sebanyak-banyaknya. Tapi kembali lagi ke kisah perpisahan. Pak Budi merasa sangat kehilangan.
"Kamu bilang resign karena mau kuliah kan?"
Naya membalas dengan mengangguk, kini keduanya sudah berhadapan setelah Pak Budi dengan kesal membalikkan badan tadi, "kuliah untuk jadi apa?"
"Jadi sarjana Pak,"
"Kalau udah jadi sarjana, mau ngapain lagi?"
"Mau kerja Pak."
__ADS_1
Pak Budi mengusap wajahnya kasar, "terus yang kamu lakukan di kantor saya ini emangnya apa? Dangdutan? Nggak kan? Kamu udah enak loh kerja disini" Pilihan kata mana lagi yang harus dilontarkan batin Pak Budi.
Untuk beberapa saat Naya masih memikirkan apa kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Bosnya ini. "Tapi saya pengen jadi sarjana Pak. Di rumah saya gak ada foto anak yang wisuda," Nah, terlontar lah isi hatinya.
"Hadehhh.. Ya udah. Saya mau bilang apa lagi, kamu juga juga bakalan ngotot buat pergi." Ucap Pak Budi akhirnya mengalah. "Tapi.."
"Kenapa Pak?"
Lagi dan lagi, ada kata yang sangat sulit sekali diungkapkan oleh sang Bos. "Nanti kalau kamu pergi," lidahnya tercekat, "siapa yang ingatin saya makan siang?"
Mata Naya jadi berkaca-kaca. Dia tidak sanggup harus berkata apa, apalagi posisinya sekarang Sumi tidak ada di sana, dia sedang tugas ke luar kota. "Eh, mohon maaf Pak, perusahaan ini kan besar ya, masih sanggup kan sewa suster, lagian gak mahal kok Pak, nanti saya cari yang diskon deh," Seloroh Naya berusaha bercanda.
Pak Budi diam saja. "Kemari," Naya mendekat lalu membalas pelukan dari orang tua itu. "Harus sukses ya. Kalau udah berhasil, gak usah datang kesini, harus sombong ya,"
"Hahaha, Bapak ih. Saya pasti selalu ingat Bapak."
Kembali ke Niel.
"Eh, bengong ae, mikirin apa coba? Pasti tentang Josua kan?"
"Nggaklah. Sakit mah kalau di ingat, mending dilupain."
"Weh, jadi mikirin apaan?"
"Ada, Bapak angkat. Jadi ke ingat dia. Eh, tau gak Bang, novel yang aku tulis di aplikasi Birutoon viewersnya udah banyak, likenya juga loh."
"Dih, kasih selamat kek, apa kek," Seloroh Naya.
"Selamat. Udah kan?" Dilihatnya Naya tersenyum geli. "Ngapain sih lihatin laptop mulu,"
"Ya kerja dong. Ini pesanan di online shop aku udah banyak kunjungan sama pesanan,"
Ya, belakangan ini Naya sudah sibuk dengan online shop yang isinya baju, tas serta barang-barang preloved miliknya. Harganya juga lumayan tinggi tapi peminatnya juga rata, jadi jika di hitung-hitung cukup untuk biaya hidupnya sebelum mendapat pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan jam kuliahnya.
Di satu sisi, dia iseng menginstal salah satu aplikasi novel online dan menulis di sana, sembari mengembangkan bakatnya yang selama ini terpendam. Tanpa dia sadari satu persatu fans mulai muncul karena memang suka dengan karya gadis itu.
"Eh, novel yang kamu tulis kok sedih banget sih, terinspirasi dari mana?"
"Dari kehidupan kamu lah Bang, masa sih gak ngeh, itu kan judulnya 'Sad Boy' itu kamu Bang,"
"Atuhlah Dek, pantesan mirip." Rautnya kesal tapi tertawa juga. Tidak menyangka dirinya yang jadi inspirasi gadis itu. "Eh, Dek, udahan ya, mau siap-siap kerja."
"Iya,"
"Ada pantun nih."
"Apaan?"
__ADS_1
"Ikan hiu disambar gledek,"
Plis bilang i love you Dek..
Sambil menunggu jawaban dari pria itu, Naya meraih kopinya untuk mengalihkan wajahnya yang memanas menunggu kalimat selanjutnya.
"See you Dek."
"Sial!"
Terdengar Niel masih tertawa lebar sebelum panggilan terputus.
Tok, tok!
Naya melirik ke arah pintu, diliriknya lagi jam tangannya, siapa yang bertamu pagi-pagi begini?
Tanpa bertanya siapa di luar, Naya membuka pintu begitu saja. Kerinduan dan mata sendu terpampang jelas di wajah gadis itu. Tapi tentu saja dia kesal.
"Widya?"
"Nayaaaaaa," dengan ceria memeluk Naya. "Kangen..udah lama balik ke sini tapi gak pernah ketemu, apalagi Dinda juga lagi sibuk kerja dia padahal kita dekat."
Lebih baik menepis masalah dulu, pikirnya. "Dinda di Jakarta juga?"
"Eh," Widya tampak bingung, karena pasalnya dia tidak tahu apakah hubungan mereka sudah se-renggang itu. "Iya, Nay, sebenarnya kita udah lama di Jakarta. Josua aja yang baru dua bulan di sini, katanya biar kita berdua gak jauh."
Naya tersenyum. "Owh, kasih kabar dong." Naya cengengesan sambil memukul pundak Widya lembut, kelihatan seperti bercanda, tapi sebenarnya Naya sudah melirik leher gadis yang dulunya berstatus sahabat itu,
Pengen gorok lehernya ya Lord! Sabar Nay, sabar. Harus munafik, pasang senyum lebar.
"Ngomong-ngomong ngapain ke sini?" Tanya Naya, karena seingatnya terakhir kali mereka saling sapa sewaktu video call, itupun hanya sekilas. Lalu apa maksud dan tujuan wanita ini datang ke sini?
"Oh iya. Nay, maafin aku ya,"
Tokoh utama dalam cerita ini masih munafik ya saudara-saudara, jiwa dan raganya sedang meronta untuk menolak, tapi apalah daya, hatinya sudah di materai dengan jiwa lembut nan munafik. Dia pun seolah-olah tidak mengerti. "Maaf buat apa?"
"Tentang Josua."
"Hahaha, biasa aja kali. Aku sama Josua kan emang gak ada hubungan apa-apa. Santai aja."
"Beneran?" Widya memastikan, raut bahagia sudah terpancar di sana. Satu yang tidak bisa dipungkiri oleh Naya, dia bahagia melihat temannya bahagia. Itu prinsipnya. Tidak, untuk yang ini, dia tulus, tidak munafik. Lantas Naya pun mengangkat dan berkata iya. "Kalau gitu bantuin aku ya,"
"Hm? Ngapain?"
"Buatin surprise ulang tahun Josua."
"Ha?"
__ADS_1