
Josua turun dari panggung hendak mengejar Naya namun dicegah oleh Niel. "Jangan, Jo."
"Apaan, awas, aku mau ngejar Naya!" Berusaha melepas lengannya dari cengkraman Niel.
"Jangan, Jo. Naya udah gak bisa seenaknya dengan sama siapapun, termasuk kita."
"Kenapa?"
"Karena Naya, Naya.." Bukannya Niel tak mau jujur, tapi melihat kesedihan yang terpancar dari tatapan Josua membuatnya tak tega membongkar identitas Naya. "Pokoknya laki-laki gak boleh deketin dia, kalau ada yang macam-macam bakalan berurusan sama aku. Gak ada pengecualian, Jo, meski kita temanan dari dulu."
"Kasih tau alasannya, Niel!"
"Gak bisa, Jo!"
Josua mendesis kesal. "Kasih tau alasannya!" Dia menghempaskan tangannya dengan kasar. Mau tidak mau Niel harus melepaskan.
"Gak bisa!" Ucap Niel tak mau kalah, perdebatan mereka hanya di saksikan dengan bungkam oleh orang-orang di sana.
"Kau tau kan Niel, lima tahun ini aku berusaha mencari dia, aku cuma pengin baikan doang. Lagian aku tahu kok, Naya masih suka sama aku."
Niel tak menjawab. Urat malunya sepertinya mulai menyambung satu sama lain, di liriknya ke sekeliling, "Sial, malu banget!" umpatnya dalam hati. Untuk menyelesaikan ini, dia menarik nafas dalam-dalam, "ya udah kejar Naya, tanya yang sebenarnya."
Josua segera bergegas. Sementara orang-orang di dalam berangsur melanjutkan aktivitas mereka sebelumnya.
Terlihat ada Rey dan Harry yang mulai berbincang satu sama lain, Niel pun menghampiri, karena kalau tidak ada Naya dia bingung mau mengoceh kepada siapa.
"Eh, udah gimana usaha kalian?"
"Alhamdulillah lancar, Niel," jawab Harry. Begitulah mereka saling bertanya dan basa-basi seputar kehidupan.
"Eh, Rey, itu muka kenapa ditekuk?" tanya Niel yang memang wajah Rey sedikit murung melihat ke arah seseorang.
"Tau nih anak, kenapa Rey?" Harry menimpali.
"Aku tuh cuma suka bingung aja. Aku tuh satu kerjaan sama si Komeng," menunjuk dengan dagu, Komeng teman sekelas sekelas sewaktu SMA, "dia punya utang sama aku."
"Lah terus?"
"Udah ada sebulanan gitu. Dia janjinya cuma dua hari, eh taunya lewat sampai sekarang. Aku tuh segan kalau mau minta utang ke dia."
"Yah, hukumnya emang gitu. Orang yang berutang kita yang takut minta, udah biasa itu, ikhlasin aja," seloroh Harry.
"Bused, seenak jidat ngomong. Nyarinya woi susah."
__ADS_1
"Ya udah minta sana,"
"Ya kan udah di bilang segan, atuhlah gimana sih."
"Ya udah ikhlasin,"
"Gak bisa, Harry!!"
"Ya udah minta,"
"Segan!!"
"Woi, astaga, kayak roller coaster, muter-muter mulu! Kesal tau gak sih," Niel jadi mengomel. Niel memalingkan wajah sekilas ke samping Rey, dia terkejut, hingga berulang kali tetap melihat Dinda dengan tatapan heran. "Eh, Din, gak kesurupan kan? Din? Dinda.."
Mata Dinda lurus menatap seseorang dengan penuh peperangan, "apaan sih," Niel mengikuti arah pandangnya, "astaga! Apa lagi ini?" kaget Niel.
Harry dan Rey yang tadinya sibuk mendebatkan hutang, jadi salah fokus juga dengan dua wanita yang ada di meja itu. "Kalian kenapa?" tanya mereka serempak.
"Afifah? Kamu kenapa?" tanya Harry mengguncang pundak sang tunangan. Namun tidak di respon.
"Din, masih bernyawa kan?" Rey memegang kening Dinda.
Tak sabar menunggu, Niel memukul dua wanita itu dengan dompet masing-masing yang terletak di sana.
"Bisa gak sih gak usah mukul." Omel Afidah dan Dinda bersamaan.
"Ya siapa suruh tatap-tatapan kayak mau nerkam gitu, kalian ngapain emang?"
Memperjuangkan cinta sejati! Teriak masing-masing dalam hati.
***
"Nay, Nay!" Josua menarik tangan Naya. "Tunggu dulu, aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?" ketusnya, tapi belum mau melihat Josua.
"Kita luruskan semua yang udah salah di masa lalu. Aku sama Widya cuma bentar doang kok pacarannya," Josua berusaha menjelaskan.
"Gak usah dijelasin, Bang Niel udah kasih tau semuanya kok. Kamu sama Widya cuma bentar, cuma buat Niel panas aja kan? Tapi kamu tau gak sih, gimana hancurnya aku waktu itu?" Naya berbalik menghadap Josua.
"Aku pikir gak bakalan separah itu. Maaf,"
"Hulala, bilang maaf itu gampang banget tau gak sih! Lagian udah gak ada artinya lagi Jo. Mending kita urus jalan hidup masing-masing." Naya mulai memanas, dia pun memilih untuk pergi. Lagi-lagi Josua menangkap pergelangan tangannya, "Apalagi sih Jo?" Ucapnya lemah, sebenarnya dirinya amat merindukan pria itu, iya, pria yang telah tega melupakan janji manisnya.
__ADS_1
"Maafin aku Nay."
"Aku udah maafin. Sekarang aku mau pulang,"
"Ya udah aku antar ya."
"Makasih. Tapi aku bisa sendiri."
"Nay," sendu Josua. "Aku kangen sama kamu."
Di bawah terik matahari, di depan gedung besar dan segudang motor serta mobil diparkiran menjadi saksi debat antara dua insan yang saat ini bahkan untuk berbicara soal perasaan saja sudah tabu, apalagi berbicara untuk memulai hubungan baru.
"Jangan Jo. Jangan pernah kangen sama aku. Jangan pernah juga ketemu sama aku lagi, aku takut nambah dosa karena kamu." Jelasnya berbelit. Entah kenapa sulit sekali mengakui bahwa status dirinya sekarang adalah istri orang lain dihadapan pria ini.
"Terus aku harus gimana Nay? Aku mau tebus kesalahan aku lima tahun yang lalu."
"Gak perlu tebus kesalahan, aku udah maafin. Berapa kali sih harus aku bilang, aku maafin, tapi kita gak bisa kayak gini. Gak boleh dekat."
"Kenapa?" bingung Josua.
"Karena," lidahnya tercekat, "ya pokoknya gak boleh."
Ingin sekali rasanya wanita itu mengatakan bahwa dirinya sudah menikah dan memiliki suami yang baik dan rumah tangga yang harmonis, tapi tentu saja ia tak mau. Karena itu hanyalah khayalan semu. Di dunia nyata, bahkan sang suami tidak pernah menyentuhnya. Bagaimana mungkin dengan bangga dia mengakui hal itu.
"Kasih tau alasannya, Nay!" suaranya meninggi.
"Aku, aku udah punya pasangan. Jangan dekati aku lagi, aku mohon."
Naya berharap setelah dia mengatakan hal itu, semuanya akan berakhir dan berjalan seperti biasanya. Dia sungguh tidak mau lagi berhadapan dengan pria ini meski tak bisa dipungkiri hatinya masih menggebu-gebu ketika bertemu.
Wanita itupun perlahan menjauh dari sana, mulai melangkah ke arah jalan raya yang sedikit jauh dari gedung itu, karena halamannya begitu luas.
"Nggak, aku gak bakalan lepasin kamu lagi Nay,"
Josua berlari dan memeluk Naya dari belakang. Sekejap bumi seolah berhenti. Naya masih terkejut belum bisa menggerakkan tubuhnya.
"Jangan tinggalin aku Nay," lirih Josua.
"Maaf," ucap Naya tak kalah sendu.
Tiba-tiba seorang pria datang dan menarik Josua. Dia menumbuk dan menendang kasar pria itu hingga tersungkur ke tanah. Darah mulai bercucuran di bibirnya, "Anda siapa?" geram Josua.
Naya menutup mulut tak percaya. Masih membaca situasi dan mengenali siapa pelakunya.
__ADS_1
"MAS ERIK?"