Pemilik Halu

Pemilik Halu
Jambret


__ADS_3

"Kanan!" Titah Naya, "di simpang sana berhenti,"


Sang sopir paksaan itu terpaksa menuruti perkataan Naya, oh bukan, perintah Naya maksudnya. Bagaimana tidak, pipinya lebam sebelah sebab tangan gadis itu sungguh sangat kuat menamparnya tadi.


Ciit. Mereka sampai di loket yang biasanya Jiny datangi ketika hendak pulang kampung.


"Jiny, pergilah, pulang ke kampung mu, setelah semuanya aman dan mereka tidak mencari kita, kembalilah dan mulai wujudkan apa yang seharusnya kau mau,"


"Naya," kata-katanya sangat di sulit dilontarkan, "kenapa? Kenapa kau baik sekali?"


"Kita sama-sama perempuan. Aku tau rasanya jadi dirimu." Ia merogoh tas kecilnya, "ambil ini, tadi aku mengambil uang dari dompet pria itu, ku rasa ini sudah cukup untuk sekedar ongkos mu,"


Jiny menerima uang itu lalu berkata, "Aku pergi dulu. Bang, makasih ya," Senyum termanis ia tampilkan untuk pemuda yang sudah sangat kesal pada mereka. Seandainya mereka tau siapa pemuda ini sebenarnya, pasti keduanya tidak akan berani seperti itu. "Maaf merepotkan mu. Aku pergi dulu,"


"Jiny," Panggil Naya saat gadis itu mengambil tiket dari penjaga loket.


"Ya?" Sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Senang berkenalan denganmu. Ingat, yang halal itu lebih baik, jaga dirimu supaya masa depan mu ada."


Jiny mengangguk sedih, "terimakasih Naya, karena kau, akhirnya aku bisa lepas dari mereka."


"Iya."


"Suatu saat pasti akan ku ceritakan awalnya aku bisa jadi seperti itu, aku janji, kita pasti akan bertemu lagi."


"Ah, lihatlah, sepertinya kita sudah dewasa. Bahkan dari awal bertemu kita tak memakai panggilan lo-gue,"


"Kebiasaan bicara sama orang-orang punya duit, mereka sering balas saya-anda, kalau marah aku-kau,"


Meski bercerita seperti itu, buliran air mata mereka terus saja mengalir. Pertemuan singkat namun sangat berarti.


"Baiklah, aku pergi dulu, sampai jumpa" Jiny melambai pada mereka. "Bye,,"


"Dah," Naya membalas.


Pria itu menyalakan mobilnya, diliriknya Naya dengan cemas, takut-takut dia akan kena pukul. Akhirnya diapun bertanya, "eh, Nona, kamu mau di antar pulang kemana?"


Naya memberi tahu alamatnya. Dipikirannya sekarang adalah, bagaimana cara meminta maaf kepada lelaki ini. Dan lagi, ia melihat sebuah gantungan di mobil dengan simbol yang cukup membuat nyalinya menciut. "I..itu," Naya menunjuk ke arah simbol itu.


"Oh, itu simbol kepolisian," Membuka jaket lalu menunjukkan bet nama yang memperjelas siapa pria itu. "Saya seorang polisi."


Naya membuang nafas berat. "Aku tuh suka bingung, kehidupan aku tuh ngeri-ngeri sedap tau gak sih? Dan ini, ketemu lagi sama pak polisi yang beberapa menit yang lalu habis aku hajar. Bunuh aja aku Pak," wajah Naya memelas.

__ADS_1


"Hahaha, dasar kamu ini."


"Jangan pakai aku-kamu Pak, saya ingat mantan jadinya."


Kenapa keadaan jadi seperti ini?


"Ada-ada saja kau ini." Ralat pria itu.


"Nah, gitu yang lebih cocok Pak."


"Saya masih muda, jangan panggil saya. Bapak, panggil Bang aja,"


Naya manggut-manggut. Dilihatnya ke arah luar dan sepertinya ia mulai mengenali lingkungan di sana, "Bang, itu kost saya. Berhenti di situ ya,"


"Oke." Mobil berhenti, Naya ingin buru-buru keluar, "heh, mau kemana?"


"Eh?" Naya terhenti, "hehehe, mau tidur Bang, ngantuk soalnya." Jawabnya cengengesan.


"Seharusnya aku sudah membawa mu ke kantor polisi,"


"Ya maaf Bang," Naya tau dia harus menjelas tentang semua ini. "Jadi gini Bang................................... .......... Nah gitu."


Pak polisi ganteng itu manggut-manggut. Ya, pak polisi ganteng, begitulah panggilan yang baru saja tercipta di pikiran Naya.


Polisi itu tersenyum, "tidak masalah. Dan aku salut atas pekerjaan mu hari ini. Senang bertemu denganmu.


"Eh, iya Bang. Terimakasih sudah mengantarkan ku."


"Sepertinya bahasa formal mu semakin membaik," Perkataan itu di sambut tawa oleh Naya. "Aku pulang dulu,"


"Iya, hati-hati Bang." Naya melambai. Melihat mobil hitam itu menjauh dari sana.


"Eh? Siapa tadi nama babang polisi ganteng tadi ya? Ah, aku lupa menanyakannya."


***


Berhari-hari Naya masih berjuang untuk mencari pekerjaan. Dimana saja sudah ia taruh lamaran kerjanya. Dengan berbekal nilai yang lumayan tinggi ternyata tidak cukup, banyak sekali yang menolak dirinya, karena persaingan sangat ketat. Dan lagi, banyak orang-orang di sana meminta uang suap supaya bisa masuk kerja di tempat mereka.


"Maaf Pak, saya mau cari uang, bukan memberi uang."


"Tapi kamu bisa bekerja setelah membayar pada saya, setelah itu kamu kan bakalan dapat uang juga."


Naya membisu setiap kali mendapat jawaban seperti itu. Tapi ia tetap semangat menjalani semuanya. Seperti pagi ini, dia sudah siap dengan kemeja putih dan celana hitam, serta riasan tipis di wajah.

__ADS_1


"Baiklah, ini sudah cukup."


Ia pun bergegas, menarik tas selempang milik nya, menaruhnya ke bahu dan berjalan ke arah luar. Namun sampai di pintu, ponselnya berbunyi.


"Halo?... Oh, baik, saya akan segera kesana."


"Yeayy!!"


"Yes, yes,"


Pemberitahuan tentang panggilan untuk interview itu membuat Naya melompat kegirangan. Dia merasa lega akhirnya dia tidak perlu lagi repot-repot mengantar surat lamaran ke sana ke mari.


Naya merentangkan tangan kirinya memberi tanda untuk menghentikan angkot. Dia masuk dengan senyuman yang belum memudar sedari tadi, sampai di pinggir bibirnya kemungkinan sudah mengerut.


Dia pun turun di sebuah persimpangan, dimana dia harus menyambung angkot yang lain.


Ini hp bagusnya masukin ke tas atau gimana ya? Ah, masukin tas aja deh.


Naya melempar pandangan ke arah kanan dan ke kiri melihat kendaraan, dia harus menyebrang untuk bisa naik angkot yang ingin ia tumpangi.


"Eh, eh, hei! Lepasin! Lepasin!"


"Tolong......!! TOLONG!"


"Tidak, tidak!" Ia menjambak rambutnya frustrasi. "Apalagi ini?" Isaknya melengking. Sempat tadi ada drama tarik menarik dengan jambret yang mengambil paksa tas kecilnya.


Telapak tangannya berdarah, di lehernya juga ada bekas tarikan tas. Sakit sekali Tuhan, rintihnya.


Baiklah, aku hanya akan menangis. Aku tidak akan mengumpat.


"Tolong," Ia mencoba bersuara lagi. Orang-orang di sekitaran sana hanya melihat saja, tidak ada yang menolong. Gimana mau menolong, jambretnya pakai sepeda motor yang sudah pasti persenan untuk menangkap akan sangat minim.


"Dek, ini mainan tasnya tadi lepas, lain kali hati-hati disini memang rawan."


Naya mengangguk sembari menahan tangis, sebab tangannya yang luka terasa begitu perih. Apalagi di bawah terik matahari, sakit.


Satu persatu mendatangi Naya dari kalangan tukang becak yang sering nongkrong di sana dan beberapa ibu-ibu dari warung.


"Kenapa Dek?"


Pertanyaan itu bertubi-tubi di lempar padanya. "Saya dijambret Bu, Pak." Jawabnya berusaha tegar, memperkuat hembusan nafasnya agar tidak memburu dan berubah jadi tangis.


"Oh, dijambret... Di sini udah biasa Dek yang begituan, sabar ya, udah pulang aja."

__ADS_1


Naya bergeming, "Ah, gitu doang?"


__ADS_2