Pemuda Terkaya

Pemuda Terkaya
bab 1 pecundang tak berguna


__ADS_3

"srak srek, srak srek "


Matahari belum juga menunjukkan dirinya, namun di dalam dapur di perumahan kumuh ,


Sudah terdengar suara suara berisik ,


Satu persatu , bawang , kentang , cabai,


Sudah ter iris dengan rapi .


seorang pemuda terlihat lihai memainkan pisau di sela jari jari nya.


Angin berhembus , menembus sela sela jendela yang terpasang di bagian dinding , membawa aroma lezat , dari campuran bumbu bumbu yang sudah mulai matang , harum manis, ada bau gurih khas bawang dan kentang, bau pedas juga lumayan menggugah selera setia orang yang menghirupnya.


" hemmmm , sepertinya lezat " . Ucap nay , dengan tubuh yang masih terbaring , sambil mengendus bau yang tercium harum semerbak , perlahan membuka kedua kelopak matanya yang indah , menyapu seisi ruangan dan kemudian terhenti , tepat di arah jam dinding ,yang sudah tertempel di bagian tengah dinding kamar nya, di bagian kanan .


Sontak jantungnya pun berdetak kencang , dia terdiam beberapa detik , sebelum ahirnya tersadar .


dengan tergesah gesah, wanita itu langsung melompat , mengambil handuknya kemudian berlari ke arah kamar mandi .


" aaahh ,,, aku kesiangan , kenapa si ifan tidak membangunkan ku" ngumang naya dalam hatinya , dia masih sempat melirik pemuda yang berada di dapur, namun hanya sekilas kemudian beranjak ke kamar mandi dengan cepat.


Ifan mengelengkan kepalanya , sambil melirik naya sampai tak terlihat lagi.


Setelah itu ifan melankanjutkan kegiatan memasaknya .


Tidak begitu lama, terdengar pintu kamar mendi yang terbuka , ifan sedikit menulehkan kepalanya lagi , dengan tangan masih ******* ***** adonan , benar saja seperti perkiraan ifan, naya yang berbalut handuk , berlari seperti anak kecil , membuat ifan tersenyum ,.


Naya yang sudah sangat gelisah karna merasa akan telat ke kantor, dia tidak sempat untuk memperhatikan kelakuan ifan , sebalik dia langsung ke kamar , memilih baju yang akan di pakainya.


Dengan setelan kemeja bercorak bunga mawar , dengan jas hitam , dia terlihat sibuk merapikan kemejanya , dengan sangat tergesah gesah, dia harus berangkat kerja , setelah hari ini pertamakalinya dia terlambat untuk bangun setelah hampir lima tahun bekerja.


Jadi dia sungguh sangat kesal , matanya terus saja menatap jam dinding .


"ifan " teriak naya yang masih merapikan kemejanya.

__ADS_1


" ada apa " jawab ifan yang masih sibuk mengusap usap barang barang di bawah wastafel dapur.


" ayo cepat antar aku ke kantor , aku hampir terlambat " naya dengan tergesah gesah keluar dari kamar , dengan nada marah menoleh pada ifan .


" makan dulu " jawab ifan yang meninggalkan beberapa cucian yang belum selesai , ifan menghampiri wanita itu , yang sedari tadi sibuk dengan berkas di tangannya .


" sudah tidak ada waktu " menjawab nya dengan sangat kesal.


Ifan masih menatap wanita di depannya , dengan tatapan mendalam, dia adalah naya kusuma, yang berasal dari kelurga kusuma , yang merupakan keluarga atas di kota brumbung .


" apa yang kamu lamunkan , dasar kamu tidak berguna , cepat aku sudah terlambat " dia kembali memarahi ifan seperti seorang pesuruh .


" baiklah " ifan buru buru berjalan dengan cepat , menghidupan mesin motor suprafit miliknya ,


" ayo cepat naik " ucap ifan sambil tersenyum .


naya dengan terpaksa mennaik motor supra di depanya , dengan setatusnya sebagai putri dari keluarga kalangan atas , bahkan keluarga kusuma menempati 5 keluarga teratas,


Sangat tidak pantas , namun apalah daya , sejak dirinya menikah dengan ifan , dan sejak kakeknya meninggal , keluarga nya di asingkan oleh keluarga kusuma .


" apa yang kamu biacarakan pagi pagi seperti ini , dia sudah pasti pergi mengantarkan putri mu ke kantor, " jawab dafit yang kebetulan sampai rumah setelah melakukan joging di pagi hari.


" diam " bentak merry


Mereka adalah orang tua naya , dan merupakan mertua dari ifan ,


Merry yang merupan wanita berumur , wajahnya tanpak lebih tua dari umurnya,


" jagan terus memarahi dia , kamu sendiri baru bangun bukan " jawab davit dengan sambil lalu duduk di meja makan , menuangkan air putih dan menguknya .


" terus saja membelanya , pecudang itu sampai dia menginjak nginjak kita " merry masih terus cemberut , mereka sarapan masakan ifan , dengan lahap , davit menggelengkan kepalanya , menatap merry .


Davit merasa aneh , selama hampir 5 tahun ini merry terus memarahi ifan , namun dia dengan santainya menikmati makanan yang di buat oleh ifan , davit tidak habis pikir , dengan sifat istrinya itu.


" nanti tidak usah di jemput , aku masih ada pertemuan dengan teman temanku, " ucap naya setelah turun dari sepeda mereka .

__ADS_1


" baiklah , jagan terlalu malam untuk pulang ," jawab ifan yang masih mengamati wanita itu sampai tak terlihat, kemudian beranjak pergi dengan sepeda supra miliknya .


" dasar sampah , mengapa sampah seperti dia bisa mendapatkan permata terindah di kota ini " satpam di kantor kusuma terus menatap ifan dengan motor bututnya.


" itu nasip sial yang di derita nona naya , denger denger nona naya di paksa menikahinya ," ucap satpam di sampingnya.


Ifan langsung kembali ke rumah , dia berharap merry belom terbangun , ifan tau jika tugasnya belom selesai merry akan sangat marah, hal ini sudah berlangsung 5 tahun, namun ifan tak berdaya selain menerimanya, selain karna istrinya , dia juga tidak punya tempat selain di rumah itu .


" bagus , terus saja kelayapan " teriak merry setelah ifan sampai ...


" ibu , maaf , tadi........ " belum sempat berbicara banyak merry sudah memutong ucapan ifan .


" bereskan cucian , dan kamu haru menci baju,ngepel seluruh rumah , sebelum semua selesai , jagan pernah kelur rumah , mengerti " teriak merry , matanya meloto, seperti ingin memakan ifan , ifan hanya menunduk menghadapi mertunya .


" sudahlah ayo brangkat " ucap davit yang baru keluar dari kamar , davit berjalan menarik tangan merry .


Ifan kemudian membereskan satu persatu pekerjaan rumah itu , sudah 5 tahun , ifan sudah terbiasa dan sangat mahir mengerjakan semuanya , dia tidak pernah mengeluhkan pekerjaanya, setelah selesai bekerja ,biasanya ifan akan pergi keluar sekedar jalan jalan , ataupun melakukan amal, membantu orang orang di pinggir jalan yang butuh bantuan .


Ifan tidak pernah sekalipun mencari perkerjaan selama lima tahun ini, dia di asingkan , di hina dan selalu di cacimaki hampir di setiap penjuru kota berumbung, ifan memilih diam menikmati kepahitan hidup , setelah dia buang oleh keluarganya , dia masih ada uang di rekeningnya ,itu di berikan oleh kakek ifan , jadi ifan berfikir untuk tidak meng hambur hamburkan uang itu .


Seperti biasa ifan berjalan di lorong gang sempit , jalan yang hanya muat untuk berjalan dengan cara memiringkan tubuhnya , melangkah ke samping , lorong itu memeng jalan tercepat menuju perkantoran , pusat kota berumbung .


Industri industri besar , saling bersaing , tempat kerumunan manusia memadati jalan jalan , dan gedung gedung .


sosok pria paruh baya tiba tiba muncul di depanya , meng hadang jalan ifan .


Tatapan yang begitu tajam , aura yg dia keluarkan pun begitu mendominasi , ketegasa, dan berwibawa.


Pria parah baya yang menggunakan jas hitam , dengan jam tangan lebih dari seratus juta ,


Sepertinya pria itu bukan orang biasa .


Keduanya saling menatap , hingga pada ahirnya ifan memalingkan wajahnya , dan berjalan melewatinya tanpa berkata sedikitpun.


" tunggu" pria paruh baya itu memegang legan ifan .

__ADS_1


__ADS_2