Pemuda Terkaya

Pemuda Terkaya
bab 30 saya buka proyek kota new


__ADS_3

naya meng hubungi ifan, namun hanfon ifan tidak bisa di hungi.


" semuga dia baik baik saja" ucap naya, naya memang tidak punya rasa pada ifan, namun ifan teteplah suaminya yang sah, itu tercantum dalam buku negara.


" naya kusuma, sebagai penaggung jawab " suara di pengeras terdengar sangat lantang, namun naya tidak percaya namanya di sebutkan.


" bukan kah itu kamu" ucap lesy yang duduk di samping naya .


" tidak mungkin, aku hanya orang biasa, " ucap naya yang memeng semua yang di panggil adalah orang orang penting kota ini.


" sekali lagi nona naya kusuma di mohon menaiki panggung" kali ini suara itu sangat jelas di telinga naya, kemudian naya menaiki pentas, semua orang yang hadir bersorak, terdengar tepuk tangan yang serempak, mengiringi langkah naya.


" itu naya bidadari dari keluarga kusuma" teriak salah satu pengunjung .


" dia sangat cantik"


" dia sempurna" banyak pujian yang di utarakan, naya memang sangatlah Cantik, dia merupakan wanita tercantik di kota berumbung, namun suara mereka tidak terdengar sampai di panggun sebab jarak mereka cukup jauh.

__ADS_1


naya berinisiatif berdiri di paling pinggir, sudah 8 orang yang di atas panggung dengan pak marwan di tengah tengah,


" dan yang kita tunggu tunggu, pak marwan " pak marwan datang dengan beberapa orang yang menjaganya.


" silahkan di mulai saja pak " ucap naya.


" masih kurang satu nona naya" ucap marwan, naya kebingungan bukankah pak marwan adalah pemimpin nya, jadi masih mau menunggu siapa .


" ifan gunawan " suara itu membuat naya kebingungan, tiba tiba ifan datang menaiki panggung , naya sungguh tidak menyangka bahwa ifan akan ikut di panggil.


" aku belom pernah melihatnya" ucap salah satu undangan


" aaahh apa mungkin, kenapa dia di atas sana "


" aku juga tidak mengerti"


semua orang bertanya tanya, hanya ifan yang mereka tidak kenal, baik dari kalangan petinggi, mau pun pembisnis, nama ifan tidak ada di dalam kedua lingkaran itu.

__ADS_1


" silahkan tuan" ucap marwan yang menempatkan ifan di tengah tengah, unruk pemutongan pita, orang yang berada di tengah sudah di pastikan orang paling berpengaruh, di samping kanan adalah pak marwan, di samping kiri ada seorang jendral di sampinhnya adalah kepala kepolisi di belakang pak marwan ada lah orang dengan status tertinggi di kota berumbung, dan sampai 9 orang lainya.


Mereka adalah penguasa baik di bidang bisnis maupun di bidang kenegaraan, yang berdiri di atas panggung adalah orang orang dengan pengaruh besar, hanya ifan yang banyak orang tidak mengenal.


" dengan ini saya buka proyek pengembangan kota new" ifan menggunting pita di tengah, di ikuti oleh delapan orang lainya, teouk tangan bergemuruh, setelah pita terpotong.


Kemudian ke sembilan orang tersebut, ikut meletakkan batu bata peetama, yang di mulai oleh ifan untuk yang pertama meletakkanya, dan begitupun mengikuti urutanya, sedangkan yang lainya berebuat pendaftaran rumah ekonomis, maupun kelas menengah, semua orang sangat antusias mengikuti antrian, mereka takut tidak kebagian.


Naya tersenyum menatap suaminya yang berada di tengah tengah tengah orang irang hebat.


" sebenarnya apa yang kamu lakukan ifan" ucap naya dalam hatinya, walau ifan tidak percaya, namun tidak bisa di pungkiri ifan lah yang ada di tengah tengah orang orang itu, sedang berbincang bincang dengan riang.


" anak muda anda cukup hebat" ucap seorang jendral.


" anda terlalu memuji jendral" ucap ifan, ifan ingin sekali meninggalkan tempat itu, masih ada yang harus ifan lakukan untuk menaklukan kota berumbung, namanya sudah tedengar berbagai kalangan, tidak bisa di hindari kalangan gelap pun ikut memantau situasi.


" jendral bersenang senanglah" ucap ifan yang mengankat sebuah gelas berisi anggur merah , ifan menegak anggur itu dengan sekali tegukan.

__ADS_1


" tidak bisa anak muda, saya harus kembali, masih ada sebuah pertempuran yang harus aku hadapi" ucap sang jendral .


" sayang sekali kalou seperti itu, baiklah semuga anda di berikan kemenangan tuan jendral" setelah berbagai jamun, jendral itu meninggalkan perjamuan, menuju perbatasan, dia sudah di tunggu oleh ribuan pasukanya.


__ADS_2