
" tok" ifan mengeplak dahi sia.
" ini aku " ucap ifan
" ini benaran kak sanji" sia melompat kegirangan seperti anak kecil 10 tahunan, dia melompat memeluk sanji, sanji menepuk nepuk bahu sia, sanji merasa tidak nyaman, tonjolan di dada sia , sudah tumbuh subur, ifan jadi salah tingkah karna hal itu.
" kakak, kakak kapan kembali, kenapa tidak mengabari aku, aku kan bisa jemput kakak" ucap sia dengan centilnya.
" kamu ini" ucap ifan, melihat wajah cantik sia, dia sudah tumbuh dewasa dengan sempurna, cantiknya membuat ifan bergairah, namun ifan menepis perasaan itu, sia adalah adinya sendiri, di kota surabaya ini hanya sialah satu satunya keluarga yang dia punya, dan yang dia percya.
" kakak kakak, kakak sanji tidak akan pergi lagikan?" tanya sia,
" aku harus pergi, aku ke sini untuk menjenguk mu sia" ucap ifan.
" aku ikut kakak saja ya" sia menempel pada ifan.
" sia , aku akan kembali suatu saat nanti tunggulah aku , dan aku butuh bantuan mu, agar kamu terus memberikan informasi untuk ku" ucap ifan, ifan membelai rambut sia yang lurus dengan cat biru muda.
" tapi kak sanji" rengek sia, yang terus merangkul sanji.
" sudah tidak apa apa, aku pasti kembali" sia dan sanji berjalan kearah ruang penyembahan, sanji ingin berdoa untuk tuan besar gunawan, ruangan yang cukup besar, dengan struk tur bangunan yang di buat khusus untuk tempat pemujaan, ifan duduk dengan ke dua kakaki sebagai alas.
" kakek aku datang untuk meminta restu, aku akan berperang melawan mereka , dan akan mengambil kembali kota surabaya untuk kemakmuran keluarga gunawan" ucap ifan, kemudian ifan meletakkan wajahnya di tanah, dai mengulangi sebanyak 3 kali , sia mengikuti dari belakang , seperti yang ifan lakukan.
Kemudian ifan mengambil 3 buah dupa , membakarnya dan kemudian menancapkannya di depan sebuah foto besar tuan besar gunawan, sia dengan senang hati terus mengikutinya.
ruangan ini begitu bersih, para pelayan yang bertugas , setiap hari akan membersihkan tempat sebayang dengan sangat teliti, sehingga ke bersihannya tak perlu di ragukan lagi.
" lapor tuan angkara " ucap seorang yang berjaga di kediaman keluarga gunawan.
" ada apa " ucap angkara dengam marah, pemuda itu langsung menundukkan kepalanya.
" tu Tuan sanji kembali" ucap pemuda itu.
" prang, apa yang kamu katakan " angkara langsung melempar sebuah fas yang ada di atas meja .
__ADS_1
" iya tuan angkara, tuan sanji berada di aula persembahan" ucap pemuda itu kembali.
" plak, buuk" kara langsung menampar dan menendang pemuda itu.
" berengsek, untuk apa dia kembali " angkara sangat marah, matanya langsung merah.
" angkara, apa yang kamu lakukan " ucap pria paruh baya yang baru masuk.
" pergilah " ucap peria paruh baya itu kepada pemuda yang melapor, pramental angkara yang sangat pemarah, selalu mebanting apapun dan meng hajar bawahanya.
" ayah sanji ada di sini " ucap angkara, dia masih sangat marah mengetahui sanji kembali ke pulau surabaya ini, sudah hampir 10 tahun sanji meninggalkan pulau surabaya ini,
" tenanglah angkara, sanji hanya menjalani perawatan kepulau berlin, aku akan pastikan dia pergi secepatnya" ucap ayah angkara tuan bastian, bastian juga merupakan salah satu dari 5 petinggi keluarga gunawan kota surabaya .
" ayah kita bunuh saja sanji" ucap angkara, mengepalkan tanganya. Angkara tau sanji adalah ancaman besar untuknya, untuk menjadi kepala keluarga gunawan, sanji merupakan keturunan utama keluarga gunawan, sdangkan angkara adalah keluarga cabang keluarga gunawan, secara umum sanjilah yang akan menjadi kepala dari kelurga gunawan bukanlah angkara, karna itulah angkara sangat membenci sanji.
" tidak perlu, kita akan di anggap memberontak, jika membunuhnya secara langsung" ucap tuan bastian.
angkara hanya bisa mengpalkan kedua tanganya, dia harus terpaksa setuju dengan perkataan ayahnya.
" kakak jangan tinggalkan sia , sia kesepian di sini, sia ikut kakak saja " ucap sia, sia terus menangis di pelukan sanji.
Dia sungguh tidak rela sanji pergi lagi.
" sudah sudah, kamu itu kuat sia, " ucap sanji sambil melepas pelukan sia, sanji memgang kedua pundak sia.
" tuan muda kita harus pergi" ucap marwan, marwan mengetahui keberadaan ifan sudah terdeteksi oleh angkara.
" baiklah" ucap ifan.
" aku harus pergi sia, tolong jaga dirimu baik baik, tunggulah aku kembali" ucap ifan, ifan meninggalkan sia, menaiki helikpter .
" kakak tunggu aku kak, aku mau ikut" sia berlari mengejar helikopter ifan yang terus menjauh kemudian meng hilang.
Sia terjatuh wajahnya terus menatap langit, dia masih terus meneteskan air matanya.
__ADS_1
" kakak kakak, aku akan menunggu mu kembali" ucap sia.
" nona tidak apa apa"
" bibik kakak pergi" ucap sia, kedekatan sia dan sanji begitu dekat, bahkan mereka seperti se orang yang sedang bermadu kasih.
"nona percayalah pada tuan muda "
" aahh bibik" ucap sia yangbterus merengek.
" prank" angkara mebanting fas bunga.
" brengsek, aku akan membunuh pecundang " angkara sangat marah, rencananya hampir berhasil menjadi kepala keluarga gunawan.
namun kemunculan ifan akan membuat rencanaya berantakan.
Ifan kembali ke kota berumbung, kabar kembalinya ifan membuat banyak merasa gelisah, kekuatan ifan yang masih tersembunya mulai terkuak sedikit demi sedikit, dengan takluknya kekutan kedua , di kota brumbung dan juga takluknya kekuatan bawah di daerah selatan .
Kekuatan yang tak di sangka sangka, dapat mengguncangkan kota brumbung.
naya sedang mengetik sebuah laporan keuangan.
" tring tring " hanfonya berdering.
" ibu " ucap naya , setelah melihat hanfonya,
" iya ibu" naya mengangkat telfonnya.
" naya ibu mau masuk, keman si pencundang suamimu itu" ucap merry langsung berteriak.
" ibu ifan sedang pergi, kuncinya aku titip pada bu suti" ucap naya.
" alasan saja, pasti orang itu sedang berkeliaran tidak karuan" ucap mary.
" sudahlah ibu saya lagi kerja " ucap naya, merry mematikan telfonya dengan marah .
__ADS_1