
"Aku ingin kita bercerai."
Arwaa terdiam, ribuan sembilu menghujam hati yang telah lama hancur tatkala mendengar kata cerai dari pria yang begitu ia cintai. Semua perjuangannya untuk mempertahankan pernikahan mereka terasa sia-sia selama ini.
"Fani hamil."
Pandangan Arwaa memburam, ingin ia menangis namun tak boleh, karena ia tau bahwa inilah konsekuensi yang akan diterimanya ketika menikah dengan pria bernama Aldair Gentala Arsawijaya itu.
"Lalu...?"
Ia meremas gamisnya berusaha menahan lonjakan rasa sakit yang datang begitu besar.
"Aku harus bertanggungjawab. Fani hamil anakku."
Arwaa membeku mendengarnya, meski ia sudah menduga hal ini sebelumnya, tetap saja hatinya terasa hancur.
"Silahkan saja."
Aldair terkejut mendengar jawaban istrinya itu. Ia mengira Arwaa akan menangis tersedu ketika mengetahui tentang hal ini.
"Tapi tidak sekarang."
Arwaa tersenyum manis membuat Aldair tak nyaman.
"Aku rasa harusnya mas lebih mengerti tentang hal ini. Bukankah dalam Islam tidak boleh menikahi wanita yang sedang hamil, jikapun mas ingin bertanggungjawab dengan menikahinya, mas harus menunggu Fani melahirkan dulu. Apa aku salah?"
Mendengar itu Aldair menatap mata coklat milik istrinya dingin.
"Aku benar-benar berdosa besar padamu mas. Ini semua terjadi karena aku yang tidak bisa menjadi istri shalihah seperti yang mas inginkan sehingga mas terjebak dalam kemaksiatan." Arwaa tersenyum pilu.
Aldair tetap diam tak ingin membalas perkataan istrinya, karena ia merasa apa yang dikatakan istrinya itu benar adanya.
__ADS_1
Ini semua adalah salah ayahnya, jika saja ayahnya tidak menjodohkan dia dengan putri dari orang yang telah menolongnya, maka ini semua tidak akan pernah terjadi.
Dia tidak akan nekat seperti ini, melakukan hubungan yang diharamkan oleh agamanya, demi bisa bersama orang yang dicintainya.
"Mas boleh menceraikan aku ketika Fani sudah melahirkan. Dan selama menunggu hari itu, aku ingin mas memperlakukan aku sebagai istri mas Genta. Aku ingin kita tinggal satu rumah, dan hidup seperti suami istri pada umumnya. Aku juga tidak ingin mas menemui Fani dulu karena aku khawatir kalian akan melakukan sesuatu yang belum boleh kalian lakukan lagi, itu hanya akan menambah murka Allah. Jikapun mas Genta ingin melakukannya, datanglah padaku, karena aku istrimu mas."
Senyuman manis tidak pernah luntur dari bibir Arwaa, meski dalam hatinya ia berteriak berharap ada yang melepaskan dirinya dari kesakitan itu.
"Aku harap Fani akan melahirkan anak laki-laki mas." Lanjut Arwaa lagi.
"Mas tahu kan jika sampai Fani melahirkan anak perempuan, akan sangat kasihan sekali nasibnya." Air mata mulai menetes di pipinya. Entah itu air mata simpati pada calon anak sang suami atau air mata kesakitannya.
"Tidak masalah dengan warisan, mas bisa memberikannya sebagai hibah. Yang aku pikirkan bagaimana dengan kejelasan nasabnya, mas juga tidak akan bisa menjadi wali nikahnya nanti." Ditatapnya nanar mata Aldair yang terlihat mengepalkan tangannya itu.
"Tidak perlu membicarakan tentang hal yang belum jelas. Do'akan saja agar Fani melahirkan anak laki-laki." Ucap Aldair berusaha tenang sembari meminum kopi pesanannya.
"Tentu saja." Jawab Arwaa tersenyum kecut.
Tiba-tiba Aldair berdiri dan menyodorkan tangannya agar Arwaa memegangnya, bersikap seakan tak ada pembicaraan serius sebelumnya. Arwaa yang melihat itu tersenyum miris, namun ia tetap menerima tangan dingin suaminya itu tentu dengan senyuman palsunya.
***
Arwaa yang selalu berharap pernikahan mereka akan terus bertahan hingga hanya maut yang akan memisahkan mereka hanya bisa tersenyum pilu memandang keluar jendela mobil. Siapa sangka pernikahan yang belum genap dua tahun itu akan segera usai.
Sejak pertemuan dengan suaminya di caffe Happyfam tadi, tidak ada yang memulai pembicaraan lagi diantara mereka berdua. Ya, karena memang nyatanya meski telah menikah mereka sama sekali tidak mengenal satu sama lain. Tapi mungkin tidak untuk Arwaa, sedikit banyak ia mengetahui apa yang disukai dan tidak disukai oleh suaminya itu karena diberitahu oleh ibu mertuanya.
"Haa..." Arwaa menghela nafas lelah membuat Aldair menoleh sebentar sebelum ia memfokuskan lagi pandangannya pada jalanan.
"Kenapa?" Aldair bertanya dengan nada yang tidak terkesan dingin seperti biasanya. Ya, pria itu sering kali hanya mengacuhkan sang istri, jikapun berbicara pada Arwaa hanya seperlunya saja tentu dengan nada suara yang dingin.
"Hehe gak apa-apa mas. Ini kita mau langsung ke rumah atau ke apartemen dulu untuk ambil bajunya mas?" Sama halnya seperti Aldair, Arwaa pun bersikap seolah mereka adalah suami-istri yang normal pada umumnya.
__ADS_1
Benar sekali, hubungan mereka sangatlah tidak normal. Karena suami-istri yang seharusnya tinggal satu rumah tapi tidak dengan mereka berdua.
Sejak akad terucap dari bibir Aldair, sama sekali mereka tidak pernah menghabiskan waktu berduaan kecuali ketika dirumah orangtuanya. Karena setelah pernikahan mereka selesai, Aldair langsung mengantarkan Arwaa ke rumah yang memang sudah ia siapkan, sedang dia sendiri pulang ke apartemennya. Begitulah kehidupan normal mereka sebagai suami-istri.
"Tidak usah. Aku akan mengantarmu ke rumah, dan aku akan pulang ke apartemen dulu malam ini untuk membereskan baju dan perlengkapan yang akan ku bawa ke rumah besok. Tidak apa kan?" Tanya Aldair.
Arwaa mengangkat kedua alisnya, ia merasa aneh dengan perubahan sikap suaminya ini, benar-benar, jika suaminya itu seorang artis, dia pasti akan menjadi artis terkenal karena aktingnya.
"Iya mas." Jawab Arwaa sambil tersenyum manis kearah Aldair, sedangkan pria itu langsung menolehkan pandangannya kearah lain enggan untuk melihat senyuman sang istri.
***
BRAAK!
Aldair menutup pintu apartemennya kasar menimbulkan suara keras yang memekakkan telinga. Ia mengacak rambutnya frustasi.
Semua kata-kata Arwaa terus berputar diotaknya. Benar apa yang dia katakan, bagaimana jika Fani melahirkan anak perempuan, tapi jikapun anak laki-laki tetap sama saja, tidak membuatnya terikat nasab.
Meski Fani memang sudah tidak perawan saat mereka melakukan hubungan haram itu, namun rasa bersalah yang ia miliki justru lebih besar pada kekasihnya dibandingkan pada istrinya sendiri yang sekian lama ia abaikan.
Air mata mulai mengalir deras dipipinya. Entah sejak kapan hatinya ini membeku, sudah lama sekali ia tidak menjalankan kewajibannya untuk beribadah. Semua ini karena ia terus menyalahkan Sang Pencipta yang telah menakdirkannya menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.
Belum lagi dosa besar yang telah ia lakukan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya jika mereka mengetahui apa yang telah ia lakukan.
Mengabaikan istrinya, meski ia selalu memberikan nafkah lahir namun tidak dengan batinnya, mereka bahkan tidak tinggal bersama. Jikapun mereka bertemu hanya saat menghabiskan waktu libur dirumah orangtuanya, setiap seminggu sekali, itu juga jika ia tidak beralasan tentang pekerjaan sibuknya.
Dan selama pernikahan itu jika ia sedang ingin melakukan hubungan suami-istri, bukan istrinya Arwaa yang didatanginya, melainkan perempuan yang dicintainya, Fani. Aldair bahkan bertekuk lutut dihadapan Fani meminta maaf karena telah memaksanya untuk melakukan hubungan itu.
Tapi apa mau dikata, hatinya sudah terlanjur membatu, dan godaan-godaan setan pun terus menerus membelai jiwanya setiap saat, membuat ia menjadi sang pendosa setiap harinya.
***
__ADS_1