
Hari demi hari berlalu, hubungan antara Arwaa dan Aldair pun mengalami sedikit perubahan karena sekarang suaminya itu tidak lagi bersikap canggung ketika berhadapan dengannya.
Aldair juga menepati janjinya untuk tidak menemui Fani meski Arwaa tau bahwa dalam hatinya, pria itu pasti sangat merindukan orang terkasihnya. Terkadang Arwaa pun mendapati suaminya tengah menghubungi seseorang bertanya tentang keadaan sang ibu dari calon anaknya.
Meski sakit Arwaa tetap tersenyum manis ketika Aldair menjelaskan bahwa ia tidak menghubungi Fani secara langsung, melainkan melalui ayah dari perempuan itu. Yang dimana hal itu menjelaskan jika orangtua Fani pun telah mengetahui tentang masalah yang melibatkannya.
Entah mana yang lebih sakit, kehilangan seseorang yang kau cintai atau melihatnya bahagia bersama perempuan lain. Tak jarang hawa nafsunya selalu menggoda Arwaa untuk melakukan hal licik agar pernikahan mereka tetap bertahan. Namun seketika ucapan Umi Zahra, seorang kawan di majelis ta'lim yang biasa ia datangi, terngiang-ngiang dipikirannya.
"Apabila ilmu agama seseorang itu lemah, hawa nafsunyalah yang akan mengalahkan dirinya. Maka untuk masa sulitmu, biarlah Allah yang menguatkanmu. Tugasmu adalah memastikan bahwa jarak diantara kamu dengan Allah tidak pernah jauh." Wanita berwajah lembut itu senantiasa mendengarkan segala keresahan yang selalu melanda hati Arwaa.
Tak ayal Arwaa beristighfar ketika godaan setan itu menghampiri. Karena itulah Arwaa memutuskan untuk hanya menikmati rasa yang hadir, tapi tak berharap banyak, hanya menunggu dan menanti apa yang telah direncanakanNya.
Karena baginya cinta bukanlah segalanya meski cinta dapat melahirkan kebahagiaan dan kebencian, tapi ia tak akan berlebihan memperlakukannya, ia hanya akan belajar untuk terus mencintai Sang Pencipta Cinta.
"Arwaa..."
"Astaghfirullah mas." Tepukan lembut dipundaknya membuat Arwaa tersentak. Hampir saja dia menjatuhkan Al-Qur'an kecil yang ada ditangannya.
"Eh maaf, mas pikir ada apa karena biasanya kamu langsung sambut mas kalau denger suara mobil mas, taunya lagi melamun disini." Aldair menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Arwaa tersenyum manis mendengar ucapan Aldair. Ternyata suaminya itu mulai terbiasa oleh sambutan hangatnya. Ya, karena setiap kali Arwaa mendengar suara mobil pria itu, pastilah dia langsung terburu-buru pergi kearah pintu menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman manisnya.
"Gak apa-apa mas, aku yang minta maaf karena melamun jadi gak kedengaran suara mobil kamu." Arwaa berdiri dari duduknya dan mengambil tas kantor sang suami.
__ADS_1
Arwaa berjalan lebih dulu didepan suaminya.
"Mas mau langsung makan atau mandi dulu?" Arwaa berhenti sejenak, menoleh pada Aldair.
Aldair yang tengah memperhatikan Arwaa pun berjengit sedikit terkejut karena istrinya tiba-tiba menoleh.
"Mas mau mandi dulu aja."
"Ya udah yuk, biar aku siapin baju gantinya."
Arwaa tersenyum lagi dan berbalik melanjutkan langkahnya ke kamar mereka.
***
Sikapnya yang lemah lembut, senyum manisnya, wajah teduhnya, mulai menghantui pikiran Aldair setiap waktu. Bahkan ketika dia bertemu dengan ayah Fani untuk menanyakan kabar wanita itu, bayangan istrinya yang tersenyum membuat ia tidak mendengarkan calon mertuanya dengan baik.
Tapi sekali lagi ia meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh pada pesona sang istri terlalu jauh. Ia sudah memiliki Fani yang akan ia nikahi setelah dia melahirkan anaknya dan menceraikan istrinya.
Arwaa hanya tempat persinggahannya untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu ia berharap Tuhan pun akan memaafkan dosanya karena ia tengah menjalankan tugasnya sebagai seorang suami. Meski tak semua hak Arwaa ia penuhi.
Jika boleh jujur, ia ingin, sangat ingin menghabiskan malam penuh cinta dengan sang istri. Namun apa daya, ia tak ingin mengkhianati Fani, wanita yang telah 4 tahun menjadi kekasih hatinya dan sedang mengandung buah cinta mereka.
Karena itulah semenjak mereka hidup bersama, Aldair selalu berpuasa Daud, dan bekerja hingga petang. Ia sebisa mungkin ingin menghindari godaan dari pesona Arwaa, karena sebagai wanita, istrinya itu adalah tipe yang diinginkan semua pria, begitu pula dirinya.
__ADS_1
"Mas belum tidur?"
Suara lembut sang istri membuatnya tersadar.
"Iya. Maaf."
"Loh maaf kenapa mas?" Dengan bingung Arwaa melihat suaminya yang menggelengkan kepala. Arwaa pun hanya tersenyum.
Aldair memandangi istrinya yang berjalan menuju meja riasnya untuk melakukan rutinitas para kaum hawa.
"Arwaa, ibu menelepon, menyuruh kita nginap disana besok."
"Oh benarkah?" Arwaa menoleh pada suaminya sumringah dan diangguki oleh Aldair.
"Ya udah yuk mas kita nginap disana besok. Mas mau kan? Ibu selalu tanyain aku terus loh kenapa mas suka gak ikut kalau aku kesana."
Arwaa menatap mata suaminya dan menangkupkan tangannya memohon agar suaminya itu ikut kerumah sang ibu. Tanpa menyadari salah satu bagian dari diri suaminya bereaksi karena tingkahnya itu, membuat Aldair langsung mengangguk mengiyakan dan menarik selimut ke pinggangnya.
"Yay Alhamdulillah akhirnya bisa kerumah ibu bareng mas Genta. Aku rindu banget sama ibu, ayah, dan Hana, mereka juga pasti rindu sama kamu mas."
Aldair melihat istrinya yang tersenyum bahagia, membuat hatinya terasa sakit, karena ia tau pada akhirnya senyum itu akan berubah menjadi air mata karena pengkhianatannya.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️