Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Amarah Sang Adik


__ADS_3

Paginya keluarga Arsawijaya sudah bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Tentu saja semuanya merasa sangat sedih karena harus pergi tanpa Arwaa, terutama Hanna yang sedari tadi terus menangis tak mau ikut pulang.


Gadis kecil itu ingin selalu bersama bundanya, begitu pula dengan Arwaa, dia terlihat sangat sedih bahkan sampai meneteskan air mata ketika melihat Hanna dan ibu mertuanya menangis. Ingin rasanya ia mengambil Hanna dari gendongan ayahnya dan juga memeluk sang ibu mertua. Tapi tak bisa karena tangannya yang ditahan oleh sang paman.


Entahlah sepertinya kakak dari ibunya begitu murka mengetahui bagaimana Arwaa diperlakukan oleh suaminya. Belum kesedihan karena ditinggal sang ayah, sekarang Arwaa pun harus jauh dari orang-orang yang tulus menyayanginya.


"Bundaaa... Bundaaa! Ayaaah... Hanna ingin bundaaa! Hanna ingin bersama bundaaa...!!"


Hanna terus menangis dan meminta diturunkan dari gendongan Attalaric. Arwaa tak tega melihat Hanna yang terus menangis sejak tadi pun memohon pada sang paman agar mengizinkan dirinya untuk berbicara dengan keponakan dari suaminya itu.


"Jangan berjanji apapun Arwaa, kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi nanti." Tegas Paman Jhonny yang hanya diangguki oleh Arwaa.


Arwaa melangkahkan kakinya menuju Attalaric yang memandang nanar kearahnya. Hanna yang melihat bundanya mendekat padanya pun langsung memaksa turun dari gendongan sang ayah dan menghamburkan dirinya untuk memeluk Arwaa. Gadis kecil itu memeluk pinggang Arwaa dengan sangat erat dan menyembunyikan wajahnya diperut Arwaa.


"Bundaaa... Bundaaa ayo ikut pulang sama Hanna. Hanna tidak mau pulang jika bunda tidak ikut."


Hanna mendongakkan wajahnya menatap Arwaa dengan mata yang berkaca-kaca membuat hati Arwaa sakit melihatnya. Arwaa memaksakan diri untuk tersenyum lembut pada Hanna dan mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu.


"Hanna sayang maafkan bunda, bunda tidak bisa ikut pulang untuk saat ini. Tapi Hanna jangan khawatir, walaupun Hanna dan bunda berjauhan, bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Hanna. Hanna pun sama, kalau Hanna merindukan bunda, berdoalah pada Allah seperti yang bunda ajarkan, agar Hanna bisa bertemu bunda ya sayang." Lirih Arwaa sambil mengelus lembut pipi Hanna.


"Sudah ya, Hanna jangan bersedih lagi. Bunda tidak akan pergi kemanapun karena bunda akan selalu ada dihati Hanna, begitu juga Hanna yang akan selalu ada dalam hati dan doa bunda."


Arwaa menangkup kedua pipi Hanna dan meyakinkannya. Sedang Hanna memandang sedih pada wanita yang telah dia anggap ibunya sendiri, namun kemudian dia mengangguk dan memeluk erat leher Arwaa sebelum memberi kecupan kecil dikedua pipi dan kening Arwaa.


"Hanna sayang bunda..." Bisiknya sebelum berbalik dan bersembunyi dipelukan sang ayah.


Attalaric tersenyum sedih melihat interaksi antara Hanna dan adik iparnya itu.


Aldair...


Aldair...


Aldair...


Ah, aku harus memberi pelajaran pada adik brengsek itu!


"Ibu, ayah, mas Razi, mas Atta, Hanna, hati-hati dijalan ya. Semoga Allah selalu melindungi kalian." Ucap Arwaa tersenyum lembut pada keluarga suaminya meski terpancar jelas kesedihan di matanya.


Arwaa melambaikan tangannya seiring dengan menjauhnya mobil yang ditumpangi keluarga sang suami.


"Maafkan paman tapi ini untuk kebaikanmu."


Paman Jhonny memegang pundak Arwaa, membuat Arwaa menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Paman tidak salah apapun. Aku mengerti jika paman sangat marah atas apa yang terjadi padaku." Arwaa tersenyum menenangkan pamannya yang terlihat gusar.


"Tetap saja paman merasa tidak enak, apalagi kita baru bertemu kemarin tapi paman sudah bertindak seolah paman adalah orangtuamu."


Paman Jhonny menggeleng sedih.


"Tidak paman, jangan bicara seperti itu. Saat ini statusku memang istri seseorang, sehingga dialah yang bertanggungjawab atas aku. Tapi tetap saja paman adalah kakak dari ibuku dan setelah kepergian ayah, hanya pamanlah satu-satunya keluarga yang aku punya." Ucap Arwaa membuat paman Jhonny tersenyum.


"Terimakasih, paman pasti akan selalu menjagamu."


***


Keadaan dirumah Arsawijaya begitu terasa pengap oleh amarah para penghuninya. Hanya ada keheningan dan Isak tangis Hanna saja yang terdengar semenjak mereka diperjalan pulang hingga sampai dirumah.


Pagi itu Bu Hayya memilih untuk tetap berada dikamar bersama cucunya, meninggalkan para pria diruang tamu dan tidak ingin ikut campur dengan masalah yang dibuat putra keduanya. Hatinya sudah terlalu sakit menerima kenyataan yang didapat nya kemarin, belum lagi kesedihannya saat melihat sang cucu terus menangis karena harus berpisah dengan menantu kesayangannya.


"Ayah istirahatlah, biar kami yang mengurus masalah ini. Ayah pasti sangat lelah."

__ADS_1


Pak Ahmad memandang kosong pada Attalaric, sebelum ia menggeleng dan tersenyum kecut.


"Tidak Atta. Bagaimanapun juga Aldair adalah tanggungjawab ayah. Ayah berdosa karena telah gagal dalam mendidiknya." Lirih Pak Ahmad.


Attalaric dan Arrazi mengepalkan tangan mendengar sang ayah menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang telah dilakukan Aldair.


"Tidak ayah. Ayah tidak gagal mendidik kami. Ayah sudah menjalankan tugas ayah dengan sangat baik dalam menuntun kami dan apa yang terjadi saat ini adalah murni kesalahan Aldair. Dia sudah dewasa, akalnya tahu mana yang benar dan salah, namun dia termakan oleh nafsu dunia sehingga membuatnya lupa pada dosa."


Pak Ahmad meneteskan air mata mendengar ucapan anak sulungnya. Ini kali pertama Attalaric dan Arrazi melihat sang ayah menangis, membuat mereka semakin murka pada Aldair.


"Aku akan pergi ke rumah sakit menemui pria itu." Ucap Arrazi enggan menyebut nama sang kakak.


Dia pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya keluar. Attalaric hanya menatap punggung adiknya itu tanpa ekspresi.


***


"Assa..."


"Dimana?!"


Aldair mengernyit mendengar suara adiknya yang terdengar dingin.


Ada apa?


Tidak biasanya Arrazi seperti ini, dirinya bahkan belum selesai mengucapkan salam.


Dia baru menghidupkan kembali ponselnya setelah selama 3 hari dimatikan karena tidak ingin siapapun mengganggu dirinya saat sedang merawat sang kekasih yang masih dalam masa pemulihan. Hanya saja tadi dia menghubungi sekertarisnya, menanyakan tentang keadaan perusahaan karena selama itu juga dia tidak pergi kerja. Namun adiknya menelpon saat dia akan mematikan ponselnya kembali, jadi mau tak mau dia mengangkatnya.


Sebenarnya dia enggan mengangkat telepon dari keluarganya karena dia tahu mereka pasti akan membicarakan tentang Arwaa, meski begitu dia juga ingin mengetahui keadaan istrinya karena itulah dia mengangkatnya tapi saat ini dia dibuat bingung dengan respon yang diberikan adiknya.


"Kantor."


Aldair berbohong lagi karena sebenarnya saat ini dia sedang berada ditaman rumahsakit. Dia sedang menemani Fani yang mengeluh bosan karena selalu berada di dalam ruangan.


"Oh really?"


Tubuh Aldair menegang ketika mendengar suara Arrazi yang terdengar begitu dekat. Perlahan dia membalikkan tubuhnya dan menemukan Arrazi yang berdiri disana, memandang jijik kearahnya.


"Lebih baik kau kembali kerumah secepatnya. Sebelum ayah dan Attalaric yang menjemputmu disini. We both know bagaimana mereka berdua ketika marah. Apalagi kakak tertua kita, melihat wanita yang dianggap ibu oleh anaknya disia-siakan oleh pria sepertimu, bisa saja dia membalaskannya pada wanita hamil yang ada disana."


Aldair mengatupkan bibirnya dengan tangan yang mengepal erat menahan gejolak emosi yang datang tiba-tiba.


Dia dapat merasakan aura dingin menguar dari Arrazi saat adiknya itu hanya pergi melewatinya tanpa sudi menoleh kearahnya padahal yang dia tahu Arrazi sangat menghormati orang yang lebih tua darinya.


Aldair mengambil nafas banyak-banyak mencoba menenangkan dirinya sebelum menemui Fani.


"Sayang kita kembali ke kamar ya."


"Eeh... kenapa?"


Fani memandang kecewa pada Aldair.


"Aku harus pergi ada urusan mendadak dikantor, apalagi aku kan sudah lama tidak masuk kerja. Maaf ya sayang, aku akan menghubungi ayahmu agar datang kemari."


Aldair mengelus lembut rambut kekasihnya yang terlihat kesal itu dan mendorong kursi roda nya untuk kembali ke ruangan.


***


Diruang keluarga yang besar itu hanya ada Attalaric, Arrazi, dan Aldair. Sebelumnya sang ayah pun ingin ikut serta untuk menginterogasi anak keduanya namun Arrazi melarangnya karena khawatir asma ayahnya kambuh oleh tekanan yang ada.


Lihatlah suasana begitu mencekam diantara ketiga pria tersebut, bahkan pembantu rumah pun enggan masuk untuk sekedar menyimpan minuman.

__ADS_1


"Apa Arwaa mengadu pada kalian?" Tanya Aldair memecah keheningan diantara mereka.


Dia sedikit terkekeh seolah mengejek sang istri yang bahkan tidak ada disana. Dan hal itu membuat kedua saudaranya mengepalkan tangan menahan marah.


"Lucu sekali. Padahal dia yang meminta untuk tidak dicer..."


"Nope!" Potong Arrazi.


"Aku melihatmu sendiri berlari seperti orang gila dilorong rumah sakit untuk menemui wanita jalangmu itu."


'BRAK'


Aldair menggebrak meja kaca didepannya saat mendengar Arrazi menyebut kekasihnya wanita ******.


"Don't you dar..." [Beraninya ka...]


"Why? Am I wrong?" [Kenapa? Apa aku salah?] Potong Arrazi lagi cepat.


Dia mendengus jijik kearah kakaknya.


"Aku yakin dia mengetahui jika kau sudah menikah. Tapi lihatlah dia tidak menolak ketika berhubungan denganmu, bahkan sampai perutnya membuncit seperti itu. Ck ck ck ck!"


Arrazi berdecak menggelengkan kepalanya.


"Apalagi sebutannya untuk wanita yang seperti itu kalau bukan ******. Cinta? Apa atas nama cinta dia rela melakukan itu? Ha! Cinta my as*! Alasan itu tidak akan membuat malaikat Atid berhenti mencatat dosa-dosa yang kalian perbuat."


Arrazi, dia sebenarnya pribadi yang ramah, dan selalu sopan pada orang yang lebih tua, apalagi pada keluarganya sendiri. Tapi saat ini dia sudah kepalang marah atas kelakuan kakaknya, sehingga membuat dirinya berbicara kasar.


Attalaric menepuk pundak adiknya untuk menahan diri agar tidak kelewatan, bagaimana pun juga dia sedang berhadapan dengan kakaknya.


"Cih!" Arrazi berdecih kesal dan mendelik pada Aldair.


Attalaric menghela nafas dan memandang datar Aldair.


"Ceraikan Arwaa secepatnya!"


Gigi Aldair bergemelutuk menahan amarah. Dia memang akan menceraikan istrinya tapi mendengar hal itu dari mulut Attalaric dia tak suka.


"Apa urusannya denganmu?"


Attalaric mengepalkan tangan mendengar suara dingin adiknya.


"Jangan hanya karena anakmu menganggap Arwaa seperti ibunya sendiri, membuatmu menjadi besar kepala dan berlagak seperti kepala rumahtangga istriku."


Aldair tersenyum mengejek pada kakaknya sedangkan Attalaric hanya memandang datar adiknya dan itu membuat Aldair kesal karena respon yang ditunjukkan kakaknya.


"That's why, ceraikan istrimu sekarang juga agar aku bisa menjadikannya ibu sambung anakku. Jangan khawatir, I'll treat her way better than you." [Aku akan memperlakukannya lebih baik dari dirimu]


Attalaric menyandarkan tubuhnya pada sofa, sangat tenang, seolah amarahnya tak terpancing sama sekali.


"Hah kau ingin bekasku? Tentu saja duda memang cocok dengan janda." Aldair mendengus mengejek kakaknya.


Attalaric menaikkan sebelah alisnya. Dia pun berdiri, tepat berhadapan dengan sang adik, hanya ada meja kecil yang menghalangi keduanya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Aldair.


"Bekas katamu? Hah I'm totally sure 100% that she is still virgin, right? Come on, you can't fool me!" [Hah aku bahkan yakin 100% bahwa kau belum menyentuhnya sama sekali, bukan? Ayolah, kau tidak bisa membodohiku!]


Aldair mengepalkan tangannya mendengar apa yang dikatakan kakaknya.


"End of discussion! Aku menunggu surat cerai darimu untuk Arwaa. Oh ya... Dan terimakasih sudah menjaga jodohku yang tertunda."


Attalaric menepuk pundak adiknya dan berlalu pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


🍂🍂🍂


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️


__ADS_2