
'Kling'
Suara lonceng yang terpasang diatas pintu masuk toko roti berbunyi, menandakan ada pelanggan yang datang.
Arwaa yang sedang membantu pegawai toko menata roti dan kue di etalase, menghentikan kegiatannya untuk menyambut pelanggan yang datang.
"Welcome..."
Arwaa memberikan senyum pada sang pelanggan setia toko roti bibinya itu.
"Assalamu'alaikum," salam Mehmet.
"Wa'alaikumsalam kak," Arwaa tersenyum simpul.
"Tumben sendiri kak, Naina gak ikut?"
Biasanya mereka memang selalu datang bersama jika mau membeli roti dan kue.
"Naina sedang ada kegiatan di kampusnya. Lagipula aku baru kembali dari Edmonton, jadi sekalian mampir kemari."
"Edmonton? Jadi membuat cabang restoran di sana?"
"InshaAllah. Kau tahu kan di sana ada Masjid Al-Rasyid yang selalu ramai oleh Komunitas Muslim. Karena itulah aku harap dengan membuat cabang di sana, saudara-saudara kita akan mendapat makanan halal dengan lebih mudah."
Arwaa manggut-manggut, menyetujui.
"Subhanallah. Semoga Allah selalu memudahkan niat mulia kakak dan keluarga."
"Aamiin allahumma aamiin."
Hati Mehmet menghangat mendapat do'a tulus dari wanita di hadapannya.
"Jadi mau pesan apa ka?"
Mehmet tersadar. "Oh, aku pesan brownies almond dengan kopi untuk dimakan di sini ya, juga 5 croissant, dan 2 kue red velvet untuk dibawa pulang."
"Ok. Silahkan ditunggu ya kak."
***
Mehmet Yazdi Al-Ghifari, namanya. Pria Turki yang berusia 29 tahun. Dia dan keluarganya sudah tinggal di Toronto semenjak adik kecilnya lahir, siapa lagi kalau bukan Naina Muzza Al-Ghifari. Seperti orang Turki pada umumnya, mereka berdua pun memiliki pesona yang menyilaukan mata.
Terutama Mehmet, dengan perawakan yang tinggi besar, rambut coklat dan warna matanya yang indah, juga alis lebat yang membuat kaum hawa iri padanya.
Kedua saudara itu memang sudah lama menjadi pelanggan setia toko roti milik Bibi Claire, karena selain rasanya yang lezat, semua roti dan kue yang dibuat di toko itu terjamin ke-halalan-nya meski pemilik dan para pegawainya bukan seorang Muslim.
Makanya mereka cukup terkejut ketika mendapati seorang Muslimah yang bekerja di toko itu, yang tidak lain adalah Arwaa. Sehingga Bibi Claire mengenalkan mereka dengan sang keponakan. Dan sejak itu hubungan Arwaa dan Naina, juga Mehmet, menjadi dekat.
Apalagi Arwaa yang saat itu masih merasa asing di Kanada, dirinya sangat senang ketika mendapat teman yang juga beragama sama dengannya.
***
"Silahkan dinikmati," sesaat setelah Arwaa meletakkan pesanan Mehmet di atas meja, tentu masih dengan senyum ramah yang terpatri di wajah Arwaa.
"Terima kasih."
Mehmet menyesap sedikit kopi pesanannya tadi yang masih terasa panas. Sebelum dia menahan hijab panjang Arwaa.
"Boleh duduk sebentar tidak, aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu."
Arwaa mengangkat sebelah alisnya, sebelum ia mengangguk, mengiyakan.
"Ada apa kak?" Tanya Arwaa setelah dia mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan pria bermata indah itu.
"Umm... Begini, seperti yang kau tahu jika menu di restoran keluargaku kan rata-rata makanan khas Timur Tengah. Dan baru-baru ini aku berpikir untuk menambah menu khas Indonesia juga, bagaimana menurutmu?"
Arwaa sontak menganggukkan kepalanya antusias, setuju dengan ide Mehmet.
"Waah, bagus itu kak. Aku mendukung sekali jika kakak memang mau menambah menu Indonesia di restoran kakak. Selain memudahkan ku untuk menyalurkan rindu akan makanan Indonesia, aku juga yakin masyarakat sekitar pasti akan menyukai menu Indonesia itu kak, terutama rendang. Waah, benar-benar mantap itu kak!"
Mehmet terkekeh geli melihat tingkah Arwaa yang seperti anak kecil dibelikan mainan baru.
__ADS_1
"Ya, aku terpikirkan hal ini ketika teringat kamu."
"Eh?"
"Ah... maksudku, kamu kan orang Indonesia, jadi aku terpikir juga tentang Negara mu. Selain itu aku melihat iklan di internet tentang sebuah restoran di Indonesia yang menyediakan makanan khas Nusantara. Restoran itu pun mempunyai rating tinggi dan direkomendasikan oleh banyak orang. Jadi aku berpikir untuk bekerjasama dengan restoran itu dalam hal ini. Bagaimana?"
Lupa tentang ucapan spontan pria dihadapannya tadi, Arwaa kembali antusias mendengar penuturan Mehmet tentang kerjasama restorannya.
"Bagus kak. Aku sangat mendukung keputusan itu. Waah, aku jadi tidak sabar ingin mencicipi makanan Indonesia di restoran kakak nanti."
Arwaa mendongak, menatap langit-langit, membayangkan makanan khas Nusantara yang akan segera mengisi perutnya.
"Astaghfirullah kak, ngidam kan aku jadinya."
"Ngidam?" Mehmet mengernyit bingung, tidak mengenali kata asing itu.
"Bukan apa-apa kak. Hehehe."
Arwaa terkekeh sendiri menertawakan kekonyolan dirinya.
"Sudah kan kak? Aku kembali bekerja ya, tidak enak makan gaji buta," bisik Arwaa pura-pura gugup.
"Haha, ya sudah sana. Terimakasih juga pendapatnya."
Arwaa mengangguk dengan menunjukkan tangan yang membentuk 👌 pada Mehmet.
***
Di sisi lain, kehidupan Aldair menjadi semakin suram semenjak kepergian putrinya.
Dia memang jarang menghabiskan waktu dengan darah dagingnya itu, namun sekali dirinya pergi mengunjungi sang putri, rasa lelah dan penat pastilah terobati oleh tangan mungil yang selalu menggenggam hangat jarinya.
Dan tentang Fani, wanita yang melahirkan putrinya, Aldair benar-benar memutuskan semua yang berhubungan dengan wanita itu. Meski awalnya, Fani masih selalu berusaha untuk mendapat maaf Aldair, bahkan sampai Pak Beni dan Bu Ina pun sampai memohon padanya untuk menerima Fani kembali, dan memberinya kesempatan.
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Rasa cinta yang pernah ia sematkan pada wanita itu perlahan memudar dengan kepergian Alkia. Terlebih ketika dirinya mengetahui bahwa Fani sama sekali tidak pernah mengurus putri mereka, karena wanita itu lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya, juga untuk merawat dirinya sendiri, dengan beribu macam alasan.
Adik kan mau menikah, jadi wajar dong kalau adik merawat diri. Adik hanya tidak ingin mengecewakan mas, karena fisik adik yang tak lagi cantik setelah melahirkan.
Aldair mengacak rambut, frustasi. Dia sudah kehilangan semuanya, istrinya, keluarganya, dan juga putrinya. Semua itu karena kebodohannya sendiri. Kecil harapan Aldair jika sang istri bisa memaafkan dan menerimanya kembali setelah apa yang ia lakukan pada wanita itu. Begitu pula dengan keluarganya.
Setelah pemakaman sang putri, Aldair benar-benar menutup komunikasi dengan Fani, yang menurut dirinya, wanita itulah penyebab dia kehilangan orang-orang tersayang. Meski terkadang Fani selalu berusaha menghubungi dan menemuinya, tapi sebanyak itu juga dia menghiraukan semua tentang wanita yang pernah mengisi hatinya.
Semuanya berubah, begitu pula dengan dirinya. Aldair menjadi begitu dingin dan tak tersentuh oleh semua orang. Setiap hari dia hanya disibukkan dengan urusan bisnis kulinernya sembari menunggu kabar dari Ryan tenang keberadaan paman sang istri.
Tak heran jika sampai saat ini bisnis kulinernya berkembang sangat pesat karena banyak orang-orang yang menyukainya. Dia pun senang bukan main ketika salah satu restoran halal di Negara yang terkenal dengan Syrup maplenya itu menginginkan kerjasama dengan dirinya.
'Drrt... Drrt...'
Aldair melirik ponselnya yang bergetar, dia pun melihat nama 'Ryan' tercantum di layar ponselnya itu. Tak menunggu lama dia langsung mengangkat telepon yang memang selalu ditunggu-tunggu olehnya.
"Assalamu'alaikum."
"..."
"Serius kamu?"
"..."
"Alhamdulillah. Aku kesana sekarang!"
"..."
"Hmm, Wa'alaikumsalam."
Aldair langsung beranjak dan mengambil kunci mobil di atas meja.
***
"Nih pesenan kamu," ucap Aldair begitu dia menyerobot masuk ketika Ryan membuka pintu apartemennya.
"Etdah. Assalamu'alaikum dulu kek," dengus Ryan.
__ADS_1
"Sorry. Seneng banget soalnya dapat kabar ini."
"Hehe... Wa'alaikumsalam."
Ryan memutar bola matanya jengah melihat Aldair yang langsung mendudukkan dirinya di sofa tanpa ia persilahkan.
"Sudah, cepat kasih tahu apa yang kamu dapat!" Seru Aldair tak sabar yang dibalas delikan temannya itu.
"Iya bentar."
Ryan berjalan malas menuju sofa sebelum mengambil beberapa lembar kertas di atas meja komputernya.
"Nih, baca dulu," sesaat sebelum pria gondrong itu membuka makanan yang tadi ia minta pada Aldair.
Kening Aldair mengkerut begitu ia membaca kertas yang diberikan Ryan.
"Jadi Jhonny Lau Dodger di Cina?" Tanya Aldair memastikan.
"Iya. Bagaimana, apa ada kemungkinan istrimu juga di sana?"
Aldair terdiam sejenak. Entahlah dirinya merasa tak yakin jika sang istri berada di Negara Tirai Bambu itu.
"Jhonny Lau Dodger, seorang pengusaha di bidang perhotelan, cukup di kenal di Cina," jelas Ryan dengan mulut penuh mengunyah makanannya.
"Kurang yakin sebenarnya jika istriku itu berada di sana."
Aldair mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari sebelum matanya membulat dan ia menggebrak meja membuat temannya itu tersedak hebat sampai matanya berair.
"Uhhuk... Sialan, biasa aja kek. Uhuuk... Uhuuk..."
Aldair nyengir kuda menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sorry tiba-tiba keinget sesuatu," ucap Aldair sambil menyodorkan botol minum pada Ryan.
Aldair mulai terdiam memikirkan sesuatu yang mungkin akan menuntun dirinya pada sang istri. Tadi dirinya tiba-tiba teringat dengan ucapan paman Arwaa saat di kediaman keluarganya, ketika dia membawa kabur Arwaa.
'Keputusan saya sepertinya semakin bulat untuk membawa Arwaa pergi ke Kanada...'
Kanada...
Kanada...
Kanada...
Apa mungkin istrinya itu di sana, tapi kenapa keberadaan Paman Jhonny ada di Cina?
Aldair menggelengkan kepala. Entah kenapa dirinya lebih yakin jika sang istri berada di Kanada, tapi dimana? Kanada tidak sebesar daun kelor after all.
Haa...
Aldair membuang nafas berat, mendongak sambil bersender pada sofa. Sedang Ryan hanya memandang aneh temannya itu yang tiba-tiba terlihat senang dan sedetik kemudian menjadi muram.
Semua tentang sang istri begitu membingungkan bagi Aldair dan hal itu membuat dia menyesali semua waktu yang telah terbuang sia-sia karena selama pernikahan mereka, Aldair tidak mengetahui sedikit pun tentang Arwaa, istrinya, kecuali...
"AH!"
Aldair tiba-tiba berseru dan bangun dari duduknya. Untung saja Ryan tidak tersedak lagi karena hal itu, meski dirinya tetap dibuat berjengit karena terkejut.
'Alm mama aku itu asli orang Kanada mas...'
Aldair teringat ucapan istrinya tentang sang ibunda yang ketika itu adalah kali pertama mereka menghabiskan malam bersama.
Benar, ada kemungkinan istrinya itu ada di Kanada bersama keluarga Ibunya, dan tentang Paman Jhonny, mungkin pria itu hanya mengantarkan Arwaa saja kesana sebelum pergi ke Cina.
Itulah kesimpulan yang dia dapat dari semua ini.
Senyum Aldair merekah mengingat dia pun memiliki janji pertemuan dengan orang yang ingin bekerjasama dengan dirinya di Kanada minggu depan.
Ibarat menyelam sambil minum air. Aldair pun berencana untuk mencari sang istri sewaktu dia berada di Kanada, setelah dia menyelesaikan urusan bisnisnya nanti.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️