
Keesokan harinya setelah Arwaa memberikan jawaban yang memberikan rona bahagia pada wajah Attalaric dan juga Bu Hayya. Mereka berencana untuk pergi ke Prince's Island Park yang merupakan sebuah area hijau dan luas di pusat kota Calgary.
Terletak di sebuah pulau di Bow River, tepatnya di 698 Eau Claire Ave SW. Taman ini bersebelahan dengan Pasar Eau Claire, sehingga bisa sekalian membeli souvenir khas kanada sebagai oleh-oleh yang di Jakarta.
Dengan Attalaric mengemudikan mobil yang disewanya, bersama Bu Hayya yang duduk di kursi depan. Sedang Arwaa dan Hanna di kursi tengah. Sepanjang perjalanan tentu diramaikan oleh nyanyian riang si kecil Hanna yang membuat semua penumpang mobil terkekeh kecil ketika mendengar suara cempreng Hanna.
Sesekali Attalaric pun melirik Arwaa dari kaca spion yang terus meladeni celotehan Hanna penuh kesabaran dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya. Hati Attalaric menghangat, tak menyangka jika sebentar lagi gadis itu benar-benar akan menjadi Ibu sambung bagi putrinya.
Bu Hayya yang memperhatikan Attalaric, tersenyum. Ada kebahagiaan sendiri akhirnya bisa melihat anak sulungnya itu bisa memulai cinta yang baru setelah kepergian istrinya. Tapi tak bisa dipungkiri juga jika ada kesedihan saat memikirkan anak keduanya. Apalagi setelah mendapat pesan jika anak keduanya itu mengambil penerbangan siang hari untuk kembali ke Jakarta, sedang Bu Hayya, Hanna dan Attalaric mengambil penerbangan malam karena ingin membawa Hanna berjalan-jalan sebentar.
Bu Hayya menghela nafas, dan menoleh ke luar jendela, menikmati pemandangan sekitar yang dilalui mobil mereka, walau sebenarnya pemikiran Bu Hayya terus terpaut pada Aldair.
Ada setitik rasa bersalah yang mengganggunya. Bu Hayya sendiri tidak pernah memperlakukan ketiga anaknya dengan tidak adil, atau pilih kasih. Bu Hayya menyayangi ketiga anak lelakinya, baik itu Attalaric, Aldair, maupun Arrazi. Mereka sama-sama penting dalam hidup Bu Hayya dan juga Pak Ahmad tentunya. Dan sebagaimana orangtua pada umumnya Bu Hayya berserta sang suami menginginkan kebahagiaan untuk ketiga anaknya.
Dan saat ini, sudah jelas kebahagiaan Attalaric dan cucunya ada pada seorang gadis yang telah menjadi mantan istri dari anak keduanya, Aldair. Mungkin saja jika Aldair dulu lebih jujur dan dapat menerima pernikahannya dengan ikhlas, tak akan ada kejadian seperti ini. Di mana Bu Hayya harus menyaksikan salah satu anaknya mengalami kesedihan.
Attalaric melirik sekilas pada sang ibu. Ada gurat kesedihan di mata yang sejak ia bayi selalu menenangkannya. Digenggamnya tangan yang selalu menuntunnya itu dan memberikan senyum sendunya pada sang ibu. Sedikit banyak Attalaric mengerti. Ya, ia mengerti penyebab dari kesedihan yang melingkupi hati ibunya. Dan dirinya pun merasakan hal yang sama.
Attalaric dan Bu Hayya sepertinya tak sadar jika Arwaa pun memperhatikan mereka dari belakang. Entah kenapa tiba-tiba keraguan yang besar juga meliputi dirinya saat melihat kesedihan yang terpancar dari Bu Hayya dan Attalaric.
Arwaa tak henti beristighfar dalam hati, menenangkan dirinya sendiri. Kenapa jadi seperti ini padahal semalam dirinya sudah melakukan istikharah dan langsung mendapat jawaban yang mantap dari kebingungan yang menimpanya.
Ya Allah bagaimana ini?, batin Arwaa.
Dirinya ingin bahagia, tapi rasanya tak sampai hati jika harus berbahagia di atas penderitaan orang lain, atau mungkin mantan suaminya, adik dari pria yang melamar dirinya, Aldair.
***
Suasana sendu melingkupi Arwaa dan Attalaric yang saat ini tengah berjalan-jalan di Prince's Island Park karena kebetulan Bu Hayya membawa Hanna ke Pasar Eau Claire.
Padahal seharusnya mereka berbahagia saat ini karena telah mendapat keputusan setelah jawaban yang diberikan Arwaa semalam. Tapi sepertinya ada satu alasan sama yang mengganjal dalam hati mereka masing-masing.
"Ar..."
"Mas..."
__ADS_1
Sejenak mereka terdiam setelah tak sengaja berbicara berbarengan.
"Bicaralah lebih dulu Mas," ujar Arwaa tersenyum kecil.
Attalaric menghela nafas dan mengajak Arwaa untuk duduk terlebih dahulu di kursi yang ada di sana.
"Maaf," lirih Attalaric memandang kosong pemandangan di depannya.
Ada kekecewaan pada dirinya sendiri karena akhirnya harus menjadi pengecut dan menyakiti perempuan di sampingnya.
"Tapi bisakah kita melupakan apa yang telah terjadi, dan juga harapan yang telah Mas berikan padamu?" Suara Attalaric sedikit bergetar saat mengatakannya.
Dia tak tega harus menyakiti Arwaa bahkan ketika dirinya memang tak berhak melakukan hal itu. Tapi apa mau dikata kesedihan di wajah sang ibu membuatnya berpikir lagi tentang keinginannya untuk mempersunting mantan istri adiknya.
Darah Arwaa berdesir seketika karena perasaan pilu yang mengaliri hatinya. Ia tahu jika hal ini akan terjadi, tapi ternyata dia tak siap dengan rasa sakit dan kecewa yang harus diterimanya. Mata Arwaa mengembun, tapi sekuat tenaga ditahannya agar tak menangis di depan pria yang mulai dia cintai.
"Hmm," gumam Arwaa.
"Let's do that," lanjutnya lagi membuat Attalaric sedikit terhenyak. Ia pikir Arwaa akan memintanya untuk bertahan dan memperjuangkannya, tapi sepertinya ia telah keliru. Mungkin karena Arwaa memang belum terlalu membuka hatinya sebagaimana dia menginginkannya.
Perlahan Attalaric menoleh. Sekali saja ia ingin memandang wajah Arwaa lebih lama sebelum nanti ia tak bisa lagi melihatnya. Namun ia dikejutkan dengan kenyataan jika Arwaa tengah menangis dalam diamnya.
Ah, ternyata sesakit ini melihat orang terkasih menangis karena diri sendiri, itu yang dipikirkan Attalaric. Ya, hatinya begitu sakit melihat air mata Arwaa. Dia sangat ingin menarik Arwaa dalam dekapannya saat ini, tapi ia tersadar jika dirinya bukanlah mahram, dan tak akan pernah menjadi mahram. Maka dari itu Attalaric hanya bisa menatap nanar Arwaa yang menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Dia begitu kecewa pada dirinya sendiri karena telah menyakiti Arwaa sebegitu besarnya setelah iming-iming kebahagiaan yang telah ia janjikan pada gadis itu.
"Um... Maaf Mas aku permisi ke toilet dulu. Jangan sampai Ibu menjadi sedih karena melihatku seperti ini. Assalamu'alaikum."
Dengan cepat Arwaa beranjak dan menjauh dari Attalaric yang hanya bisa memandang punggung pujaan hatinya dengan nanar.
"Benar-benar pengecut!" Lirih Attalaric pada dirinya sendiri.
***
Malam hari pun tiba. Sekarang mereka sedang berada di Bandara YYC Calgary untuk menunggu keberangkatan Bu Hayya, Attalaric, dan Hanna dengan Arwaa ditemani Grace dan Marius.
Arwaa dan Attalaric sendiri bersikap seolah tidak ada masalah apapun setelah kejadian siang tadi. Berusaha keduanya menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan mereka pada diri masing-masing di hadapan semua orang.
__ADS_1
"Bunda... Kenapa Bunda gak ikut pulang jugaaa... Hanna masih rindu Bunda," Rengek Hanna yang terus bergelayut manja di pinggang Arwaa.
Attalaric mengalihkan pandangannya, melihat kedekatan Arwaa dan Hanna hanya membuat dirinya semakin sakit karena pada akhirnya tidak bisa mempersatukan mereka.
Arwaa memberikan senyum lembutnya walau sebenarnya ia memaksa diri, "Maaf ya, Bunda gak bisa ikut Hanna pulang. Inshaallah kalau memang Allah mengizinkan Hanna sama Bunda nanti kita ketemu lagi," diusapnya lembut rambut gadis kecil itu.
"Gimana caranya supaya Hanna bisa ketemu lagi sama Bunda?"
"Berdo'a yang banyak ya sama Allah supaya bisa ketemu Bunda lagi karena Bunda juga akan terus berdo'a supaya bisa ketemu sama Hanna,"
"Dan juga menjadi Ibu sambung Hanna," ucap Arwaa dalam hati.
Arwaa dan Attalaric saling memandang. Ada kerinduan dalam mata mereka, tapi mereka sadar ada dinding penghalang yang tak mungkin untuk dihancurkan. Sehingga keduanya hanya bisa menenggelamkan rindunya di dalam hati masing-masing.
"Ya Allah maaf ya sayang. Ibu kebelet banget tadi," ucap Bu Hayya yang baru tiba dari toilet.
"Iya Bu gak apa-apa kok," balas Arwaa tersenyum lembut.
"Semoga Ibu, Mas Atta, dan Hanna selalu berada dalam lindungan Allah. Fi amanillah," ucap Arwaa begitu pemberitahuan agar para penumpang segera memasuki pesawat terdengar.
Bu Hayya langsung memeluk Arwaa erat dan berbisik, "Semoga rencana baik kita juga diperlancar ya sayang."
Arwaa sedikit terhenyak, tapi kembali memasang raut bahagianya dan tersenyum lembut membalas pelukan sang mantan ibu mertua, "Inshaallah Ibu."
Hanna yang mulai merengek dan merajuk karena tak mau pulang membuat Attalaric harus menggendongnya, "Bundaa... Bundaaa... Mau sun Bundaa dulu Dad," rengek Hanna membuat Attalaric mendekatkan diri kepada Arwaa agar Hanna bisa mencium Bundanya untuk yang terakhir kali.
Attalaric sendiri tak bisa menyembunyikan debaran jantungnya dan juga kepedihan di hatinya. Perlahan ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Arwaa, "Aku akan selalu mencintaimu," bisiknya lirih membuat air mata Arwaa mengalir seketika.
Attalaric menatap sendu Arwaa dan tersenyum ke arahnya.
"Maafkan aku. Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu yang sesungguhnya," ucap Attalaric lagi dengan suara kecil agar tak terdengar Bu Hayya yang masih belum mengetahui kenyataan yang terjadi antara Arwaa dan Attalaric.
Arwaa melambaikan tangannya pada Hanna yang terus menatapnya sedih dalam gendongan Attalaric, "Maafkan Bunda..." lirih Arwaa.
"Ayo pulang."
__ADS_1
Grace menggenggam tangan Arwaa mencoba menenangkannya. Meski belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia bisa melihat jelas kesedihan di mata sahabatnya itu.
***