
Setelah dua hari membereskan barang-barang yang akan dibawa pindah.
Akhirnya hari ini aku akan pergi ke Calgary dengan Paman Jhonny, setelah sebelumnya melewati dulu drama para perempuan bersama Naina, Bibi Claire dan juga Nenek Xin.
Mereka terus menerus menangis dan tak mau membiarkanku berangkat bersama Paman dengan alasan yang berbeda namun satu maksud, tak ingin aku pergi.
Terharu tapi juga terasa lucu. Apalagi ketika Bibi Claire merajuk sampai putranya, Sean merasa malu sendiri.
"Bagaimana nanti aku kesepian Dan kerepotan di Toko Roti. Kamu tahu sendiri anak lelaki satu-satunya Bibi tak bisa diandalkan," sahutnya cemberut memeluk sebelah tanganku.
Lain halnya dengan Naina dan Nenek.
Wanita yang telah melahirkan Ibuku itu merasa sedih karena nantinya tak akan ada yang menemani menikmati secangkir teh ketika sore. Berbeda dengan Naina, dia akan kehilangan teman curhat katanya. Meski masih bisa berhubungan melalui telepon tapi menurut gadis itu tetap berbeda.
Sebenarnya ada satu orang lagi yang cukup membuatku sedikit terkejut atas kemunculannya yang tiba-tiba di Bandara, Kak Mehmet.
Apalagi sebelumnya Naina yang memang menginap di rumahku sejak kemarin memberitahu jika Kakaknya itu ada perjalanan ke Edmonton untuk men-check keadaan cabang restoran halal yang baru dibukanya.
Pria keturunan Turki itu memberiku sebuah kotak, entah apa isinya karena belum sempat ku buka. Tak nyaman dengan tatapan mereka yang ikut serta mengantar ke Bandara.
Sebenarnya ingin menolak pemberian itu, tapi mengingat dia memberikannya di tempat umum, rasanya tak sopan jika langsung ditolak.
Terlebih Paman sempat berbicara tanpa suara ketika aku meliriknya dengan tatapan ragu ketika mendapat hadiah tersebut.
"Tak apa terima saja," ucapnya sambil mengangguk dan tersenyum menenangkan.
Maka mau tak mau aku terima pemberian Kak Mehmet.
Bukan karena apa aku ingin menolak pemberiannya. Aku hanya tak ingin jadinya seperti memberi harapan palsu pada Kakak dari sahabatku itu. Terlebih sebelumnya aku telah menolak pinangan dari Kak Mehmet.
Dia berhak bahagia tanpa mengharapkan apapun dariku yang entah sampai kapan rasa khawatir atas kegagalan dalam pernikahan ini akan menghantui.
"Aku harap kau akan menghubungiku kapanpun dirimu butuh bantuan disana karena aku akan langsung datang menghampiri," ujarnya membuatku merasa sedikit risih.
Dan sepertinya Paman menyadari hal itu, sehingga dia menepuk bahu Kak Mehmet seraya berkata, " aku tak begitu mengerti tentang peraturan hubungan dalam agama kalian, tapi satu hal yang aku ingat dari mendiang Kakakku bahwa tak seharusnya menyimpan harap pada manusia, jika pun kau berani, maka sisakanlah satu tempat di hatimu untuk menerima kekecewaan karena sesungguhnya hanya Tuhan kalianlah tempat seharusnya kalian menyimpan harap. Am I right?"
Kak Mehmet tersenyum getir.
Sepertinya dia dapat menangkap maksud Paman dengan baik. Sehingga dirinya berkata, "Um... Maaf jika membuatmu tak nyaman, jadi hiraukan saja ucapanku sebelumnya. Aku hanya berharap kamu akan terus mengabari keadaanmu pada Naina."
Aku mengurai senyum ingin membuat pria itu sedikit baik perasaannya setelah teguran tak langsung dari Paman Jhonny.
"Allah punya banyak cara mempertemukan. Aku harap kelak Ia akan mempertemukan Kakak dengan seseorang yang baik akhlaknya dan pantas bersanding menjadi pendamping hidupmu Kak."
Kak Mehmet tersenyum menanggapinya.
Aku rasa dia mengerti jika itu adalah cara diriku yang tak langsung memintanya untuk berhenti berharap banyak terhadapku.
__ADS_1
Tapi ternyata dia bukan tipe pria yang mudah menyerah karena baru beberapa langkah aku dan Paman Jhonny pergi setelah pamit.
Ia berteriak cukup lantang dan menarik perhatian beberapa orang yang berada disana.
"IYA, DAN KUHARAP ITU KAMU!!"
Aku berhenti sejenak dan menoleh padanya. Cukup membuat hati ini bergetar mendapati tatapan sendu dari pria bermata indah itu.
Sebelum akhirnya Paman merangkulku berbalik walau dirinya sempat menoleh juga pada Kak Mehmet dan seperti mengatakan sesuatu yang tak dapat ku tangkap, seolah sebuah rahasia untuk mereka.
Entah apa itu karena saat ku melirik Paman, ia hanya tersenyum seolah menenangkan perasaan ini.
***
Perjalanan yang hampir memakan waktu empat jam menuju Calgary membuatku sangat kelelahan walau sebenarnya tak banyak yang ku lakukan selain hanya tertidur didalam pesawat.
Tak dapat dibayangkan jika sebelumnya Paman menuruti keinginanku untuk berangkat menggunakan kereta, karena dia bilang perjalanan menggunakan kendaraan itu akan memakan waktu lebih lama, yaitu delapan jam.
Subhanallah sekali.
Kedatangan kami di bandara disambut oleh Seba, teman Paman yang ternyata penghuni sebelah apartment Paman yang akan ku tempati.
"Ku kira kau akan membawa istrimu atau kekasihmu saat mengabari waktu itu, tapi tahunya hanya keponakanmu hahaha masih betah melajang rupanya. Padahal sudah hampir kepala lima, nanti kehabisan kau," kelakar pria berkulit gelap itu membuat Paman mendengus sebelum bercanda dengan mengunci leher Seba.
"Kau membicarakan tentang dirimu huh?!"
Astagfirullah al adzim.
Sepertinya harus membiasakan dan juga lebih menyabarkan diri dengan kultur disini.
Meski sebelumnya di Toronto pun sama tapi orang-orang terdekat disana cukup menjaga lisan untuk tidak terlalu ceplas ceplos perkara pribadi seperti yang dilakukan teman Paman.
Bercandaan dua pria yang tidak bisa dibilang muda lagi itu pun akhirnya terhenti karena seorang petugas keamanan di Bandara datang mendekat dan menegur mereka. Mungkin pikirnya sebuah perkelahian.
Ada-ada saja.
"We're sorry sir," ucap Paman Jhonny sedang temannya itu hanya menyengir yang ditanggapi dengusan dan juga kibasan tangan si petugas.
Memberi tanda agar kami segera pergi.
***
"Maaf ya tentang di Bandara tadi, kau pasti ketakutan saat kedatangan petugas," ucapnya begitu kami memasuki kawasan apartment.
"Pamanmu memang selalu buat masalah, padahal sudah tua," lanjutnya mengejek yang lagi-lagi hanya ditanggapi dengusan oleh Paman.
"Tidak apa-apa Paman Se..."
__ADS_1
"No! Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak begitu tua seperti Pamanmu. Jadi panggil Seba saja, jangan sungkan," jelas Seba memotong.
"Um... Iya Se... Seba."
Aku tedikit tergugu, bagaimana pun juga tak biasa memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama saja tanpa embel-embel seperti Paman, Om, Abang, Kakak, atau Bibi, dan Tante.
Haa... Sepertinya aku juga harus membiasakan hal ini mulai sekarang.
Saat ini kami tengah berada di dalam lift menuju ke lantai tujuh tempat apartment Paman yang akan ku tempati.
Tentu saja diramaikan dengan pertengkaran kecil Seba dengan Paman yang sepertinya akan terus berlangsung selama dua orang itu bersama.
'Ting'
Akhirnya lift terbuka membuatku mengambil nafas sebanyak-banyaknya karena didalam sana cukup pengap terlebih dengan krasak ksuruk Paman dan temannya.
"Kamu harus banyak bersabar nanti karena harus bertetangga dengan dia," ucap Paman dengan maksud mengejek membuat mereka akhirnya kejar-kejaran.
Sedang aku hanya menganga melihat tingah kedua orang yang bisa dibilang sudah dewasa itu.
Terlebih Paman karena biasanya dia begitu menjaga image ketika didepanku.
"Awaaas kau!!" Teriak Seba mencoba menarik baju Paman namun tak kena.
Paman akhirnya sampai lebih dulu di depan pintu yang sepertinya itu apartment Paman.
Dengan terburu-buru Paman memasukkan password untuk membuka pintu agar menghindari Seba.
Tapi ternyata aku, dan juga Seba terkejut ketika Paman yang seketika terlonjak kebelakang saat pintu telah terbuka.
"What the f*ck?!"
Pekik Paman dengan mata melotot pada seseorang yang kurasa ada didalam apartmentnya.
"Hahahaha," tawa Seba pecah.
"Got you Jhonny!"
Sedang aku hanya menatap bingung wanita yang berpakaian cukup terbuka dari dalam apartment Paman.
Terlebih ada kilatan marah dimatanya begitu ia melihatku membuat aku mengerutkan kening.
Semakin tak mengerti siapa dirinya dan apa yang terjadi.
***
Kira-kira siapa ya?? ðŸ¤
__ADS_1