Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Gejolak Hati


__ADS_3

Drrt... Drrt...


Aldair melirik ponselnya yang berada di atas meja caffe. Dia baru saja selesai bertemu dengan orang yang ingin join dengan dirinya.


Sebelah tangannya mengepal saat membaca nama Kakaknya terpampang di layar ponsel. Sedikit banyak ia bisa menebak apa yang akan disampaikan Kakaknya, meski begitu tetap ia angkat.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Ada apa Ka?"


"Kamu di mana?"


"Caffe D'Claire. Kenapa?"


Aldair menyenderkan punggungnya mencoba menenangkan gejolak panas dalam hati akan kemungkinan terburuk yang menjadi alasan Kakaknya menelepon.


"Nothing. Nanti malam tidur di apartemen Arwaa?"


Aldair terdiam sejenak, "Tidak."


"Kalau begitu kamu menginaplah di hotel dekat sana. Aku akan menyusul."


"Kakak akan kemari?" Tanya Aldair tak tenang.


Ia tahu apa yang akan Kakaknya itu lakukan jika kemari setelah tak sengaja mendengar percakapan Ibu dan Ayahnya di telepon yang mengatakan bahwa Kakaknya itu akan melamar Arwaa.


Sialan!


Aldair sedikit menendang kecil kaki meja, melampias kekesalannya. Entahlah dia merasa dikhianati oleh keluarganya sendiri.


"Iya. Ada yang ingin Kakak bicarakan denganmu."


"Baiklah kalau begitu, akan kutunggu. Assalamu'alaikum," ucap Aldair menutup teleponnya secara sepihak.


Ia membuang nafas berat dan mengacak rambutnya hingga menarik perhatian beberapa pelanggan di cafe tersebut. Meski begitu Aldair tidak peduli, dirinya langsung beranjak pergi setelah membayar makanannya.


Di dalam mobil Aldair menyalakan ponselnya dan mencari nama kontak mantan istrinya, Arwaa. Ditempelkan ponselnya pada telinga setelah ia menekan tombol memanggil.


"Assalamu'alaikum."


Aldair memejamkan matanya sejenak. Mendengar suara Arwaa membuatnya langsung merindukan gadis itu. Padahal baru mereka bertemu pagi tadi.


"Wa'alaikumsalam. Kamu sedang di mana?"

__ADS_1


"Masih di kampus Mas. Ada apa? Apa Ibu dan Hanna baik-baik saja?"


Seulas senyum terpatri pada wajah Aldair. Lihatlah gadisnya begitu perhatian pada keluarganya padahal sudah tak ada ikatan apapun di antara mereka.


"Bukan apa-apa. Mereka baik-baik saja. Mas hanya ingin memastikan kamu pulang jam berapa, jika bisa Mas ingin bertemu denganmu di luar. Ada yang ingin Mas bicarakan," jelas Aldair membuat penerima telepon tak langsung menjawab.


"Hm... Sebentar lagi aku pulang Mas. Jika Mas mau bicara di luar, Mas tunggu saja di taman dekat gedung apartemenku. Aku akan segera ke sana begitu aku pulang."


"Tidak perlu kujemput?" Tanya Aldair ambigu. Dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua yang lebih lama dengan mantan istri itu.


"Tidak perlu Mas. Aku sudah janji akan pulang dengan Grace. Terimakasih."


Sedikit kecewa. Meski begitu tetap Aldair menerimanya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan tunggu di sana. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Mas. Fi amanillah."


Aldair terbengong sebentar karena tak mengerti ucapan terakhir yang disampaikan Arwaa. Tapi setelahnya ia tersenyum lagi, dan mulai menyalakan mobilnya.


***


"Assalamu'alaikum Mas. Maaf lama."


Well itu memang benar, tapi juga Arwaa memiliki alasan lain. Yaitu untuk menghindari Marius yang baru saja menelepon Grace kalau dia sudah ada di apartemen Grace dan ingin bertemu dengan Arwaa.


"Tidak masalah. Duduklah dulu, dan ini," Aldair menyodorkan jus kotakan pada Arwaa.


"Terimakasih," ucap Arwaa dan langsung duduk di kursi taman dengan memberi sedikit jarak.


"No problem," Aldair tersenyum, ia mengerti, jadi ia tak tersinggung lagi.


"Mau bicara apa Mas?" Tanya Arwaa begitu ia menghabiskan jus pemberian Aldair membuat Aldair tersenyum geli. Dia tak pernah berpikir jika mantan istrinya itu bisa segemas ini.


Namun seketika raut mukanya menjadi serius begitu ia ingat tujuan utama mengajak bertemu Arwaa, "Ini tentang Kakakku," singkat. Aldair sengaja karena ingin melihat respon Arwaa.


Bibirnya sedikit tersungging, tapi tatapannya nanar begitu ia melihat ketegangan di wajah Arwaa. Aldair pun menghela nafasnya.


"Kakakku ingin melamarmu. Kamu tahu itu?"


Hening sejenak. Aldair menengok Arwaa yang ternyata tengah menunduk.


"Hmm," gumam Arwaa sebagai jawaban.

__ADS_1


"Apa... Kamu akan menerimanya?"


Perlahan Arwaa mengangkat kepalanya dan menatap Aldair yang ternyata sejak tadi tak mengalihkan perhatiannya dari Arwaa.


"Hmm," sekali lagi Arwaa hanya bergumam.


"Heh, are you serious? Bagaimana denganku?" Tanya Aldair terkekeh miris.


"Memangnya Mas kenapa?"


Aldair sedikit tercengang dengan pertanyaan Arwaa. Dia menatap mantan istrinya sendu.


"Aku mantan suamimu."


"Lalu?"


Diam sejenak. Aldair dan Arwaa hanya saling memandang dengan mata yang saling memancarkan perasaan masing-masing.


"Tidakkah ada simpati untukku? Dia Kakakku dan kamu ingin menikah dengannya. Bagaimana denganku yang setiap hari harus menyaksikan kebahagiaan kalian nantinya?" Tutur Aldair parau. Matanya mulai berembun, tapi ia tahan. Tak ingin sampai menangis lagi di hadapan Arwaa.


"Bagaimana denganmu Mas? Tidak adakah simpati untukku? Tidak bolehkah aku bahagia? Tidak bolehkah aku merasakan cinta? Bagaimana dengan diriku yang ketika masih menjadi istrimu harus menyaksikan kebahagiaanmu dengan wanita lain? Tidakkah kamu memikirkan hal itu Mas. Kenapa kamu masih begitu egois."


Air mata Arwaa mulai menetes. Ia tak percaya ternyata mantan suaminya ini masih begitu egois. Arwaa sendiri tidak pernah berpikir untuk membalas dendam, bahkan sampai harus menggunakan saudara mantan suaminya sendiri.


Tapi hatinya tidak bisa dibohongi lagi. Arwaa memang sudah berpikir untuk menerima lamaran Attalaric karena perasaan hangat yang terus menyelimuti hatinya setiap Arwaa memikirkan tentang Kakak dari mantan suaminya itu.


"Tidak adakah kesempatan lagi untukku Arwaa?" Lirih Aldair menatap penuh mohon membuat hati Arwaa semakin sakit karena perasaan bersalah. Walau Arwaa tahu apa yang saat ini dirasakan Aldair sama sekali bukan salahnya.


"Dulu, rasaku padamu seperti hujan Mas. Deras. Tapi aku lupa, sederas derasnya hujan. Ia akan reda juga. Terlebih memang Mas yang saat itu tak menginginkan hujan."


Arwaa tersenyum lembut meski kesedihan terpancar dari netranya.


"Maafkan aku Mas. Layaknya gelas yang pecah. Meski disatukan kembali, tetap terlihat rusaknya. Begitu pula hatiku yang sudah terlanjur Mas hancurkan. Bukan tidak ada kemungkinan untuk kembali, tapi tak akan lagi seperti semula. Aku hanya tak ingin terus teringat dengan semua perbuatan Mas dulu. Jikapun kita kembali bersama, aku takut bukannya keberkahan yang kita dapat, melainkan hanya dosa karena akan selalu ada perasaan tak ridho dalam hati ini. Maafkan aku Mas, maaf,"


"Bahkan jika boleh jujur, kenangan buruk yang Mas berikan padaku sampai sekarang selalu menghantui, membuatku takut untuk kembali menjalin kisah. Aku hanya ingin lepas dari kesedihan tak beralasan ini Mas. Aku hanya ingin bahagia."


Arwaa kembali menunduk. Tangannya tak berhenti menghapus air mata yang mengaliri pipi. Sedang Aldair merasakan hatinya begitu sakit mendengar penuturan Arwaa. Separah itukah dirinya melukai Arwaa.


Ya Allah... Ya Allah... Ya Allah...


Aldair mencoba menguatkan hatinya. Melihat Arwaa yang seperti ini justru malah membuatnya semakin sakit. Aldair akhirnya sadar, sekuat apapun digenggam, jika bukan takdirnya akan terlepas jua.


Mungkin ikhlas lebih baik daripada tersakiti.

__ADS_1


***


__ADS_2