
Ku pandangi tangan pria yang tengah menggenggam erat tangan ini. Sang pemiliknya sudah tentu adalah suamiku, Mas Genta.
Dia yang aku rasa tidak ditakdirkan untuk menjadi pendampingku hingga kematian menjemput.
Aldair Gentala Arsawijaya, pria yang dipercayai ayahku sebagai pengganti dirinya.
Entah, diri ini pun tak tahu, akankah ayah memaafkan menantunya jika dia mengetahui pria itu tidak pernah membahagiakanku.
Disini aku selalu mencoba ikhlas dan menerima alasan suamiku mengabaikan jiwa yang sepi ini.
Dengan harapan, kembalinya Imamku pada pendamping hidup yang telah Allah halalkan, yaitu aku, istrinya. Tapi ternyata itu hanyalah pikiran keliru yang sengaja kuciptakan tuk menghibur diri.
Mas Genta ku, suamiku, belahan jiwaku...
Andai kau tahu bibir ini tak pernah henti melantunkan do'a, memohon pada Sang Pengasih Yang Maha membolak-balikkan hati agar dirimu, Imamku, dapat kembali menuju jalan pemilik hatimu yang sesungguhnya, aku, istrimu.
Namun ternyata diri ini tak setangguh dan sesabar itu menghadapi madu pahitnya pernikahan bersamamu, Imamku.
Maafkan aku yang memilih untuk menyerah. Hanya ini yang bisa ku lakukan sebagai pengabdian terakhirku padamu, suamiku. Dengan memaafkan dan mengikhlaskan semua kekhilafan dan luka yang telah kau torehkan pada diri ini.
***
"Arwaa kamu memaafkan suamimu?"
Aku memandang Ustadz Zahid dengan senyuman samar.
Ada keraguan yang menyelimuti hati. Haruskah aku kembali pada suamiku dan memberinya kesempatan setelah apa yang dilakukannya.
Aku teringat wasiat seorang sahabat Nabi, Abu Al-Darda kepada istrinya, Raudah Al-Uqala.
'Jika aku sedang marah, maka ridhalah engkau kepadaku. Begitu pun ketika engkau marah, maka aku akan berusaha ridha kepadamu. Kalau kita tidak seperti ini, maka niscaya akan begitu cepat kita berpisah (bercerai).'
Ingin diri ini meniru akhlak para sahabat Nabi. Namun rasanya tak bisa. Tidak ada kemungkinan lagi untuk kembali bersama, karena diri ini hanyalah manusia biasa, tempat rusak dan segala dosa atas nafsu dunia yang memabukkan.
"InshaAllah Ustadz."
Aku tersenyum nanar melihat tatapan tak percaya suamiku saat mendengar ucapan ku tadi.
Maafkan aku mas. Bukan diri ini ingin melukai hati, diriku hanya tak bisa lagi memperbaiki hati yang telah lama kau coba untuk lenyapkan.
"InshaAllah aku siap untuk memaafkan semua kesalahan Mas Genta, tapi tidak untuk kembali bersama Ustadz," ucapku menegaskan.
Dapat ku rasakan tubuh pria di sisiku ini menegang melalui pegangan tangannya.
Maafkan diri ini suamiku.
"Arwaa, jangan..."
__ADS_1
"Tidak mas. Aku mohon mas mengertilah. Aku hanya seorang manusia, seorang wanita, dan juga seorang istri yang selalu mengharapkan kasih sayang darimu sejak awal pernikahan kita,"
"Namun apa yang aku dapatkan. Dirimu tak pernah sekalipun menoleh padaku bahkan sesaat setelah akad diucapkan, kau abaikan aku, kau sakiti aku, dan kau juga membuangku jauh dari hidupmu,"
"Jikapun saat ini ada suatu perasaan yang mendorong Mas ingin kembali bersamaku, percayalah itu bukan cinta, melainkan penyesalan. Karena dengan bersamaku, rasa bersalahmu akan berangsur hilang,"
"Mas Genta tidak pernah mencintaiku. Dirimu pun yang saat itu mengurungku, hanya sekedar dorongan rasa cemburu atas kakakmu,"
"Mas, sejatinya di dunia ini tidak ada yang benar-benar ditakdirkan untuk saling memiliki, semua hanya saling dititipi. Begitu pula kau dan aku, tak ada lagi takdir yang mengikat kita untuk tetap bersama,"
"Jadi ku mohon mas, ceraikan aku?!"
Aku tersenyum getir kearahnya. Suamiku masih menggenggam tangan ini namun tak begitu erat seperti sebelumnya.
"Kenapa kamu bersikeras ingin berpisah denganku Arwaa? Apakah semua ini karena ada pria lain di sisimu?"
"Apa maksudmu bicara seperti itu mas?"
"Jujurlah padaku Arwaa, alasan kau ingin sekali berpisah denganku adalah karena adanya pria lain. Bukan begitu?"
Ku hentakan tangan Mas Genta hingga melepas pegangannya.
"Jaga bicaramu mas. Meski diriku pergi tanpa izinmu, bukan berarti aku pun melupakan kewajibanku untuk menjaga kehormatan diri ini sebagai istrimu."
"Jangan mengelak Arwaa! Aku tahu kamu mengincar putra dari keluarga in..."
Ku pandangi telapak tangan yang terasa perih. Aku tidak tahu jika perasaan perih ini bisa mencapai hatiku juga.
Sebenarnya aku tak peduli dia mencaci-maki diri ini. Namun sangat keterlaluan jika dia melibatkan orang lain dalam masalah rumahtangga kami.
"Arwaa, kamu..."
"Hentikan mas!" Jerit ku tak tahan dengan segala tuduhan yang terus diberikan oleh Mas Genta.
"Berhentilah menghakimiku hanya karena aku pergi tanpa izin darimu. Kau tahu pasti alasan kenapa aku pergi. Jadi berhentilah bersikap egois. Kau sudah menikah dengan Fani, dan biarlah dia menjadi istrimu satu-satunya, seperti yang selalu kau inginkan."
Mata Mas Genta memerah. Tidakkah dia saat ini memikirkan istrinya yang lain.
Kenapa dia bisa senaif ini. Menginginkan untuk berpoligami, sedang dirinya pun tak bisa berlaku adil ketika masih memiliki satu istri.
Bukan aku tidak menyetujui poligami. Bagaimanapun poligami merupakan syari'at dalam agamaku. Aku hanya benci dipoligami. Benci karena naluri ku sebagai wanita yang merasa cemburu.
"Aku tidak menikahi Fani!"
Eh!
Aku menatap tak percaya pada Mas Genta yang terlihat mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Tapi Mas kalian sudah mempunyai ana..."
"Putriku meninggal dunia Arwaa. Fani penyebab perginya malaikat kecil kami. Ketika kau dan keluargaku meninggalkanku sendiri, hanya putriku satu-satunya yang menjadi penyemangat hidup ini. Tapi dia pergi membawa serta perasaan cintaku terhadap Fani bersamanya," Mas Genta menangkupkan tangannya menutup wajah.
Aku kehabisan kata-kata. Jadi anak Mas Genta dengan Fani meninggal dunia.
Innalilahi wa innailaihi rojiun.
Entah, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Yang jelas, melihat Mas Genta yang tertunduk dengan pundak yang gemetar, membuatku mengerti bahwa suamiku telah melewati banyak hal.
Meski begitu, keputusanku tetap bulat untuk berpisah dengan Mas Genta. Pertemuan ini pun seakan cara Tuhan menunjukkan jika Mas Genta sudah menerima karmanya.
Rasa tak berharga karena dibuang, Mas Genta dapatkan dari keluarganya. Rasa sedih karena ditinggal seseorang yang berharga, didapatnya dari kepergian sang putri. Adapun rasa sakit pengkhianatan, mungkin dia dapat dariku, karena itulah yang ingin dia yakini, jika diri ini pergi karena ada pria lain.
Dapatkah engkau merasakannya suamiku?
Penderitaanku ketika mengharapkan kehadiranmu, perhatianmu, dan juga kasih sayangmu?
Kenapa kau datang ketika hati ini telah berpaling darimu? Ketika aku mulai terbiasa kembali hidup tanpa dirimu?
Tak banyak kenangan indah yang dapat mendorongku untuk menerimamu kembali, melanjutkan ikatan pernikahan yang telah merenggang.
Aku terkesiap saat menyadari diri ini meneteskan air mata.
Kaki ini pun melangkah mendekati sosok yang terlihat begitu rapuh. Ku pegang kedua tangannya seraya memandang ke dalam matanya yang memancarkan kesedihan.
"Mas, mungkin mudah untuk diri ini memaafkan mu, tapi tidak untuk melupakan semua perbuatan mu padaku. Jadi tolong maafkan aku, dan ridhoilah diri ini untuk berpisah darimu,"
"Mas, bahagiamu bukan pada diriku. Kau tahu betul dimana bahagiamu berada, ibumu. Temuilah orangtuamu mas, mohon ampunlah pada mereka, terutama ibumu. Sebagaimana aku memohon ridhomu atas diriku saat ini."
Tangan ini tergerak menghapus air mata di pipinya. Tak lupa pula ku salami tangannya khidmat.
"Ridhoi aku bercerai darimu Mas," pintaku lirih.
Kurasakan tangannya menggenggam erat tanganku. Dengan sebelah tangan yang mengelus lembut kepalaku yang tertutupi hijab.
"Maafkan aku yang menyakiti hatimu, padahal aku tahu, hatimu sangat bersungguh-sungguh. Aku sangat malu meminta maaf darimu, padahal itu harap mu, tapi aku tak mampu. Aku kehilangan arah, egoku tak mau mengalah. Batinku sudah begitu lelah, sehingga tak ada lagi diri ku yang tangguh,"
"Betapa menyesalnya aku menyia-nyiakan istri shalihah seperti mu Arwaa. Tapi aku sadar, begitu besar luka yang ku torehkan padamu. Untuk itu aku akan menghentikan lukamu dengan melepas dirimu, meski aku tahu luka itu akan tetap berbekas. Maafkan aku istriku,"
Mas Genta melepaskan kedua tangannya dan menatapku sayu.
"Bismillah, Arwaa Kemuning Bhurri, mulai saat ini aku, Aldair Gentala Arsawijaya, menceraikanmu."
Tangis ku pecah. Diri ini tak bisa lagi menahan gejolak kesedihan yang melanda hati namun bersamaan dengan itu pula ada kelegaan dalam hati ini. Rasa yang selalu membebaniku disetiap waktunya, terasa mengikis seiring dengan air mata yang kian mengalir.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️