
Seorang perempuan bersurai hitam itu menangis tergugu setelah mendengar pernyataan dari pria yang dicintainya. Ingin hati memiliki pria dihadapannya saat ini juga namun apa yang telah terjadi membuat hal itu menjadi tak mungkin untuk dilakukan.
"Maafkan mas atas semua perbuatan mas sama kamu dik. Mas melakukan ini untuk kebaikan kita berdua. Hubungan kita saat ini tidak diridhai oleh Allah, mas yakin adik menyadarinya. Walaupun begitu mas sama sekali gak terpikirkan untuk ninggalin adik, apalagi adik sedang mengandung anaknya mas." Aldair menghela nafas perlahan.
Hatinya begitu sakit melihat perempuan yang dicintainya itu menangis tersedu namun tak ada yang bisa ia lakukan untuk menenangkannya, bahkan untuk sekedar memegang tangannya pun ia tak bisa karena Aldair sudah memutuskan untuk berusaha memperbaiki hubungan mereka agar mendapat ridha-Nya.
Terdengar naif memang, ia berusaha memperjuangkan hubungannya dengan Fani agar menjadi hubungan yang diridhai Allah namun ia melupakan fakta bahwa ada istrinya yang telah lama Allah halalkan untuknya.
"Tapi adik jangan khawatir, hati mas tetap untuk adik meski sekarang kita akan sulit untuk bertemu lagi. Karena mas sadar jika mas benar-benar menyayangi adik maka mas harus memperjuangkan adik dengan cara yang baik. Mas janji mas akan langsung menceraikan Arwaa dan menikahi adik setelah adik melahirkan nanti." Jelas Aldair lagi dengan senyuman lembut untuk sang kekasih hati.
"Adik mengerti mas. Adik hanya merasa bersalah pada Arwaa, karena adik mas mau menceraikannya. Jika mas mau adik tak masalah meski harus menjadi istri keduanya mas Al." Ucap Fani lirih masih dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Aldair menggelengkan kepalanya tak setuju. Sejak awal ia memang tidak memiliki rasa apapun pada Arwaa, pernikahan yang terjadi diantara keduanya pun hanya sebagai rasa balas budi sang ayah pada ayah Arwaa.
"Adik jangan bicara seperti itu. Mas tidak pernah berpikir untuk menjadikan adik istri kedua, mas hanya ingin adik menjadi istri mas satu-satunya." Tegas Aldair mencoba menenangkan Fani dengan janji manisnya.
"Mas benar-benar berjanji sama adik?" Tanya Fani mendongakkan kepalanya menatap mata pria dihadapannya itu memohon.
"Demi Allah mas janji dik." Aldair bersumpah atas janjinya itu membuat sang kekasih hati menampilkan senyumannya.
"Nah begitu dong. Mas kan kangen senyuman adik, dari tadi ditangisin terus kaya mas mau meninggal aja." Goda Aldair membuat Fani cemberut.
"Mas kan emang mau tinggalin adik." Ucap Fani pura-pura kesal.
"Tuh kan mulai lagi." Aldair ikut cemberut mendengarnya dan hal itu membuat Fani tertawa seketika.
__ADS_1
"Hahaha mas apa deh, adik bercanda kok. Adik percaya mas akan tepatin janji mas." Ucap Fani menghapus sisa air matanya.
"Makasih ya mas." Lanjutnya lagi tersenyum manis pada Aldair yang membuat pria itu ikut tersenyum juga.
"Iya sayangku. Kalau begitu biar mas antar kamu pulang ya, udah sore, lagian mas juga ingin membicarakan hal ini sama orangtua adik." Ucap Aldair yang langsung diangguki oleh Fani.
Sepertinya Aldair lupa tentang janjinya pada sang istri bahwa ia akan pulang ke rumahnya hari ini. Meninggalkan Arwaa yang terus menunggu kedatangan suaminya dirumah mereka dengan hati yang gelisah.
***
Seusai menjalankan ibadah shalat isya Arwaa bergegas turun kebawah ketika mendengar suara deru mobil dihalaman rumahnya.
"Mas Genta..." Sambut Arwaa tersenyum manis, ia mengambil koper yang dibawa Aldair dan mencium tangan suaminya tiba-tiba membuat pria itu membeku seketika. Ia tidak pernah berpikir jika Arwaa akan melakukan hal itu.
"Ah... um... iya, maaf mas baru sempat datang, banyak hal yang harus dikerjakan di kantor." Ucap Aldair bohong. Aldair terdiam sejenak, kenapa ia harus berbohong, kenapa tidak bilang dia habis bertemu Fani, bodoh. Aldair mengutuk dirinya sendiri dalam hati, tapi tetap membiarkan hal itu tanpa ingin menjelaskan yang sebenarnya.
Aldair sedikit terkejut ketika merasakan kelembutan tangan Arwaa di pipinya namun seketika ia tersadar bahwa ia tidak seharusnya membiarkan itu. Aldair pun memegang tangan Arwaa dan melepaskannya dari pipinya. Tapi Arwaa justru tersenyum manis diperlakukan seperti itu, bukannya melepaskan pegangan tangan Aldair, Arwaa justru balik memegangnya dan menarik pria itu masuk ke rumah.
"Mas duduklah, biar aku obati lukanya. Aku ambil kotak obatnya dulu ya." Ucap Arwaa sambil memaksa Aldair duduk di sofa.
"Gak usah, aku mau langsung mandi dan tidur, aku lelah." Aldair menahan tangan Arwaa yang akan pergi mengambil kontak obat.
Arwaa memegang tangan Aldair yang menahannya, dan ia tersenyum.
"Mas Genta udah janji loh sama aku kalau mas akan memperlakukan aku selayaknya istri mas. Aku tahu ini sulit buat mas Genta, tapi cobalah untuk bertahan beberapa bulan lagi. Aku cuma mau dapet pahala dari suami aku mas." Jelas Arwaa lembut membuat Aldair melepaskan pegangannya, hatinya sedikit bergetar mendengar perkataan Arwaa.
__ADS_1
"Maaf." Ucap Aldair sambil kembali duduk dan Arwaa hanya mengangguk dan pergi mengambil kotak obat.
"Mas ini lain kali hati-hati loh jangan sampai terluka kaya gini lagi." Ucap Arwaa sambil mengobati luka dibibir dan pipi Aldair dengan teliti. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya alasan kenapa suaminya itu terluka, karena ia merasa bahwa hal itu ada sangkut pautnya dengan perempuan yang dikasihi suaminya.
"Kenapa, baru sadar punya istri cantik ya." Goda Arwaa saat menyadari bahwa Aldair memandanginya ketika ia mengobati suaminya itu.
"Iya kamu cantik." Jawab Aldair membuat Arwaa menghentikan tangannya sejenak sebelum ia melanjutkan mengobati luka suaminya, Arwaa tersenyum.
"Mas Genta juga ganteng kok." Ucap Arwaa membuat pipi Aldair memerah malu. Ia tidak memperkirakan istrinya akan membalas seperti itu.
"Loh loh mas pipinya tambah merah, tambah sakit ya mas?" Tanya Arwaa pura-pura tidak tahu jika suaminya itu malu, ia memegang kedua pipi suaminya itu dengan ekspresi yang pura-pura khawatir.
Bukan hanya pipi, bahkan saat ini telinganya pun jadi sedikit memerah atas apa yang dilakukan Arwaa. Aldair melepaskan kedua tangan Arwaa dari pipinya pelan.
"Udah udah aku udah gak apa-apa." Jelas Aldair memalingkan mukanya menahan malu.
Arwaa terkekeh kecil melihat itu, ia tak menyangka jika Aldair orang yang pemalu.
"Hehe ya udah mas makan dulu ya, abis itu mandi dan tidur. Aku udah buatin pepes ayam favorit kamu loh." Ujar Arwaa membuat Aldair menoleh kearahnya.
"Ibu yang ajarin." Lanjut Arwaa seolah mengerti apa arti tatapan bingung suaminya.
Pasangan suami-istri itupun berjalan menuju ruang makan bersama. Setelah Arwaa menyiapkan makan malam Aldair, ia meminta izin pergi ke kamar lebih dulu untuk membereskan pakaian dan perlengkapan yang dibawa suaminya dari apartemen.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️