Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Kejutan Yang Dinanti


__ADS_3

"Paman, memang aku harus ya sampai mengambil cuti?" Tanya Arwaa pada Paman Jhonny yang saat ini tengah mengendarai mobil. Mereka sedang dalam perjalanan pulang setelah dari kampus Arwaa setelah hampir seminggu Arwaa absen sakit dari perkuliahannya.


"Tidak apa-apa. Lagipula kamu juga memang sedang butuh banyak istirahat dan refreshing untuk sejenak. Ditambah Kakek dan Nenekmu memaksa ingin melihatmu untuk memastikan kamu sudah baik-baik saja."


"Tapi aku sudah baik-baik saja Paman," ujar Arwaa berkilah membuat Paman Jhonny tersenyum samar, "No, you are not!"


Paman Jhonny terkekeh melihat Arwaa yang menekuk wajahnya kesal. Tapi ia yakin, beberapa hari lagi wajah itu akan dipenuhi oleh kebahagiaan.


***


Setelah perjalanan panjang yang Arwaa tempuh akhirnya ia bersama Paman Jhonny sudah sampai di Toronto.


Arwaa sendiri sebenarnya senang karena akhirnya bisa bertemu dengan kakek, nenek, bibi, dan sepupunya. Tapi dirinya juga dibuat kesal karena Grace dan para tetangga apartemen yang lainnya yang bisa dibilang cukup dekat dengannya dan Paman Jhonny, tidak ada yang ikut mengantarkan mereka saat ke bandara karena alasan orang-orang itu sedang mengadakan pesta pernikahan Susan dan Tommy di restoran Eric.


Lihatlah Arwaa yang sejak tadi terus-terusan menggerutu tak jelas dengan wajahnya yang ditekuk menjadi target bidikan kamera ponsel Paman Jhonny yang diam-diam memotretnya dan mengirimkan semua foto itu pada seseorang.


"Paman, did you just take my picture?" Tanya Arwaa membuat Paman Jhonny terhenyak dan sontak menyembunyikan ponselnya. Ia pikir Arwaa sedang terfokus pada tabletnya tadi.


"Apa yang akan Paman lakukan dengan fotoku?" Tanya Arwaa lagi membuat Paman Jhonny tergagap.


Arwaa jadi bingung sendiri. Yang tadinya dia hanya sekedar bertanya saja karena dia sama sekali tak masalah jika memang Paman Jhonny memotretnya, tapi melihat Pamannya yang aneh membuat Arwaa jadi berpikir yang tidak-tidak.


Arwaa semakin memicingkan matanya membuat Paman Jhonny merasa benar-benar terpojokkan, "Bu-bukan apa-apa sayang. Paman hanya ingin menyimpan fotomu kalau-kalau Paman sedang jauh dan rindu padamu," kilahnya.


Mendengarnya Arwaa merasa tersentuh karena itulah Arwaa memilih membalasnya hanya dengan senyuman yang seketika memberikan kelegaan pada Paman Jhonny.


"Oiya malam ini kita tidur di hotel dulu."


"Loh kenapa tidak langsung ke rumah saja? Bukannya Paman bilang Kakek dan Nenek sudah sangat merindukanku?"


"Mereka ingin menyiapkan kejutan untukmu sayang," jawab Paman Jhonny membuat Arwaa tersenyum simpul.


***


Keesokkan harinya setelah mereka sarapan di restoran hotel. Paman Jhonny langsung membawa Arwaa pergi berbelanja baju dan pergi ke salon.


"Paman! Seriously, ini sebenarnya ada apa? Kenapa aku harus dimake over seperti ini segala?" Tanya Arwaa kaku karena saat ini dirinya sedang dipakaikan make up oleh pegawai salon.


"Orang rumah kan ingin memberikan kejutan untukmu. Jadi kamu juga harus memberi kejutan untuk mereka."


"Tapi haruskah sampai mengenakan gaun seperti ini?" Tanya Arwaa mulai curiga.


Bagaimana tidak, diperjalanan pulang Paman Jhonny membawanya untuk dimake over seluruh tubuh. Mulai dari spa and massage, merawat rambut, memakai make up, dan gaun putih khusus muslimah yang ternyata sudah Paman Jhonny pesan jauh-jauh hari. Bahkan setelahnya Arwaa disuruh memakai cadar, membuat Arwaa semakin bertanya-tanya.


Ada apa sebenarnya?


Setelahnya, di dalam mobil Arwaa terus mendiamkan Paman Jhonny saking kesalnya karena tak diberitahu tentang apa yang sedang terjadi.


"Tu-tunggu Paman! Kenapa kita kemari?" Tanya Arwaa memperhatikan jalanan yang dilewati mobil yang mereka tumpangi.

__ADS_1


Tangan Arwaa bergetar kecil. Kejadian-kejadian sebelumnya mulai tersusun menjadi puzzle yang lengkap membuat Arwaa bisa mengira kemungkinan yang terjadi saat ini.


Arwaa mencengkram tangan Paman Jhonny, sedang yang dicengkeram hanya menampilkan senyum lembutnya, "Jangan khawatir Arwaa. Kamu pasti akan bahagia," jawab Paman Jhonny membuat Arwaa menggeleng.


"Tidak Paman! Aku tidak ingin menikah. Kenapa Paman melakukan ini? Bukankah Paman harus mendiskusikan hal ini denganku!"


"Tidak sayang! Jangan menangis, jangan kacaukan riasanmu. Paman mohon, percayalah pada Paman. Kita semua tahu dia pria baik-baik."


Arwaa semakin tak bisa menahan tangisnya hingga ia mulai terisak. Sosok pria yang dimaksud Paman Jhonny pastilah Mehmet, melihat tempat yang saat ini tengah mereka tuju yaitu Masjid Jami Toronto.


"Come on honey. Percayalah semua akan baik-baik saja. Dan kamu pun tidak akan kecewa dengan pernikahan ini. Jangan s sampai membuat sedih orang-orang yang sudah menyiapkan ini semua untukmu," jelas Paman Jhonny merayu Arwaa.


Tatapan nanar di mata keponakannya cukup membuat hati Paman Jhonny sakit sebenarnya. Tapi dia harus bertahan, dia belum boleh memberitahu apa yang sebenarnya terjadi, untuk kebaikan keponakannya juga.


"Ayo tenangkan dulu dirimu. Kita sudah sampai di rumah Keluarga Ghifari. Makeup mu nanti akan dibenarkan lagi oleh seseorang di sana."


Mau tak mau Arwaa menuruti perintah Pamannya. Dirinya sudah pasrah jika memang ini yang harus terjadi. Dia sudah terlalu lelah berjuang untuk kebahagiaannya sendiri.


Pelan, Arwaa mulai turun dari mobil yang baru diparkirkan oleh supir sewaan dengan dibantu oleh Paman Jhonny.


"Arwaaa..."


Arwaa mendongak, ada Naina dan Amma di depan sana yang sedang berjalan ke arahnya. Ada gurat kesedihan di dalam mata kedua orang itu.


Kenapa? Bukankah seharusnya mereka bahagia karena dia dan Mehmet akhirnya bisa menikah.


"Ayo!"


Arwaa pun kemudian diantar oleh Naina dan Amma ke rumah mereka yang memang bersebelahan dengan Masjid Jami Toronto.


Sesampainya di ruang tamu, Arwaa semakin dibuat bingung. Kenapa tidak ada dekorasi apapun. Bukankah seharusnya rumah pengantin itu di dekorasi.


"Kemari biar aku rapikan makeupmu," sahut Naina tiba-tiba membuat Arwaa tersadar dari pikirannya.


"Nai..."


"Stt! Sudah jangan bicarakan apapun. Kamu tenangkanlah dirimu. Dan dengar baik-baik akad yang akan diucapkan calon suamimu," ucap Naina sendu. Ia menempelkan jarinya di bibir Arwaa yang hendak berbicara.


"Ini, minumlah dulu sayang," sahut Amma yang datang dari dapur dengan membawa segelas air putih dengan sebuah sedotan.


"Setelah kamu sudah siap dan akad telah terucap. Amma dan Naina akan mengantarmu ke Masjid," lanjut Amma lagi yang langsung mengalihkan pandangannya sambil menghapus setetes air matanya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Arwaa terus bertanya-tanya dalam hati kenapa Amma dan Naina terlihat begitu sedih. Padahal Mehmet akan menikahinya. Mau bertanya, tapi Arwaa pun takut dengan jawaban yang akan diberikan.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatu..."


Tubuh Arwaa mulai menegang begitu ia mendengar suara dari speaker Masjid. Ia memilih memejamkan matanya dan menunduk. Berharap tidak mendengar suara dari speaker Masjid.

__ADS_1


"..."


"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Arwaa Kemuning Bhurri binti Roni Bhurri alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq."


"Sah? Sah?"


"Saaah!! Alhamdulillah..."


Hati Arwaa mencelos mendengar itu semua. Entah kenapa suara yang mengucap akad atas dirinya tadi, Arwaa kenali. Namun seketika Arwaa menyadarkan diri bahwa apa yang terlintas dipikirannya adalah tidak mungkin.


"Alhamdulillah..."


Amma memegang tangan Arwaa sedang Naina merangkul bahunya.


"Dengan siapapun itu kami selalu berharap yang terbaik untukmu Arwaa," bisik Naina.


"Ayo! Kita ke Masjid dan lihat suamimu," lanjut Naina setelah membenarkan cadar yang Arwaa pakai. Lalu beranjak dari duduknya dan menyodorkan tangan pada Arwaa.


Dengan ragu Arwaa memegang tangan sahabatnya itu dan ikut beranjak.


Amma dan Naina mengapit Arwaa yang berada di tengah-tengah. Berjalan menuju ke Masjid melalui jalan yang terhubung dari rumah Keluarga Ghifari.


Debaran jantung Arwaa kian berdetak ketika kakinya mulai memasuki aula Masjid, tapi dengan kepala yang tetap menunduk.


Perlahan tapi pasti, pegangan Amma dan Naina mulai terlepas meninggalkan Arwaa yang berdiri di tengah-tengah Aula Masjid.


Berhadapan dengan sosok pria yang sepertinya adalah suaminya. Terlihat dari pakaian formal yang bewarna sama dengan gaun yang Arwaa pakai


Arwaa masih belum berani mendongak. Suasana pun begitu hening, padahal dapat Arwaa lihat dari pinggir matanya bahwa ada banyak orang di aula itu.


"Arwaa..."


Tubuh Arwaa menegang saat mendengar suara yang sangat Arwaa kenali dan juga rindukan belakangan ini.


Perlahan Arwaa mengangkat kepalanya. Seketika ia menutupi mulut dengan kedua tangannya. Air mata tanpa komando mulai menetes membuat pria di hadapannya sigap langsung menghapuskan air mata istri tercintanya.


"M-aas..." Lirih Arwaa yang dibalas anggukan dan senyuman lembut pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Mas merindukanmu!!"


Tanpa aba-aba sang pengantin pria langsung memeluk Arwaa. Dan seketika pula, aula dipenuhi oleh tepuk tangan riuh dari orang-orang yang berada di sana.


***


Tamaaat!


Belum deng hehehe ✌️


Tinggal beberapa part lagi menuju tamat ♥️

__ADS_1


__ADS_2