
Langit begitu kelabu bersamaan dengan rintik hujan yang mulai mengguyur bumi beserta bunga-bunga di taman kecil di halaman belakang rumahnya, tempat favorit sang istri. Air mata yang sejak tadi menggenang luruh, mengingat perbuatan yang ia lakukan terhadap wanita berwajah teduh yang selalu sabar menghadapi dirinya.
Aldair tersenyum miring, menertawakan diri sendiri. Dia telah kehilangan sang istri dan juga keluarganya. Bukan tanpa sebab, sudah jelas semua itu terjadi karena kebodohannya yang dibutakan oleh cinta.
Benar apa kata ibunya, dia memang dibuat buta oleh cinta, sehingga tanpa sadar tega menyakiti istri dan juga ibunya. Tak heran jika sang ibu begitu murka dan mengusirnya dari rumah. Tapi apa mau dikata, dirinya benar-benar mencintai sang kekasih.
Maka dari itu, sulit bagi Aldair untuk mempercayai apa yang dia lihat dari rekaman cctv di rumahnya. Bagaimana bisa Fani nekat menjatuhkan dirinya sendiri hanya untuk memfitnah Arwaa.
Ya, walaupun kekasihnya memang berhasil karena Aldair tanpa perasaan menyiksa sang istri karena termakan fitnah itu. Tapi tidakkah Fani memikirkan keselamatan dirinya dan anak mereka.
'Prang'
Gelas kaca di atas meja yang masih terisi penuh itu pecah berkeping-keping karena tendangan Aldair.
Aldair kecewa, benar-benar kecewa atas apa yang telah dilakukan Fani. Tapi apa yang harus dia lakukan? Tidak mungkin dirinya memarahi sang kekasih, apa lagi saat kondisinya belum pulih karena habis melahirkan anak mereka.
***
"Assalamu'alaikum..."
Aldair mengetuk pintu rumah orangtua kekasihnya.
"Wa'alaikumsalam, sebentar."
Aldair mengernyit mendengar suara ibu Fani seperti sedang kerepotan, disusul dengan suara tangisan bayi yang membuat dia masuk begitu saja tanpa menunggu sang pemilik rumah mempersilahkannya.
"Ibu?"
Dahi Aldair mengkerut dan sebelah alisnya terangkat melihat Bu Ina, calon ibu mertuanya sedang menenangkan bayi mungil yang tidak berhenti menangis.
"Adik dimana bu?" Tanya Aldair sambil mengulurkan tangannya untuk menggendong sang putri.
Bayi mungil itu perlahan menjadi lebih tenang meski masih terdengar sedikit isakan.
"Fani tidur Al, cape katanya."
Aldair hanya mengangguk mengerti, tapi sedetik kemudian dia kembali bingung ketika Bu Ina menyodorkan botol susu padanya.
"Loh tidak disusui adik Bu?" Tanya Aldair yang dijawab gelengan oleh Bu Ina.
"Fani tidak mau menyusuinya Al, tidak kuat katanya sakit, jadi diganti sufor saja."
Aldair ternganga, dia cukup mengetahui apa yang dirasakan seorang wanita ketika pertama kali menyusui anaknya, karena sang ibu selalu menceritakan perjuangannya selama memberi ASI untuk Aldair dan dua saudaranya agar anak-anaknya bisa menghormati dan menyayangi wanita yang sudah melahirkan mereka.
__ADS_1
Tapi jika sampai tidak diberikan ASI sama sekali sedangkan ASI-nya berlimpah ruah seperti yang diberitahu Fani ketika wanita itu merasa tidak nyaman karena bajunya selalu basah terutama di area dada. Aldair rasa itu keterlaluan.
"Simpan saja Bu botolnya. Al izin ke kamar adik ya bu, mau kasih Kia biar disusui langsung." Ucap Aldair sambil membenarkan posisi sang putri yang ia beri nama Alkia Husni Arsawijaya itu di gendongannya.
"Tapi Al Fani tida..."
"Bu, ASI adik banyak, mubadzir jika tidak diberikan pada Kia. Selain itu saya tidak setuju anak saya diberi sufor, selama ASI ibunya masih ada. Jika pun adik kesakitan saat mengasihi Kia, saya rasa itu hal yang wajar karena nanti juga akan membaik dengan sendirinya, bukan begitu Bu?" Tanya Aldair membuat calon mertuanya itu terdiam.
Aldair yang melihat Bu Ina hanya diam pun menganggukkan kepalanya tanda permisi sebelum melangkah menuju kamar kekasihnya.
Mata Fani yang terpejam berkerut mendengar Isak tangis sang putri ada di dekatnya.
"Ibu kenapa Kia dibawa ke sini sih, aku kan pusing denger tangisannya!" Gerutu Fani sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya, berharap suara tangisan anaknya itu tidak terdengar lagi.
"Dik..."
Tubuh Fani membeku di bawah selimut saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Eh mas." Ucap Fani menyembulkan kepala dari balik selimut, tersenyum kecil.
"Kenapa tidak kabari adik kalau mau kemari."
Aldair menatap datar Fani yang mulai bangun dari tidurnya.
"Kamu yang harusnya susui Kia dik." Potong Aldair.
Fani memajukan bibirnya kesal dengan ucapan Aldair.
"Adik gak mau mas, perih dan sakit banget rasanya. Lagian adik juga takut nanti payudara adik gak bagus lagi karena menyusui Kia."
"MashaAllah dik, itu memang sudah kodratmu sebagai ibu. Semua wanita yang menjadi ibu pasti melewati masa-masa ini, justru saat inilah adik bisa membuat Kia menjadi lebih dekat secara batin dengan adik, ibunya," tekan Aldair.
Fani memutar bola matanya jengah dengan nasehat Aldair.
Memangnya dia perempuan apa, seenaknya bicara begitu, tidak tahu saja bagaimana sakitnya menyusui.
"Mas harusnya mas datang kesini itu tenangin dan hibur adik, bukannya malah dinasehatin. Adik lagi gak enak badan mas, panas dingin." Jelas Fani merengek kesal.
"Nah itu karena adik gak mau susui Kia, karena justru dengan susui Kia nanti adik akan lebih baik. Susui ya!" Pinta Aldair.
Fani mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dengan kesal dia menghentakkan kakinya keras dan mendorong Aldair beserta anak mereka untuk keluar dari kamarnya.
'BRAK'
__ADS_1
Aldair terkejut bukan main, ini pertama kalinya dia melihat sang kekasih seperti itu. Begitu pula dengan Kia, tangisnya makin menjadi karena terkejut suara bantingan pintu oleh ibunya.
Aldair mengambil nafas banyak-banyak menahan kekesalan atas sikap Fani yang makin menumpuk. Padalah tadinya dia ingin sekalian menanyakan alasan kenapa kekasihnya itu memfitnah Arwaa, tapi sekarang malah ditambah oleh penolakan Fani terhadap anak mereka.
Dia pun memilih meninggalkan kamar Fani dan menuju ruang tamu sembari menenangkan sang anak di gendongannya, khawatir kehilangan kendali karena terlalu emosi atas tingkah kekasihnya itu.
"Tolong maklumi Fani Al, dia masih belum siap untuk menjadi seorang ibu." Lirih Bu Ina begitu melihat Aldair.
Aldair terdiam. Dilihatnya wajah sendu ibu sang kekasih. Tidak salah memang apa yang di ucapkannya, bagaimana juga Fani masih berusia 24 tahun, apa lagi dia mempunyai anak di luar pernikahan. Tentu ada banyak tekanan yang membebani pikiran ibu dari anaknya itu.
"Maafkan saya Bu karena belum bisa menikahi Fani saat ini."
Matanya mengembun, dirinya merasa tidak berguna. Ditinggal pergi sang istri, diusir keluarganya sendiri, dan sekarang dihadapkan dengan emosi labil kekasihnya.
Ah, dia menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini.
Bukan Aldair tak ingin menyegerakan pernikahannya dengan Fani, hanya saja banyak hal yang harus diurus olehnya saat ini. Tidak mungkin dirinya menikahi Fani tanpa memiliki pekerjaan bukan, bagaimanapun juga dia tidak lagi bekerja di perusahaan keluarganya . Dia tidak ingin istri dan anaknya tidak bisa ternafkahi dan mati kelaparan nantinya.
Karena itulah Aldair mengatakan pada kedua orangtua Fani, bahwa dia akan menikahi kekasihnya itu ketika usia anak mereka sudah mencapai tiga bulan.
Selain untuk menunggu pemulihan Fani pasca melahirkan juga dirinya butuh waktu untuk mengembangkan bisnis kuliner yang memang sudah ia bangun sejak masih menjabat sebagai pemimpin di perusahaan Arsawijaya. Hanya saja saat itu Aldair lebih sering memantau perkembangan bisnis kulinernya dari jauh, karena tanggungjawabnya di perusahaan.
Dan tentang Arwaa, tentu dia tidak akan membiarkannya begitu saja. Disela-sela kesibukan pekerjaannya dia juga menyempatkan diri meminta bantuan pada seorang teman yang merupakan seorang ahli IT untuk melacak keberadaan istrinya tersebut.
Seperti yang telah dia janjikan bahwa dirinya tidak akan melepaskan Arwaa. Ditambah rasa sesal ketika dirinya menyakiti Arwaa karena termakan kebohongan Fani, membuat keinginan untuk bertemu sang istri sangat besar, dengan harapan bisa meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dilakukannya dan merajut kembali rumahtangga mereka bersama dengan Fani tentunya.
Ya, meski dengan segala cobaan yang telah menimpanya saat ini, keinginan Aldair untuk mempertahankan Arwaa dan memperistri Fani tetaplah kuat. Karena dia yakin, dirinya bisa berubah dan berlaku adil terhadap keduanya.
***
Lain halnya dengan Arwaa, kehidupannya begitu penuh warna semenjak dia memilih ikut pergi bersama sang paman.
Arwaa benar-benar tidak menyangka keluarga dari alm Ibunya akan sangat menerima dan menyambut kedatangannya dengan penuh suka cita.
Bahkan Nenek Xin dan Kakek Harry yang merupakan orangtua ibunya, terus terusan menempel padanya, memeluk dan menciumi kepalanya yang tertutupi hijab. Di pertemuan pertama mereka pun, kakek dan neneknya itu langsung menangis tersedu meminta maaf atas penyesalan karena telah mengusir ibu Arwaa.
Arwaa memejamkan mata, perlahan air mata mengalir di pipinya. Setelah semua perjuangan hidup yang ia lalui sebagai seorang istri yang tak pernah dianggap oleh sang suami, tidak membuat dirinya berhenti berharap akan kebahagiaan.
Ya, sekarang dia sangat bahagia bersama dengan keluarga sang ibu. Meski terkadang dirinya merindukan keluarga dari suaminya tersebut, tapi hal itu tidak menjadi masalah, karena mereka tetap menjaga komunikasi, terutama dengan gadis kecilnya yang hampir setiap hari menghubungi dia melalui panggilan video.
Dan tentang Aldair, meski pria itu telah menyakitinya, Arwaa tidak benar-benar merasa benci dan berharap suaminya mendapat karma, justru Arwaa selalu mendo'akan Aldair agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga barunya.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️