
"Jika taatmu pada agamamu sudah mampu membuatku jatuh hati. Jika penjagaan pada pandanganmu saja cukup membuatku meyakini. Bahwa tak ada lagi yang perlu dicari. Bahwa cinta yang sesungguhnya adalah kamu yang bisa mengantarkanku pada surga yang hakiki," - Attalaric.
___________________________________________
Allahuakbar, Allahuakbar...
Sayup-sayup suara adzan subuh mulai terdengar.
Perlahan seorang pria yang masih terjaga mulai mengembalikan kesadarannya. Matanya mengerjap, sepertinya ia ketiduran setelah seharian tak berhenti memikirkan Sang Kekasih Hati yang berada di negeri yang terkenal dengan sirup maple-nya.
Hatinya masih saja berdebar setelah ia mengungkapkan perasaannya pada gadis yang ia harap akan menjadi Ibu dari putri kecilnya.
Pria yang mengenakan baju tanpa lengan itu mulai bangun dan duduk di pinggiran kasur. Ia mengusap wajahnya, dan tiba-tiba ia tersenyum sendiri ketika membayangkan wajah gadis yang berada nun jauh di sana.
Kira-kira sedang apa gadisnya itu sekarang?
Aah, dia menjatuhkan kembali tubuhnya dengan kaki yang menendang-nendang angin, kegirangan, melampiaskan perasaan bahagia dalam dirinya.
"Ya Allah ini anak kenapa?"
Attalaric sontak terbangun kembali, menatap malu pria baya yang berdiri di depan pintu.
"Ayah kenapa gak ketok pintu dulu?" Protesnya membuat Sang Ayah terkekeh geli.
__ADS_1
"Udah dari tadi Ayah ketok tapi gak nyahut dan dibukain. Yaudah Ayah buka aja. Eh taunya si duda tua ini lagi kasmaran."
"Aku gak setua itu Yaaah."
Melihat anak sulungnya merajuk. Tawa Pak Ahmad pecah. Benar-benar tak sesuai umur. Memang jatuh cinta itu bisa mengubah orang sampai sedemikian rupa.
"Ya udah cepat bangun, kamar mandi sana. Kita ke masjid, berjamaah. Katanya mau lamar Arwaa, mana mau nanti dia sama cowo yang sholat subuhnya di rumah," ledek Pak Ahmad membuat Attalaric seketika berdiri dan pergi ke kamar mandi dengan terburu-buru.
Pak Ahmad memandang punggung anak sulungnya sendu. Keputusan Attalaric untuk melamar Arwaa yang notabenenya adalah mantan istri adiknya sendiri cukup membuat Pak Ahmad tak bisa tidur.
Memang apa yang telah dilakukan Aldair adalah kesalahan fatal. Bahkan sampai sekarang, meski anaknya itu sudah meminta maaf, tetap tak bisa menghilangkan kekecewaan yang sudah terlanjur membuat luka di hati semua orang.
Tapi sebagai seorang Ayah dia pun tak ingin lagi melihat salah satu anaknya mengalami keterpurukan.
Memang Attalaric berhasil. Namun yang anak sulungnya itu tak tahu adalah bahwa setiap saat semenjak kepergian dirinya. Pak Ahmad selalu memantau segala sesuatu yang dilakukan Attalaric di sana. Dia tahu anaknya itu selalu mengkonsumsi minuman haram untuk menghilangkan kesedihannya, juga sampai bermain dengan wanita bayaran, meski tak sampai berakhir di ranjang hotel.
Jika boleh dibilang, bagi Pak Ahmad mungkin hanya anak bungsunyalah yang membanggakan dirinya karena berhasil menjaga diri dari godaan dunia. Tak seperti kedua Kakaknya yang sempat mengalami kegagalan.
Tapi tak ayal sekarang Pak Ahmad mengucap syukur karena Attalaric dan Aldair mulai memperbaiki diri. Walau Pak Ahmad tahu alasan kedua anaknya mulai berubah adalah untuk seorang gadis yang juga sangat disayanginya seperti putri sendiri. Siapa lagi kalau bukan Arwaa.
"Yah ayoo tar ketinggalan!"
Pak Ahmad terhenyak begitu Attalaric menepuk pundaknya. Namun langsung memberikan senyum bahagianya melihat perubahan anak sulungnya. Meski ia tahu niatnya belum benar-benar karena Allah, tapi Pak Ahmad berharap dengan adanya Arwaa di sisi Attalaric nanti, anak sulungnya itu bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Ya, Pak Ahmad mengizinkan Attalaric untuk melamar Arwaa dengan syarat Attalaric membicarakan dulu tentang hal itu dengan Aldair. Meski sudah menjadi mantan, Pak Ahmad tahu Aldair masih berharap bisa kembali pada Arwaa. Pak Ahmad hanya tak ingin terjadi lagi konflik di dalam keluarganya.
***
(POV ATTA)
Mulutku tak berhenti tersenyum sejak tadi sampai aku selesai membereskan koper yang akan kubawa ke Calgary hari ini. Entahlah rasanya sangat tak sabar sekali untuk segera sampai di sana untuk bertemu Ibuku tercinta, Hanna, dan juga calon Ibunya.
Terakhir kali merasakan kebahagiaan seperti ini adalah ketika menikahi Safna, Ibu kandung Hanna. Kemarin aku beranikan diri ini untuk berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Safna setelah sekian lama tak mengunjunginya untuk meminta maaf atas segala perbuatanku yang sudah menelantarkan Hanna. Dan juga meminta restu untuk merajut kembali bahtera rumah tangga dengan gadis yang begitu disayangi Hanna dan juga diriku.
Perasaan sedih dan bersalah bercampur menjadi satu saat memegang nisan bernamakan Safna Binti Damar itu. Cinta pertamaku yang selalu berada di dasar hati ini, meski dirinya telah tiada.
Dulu sempat diri ini hampir menjadi gila karena begitu terpuruk setelah kehilangannya sampai aku tega menelantarkan Hanna, putri tercinta kami yang saat itu masih berusia satu tahun ke tangan orangtuaku.
Tapi kuharap semua itu akan menjadi pelajaran terbaik untuk kedepannya. Ada tekad kuat untuk membahagiakan Hanna dengan membuatnya bisa bersama wanita yang telah Hanna anggap sebagai Bundanya sendiri.
Meski begitu aku pun tak lupa alasan kenapa pergi lebih cepat dari yang telah ia beritahukan pada Arwaa ke Calgary. Ada misi yang harus diselesaikan terlebih dahulu, yaitu meminta restu adikku, Aldair, mantan suami Arwaa.
Memang jika mendahulukan emosi aku tak akan memikirkan untuk meminta restunya, tapi bagaimanapun juga Aldair akan selalu menjadi adikku, saudaraku. Sudah cukup konflik yang terjadi dalam keluarga kami karena kesalahan dirinya waktu dulu, tak ingin sampai keluarga ini tercerai-berai kembali. Karena itulah dengan tekad yang bulat aku akan mendatanginya dan menyampaikan maksudku, untuk menghargai dirinya.
Aku sangat bersungguh-sungguh tentang Arwaa. Sejak awal pertemuan dengannya pun Arwaa sudah bisa memikat hatiku dengan kelembutan dan juga kasih sayangnya pada Hanna. Meski begitu aku masih tahu diri saat itu karena statusnya yang masih sebagai istri Aldair, adikku sendiri.
Tapi ketika tahu bagaimana adikku itu memperlakukan istrinya. Sudah cukup membuat ku ingin berjuang mendapatkan Arwaa. Maka dari itu, aku tidak akan pernah menyerah ataupun segan dan simpati hanya karena status Arwaa yang sekarang adalah mantan istri Aldair.
__ADS_1
***