
Sudah dua hari keluarga Arsawijaya ada di Bandung menemani sang menantu yang sedang dirundung duka karena kehilangan orangtua satu-satunya.
Pak Ahmad, Bu Hayya, Attalaric, Hanna, dan Paman Jhonny, bahkan Arrazi yang seharusnya sudah kembali untuk bekerja di rumahsakit lebih memilih menemani Arwaa dirumah orangtuanya itu. Tapi tidak dengan Aldair, selama dua hari itu juga dia sama sekali tidak menghubungi istrinya walau hanya untuk sekedar menanyakan kabar atau berbela sungkawa. Bahkan ponselnya pun seperti sengaja dimatikan agar tidak ada yang menghubunginya.
Tentu saja hal itu membuat geram sang ayah dan kedua saudaranya, sedang Bu Hayya merasa bersalah pada Arwaa karena kelakuan putranya itu. Apalagi paman Jhonny yang menanyakan tentang suami keponakannya membuat keluarga Arsawijaya menjadi semakin merasa tak enak dan bersalah karenanya.
Sore itu suasananya cukup sejuk setelah diguyur hujan sejak pagi, Pak Ahmad meminta Arrazi untuk menemaninya di halaman belakang rumah Arwaa. Mereka berdua duduk diatas dipan yang ada disana.
"Apa yang kamu ketahui tentang kakakmu Razi?" Tanya pak Ahmad memulai pembicaraan dengan sang putra.
Arrazi terdiam sejenak, haruskah dia memberitahu ayahnya?
Dia memandang sang ayah, sebelum menghela nafas dan memutuskan untuk menceritakan apa yang dia lihat di rumahsakit.
Saat itu dia tidak sengaja melihat kakaknya yang terlihat panik menuju sebuah ruang inap. Arrazi yang berpikir bahwa mungkin terjadi sesuatu pada kakak iparnya sehingga Aldair terlihat begitu panik, maka dia pun mengikutinya.
Namun langkahnya terhenti pada jarak yang cukup jauh ketika dia melihat sang kakak mendapat tamparan keras dari seorang pria paruh baya yang tidak dikenalnya, belum lagi kakaknya itu berkali-kali menundukkan badan, meminta maaf.
Arrazi berpura-pura mengecek ponselnya ketika dia melihat pria paruh baya itu berjalan kearahnya dan melewatinya, dan setelahnya dia melihat sang kakak memasuki ruang inap yang ada disana.
Karena penasaran siapa yang sedang dirawat, Arrazi pun menuju kesana dan berhenti didepan pintu ruang inap yang sedikit terbuka itu. Dia mengepalkan tangan menahan marah atas pemandangan pria dan wanita yang ditangkap oleh netra matanya.
'BRAK'
Pak Ahmad menggebrak dipan yang didudukinya dan langsung berdiri dengan tangan yang menahan dadanya membuat Arrazi panik.
"Ayaaah... Ayaaah... Tenangkan diri ayah. It's okay ayah, it's okay, ambil nafas yang dalam dan hembuskan pelan-pelan ayah. Tenanglah ayah, tenaaang!"
Arrazi merangkul sang ayah dan mengelus-elus dadanya, dan memberi instruksi agar asma ayahnya tidak kambuh, meski pada nyatanya, dia juga sangat panik, khawatir terjadi sesuatu pada sang ayah.
Perlahan namun pasti, nafas pak Ahmad beranjak normal dan tidak terlihat berat lagi. Tapi tetap hati pria paruh baya itu menahan gejolak amarah atas apa yang telah didengarnya. Pak Ahmad memejamkan mata sebentar sebelum dikejutkan oleh sosok paman Jhonny yang sudah berdiri dihadapan dirinya dan Arrazi dengan tatapan yang tajam.
"Apa benar yang kamu katakan?"
Suara bariton yang begitu berat itu terdengar sangat dingin membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik, begitu pula dengan Arazzi, wajahnya berubah pucat mendengar suara paman dari kakak iparnya itu. Namun tidak dengan pak Ahmad yang memandang datar kearahnya, dengan tenang pak Ahmad memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas panjang, sebelum berjalan kearah paman Jhonny.
"Kita bicarakan didalam bersama dengan Arwaa karena saya rasa menantu saya sudah mengetahui tentang hal ini."
Pak Ahmad menepuk pundak paman Jhonny sebelum menghilang di balik pintu.
***
Suasana menegangkan begitu terasa di ruang tamu itu. Disana terlihat Pak Ahmad dan Paman Jhonny memandang tajam pada Arwaa yang tengah menundukkan kepalanya dengan Bu Hayya yang terus memegang tangan menantunya itu, menguatkan. Dan Arrazi memandang kasihan pada kakak iparnya, sedangkan Attalaric menemani Hanna dikamar Arwaa.
"Mbak aku melihat kakak Al dengan seorang wanita hamil saat dirumahsakit. Apa kakak mengenalnya?" Tanya Arrazi memecah keheningan.
__ADS_1
Tubuh Arwaa membeku mendengar itu, keringat dingin pun mulai terasa dibalik hijabnya. Jika sudah seperti ini, Arwaa tidak bisa lagi berbohong tentang rumahtangganya bersama Aldair.
Dengan perlahan Arwaa mengangkat kepalanya dan menatap nanar kepada setiap orang yang ada disana.
"Dia kekasih mas Genta." Gumam Arwaa tersenyum kecil.
Pak Ahmad mengepalkan tangan dan giginya yang bergemelutuk menahan marah.
"Kamu mengetahui hal itu?" Geram Pak Ahmad.
Arwaa mengangguk mengiyakan.
"Sejak kapan kamu mengetahui hal itu?" Tanya Bu Hayya menahan tangis.
"Sejak hari pernikahan kami." Arwaa menunduk tidak kuat melihat mertuanya sedih.
"Apa maksudmu?" Tanya Pak Ahmad.
"Mas Genta dan kekasihnya sudah berhubungan selama 4 tahun, dari sebelum kami menikah."
Bu Hayya menutup mulutnya mendengar penuturan sang menantu dan Pak Ahmad menunduk memijat keningnya.
"Apa suamimu pernah menyentuhmu selama pernikahan kalian?"
Arwaa menoleh kearah paman Jhonny yang memandangnya tanpa ekspresi. Dia terdiam sejenak sebelum kemudian tersenyum miris dan menggeleng.
Semua orang sontak memandang tak percaya pada Arwaa.
"Jadi selama dua tahun ini kalian..."
Bu Hayya tidak bisa meneruskan kalimatnya, dia menangis sesenggukan dan Arrazi merangkulnya mencoba menenangkan sang ibu.
"Kenapa tidak memberitahu kami Arwaa?" Tanya Pak Ahmad menahan marah.
"Maafkan aku ayah... Aku hanya tidak ingin menyulitkan mas Genta, lagipula selama itu juga mas Genta terkadang pulang kerumah, mas Genta juga tidak memperlakukan aku dengan kasar, dan tetap menafkahiku."
Bohong! Semua bohong! Suaminya itu tidak pernah pulang, menghubunginya pun melalui pesan yang dititipkan pada pembantu dirumah, dan sekalinya bicara dengan nada dingin juga tatapan kebencian padanya. Hanya beberapa bulan terakhir saja suaminya itu berlaku baik padanya karena saat ini mereka tinggal bersama.
Arwaa menunduk mengalihkan pandangan agar tidak melihat ayah mertua dan juga pamannya.
"Lalu kenapa kalian tinggal bersama sekarang?" Tanya Arrazi.
Arwaa menoleh pada adik iparnya itu dan menatap kosong kearahnya.
"Karena kami akan bercerai." Ucap Arwaa memandang orang-orang yang ada disana.
__ADS_1
"Kalian akan bercerai namun memilih untuk tinggal bersama? Hal konyol macam apa itu, jika kalian akan bercerai, bercerai saja, lagipula sejak awal kalian sudah tinggal terpisah kan!" Ucap Attalaric yang tiba-tiba muncul dan memandang tajam pada adik iparnya.
Arwaa memandang sayu ayah dari keponakan suaminya itu, dan tersenyum sedih.
"Sejak awal mas Genta sudah memberitahu aku jika dia tidak menginginkan pernikahan ini tapi karena satu dan lain hal mas Genta tidak bisa menolak. Belum lagi, ayahku yang terlihat sangat bahagia atas pernikahanku saat itu. Membuatku menerima perjanjian pranikah yang diberikan mas Genta yang dimana inti dari perjanjian itu adalah bahwa pernikahan kami hanya untuk sekedar kebahagiaan orangtua kami, karena itulah aku menyembunyikan hal ini dari kalian."
"Namun saat itu mas Genta tiba-tiba meminta bertemu dan dia... meminta cerai karena kekasihnya sedang mengandung anaknya. Aku tidak langsung menyetujuinya saat itu karena aku sangat takut..."
Arwaa menunduk, tubuhnya bergetar menahan tangis. Tak ada yang bisa menenangkan karena Bu Hayya pun sejak tadi sudah menangis.
"Karena aku... aku... mempermainkan janji pernikahan ku pada Allah dengan menyetujui perjanjian yang diberikan mas Genta dan membiarkan suamiku dengan hidupnya sendiri... aku sangat berdosa... padahal sudah tugasku sebagai makmum dari imamku untuk selalu mengingatkannya ketika dia berada dijalan yang salah... karena itulah aku meminta waktu pada mas Genta hingga kekasihnya melahirkan untuk hidup bersamaku selayaknya suami-istri pada umumnya... aku hanya ingin menebus dosaku sebagai istri yang tak becus pada mas Genta... aku takut Allah melaknat ku atas kelalaianku pada suamiku... aaaah... haaaaa..."
Tangis Arwaa pecah bersamaan juga dengan Bu Hayya yang langsung memeluknya. Isak tangis yang menyayat hati dari kedua wanita yang berbeda usia memenuhi ruangan itu.
Begitu pula dengan Pak Ahmad, Paman Jhonny, Attalaric dan Arrazi yang juga ikut meneteskan air mata atas apa yang diungkapkan oleh Arwaa.
***
"Saya sudah memutuskan untuk membawa Arwaa tinggal bersama keluarga ibunya di Canada." Ujar Paman Jhonny ketika melihat Arwaa dan Bu Hayya sudah lebih tenang.
"Tunggu...!" Pak Ahmad mengernyit mendengar keputusan sepihak paman dari menantunya itu.
"Anda tidak bisa memutuskan hal itu sendiri, bagaimana pun saat ini Arwaa masih istri dari anak saya, dia tidak boleh pergi tanpa izin dari suaminya."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, keputusan saya sudah bulat ketika mengetahui perlakuan anak anda pada keponakan saya. Dia telah menyakiti hati Arwaa." Jelas Paman Jhonny menatap tajam kearah Pak Ahmad.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan, tapi ini bukan perkara menyakiti hati atau tidaknya karena memang ketentuan agama kamilah yang melarang seorang istri untuk pergi tanpa izin dari suaminya dan mereka juga bel..."
"Per**t*n dengan agama kalian. Saya tidak terima keponakan saya diperlakukan seperti itu oleh suaminya!!" Sanggah Paman Jhonny sembari terbangun dari duduknya dan memandang marah pada pak Ahmad.
Arwaa seketika ikut berdiri dan memegang lengan sang paman.
"Astaghfirullah paman, jangan seperti itu, jangan menyalahkan agama kami hanya karena hal yang terjadi padaku. Arwaa mohon paman, apa yang dikatakan ayah memang benar, aku tidak bisa pergi tanpa izin suamiku."
Paman Jhonny menghela nafas frustasi dan memandang keponakannya.
"Kalian pulanglah besok tanpa Arwaa. Dia akan tetap disini sampai aku bisa bertemu dengan suaminya dan mendapat penjelasan dari pria itu!" Tegas Paman Jhonny.
"Pama..."
"Tidak ada bantahan atau paman akan membawamu paksa pergi dari sini!" Jelas Paman Jhonny menatap tajam pada keponakannya.
"Paman yang bertanggungjawab atasmu setelah ayahmu meninggal, jadi turuti apa yang paman katakan." Lanjutnya lagi.
Arwaa menunduk dan memilih pergi ke kamarnya, meninggalkan kelima orang yang ada disana dengan pikiran yang tak menentu.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️