
Arwaa begitu bersemangat sejak pagi tadi. Ia menyiapkan beberapa masakan untuk dibawa kerumah mertuanya. Meski Aldair sudah memberitahu bahwa itu tidak perlu, tapi istrinya tetap kekeuh dengan alasan Hanna menyukai masakannya.
Bahkan setelah semalam Aldair setuju untuk ikut menginap dirumah orangtuanya, Arwaa langsung membereskan pakaian yang akan mereka bawa untuk menginap selama dua hari disana.
Arwaa memang sosok yang mudah disukai banyak orang, karena sifatnya yang lembut dan juga easy going. Tak heran keponakannya, Hanna, putri dari Attalaric, kakaknya, yang sangat sulit membuka diri pada orang lain setelah kepergian ibunya, begitu mudah untuk akrab de ningan Arwaa.
Itu yang ia ingat ketika pertama kali membawa Arwaa menghabiskan akhir pekan dirumah orangtuanya. Istrinya langsung bisa mengakrabkan diri dengan keponakannya.
"Mas mobil siapa itu?"
Aldair memperhatikan mobil yang ada dihalaman rumah orangtuanya. Ia mengernyit, setahu dia, orangtuanya tidak memiliki mobil seperti itu.
"BUNDAAA..."
Teriakan anak kecil mengejutkan Aldair dan Arwaa yang baru saja turun dari mobil.
"Hanna sayaaang..."
Sekali lagi Aldair mengernyit bingung, sejak kapan keponakannya memanggil istrinya bunda.
Haa...
Aldair menghela nafas melihat istrinya dan keponakannya yang terlihat semakin dekat. Sepertinya dia ketinggalan banyak hal yang terjadi di keluarganya. Ia akui, salahnya, karena selalu beralasan ketika jadwal mereka menghabiskan waktu dirumah orangtuanya. Hanya saat pertama kali saja ia ikut menginap disana, setelahnya hanya Arwaa yang selalu menghabiskan akhir pekannya disana.
"Bunda Hanna rindu..."
Anak perempuan itu memeluk leher Arwaa erat.
"Bunda juga rinduuu sekali sama Hanna. Maaf ya bunda baru kesini lagi." Arwaa mengelus rambut Hanna dengan penuh kasih sayang.
Pemandangan itu membuat keluarga Arsawijaya terharu. Ibu Hayya terlihat menitikan air matanya sedangkan Tuan Ahmad merangkul sang istri, menenangkannya. Mereka adalah mertua Arwaa.
Begitu pula dengan ketiga pria dewasa yang ada disana, Aldair, dan kedua saudaranya, Attalaric dan Arrazi. Diantara mereka bertiga hanya Aldair dan Attalaric yang menatap intens interaksi kedua wanita beda usia itu.
"Tidakkah menantuku merindukanku juga..." Goda Bu Hayya merentangkan kedua tangannya.
Arwaa tersenyum dan menghampiri mertuanya dengan Hanna yang digendongnya.
__ADS_1
"Ibuuu..." Arwaa memeluk sang ibu mertua, lalu menyalimi sang ayah mertua.
"Assalamu'alaikum..." Ucap Arwaa, kepalanya dielus lembut oleh Pak Ahmad.
"Wa'alaikumsalam..." Jawab mertuanya dan dua pria dewasa dipinggir mereka.
"Kamu tahu, Hanna selalu bertanya kapan bundanya datang." Lanjut Pak Ahmad menggoda Hanna membuat cucunya bersembunyi dileher Arwaa sambil terkikik malu membuat Arwaa tersenyum dan mengecup kepala Hanna.
"Oh iya, kenalkan Attalaric dan Arrazi, saudara suamimu sayang. Maafkan mereka ya karena tidak hadir dipernikahanmu waktu itu. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan, sampai keluarga sendiri saja dilupakan." Bu Hayya mendelik kesal pada kedua putranya membuat keduanya tersenyum kikuk.
Attalaric Resana Arsawijaya, pria 35 tahun yang merupakan putra pertama dari pasangan Arsawijaya, tinggal di negara Paman Sam, mengurus bisnis startup-nya yang ia bangun bersama para sahabat.
Lalu ada Aldair Gentala Arsawijaya, suami Arwaa, diusianya yang ke - 28 tahun itu ia telah menggantikan posisi sang ayah di perusahaan keluarganya.
Dan yang terakhir, anak bungsu dari pasangan Arsawijaya baru menginjak usia ke - 26 nya tahun ini, Arrazi Mustafa Arsawijaya, ia berprofesi sebagai dokter bedah, dan hampir 3 tahun terakhir dia menjadi relawan di Afghanistan.
Arwaa pun menangkupkan kedua tangannya.
"Assalamu'alaikum... saya Arwaa istri mas Genta." Perkenalan Arwaa yang terkesan formal membuat kedua saudara suaminya merasa canggung sedangkan mertuanya hanya tersenyum melihat itu.
"Ah... Wa... wa'alaikumsalam, saya Arrazi adik kakak Al." Arrazi menangkupkan tangannya dan menganggukkan kepalanya yang dibalas anggukan juga oleh Arwaa.
Pletak
"Aah!" Attalaric meringis ketika sang ayah memukul kepalanya.
"Hei anak nakal kau tidak boleh seenaknya menyentuh adik iparmu."
Attalaric mendelik pada ayahnya kesal.
"Aauw!" Sekali lagi ia berteriak memegang pinggangnya yang dicubit ibunya.
"Matamu itu matamu!" Gemas Bu Hayya.
"Kamu ini terlalu lama tinggal di Amerika jadi lupa tata krama di Indonesia ya." Lanjutnya lagi menegur anak tertuanya.
"Ayah ingatkan pada kalian, hormatilah Arwaa sebagai ipar. Meski dia telah menikah dengan saudara kalian, hal itu tidak merubah status kalian menjadi mahram dengannya." Jelas pak Ahmad.
__ADS_1
Pak Ahmad memang seorang yang taat ibadah dan seringkali mengisi kajian-kajian disetiap ta'lim yang mengundangnya. Dia juga orang yang tegas pada anak-anaknya, bahkan sedari dulu, dia melarang mereka untuk berpacaran.
Kalau jatuh cinta pada seorang gadis, perjuangkan dia dengan cara yang baik, yaitu dengan menghalalkannya, bukan dengan pacaran. Jika kalian belum sanggup untuk menikah, maka perbanyaklah puasa dan terus perbaiki diri kalian. Karena seyogyanya, lelaki yang baik adalah yang wanita yang baik, begitu pun sebaliknya.
Itu adalah nasehat yang selalu pak Ahmad berikan kepada anak-anaknya. Dan tentu, pada Aldair juga.
Aldair menatap nanar dari kejauhan kedekatan istrinya dengan keluarganya.
Didalam hatinya ada perasaan khawatir melihat keluarganya menyayangi Arwaa. Dia takut jika keluarganya tidak akan menerina Fani sebagaimana mereka menerima Arwaa nanti. Ia bahkan tak yakin kalau dirinya akan selamat dari amarah sang ayah ketika mengetahui yang sebenarnya terjadi. Ayahnya pasti sangat kecewa, ibunya juga, ah maksudnya semua keluarganya.
Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Meski perlahan hatinya terbuka untuk sang istri, tetap saja bayangan kekasih tercintanya yang saat ini sedang mengandung anaknya, menyadarkan dirinya untuk tidak berharap banyak dan melampaui batas.
Dia sudah berjanji pada Fani akan menceraikan Arwaa dan menikahinya. Belum lagi kilasan memori kebersamaan mereka yang telah terjalin selama 4 tahun, itu bukan waktu yang sebentar dibandingkan dengan kebersamaan dia dengan istrinya.
Aldair menggeleng, menyadarkan dirinya, lebih baik untuk sekarang ia berbahagia melihat kedekatan sang istri dengan keluarganya, karena saat ini ia sedang berperan sebagai suami Arwaa, meski pada kenyataannya mereka memang pasangan suami-istri.
***
"Bunda nanti tidur sama Hanna ya..." Hanna yang sedang tiduran dipangkuan Arwaa memandang mata wanita yang sudah ia anggap Bundanya sendiri dengan pandangan memohon.
"Hanna mau tidur bareng bunda dan paman Al?" Arwaa tersenyum dan membelai lembut rambut Hanna.
"Bukan dengan paman Al bunda, tapi bunda, aku dan Daddy."
Arwaa terkejut mendengar permintaan Hanna, ia bingung bagaimana cara untuk menjelaskannya pada Hanna kalau hal itu tidak mungkin untuk dilakukan.
"Honey do not talking like that." Suara bariton Attalaric membuat Arwaa bernafas lega.
Hanna bangun dan memandang ayahnya dengan tatapan sedih.
"Kenapa Daddy? Hanna rindu bunda dan Daddy, apa Hanna tidak boleh tidur dengan bunda dan Daddy..." Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Hanna, putri Attalaric, ibunya meninggal dunia ketika dia masih satu tahun, sehingga dia belum banyak mengetahui tentang wanita yang telah melahirkannya. Belum lagi stress yang dialami Attalaric karena kematian istrinya membuat dia meninggalkan Hanna bersama orangtuanya. Attalaric mengalihkan kesedihannya dengan bekerja, bekerja dan bekerja, diperusahaan startup yang ia bangun bersama para sahabatnya di negeri Paman Sam.
Diusianya yang ke empat tahun saat ini tentu saja Hanna merindukan kasih sayang kedua orangtuanya. Meski ia mendapat kasih sayang yang tulus dari kakek dan neneknya, tetap saja, kasih sayang seorang ibu dan ayahnya lah yang dia impikan.
Dan pada diri Arwaa lah dia bisa melihat ketulusan kasih sayang, dan kelembutan seorang ibu. Karena itu Hanna menganggap Arwaa sebagai ibunya. Arwaa pun tak keberatan karena memang keinginan hatinya untuk memiliki seorang anak dengan sang suami, namun itu adalah hal yang tidak mungkin, jadi dia sudah menganggap keponakan dari suaminya itu selayaknya anak sendiri.
__ADS_1
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️