Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Titik Awal


__ADS_3

Saat ini aku dan Kak Mehmet sedang berada di taman belakang.


Tidak hanya berdua, tentu dengan keluarga ku yang lainnya, juga Abba dan Amma. Mereka sedang menikmati camilan-camilan kecil buatanku dan Bibi Claire sesudah makan tadi.


"Jadi apa rencanamu kedepannya Arwaa?" Tanya Kak Mehmet memecah keheningan diantara kami.


Masih terlihat jelas kekecewaan pada raut wajahnya. Meski begitu tak ayal tetap memberikan senyumnya padaku.


"InshaAllah ingin melanjutkan pendidikanku Kak."


"Kamu akan kuliah?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Di Indonesia?"


"Tidak Kak. InshaAllah di UOC (University of Calgary). Aku ingin mengambil jurusan keperawatan disana," jelasku.


"Calgary? Kamu akan tinggal dimana nanti?"


"Asrama mungkin. Tapi entahlah, aku masih tidak tahu sebenarnya, karena soal tempat tinggal nanti, Paman Jhonny bilang dia akan mengurusnya. Hehe," kekehku malu.


Kak Mehmet menghela nafas. Dirinya terlihat lebih rileks.


"Haa... Baguslah kalau begitu. Tapi kamu harus berhati-hati karena nanti akan tinggal sendiri," tandasnya.


"Lagipula kenapa tidak di Toronto saja. Biar bisa satu kampus dengan Naina, dan dekat dengan keluargamu juga," lanjutnya lagi.


Dapat ku tangkap ke khawatiran diwajahnya membuatku merasa tak enak.


"InshaAllah aku akan baik-baik saja Kak."


"Berjanjilah untuk mengubungi Kakak kapanpun kamu butuh sesuatu di Calgary nanti. Dan jangan lupa untuk selalu mengabari keadaanmu setiap harinya pada Naina," cecarnya dengan tatapan sendu.


Perhatian dan kekhawatiran Kak Mehmet menggetarkan hatiku. Tak pernah aku mendapatkan kedua hal ini dari Aldair ketika masih menjadi istrinya.


Membuatku tiba-tiba ingin selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari pria ini.


Astaghfirullah!


Seketika aku menggeleng menyadarkan diri ini yang hampir termakan rayuan setan.


Benar kata Rasulullah bahwasanya ketika seorang wanita dan pria yang bukan muhrim berduaan, maka yang ketiga diantara mereka adalah setan.


"I... InshaAllah... Kakak tidak perlu khawatir karena ada Paman Jhonny dan juga Allah yang akan senantiasa menjagaku."


Ku remas kedua tanganku menghilangkan debaran kencang dalam diri ini.


Tak boleh sampaiku berubah pikiran setelah menolak pinangan Kak Mehmet sebelumnya hanya karena godaan sesaat ini.


"Um... Aku permisi ya Kak. Mau bantu Bibi Claire. Assalamu'alaikum," pamitku tanpa menoleh kembali pada Kak Mehmet.

__ADS_1


Belum jauh ku melangkah, teriakan Kak Mehmet menghentikan kakiku.


Bersamaan dengan semua yang sedang berada disana, menghentikan aktivitas mereka.


"Arwaa! Kamu adalah alasan terbesarku untuk tetap berjuang dan berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ku harap kau akan tetap mengingatnya!"


Aku masih bergeming di posisiku tanpa ada niat untuk membalikkan badan.


Abba dan Amma memberikan senyuman sendu mereka. Sedang keluargaku yang lain menatap penuh keingintahuan akan balasan yang akan kuberikan.


Oksigen serasa menyusut disekitarku atas tekanan yang berbeda dari setiap orang di taman ini.


Ku pejamkan mata sesaat dan meraup habis udara yang tersisa.


Dapat ku rasakan keringat dingin mengalir di tengkukku.


Jangan sampai salah bicara dan hanya memberi harapan palsu.


Aku berbalik meski hati ini enggan jika harus melihat lagi kekecewaan yang akan terlukis di raut pria yang sudah ku anggap seperti Kakakku sendiri.


"Terimakasih Kak atas niatmu itu. Tapi aku ingin Kakak berubah dengan ridho Allah-lah yang menjadi tujuan Kakak,"


"Aku tak lebih hanyalah seorang hamba yang tak luput dari banyaknya kesalahan dan dosa. Sangat tak pantas rasanya jika Kakak sampai menyimpan harapan yang besar padaku, hanya kekecewaan yang akan Kakak dapat jika berharap pada asa yang semu,"


"Untuk itulah, jika Kakak mengharapkan bahagia dari manusia maka, sisakan satu ruang untuk menyimpan kecewa," jelasku menatap sayu pria itu.


Dengan cepat aku pun mengangguk dan segera berlalu dari hadapannya.


Lebih memilih pergi kembali ke dalam kamar dari pada berada di situasi yang sangat canggung karena kejadian tadi.


***


'Tok... Tok... Tok'


Ketukan dipintu membuatku menghentikan kegiatan membaca Ayat Suci Al-Qur'an selepas menunaikan shalat Maghrib.


"Paman ada apa?" Tanyaku begitu mendapati Paman Jhonny yang tadi mengetuk pintu.


"Boleh Paman masuk?"


"Iya Paman. Silahkan."


Paman Jhonny pun mengambil posisi duduk di single sofa tempatku biasa membaca buku.


Matanya mengikuti gerak-gerikku yang tengah membereskan sajadah bekas shalat tadi.


"Ada apa Paman?"


Aku kembali bertanya begitu menyelesaikan semuanya dan duduk di atas kasur berhadapan dengannya.


Paman Jhonny terlihat menghela nafas sebentar.

__ADS_1


"Maafkan Kakekmu itu ya," ucapnya memandang sendu.


Aku tersenyum maklum.


Mengingat kejadian tadi ketika Kakek Harry yang mengacuhkanku saat makan malam dan mendengus ketika melewatiku begitu saja.


Bahkan Nenek Xin dan Bibi Claire pun sempat menggerutu kesal karena tingkah Kakek yang menurut mereka kekanakan itu.


Sepertinya Kakek memang kecewa denganku yang menolak pinangan dari Kak Mehmet yang menurutnya akan memberi banyak keuntungan untuk ku maupun keluarga ku.


Meski aku mengerti perasaan Kakek sejak dirinya selalu memuji kebaikan keluarga Ghifari walau memang kenyataannya seperti itu. Tetap tidak membuatku berubah pikiran menerima pinangan anak tertua mereka.


Tak ingin kejadian sebelumnya terjadi lagi. Kegagalan pernikahanku dengan Aldair pun berawal dari perjodohan yang tak di setujui oleh salah satu pihak.


Akhirnya hanya menimbulkan duka dan menyisakan luka.


"Tidak apa-apa Paman. Aku memaklumi jika Kakek bersikap seperti itu, bagaimanapun juga beliau hanya ingin yang terbaik untukku,"


Aku menunduk memainkan jari tanganku.


"Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah mengecewakan dan juga merepotkan kalian."


"Jangan bicara seperti itu Arwaa. Bagaimanapun kamu adalah keluarga kami juga."


Paman Jhonny merengkuhku ke dalam pelukannya membuatku terisak haru.


Bersyukur sekali diri ini meski awalnya begitu banyak kekhawatiran dan rasa takut kesepian jika berpisah dengan Aldair karena akan membuatku jauh dari keluarganya yang juga sudah ku anggap seperti keluargaku sendiri.


Ku seka air mata ini yang membuat Paman Jhonny tersenyum.


"Cengeng sekali," ejeknya membuatku memberengut.


"Pamaan!" Rengekku kesal.


Lucu sendiri rasanya ketika aku bersikap manja pada Paman.


Benar-benar, keberadaan Paman Jhonny bisa membuatku merasakan kembali kasih sayang layaknya dari orangtua sendiri.


"Paman hanya khawatir saja nanti ketika kamu di Calgary jika terus cengeng seperti ini," ucapnya sambil tersenyum jenaka, menggodaku.


"Ya tidak akan lah Paman. Aku sudah mandiri dan terbiasa sendiri sejak..."


Ah!


Paman terdiam begitu juga aku. Tanpa sadar pembicaraan ini membawaku kembali pada masa-masa penuh kesepian karena diacuhkan oleh mantan suamiku.


"Eheem..."


"Sudah sudah lebih baik kamu mempersiapkan barang-barang yang akan kamu bawa ke Calgary lusa. Disana kamu akan tinggal di apartemen Paman,"


"Jangan khawatir. Disana pun kamu tak akan kesepian karena para tetangga apartemen Paman ramah semua. Paman yakin kalian akan langsung akrab," jelas nya memecahkan keheningan.

__ADS_1


"Iya Paman."


***


__ADS_2