Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Rumah-rumahan 2


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan tepat pukul 12 malam, dimana seharusnya orang-orang terlelap dalam mimpinya. Namun tidak dengan Aldair, meski raga dan jiwanya terasa begitu lelah ia sama sekali tidak bisa menutup matanya. Itu semua karena sosok perempuan yang tengah terlelap nyaman disampingnya. Aldair heran bagaimana bisa Arwaa tertidur begitu pulas dengan dia disampingnya. Tidakkah istrinya itu merasa malu ataupun gugup.


"Haa..."


Entah telah berapa kali Aldair menghela nafas hari ini. Ditatapnya wajah sang istri yang tertidur pulas.


Arwaa Kemuning Bhurri, perempuan yang hampir dua tahun ini menjadi istrinya dan selama itu juga dia abaikan kehadirannya. Sosok yang memberi banyak kejutan untuk Aldair dua hari ini.


Ia kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ketika ia selesai memakan makan malam yang telah disediakan oleh istrinya, ia mengakui jika masakan istrinya itu enak dan pas di mulutnya.


Dia pergi ke kamar utama dengan niatan untuk membersihkan diri dan beristirahat. Betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu kamar dan melihat Arwaa tanpa mengenakan hijab. Ya, itu adalah pertama kalinya Aldair melihat mahkota istrinya. Dia sempat terpana oleh Arwaa, sebab sosok itu sangatlah cantik dan manis. Dengan rambut hitam dan mata birunya, Arwaa memiliki pesona yang tidak biasa.


"Kenapa berdiri aja disitu mas. Masuk sini, bukannya mau mandi?" Tanya Arwaa memandang bingung suaminya sejenak sebelum kembali melanjutkan memasukkan pakaian Aldair ke lemari.


" Matamu..." Gumam Aldair pelan namun terdengar oleh Arwaa membuat ia menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju suaminya yang masih terdiam didepan pintu.


"Yuk masuk dulu, terus mandi, habis itu kita bicara." Ujar Arwaa tersenyum lembut menarik tangan Aldair.


"Mandilah mas, udah aku siapkan airnya." Lanjut Arwaa sambil memberikan handuk dan baju ganti untuk suaminya. Aldair tetap terdiam namun ia menuruti apa yang dikatakan Arwaa.


Aldair selesai membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi dengan baju yang tadi diberikan istrinya. Ia melihat Arwaa juga sudah mengganti bajunya dengan dress tidur berlengan panjang dan sedang memakai perawatan kulit wajah dimeja riasnya.


Arwaa menyadari Aldair yang tengah memandanginya, ia pun mempercepat kegiatannya tersebut. Ia menolehkan kepalanya pada sang suami dan berjalan kearahnya.


"Ayo sini." Ajak Arwaa menarik tangan Aldair menuju kasur.


Aldair masih saja tetap diam meski mereka sudah duduk diatas kasur. Ia menatap mata biru milik Arwaa yang sangat menarik perhatiannya.

__ADS_1


"Aneh ya mataku?" Tanya Arwaa menyadarkan Aldair dari pesona sang istri.


"Eh... Kamu pake softlens?" Tanya Aldair memastikan. Arwaa tersenyum.


"Iya yang item." Jawab Arwaa membuat Aldair mengerutkan keningnya. Arwaa terkekeh kecil.


"Ini mata asliku mas. Biasanya aku pake softlens kalau keluar rumah dan pas tidur aku lepas." Jelas Arwaa namun Aldair masih tampak tak yakin dengan jawaban itu.


"Bukannya kamu orang kampung?" Tanya Aldair tanpa sadar namun seketika ia meminta maaf.


"Eh maaf maksudku..." Belum Aldair menyelesaikan ucapannya, Arwaa terkekeh geli.


"Hehe iya mas aku ngerti, santai aja." Arwaa menarik tangan Aldair lagi dan menyuruhnya untuk merebahkan tubuhnya di kasur.


"Sambil tiduran ya mas, aku ngantuk." Ucap Arwaa tersenyum sebelum merebahkan kepalanya di lengan Aldair dan memeluknya membuat pria itu membeku seketika.


"Alm mama aku itu campuran Kanada dan China mas, mereka bertemu ketika ayah kerja sebagai TKI di China." Arwaa berinisiatif sendiri untuk memulai menceritakan tentang dirinya.


"Ayah bilang orangtua mama gak setuju sama ayah karena dia cuma TKI sedangkan mama dari keluarga berada." Lanjut Arwaa, ia terdiam sejenak, tiba-tiba rindu pada sang ayah.


"Belum lagi ayah sama mamaku beda keyakinan. Tapi mama tetap keras kepala ingin menikah sama ayah." Aldair tetap diam, ia memutuskan untuk menjadi pendengar yang baik saja tanpa berkomentar.


"Singkat cerita akhirnya mereka menikah meski mama harus diusir oleh keluarganya. Ayah pun bawa mama pulang ke Indonesia walau banyak rintangan, ayah bilang ayah tetap berusaha memperjuangkan mama. Apalagi mama yang baru mengenal Islam dan asing sama kebiasaan masyarakat dikampung ayah saat itu, seringkali jadi omongan orang." Arwaa menghela nafas panjang, inginnya Arwaa menangis saat menceritakan kisah hidupnya, tapi melihat Aldair yang tak merespon apapun, ia pun memilih untuk menahan tangisnya.


"Aku dilahirkan setelah 8 bulan pernikahan orangtuaku. Dan mama meninggal saat ngelahirin aku." Arwaa mempererat pelukannya pada Aldair. Aldair bisa merasakan pundak istrinya yang sedikit bergetar, istrinya itu menangis. Meski ragu ia membalas pelukan Arwaa hanya untuk memenangkan perempuan itu.


"Sejak saat itu hanya ada aku dan ayah. Walau terkadang aku menyalahkan diriku sendiri atas kematian mama, ayah selalu berusaha untuk menenangkan aku dan berkata jika semua yang telah terjadi adalah takdir Allah."

__ADS_1


"Ayah sangat protektif sama aku, apalagi aku punya warna mata seperti mama yang membuat aku berbeda sama anak-anak lain dikampung, gak jarang aku diejek bule kampung sama mereka. Bahkan waktu aku sma, aku pernah marahin sama kakak kelas cuma karena warna mataku ini, katanya aku banyak gaya, masih kecil udah pake softlens. Huh." Arwaa mendengus mengingat hal itu.


"Karena itulah... aku memutuskan untuk pakai softlens biar keliatan sama sama yang lainnya..." Cukup lama Aldair menunggu lanjutan kisah hidup istrinya namun Arwaa tak kunjung meneruskan cerita itu membuat Aldair menoleh kearahnya dan melihat Arwaa yang ternyata tertidur.


Aldair memandangi wajah Arwaa yang sedang tertidur itu sejenak sebelum ia melepaskan pelukan istrinya dan berbalik memunggungi perempuan itu.


"Maaf." Ucap Aldair lirih, ia tidak tau jika Arwaa belum sepenuhnya tertidur, perempuan itu hanya bisa tersenyum kecut dan memandangi punggung suaminya itu.


***


Sayup-sayup lantunan merdu ayat suci Al-Quran menyapa pendengaran Aldair, membuat pria itu terbangun dari tidurnya. Penglihatannya menangkap sosok sang istri yang terlihat tengah khusyuk membaca kitab suci Al-Qur'an.


Suaranya begitu merdu dan lembut terdengar bahkan Aldair memegang dadanya saat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Belum lama ia menghabiskan waktu bersama Arwaa tapi perempuan itu sudah bisa membuat hatinya gelisah dengan perasaan hangat yang tiba-tiba muncul terhadapnya.


Namun ia segera menyadarkan dirinya. Ia tidak boleh sampai terbawa suasana, lagi pula kebersamaan mereka hanya untuk beberapa bulan saja sampai Fani melahirkan. Ah... Fani, hampir saja Aldair melupakan sosok perempuan yang tengah mengandung anaknya itu. Dia sungguh harus berhati-hati akan pesona Arwaa yang bisa membuatnya berpaling dari sang kekasih hati.


Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 4 subuh membuat Aldair menghela nafas, berarti ia hanya tidur sebentar, pikirnya.


Arwaa yang menyadari suaminya terbangun langsung menghentikan kegiatannya.


"Eh mas maaf kamu kebangun karena aku." Ucap Arwaa menutup kitab suci Al-Qur'an dan meletakkannya di atas meja rias.


"Gak apa-apa. Lagian aku mau puasa, kamu bisa siapin makan sahur aku gak?" Tanya Aldair membuat Arwaa terdiam sejenak sebelum ia menampilkan senyum hangatnya.


"Iya mas." Meski hatinya terasa sakit Arwaa tetap memutuskan untuk menuruti perintah sang suami tanpa mau bertanya apapun karena sepertinya ia mengerti kenapa suaminya itu ingin berpuasa.


🍂🍂🍂

__ADS_1


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️


__ADS_2