
"Hati, tolong jangan lemah lagi. Aku lelah menyembuhkanmu yang selalu patah," - Arwaa.
_____________________________________________
Saat ini Arwaa tengah disibukkan memasak makanan untuk keluarga dari mantan suaminya. Dia tak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan dirinya. Siapa lagi kalau bukan Aldair.
Ketika Bu Hayya dan Hanna beristirahat karena masih lelah sehabis perjalanan panjang mereka. Aldair justru sedang duduk di sofa ruang tengah apartemen Arwaa yang langsung terhubung dengan dapur.
Sebenarnya pria itu sempat tertidur di sofa, hanya saja terbangun karena suara dari arah dapur. Ternyata ada wanita yang saat ini masih menempati hatinya.
Aldair beranjak dan perlahan berjalan ke arah dapur.
"Ada yang bisa kubantu?"
'Klontang'
Spatula yang Arwaa pegang terjatuh. Dia terkejut karena suara Aldair.
"Kamu tidak apa-apa?"
Tergesa, Aldair menghampiri Arwaa dan hendak memeriksa tangannya yang kemungkinan terkena minyak dari spatula yang dipegangnya tadi. Namun Arwaa langsung menarik tangannya menciptakan gurat kecewa di wajah pria yang pernah menjadi Imamnya.
"Aku baik-baik saja Mas. Ma-maaf tidurnya jadi terganggu karena aku," ucap Arwaa tergagap.
Aldair tersenyum getir melihat Arwaa yang menghindarinya. Apa yang ia lakukan tadi spontan, dirinya hanya khawatir jika Arwaa terluka. Tapi sepertinya Aldair juga lupa jika mereka bukan lagi sepasang suami-istri, jadi tak bisa sembarang menyentuh. Tak heran Arwaa bersikap begitu. Apalagi ketidaksengajaan tadi hanya kecelakaan kecil.
"Tidak apa-apa," ucap Aldair.
Arwaa mengernyit. Hidungnya mencium bau gos...
"Allahuakbar! Gosong Mas!"
Arwaa berteriak dan langsung mematikan kompor listriknya dan itu mengejutkan Aldair.
Mereka berpandangan sejenak sebelum tawa keduanya pecah.
"Maaf," sesal Aldair setelah ia bisa mengendalikan dirinya. Dia merasa kejadian ini memang salahnya karena telah mengganggu fokus Arwaa yang tengah memasak.
Arwaa memegang dada. Degup jantungnya berdetak kencang. Bukan, bukan karena adanya sang mantan. Tapi akibat keterkejutannya karena masakan yang gosong membuat area dapurnya berasap.
"Bukan salah Mas Genta hehe. Tidak apa-apa kok. Untuk makan siang aku pesankan saja makanan dari luar ya," ujar Arwaa tak enak karena ia tak bisa menjamu tamunya dengan baik.
***
Setelah kejadian di dapur tadi Arwaa dan Aldair sudah tidak terlalu canggung satu sama lain. Entahlah meski ada perasaan yang tak bisa dijabarkan dalam hati. Arwaa memilih untuk tidak terlalu memikirkannya karena dipikirkan pun untuk apa, dia sudah tidak ada lagi hubungan apapun dengan Aldair. Dan tidak mengharapkannya lagi.
__ADS_1
Arwaa hanya ingin mencoba untuk berdamai dengan keadaan. Mungkin saja dengan begini dia bisa mulai mengikhlaskan kepedihan yang dulu pria itu pernah torehkan.
Ketika malam menjelang pun Arwaa, Bu Hayya, Hanna dan Aldair berkumpul di ruang tengah apartemen Arwaa. Mereka berbincang tentang hal-hal random. Meski Aldair sendiri lebih banyak diam. Seakan ada banyak hal yang ia pikirkan.
Aldair memang mengatakan sebelumnya jika kedatangan dia ke sini memang ada urusan dengan seseorang yang ingin join dengan bisnis restorannya. Besok juga dia sudah izin untuk pergi menemui orang yang akan join dengannya.
Malam ini Arwaa tidur dengan Hanna di kamar Paman Jhonny karena peri kecilnya terus merengek tak ingin lepas dari Bundanya. Sedang Bu Hayya dan Aldair di kamar yang biasa Arwaa tempati, tentu dengan tambahan kasur lipat untuk Aldair.
Sebenarnya di apartemen itu ada satu lagi ruangan yang bisa dijadikan kamar, tapi Paman Jhonny menjadikan sebagai perpustakaan dan ruang kerjanya.
Drrt... Drrt...
Arwaa melirik ponselnya yang tergeletak di meja kecil sebelah kasur Paman Jhonny. Nama mantan kakak iparnya tertulis di sana. Sejenak Arwaa melihat Hanna yang tertidur pulas, lalu beranjak ke balkon untuk mengangkat telepon dari Attalaric.
"Assalamu'alaikum," salam dari seberang telepon.
"Wa'alaikumsalam Mas."
"Maaf Mas telepon jam segini. Di sana pasti sudah malam."
"Tidak apa-apa Mas. Lagipula aku abis menidurkan Hanna," Arwaa tersenyum kecil. Ia berpikir jika Attalaric pasti khawatir tentang Hanna, makanya pria itu menghubungi dia.
Walau sebenarnya yang paling dikhawatirkan pria di seberang telepon sana adalah keberadaan adiknya yang juga sedang ada di tempat yang sama dengan putrinya.
"Sekali lagi maaf karena merepotkanmu dengan Hanna. Mas tidak ikut mengantar karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan di perusahaan."
Mereka terdiam sejenak. Arwaa memandang gemerlap bintang di langit Calgary. Terlalu menghayati membuat pikiran ikut melayang. Sampai ia tersadar oleh panggilan Attalaric.
"Wa... Arwaa..."
"E-eh Mas maaf tadi melamun."
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Attalaric terdengar cemas.
"Hm... I'm fine."
"Meski dengan keberadaan adikku di sana?"
Tubuh Arwaa membeku. Dia memang sempat gelisah dengan adanya Aldair, tapi ia berusaha untuk berdamai dengan hal itu. Bagaimanapun juga tidak mungkin mereka memutuskan tali silaturahmi hanya karena tak lagi terikat dalam ikatan pernikahan.
"Aku baik-baik saja Mas. Inshaallah."
Terdengar jika Attalaric menghela nafas di seberang sana membuat Arwaa tersenyum simpul. Hatinya sedikit menghangat karena kekhawatiran mantan kakak iparnya itu.
"Baguslah jika begitu Arwaa. Mas harap kamu sudah tidak lagi dihantui oleh kenang-kenanganmu bersama adikku itu, dan bisa mengikhlaskan masa lalumu bersamanya."
__ADS_1
"Eh kenapa Mas bicara seperti itu?" Tanya Arwaa sedikit kikuk dengan ucapan Attalaric membuat pria itu terkekeh kecil mendengar suara gadis yang diam-diam dia harapkan untuk menjadi Ibu sambung putri kecilnya.
"Paman Jhonny yang mengabari jika ada seseorang yang melamarmu, tapi kamu menolaknya."
Arwaa terdiam sejenak. Sedikit tak suka ternyata Pamannya memberitahu tentang hal itu pada Attalaric.
"Mungkin memang belum jodoh Mas."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Loh?" Arwaa terkejut dengan respon yang diberikan Attalaric.
"Hehe maaf ya jika membuatmu tersinggung. Mas hanya senang saja akhirnya Hanna masih punya kesempatan."
Kening Arwaa berkerut, sedikit kesulitan menangkap maksud dari ucapan Attalaric.
"Maksudnya apa Mas?"
"Ya. Hanna masih punya kesempatan untuk menjadi anakmu Arwaa."
Lidah Arwaa kelu. Akhirnya dia mengerti apa maksud mantan kakak iparnya itu.
"Mas minta maaf jika terkesan tak sopan karena menyampaikan hal ini melalui telepon..."
Keheningan meliputi mereka sejenak karena Arwaa masih tak tahu harus bicara apa.
"Mas hanya ingin memberitahumu jika Mas akan datang ke sana untuk menjemput Hanna dan... melamarmu..."
"M-mas?"
"Mas tahu ini sangat tiba-tiba untukmu. Mas memang sudah lama menyimpan rasa cinta padamu Arwaa. Bahkan ketika kamu masih berstatus sebagai istri adik Mas..."
"Saat itu Mas masih bisa memendam perasaan ini. Namun ketika Mas mengetahui perlakuan Aldair padamu, Mas sudah memutuskan untuk memperjuangkanmu Arwaa."
Darah Arwaa berdesir.
Seketika saat-saat kebersamaannya dengan Attalaric dan Hanna berkelebat di pikirannya. Meski tak banyak, tapi selalu meninggalkan kesan yang tak bisa ia lupakan. Hanya saja waktu itu Arwaa masih berpikir jika perhatian yang diberikan Attalaric hanya sekedar perhatian untuk adik iparnya.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Hanya saja Mas ingin kamu memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Sehingga saat Mas datang nanti, Mas dapat mendengar jawaban darimu yang Mas harap adalah jawaban yang bisa membuat Mas dan Hanna bahagia,"
"Kalau begitu Mas tutup dulu ya. Kamu juga pasti lelah, istirahatlah. Mas mencintaimu. Assalamu'alaikum."
Arwaa memandang kosong layar ponselnya setelah Attalaric memematikan teleponnya dengan sepihak bahkan tidak menunggu Arwaa menjawab salamnya.
Yang lebih membuatnya tak bisa berkata-kata adalah ungkapan pria itu yang berhasil membuat hati Arwaa rasanya terbang ke awan. Ini pertama kalinya ia mendengar ungkapan cinta dari seseorang yang terasa sangat tulus.
__ADS_1
Bahkan getaran yang ada di hatinya berbeda dengan saat-saat bersama Mehmet. Entah kenapa perasaan yang ada dalam dirinya saat ini terasa lebih spesial.
***