Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
TAMAT


__ADS_3

Tiga Harta Terbaik


Rasulullah SAW pernah ditanya:


"Ya Rasulullah, harta terbaik apakah yang semestinya kami miliki?" Beliau menjawab: "Hendaklah kamu memiliki hati yang selalu bersyukur, lisan yang banyak dzikir, dan istri shalihah yang membantu suaminya dalam urusan akhirat," (HR. Ibnu Majah no 1517)


___________________________________


Lantunan syukur tak pernah berhenti terdengar dari pria dengan pakaian yang sudah lumayan kusut. Pria itu sejak kemarin sama sekali belum kembali ke rumah, hanya untuk menemani istrinya di rumah sakit.


Padahal dokter telah memberitahu jika keadaan istrinya itu sudah stabil setelah habis dua labu tranfusi darah, hanya tinggal pemulihan pasca melahirkan saja.


"Mas..." Lirih Arwaa masih begitu lemas.


Air matanya menetes karena haru melihat keadaan suaminya yang tak serapih biasanya. Dirinya juga ingat saat tengah melahirkan anak mereka, entah berapa kali Arwaa mencengkram tangan dan menarik rambut suaminya itu.


"Ini sayangku."


Attalaric merapikan rambut istrinya lembut. Begitu besar cinta terpancar di mata pria itu pada kekasih hatinya.


"Maafin aku ya," ujar Arwaa mulai terisak.


"Loh minta maaf kenapa sayang?"


"Aku kasarin kamu pas ngelahirin Baby."


Dihapusnya air mata di pipi Arwaa dan mengambil sebelah tangan Arwaa untuk ia kecup.


"Kamu gak kasarin Mas sayang. Buat Mas itu seperti kamu berbagi rasa sakitmu saat berjuang untuk melahirkan anak kita. Justru Mas pikir, sakit yang Mas rasakan gak sebanding dengan sakit yang kamu rasakan,"


"Jadi seharusnya di sini Mas-lah yang berterimakasih sama kamu karena sudah kasih Mas kebahagiaan dan juga harta yang indah. Kamu, Hanna, dan Miqdar adalah harta terindah dalam hidup Mas," ujar Attalaric.


"Miqdar?"


"Iya, Miqdar Syauqi Arsawijaya. Bagaimana, kamu suka?"


Miqdar Syauqi Arsawijaya nama anak laki-laki mereka yang sebelumnya belum sempat diberi nama karena terlalu khawatir dengan keadaan Arwaa yang belum stabil.


Arwaa mengangguk dan tersenyum lembut pada suaminya.


"Oiya, Paman Jhonny sudah menghubungi Mas, katanya dia akan segera kemari dengan semua yang berada di sana," jelas Attalaric.


"Benarkah? Alhamdulillah kalau begitu, aku juga sudah sangat rindu mereka," ucap Arwaa sambil memperhatikan wajah lelah suaminya.


"Mas... Mas pulanglah dulu dan istirahat. Pasti Mas lelah."


"Nggak sayang. Mas mau di sini aja temani kamu. Lagipula Mas sudah minta tolong Razi untuk bawakan baju, juga perlengkapan kamu dan Miqdar. Kita kan sudah siapkan semua perlengkapan lahiran kamu dan membawanya ke rumah Ibu kemarin," ucap Attalaric mengelus rambut Arwaa.


"Oiya Mas bagaimana keadaan Fani?"


"Alhamdulillah kondisi Fani sudah lebih baik walau sempat pusing saat selesai mendonorkan darahnya. Jadi Aldair membawa Fani pulang dengan yang lainnya. Nanti mereka akan kemari lagi."


Arwaa menghela nafas dan memandang langit-langit ruang inapnya.


"Aku gak tau Mas, kalau tidak ada Fani. Mungkin sekarang aku gak akan bisa lihat kam..."


"Sst! Jangan bicara begitu sayang. Mas mohon. Mas sudah sangat takut sekali tadi malam. Mas tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi," lirih Attalaric menelungkupkan kepalanya di lengan Arwaa.


"Maaf Mas aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku merasa sangat berterimakasih pada Fani atas apa yang sudah diberikan untukku,"


"Qadarullah dengan melewati Fani, Allah beri aku kesempatan untuk bersamamu dan kedua anak kita."


Attalaric mengangguk menyetujui ucapan istrinya. Dia harus segera berterimakasih pada Aldair dan Fani karena telah membantu Arwaa untuk tetap bisa menemani hari-harinya, membesarkan kedua anaknya penuh cinta dan kasih sayang.


***

__ADS_1


"Bunda, Bunda, look. Kiki buka mata!"


Arwaa tersenyum melihat keantusiasan Hanna saat bertemu adiknya. Ya, sekarang sedang ada Bu Hayya, Pak Ahmad, Arrazi, dan Hanna di ruang perawatannya. Sedang Attalaric sedang di dalam kamar mandi, membersihkan dirinya.


"Ganteng ya adekmu!" Ucap Arrazi menggoda Hanna.


"Iya dong Paman. Siapa dulu Kakaknya."


Semua orang terkekeh melihat tingkah Hanna.


Bu Hayya tersenyum melihat suaminya yang tengah menggendong Miqdar, dikelilingi oleh Arrazi dan Hanna.


Perlahan Bu Hayya mendekati Arwaa dan memegang tangannya, "Terimakasih ya sayang karena sudah memberi kebahagiaan untuk kami semua. Terutama Atta dan Hanna," ucap Bu Hayya tulus memandangi Arwaa yang masih terlihat agak pucat.


"Sudah tugas aku Bu, menjadi menantu Ibu dan Ayah, menjadi istri Mas Atta, dan juga Bunda untuk Hanna dan Miqdar."


Mata Bu Hayya mengembun, tapi coba ditahannya agar tak keluar, "Ibu sangat bersyukur kamu bisa melewati semua ini."


"Ibu..." sela Arwaa mempererat pegangan tangannya.


"Aku bisa melewati ini semua semata-mata karena izin Allah. Pun dengan adanya Mas Atta yang ikut menemaniku berjuang. Ditambah dengan kekuatan do'a Ibu dan yang lainnya berikan untukku. Terlebih juga keikhlasan Fani yang mau memberi darahnya untukku."


Pertahanan Bu Hayya pun runtuh mendengar ucapan Arwaa. Terlebih di kalimat terakhir, membuat Bu Hayya merasa begitu bersalah atas perlakuannya terhadap istri Aldair.


Tidak, tidak hanya Bu Hayya yang merasakan itu, tapi Pak Ahmad, dan Arrazi pun merasakan perasaan bersalah pada Fani karena bisa mendengarkan pembicaraan Bu Hayya dengan Arwaa.


Bahkan semenjak Aldair menikahi istrinya yang sekarang, mereka selalu bersikap dingin pada wanita itu. Semua karena masa lalunya yang hampir memecah belah keluarga mereka.


Mereka dibutakan oleh rasa benci dan tak sukanya sehingga tak memperdulikan perasaan Aldair dan istrinya selama ini akan perlakuan dingin mereka, terutama istrinya.


Padahal dapat mereka lihat dan rasakan jika Fani, istri dari Aldair itu benar-benar sudah menyesali perbuatannya. Bahkan Fani sudah meminta maaf pada seluruh keluarga besar Arsawijaya, tapi seakan mereka sengaja menutup kuping dan mata dari kebaikan yang coba Fani lakukan.


Hanya Arwaa. Ya, hanya Arwaa-lah yang terang-terangan menerima kehadiran Fani yang notabenenya adalah wanita yang pernah menjadi duri dan menghancurkan rumah tangganya dengan Aldair. Tapi justru tak pernah mereka melihat benci ataupun dendam pada diri Arwaa.


Suasana di ruangan tersebut berubah menjadi hening. Mungkin keluarga dari suaminya tersebut mulai memikirkan perlakuan mereka terhadap Fani, pikir Arwaa.


Hingga Attalaric yang baru keluar dari kamar mandi, memecah keheningan di dalam situ dengan wajah bingungnya, "Loh kenapa pada diam-diaman begitu?" Celetuknya membuat hampir semua yang berada di sana menghela nafas kecuali Arwaa, Hanna, dan si kecil Miqdar.


"Bukan apa-apa Atta. Kami hanya sedang memikirkan tentang Fani saja. Bagaimanapun juga dia sudah menolong Arwaa," ucap Pak Ahmad memandang bayi tampan di gendongan menantunya.


Attalaric tersenyum kecil dan mendekat ke kasur istrinya. Ia pun mengecup pucuk kepala Arwaa yang sudah tertutupi kerudungnya dan duduk di pinggiran kasur.


"Ayah dan Ibu mau minta maaf dan menerima istri Aldair sebagai menantu?" Tanya Attalaric memandang kedua orangtuanya, dan juga adiknya.


"Itu..."


Terlihat kegamangan pada wajah Bu Hayya, Pak Ahmad dan Arrazi, sampai Arwaa membuka suaranya.


"Tak salah jika Ibu, Ayah, dan Mas Razi memang masih memilik perasaan seperti itu pada istri Mas Al. Tapi untuk memperlakukannya berbeda, itu sangat tidak baik. Terlebih dirinya kini sudah menjadi keluarga kita,"


"Apa yang pernah dilakukannya dulu tidak murni kesalahan dirinya seorang. Bahkan aku pun pasti ada andil pada kejadian saat itu tanpa aku sadari. Begitu pula dengan Mas Al,"


"Tapi bukankah itu semua hanya di masa lalu? Bukankah sekarang kita bisa lebih bahagia lagi dengan mengikhlaskan kepedihan masa lalu? Dengan menghilangkan rasa benci dan memberikan kesempatan kedua untuknya?"


Bu Hayya mulai menangis di pelukan Pak Ahmad yang tengah menatap dalam menantunya. Sedang Arrazi menundukkan kepalanya sambil sesekali menghela nafas.


"Allah sudah memberi kesempatan kedua pada Mas Al dan Fani untuk lebih dekat dengan-Nya. Bertaubat atas kesalahan di masa lalu mereka, dan saling menemani dalam menapaki jalan hijrah yang tak mudah,"


"Mereka mungkin bisa saling menguatkan untuk tetap Istiqomah dalam hijrahnya, tapi mereka juga sangat membutuhkan dukungan dari keluarga. Dari kita semua..."


Keheningan kembali meliputi mereka semua. Bahkan Hanna pun seakan mengerti keadaan di sekitarnya memilih diam dan memainkan tangan adiknya karena Hanna memang berada di atas kasur Bundanya.


Attalaric tersenyum bahagia mendengar ucapan Arwaa. Sangat sulit baginya untuk tidak mengucap syukur atas apa yang telah Allah berikan padanya.


Dia merasa jika dirinya benar-benar sudah memiliki harta yang terbaik dalam hidupnya. Karena semenjak adanya Arwaa dalam kehidupannya. Semua kemudahan senantiasa datang kepadanya. Termasuk kemudahan dalam dirinya untuk tetap beristiqomah dalam hijrahnya.

__ADS_1


Tak menyangka dirinya yang dulu bahkan mengabaikan anak sendiri, selalu meminum minuman keras hanya untuk menghilangkan keterpurukan, dan berada di pergaulan yang begitu bebas di Negara Sam sana.


Sekarang sudah sangat berubah. Dia yang dulu tak peduli dengan kewajibannya sebagai seorang Muslim, sekarang selalu berusaha untuk menunaikannya tepat waktu, bahkan selalu berjamaah di Masjid walau awalnya dengan suruhan sang istri. Melaksanakan sholat malam bersama istrinya, juga sunah-sunah lainnya.


Ya Allah betapa beruntungnya dia karena sudah diberikan pasangan hidup yang selalu mengingatkannya dalam urusan akhirat.


***


'Cklek'


"Assalamu'alaikum..."


Aldair dan Fani terpaku di depan pintu karena suasana hening yang tercipta di dalam ruang tersebut sampai Arwaa dan Attalaric juga Hanna menjawab salam mereka.


"Wa'alaikumsalam. Sini, sini."


Arwaa selalu seperti itu. Begitu dekat dan hangat dengan siapapun, termasuk Fani, wanita yang pernah menjadi bagian kelam dalam masa lalunya.


Dengan canggung Fani mendekat ke arah Arwaa setelah mertua dan adik iparnya bergeser dalam diam.


Aldair menatap Attalaric karena tak nyaman dengan sikap Ayah, Ibu, dan Arrazi yang menurutnya sedikit berlebihan. Pikirnya, mereka tak suka dengan kedatangan Aldair dan Fani.


Tanpa suara Attalaric berucap pada Aldair, "It's okay," ucapnya agar Aldair tak terlalu memikirkan tentang yang tidak-tidak karena menurut Attalaric sebentar lagi orangtua dan adik bungsunya itu akan segera menerima Fani sebagai bagian dari keluarga besar Arsawijaya.


Setelahnya Attalaric mengambil Miqdar dari pangkuan Arwaa dan meletakan bayi mungil itu di dalam box bayinya, "Terimakasih," ucap Arwaa yang hanya dibalas oleh kedipan mata suaminya membuat Arwaa terkekeh kecil.


Namun setelahnya langsung berbalik menatap Fani dan memegang tangannya, "Terimakasih juga untukmu. Tidak tau lagi rasanya kalau sampai tidak ada kamu malam tadi."


Fani tersenyum, "Tidak apa-apa Mbak. Bukankah sesama Muslim harus saling menolong. Terlebih kita juga keluar... Eh, um..." Fani menunduk menyembunyikan kegugupannya karena tanpa sadar berkata seperti itu di depan mertua dan kedua saudara iparnya yang tidak suka dengan dirinya.


Baru Aldair akan mendekati istrinya, tapi kalah cepat dengan Bu Hayya yang langsung berdiri di sisi Fani dan juga ikut memegang tangannya.


"Iya, kita keluarga," lirih Bu Hayya membuat Fani seketika mengangkat kepalanya dan menatap tak percaya pada Ibu mertuanya.


Begitu juga Aldair yang seakan terkejut dengan pemandangan yang telah lama ia harapkan, kembali memandang Kakaknya yang hanya dibalas senyuman oleh pria itu.


"Kamu, Arwaa, dan semuanya yang berada di sini adalah keluarga. Maafkan Ayah dan Ibu yang selalu mengabaikanmu selama ini. Padahal kamu juga istri Aldair, menantu kami," Pak Ahmad mengelus kerudung Fani membuat Fani meneteskan air mata bahagia karena akhirnya keluarga suaminya bisa menerima kehadiran dirinya dalam keluarga mereka.


"Ehem... Aku juga minta maaf jika selalu membuatmu tersinggung," ungkap Arrazi agak canggung.


"Terimakasih, terimakasih karena sudah menerimaku menjadi bagian keluarga Ibu dan Ayah," ucap Fani terisak dan memeluk Ibu mertuanya.


Sekali lagi Aldair menatap Kakaknya dan juga Arwaa yang ternyata sedang melihat kearahnya juga.


"Terimakasih," bisik Aldair tak terdengar tapi Arwaa dan Attalaric mengerti sehingga dua orang itu mengangguk dan tersenyum padanya.


***


Pada akhirnya segala kesalahan di masa lalu bisa termaafkan dengan adanya keikhlasan dalam hati.


Setiap orang pastilah memiliki khilafnya, tapi tak menutup juga adanya kesempatan kedua untuk mereka yang benar-benar bertaubat pada-Nya.


Arwaa yang dulu selalu berpikir jika dirinya adalah Pengantin Yang Terbuang pun sekarang mendapatkan bahagianya sendiri atas kesabaran dan keikhlasan yang senantiasa ia pupuk dalam hati.


Dengan diberikannya pasangan hidup yang selalu memperlakukannya dengan baik dan penuh cinta membuat Arwaa merasakan bahagia dan cinta yang terus tumbuh setiap harinya.


♥️ TAMAT ♥️


Maaf loh ya kalau gak nyambung endingnya, tapi semoga aja para reader puas dengan cerita PYT ini.


...Terimakasih juga udah nemenin author di sini. Kalau mau baca cerita ² author yang lainnya, yuk mampir di lapak merah muda 🥰...



Baby Miqdar Syauqi Arsawijaya 💕

__ADS_1


__ADS_2