
Arwaa menutup mulutnya. Ia begitu terkejut saat seseorang langsung memukul Marius hingga membuat pria itu jatuh tersungkur.
Seba, dia merasa curiga melihat pintu apartemen Arwaa yang terbuka lebar malam begini. Karena itulah dia berniat mengecek keadaan dari keponakan temannya, Jhonny.
Mengabaikan rasa tak sukanya pada Arwaa, Seba langsung berlari dan memukul pria yang sedang memojokkan Arwaa. Bagaimanapun juga sudah tugasnya melindungi masyarakat dari kejahatan.
"Ada apa ini?"
Grace menatap bingung pemandangan kacau di apartemen Arwaa sesaat ia keluar dari kamar Arwaa. Dia baru saja menyelesaikan urusannya di dalam toilet karena hari ini dia sedang diare, efek normal dari penggunaan feeding tube.
"What the he*k Marius, jangan bilang kau yang membuat kekacauan ini?!" Sungut Grace menatap kesal sepupunya yang masih terduduk di lantai.
"It's okay Grace, hanya ada sedikit kesalahpahaman tadi," ucap Arwaa mendekati Grace dan menenangkannya.
"Kesalahpahaman apanya? Sudah jelas pria itu mau memukulmu Arwaa. Jika kau bersikap seperti ini bisa saja aku menghubungi Pamanmu," dengus Seba kesal.
Mata Grace membulat saat mendengar jika sepupunya itu hampir memukul Arwaa.
"ARE YOU CRAZY?! Kenapa kau melakukan itu, kau mau melukai sahabatku hah?!!" Pekik Grace menatap nyalang Marius.
Sedang pria itu terkekeh kecil sebelum kembali berdiri dan mengelap sedikit darah di ujung bibirnya karena pukulan Seba tadi.
"Melihatmu seperti ini sepertinya aku jadi menyetujui apa kata Ibumu tentang kau adalah anak yang bodoh. Bagaimana tidak, sudah banyak orang menyakitimu dengan berpura-pura menjadi temanmu. Sekarang kau malah terjebak lagi di lubang yang sama,"
"Tidakkah kau mengerti Grace jika dia juga hanya ingin memanfaatkanmu saja, sama seperti teman-temanmu sebelumn..."
'Plak'
Marius terdiam begitu Grace menampar pipinya. Dengan nafas yang tersengal-sengal Grace menatap sepupunya itu menantang.
"Kau tidak mengerti Marius. Arwaa berbeda, dia penyelamatku, dia yang mengerti aku, dan dia juga yang selalu menenangkan hatiku. Jikapun memang Arwaa menginginkan harta, dia tidak perlu memanfaatkanku untuk mendapatkannya karena dia adalah keponakan dari Tuan Jhonny Lau Dodger. Kau tahu betul siapa dia," tekan Grace membuat Marius menatap tak percaya ke arah Arwaa.
Arwaa sendiri hanya memandang perdebatan Grace dan sepupunya, sedang Seba mendengus kesal dan memilih pergi setelah dia mengingatkan Arwaa untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.
__ADS_1
Arwaa sedikit kagum pada Seba karena meski pria itu tidak menyukainya tapi dia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Pantas saja Paman Jhonny, Emma, bahkan Susan dan Tommy pun mengatakan jika Seba memang kelihatannya saja menyeramkan juga menyebalkan, tapi dia sebenarnya orang yang lembut dan penuh perhatian.
***
"Jadi kau benar keponakan Tuan Jhonny?"
Entah sudah yang keberapa kali Marius menanyakan hal itu pada Arwaa, bahkan Grace pun sampai kesal dibuatnya.
Arwaa hanya menghela nafas dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kau yakin tentang itu? Karena setahuku Tuan Jhonny hanya punya satu keponakan laki-laki, kalau tidak salah Sean naman... OUW!! GRACEE!!" Pekik Marius saat Grace menekan luka di bibirnya yang sedang ia obati.
"Kau terlalu banyak tanya. Bukankah Arwaa sudah menjawabnya dari tadi, dia memang keponakan dari rekan bisnis Paman Marco, Ayahmu."
Tatapan Marius membuat Arwaa merasa risih sehingga dia permisi lebih dulu untuk ke kamar setelah memberitahu Grace bahwa gadis itu bisa tinggal jika memang ingin menginap, tapi dengan syarat Marius pergi karena Arwaa tidak menerima tamu lelaki kalau tak ada mahramnya.
Sedang pria berambut pirang tersebut terus menatap punggung Arwaa yang semakin menjauh hingga hilang di balik pintu kamarnya sampai Grace memukul kepalanya.
"Apa yang kau lihat? Mau kutusuk matamu?!" Ujar Grace yang dibalas dengusan sebal oleh Marius.
***
Arwaa sendiri langsung menerima permintaan maaf Grace. Lagipula dia juga mengerti kenapa Marius sampai melakukan hal seperti waktu itu, setelah mendengar cerita Grace, jika Marius adalah satu-satunya keluarga yang care pada dirinya, dan agak protektif, mengingat keadaan Grace yang juga istimewa.
Saat di perjalanan pulang dari kampusnya Arwaa melihat Marius yang sedang duduk di taman dekat gedung apartemennya.
Pada awalnya Arwaa ingin berpura-pura tidak melihat pria itu karena dia pribadi masih merasa kesal dengan tuduhan Marius padanya waktu awal mereka bertemu.
Tapi ternyata Marius yang melihat Arwaa justru langsung memanggilnya dan berlari menghampiri Arwaa.
"Hei, aku sudah menunggumu sejak tadi."
Alis Arwaa bertaut, tak mengerti maksud ucapan Marius. Menunggunya? Untuk apa?
__ADS_1
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bisa kita bicara sebentar di sana?" Tanya Marius menunjuk kursi taman yang tepat berada di bawah pohon rindang.
Dalam hati Arwaa sebenarnya ingin menolak, tapi jika dipikir-pikir, dia tidak mau punya masalah dengan pria berambut pirang ini lagi. Mengingat Marius orang yang mudah marah dan berpikiran negatif, terlebih pada mereka yang dekat dengan sepupunya. Grace memberitahunya beberapa waktu yang lalu.
Jadi mau tak mau Arwaa pun mengangguk dan mengekor di belakang Marius yang berjalan menuju taman.
"Sebelumnya aku ingin minta maaf," ucap Marius begitu mereka duduk.
"Aku terlalu cepat menilai seseorang yang dekat dengan Grace sebagai orang yang memiliki niat jahat pada gadis itu," ia menunduk dan memainkan jari tangannya.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti alasanmu melakukan itu, Grace sudah bercerita padaku. Dan ya, I forgive you. There's no need to worry anymore." [Dan ya, aku memaafkanmu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.]
"Terimakasih. Sekarang aku percaya jika kamu orang yang baik dan tulus berteman dengan Grace. Apalagi melihat perkembangan dirinya sekarang yang sudah mau mencoba makan dan minum secara langsung walau sedikit,"
"Semua karena dirimu, Grace bilang dia selalu tergiur oleh makananmu. Bahkan dia terus menerus memuji masakanmu di depanku," Marius terkekeh mengingat kekonyolan sepupunya saat mereka membicarakan tentang Arwaa.
"Aku sangat senang bisa melihatnya tersenyum lagi seperti sekarang. Kau tahu, sebelum bertemu denganmu Grace tidak pernah berbicara panjang denganku, bahkan memberikan senyumnya pun jarang sekali,"
"Gadis itu sudah seperti adik kandungku sendiri. Aku sangat menyayanginya, mungkin melebihi dari orangtua dan kakak kandungnya. Haa..."
Arwaa memandang Marius saat pria itu menghela nafas berat. Sepertinya memang Grace sangat berarti bagi Marius.
"Hidup gadis itu terlalu berat, bahkan sejak kecil harus menyimpan semua kesedihannya sendiri karena keluarganya sama sekali tidak memperdulikan dia. Denganku pun meski kami dekat tapi dia tetap tidak membuka dirinya, berbeda jika denganmu. Dia berani menceritakan tentang dirinya dan juga keluarganya padamu,"
"Dia bilang kamu seperti malaikat yang datang untuk menolongnya. Hidupnya berubah menjadi lebih penuh warna ketika mengenalmu."
Marius tersenyum lembut dan menoleh ke arah Arwaa membuat Arwaa menolehkan pandangannya ke arah yang berlawanan karena dia merasa risih dengan tatapan Marius.
"Jadi aku juga penasaran. Apa jika dengan mengenalmu lebih dekat, hidupku akan menjadi penuh warna seperti apa yang dikatakan Grace. So wanna go out with me? I want to know you more, and I don't mind about your belief." [Jadi mau berkencan denganku? Aku ingin mengenalmu lebih jauh, lagipula aku tidak masalah dengan keyakinanmu.]
Arwaa terhenyak mendengar itu. Dirinya bingung harus jawab apa. Grace dan Marius berbeda, tidak mungkin dirinya berteman dekat atau bahkan sampai berkencan dengan Marius karena sejak dulu Arwaa memang tidak pernah terlalu akrab dengan pria yang bukan keluarganya dan dia juga tidak berpacaran.
"Grace cepatlah pulang," batin Arwaa gelisah. Jika dia menolaknya Arwaa takut Marius tersinggung dan kembali marah-marah.
__ADS_1
What to do?
***