Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Teman Baru


__ADS_3

Hiruk pikuk di Kota Calgary sudah mulai menjadi pemandangan sehari-hari bagi Arwaa. Dia yang sebelumnya sedikit khawatir ketika Paman Jhonny meninggalkan dirinya sendiri, tapi sekarang semakin terbiasa. Apalagi para tetangga apartemen yang ramah, juga perhatian.


Ya, kecuali Seba, dan Eric.


Dengan Seba dan Eric, Arwaa memang agak mengerti alasan kedua orang itu selalu sinis jika bertemu dengannya. Seba, dia memang punya pemikiran yang agak buruk tentang seorang Muslim setelah kematian saudaranya akibat dari serangan 11 September 2001, di New York City dan Washington DC. Begitu yang Emma ceritakan ketika Arwaa mengeluhkan sikap Seba yang berubah, apalagi setelah Paman Jhonny pergi. Padahal sebelumnya pria itu cukup friendly padanya.


Sedang Eric, dia tak suka karena Arwaa yang selalu menjaga jarak dengannya. Bukan sombong atau apa, tapi menurut Arwaa pria itu memang hanya ingin bermain-main dengannya.


Bahkan Eric sampai mengatai dirinya sok suci ketika Arwaa menolak ajakan kencannya beberapa waktu yang lalu, dengan membanding-bandingkan jika banyak wanita Muslim yang memiliki hubungan sebelum pernikahan.


Meski begitu Arwaa tetap berusaha ramah pada Seba dan Eric karena bagaimanapun mereka adalah tetangganya. Orang-orang yang mungkin akan ia mintai pertolongan jika terjadi sesuatu. Terlebih jika mengingat kalau Seba adalah seorang polisi.


Selain itu Arwaa pun bertemu Grace, dia adalah tetangga depan apartemen Arwaa. Pertemuan pertama mereka sebenarnya di kampus saat Arwaa menolong Grace ketika gadis itu di bully.


Arwaa pikir di negara ini tidak ada pembulian seperti yang biasa terjadi di negara kelahirannya. Tapi ternyata dia salah, justru pembulian di sini lebih parah, dan yang membuat Arwaa tak habis pikir adalah orang-orang sekitar yang menyaksikan tidak ada yang mencoba menghentikan itu.


Jika saja Arwaa tidak datang menghentikan 3 orang gadis yang membuli Grace bisa saja mereka menarik feeding tube milik gadis itu.


Ya, Grace dia agak istimewa karena harus memakai feeding tube atau nasogastric tube untuk memasukan nutrisi atau makanan dan obat-obatan yang ia butuhkan.


Setelah kejadian itu mereka menjadi dekat, apalagi mereka adalah tetangga. Dari yang diceritakan Grace, sebelumnya dia pernah mengalami pendarahan lambung karena kesulitan menelan makanan akibat dari trauma akan pembulian yang dilakukan keluarga dan teman-teman sekolahnya karena dulu katanya dia adalah anak yang gendut.


Makanya ia memerlukan pemasangan nasogastric tube/feeding tube. Proses ini dikenal sebagai intubasi nasogastrik (NG). Selama pemasangan alat ini, dokter atau perawat akan memasukkan tabung plastik tipis melalui lubang hidung, kemudian turun ke kerongkongan dan ke berujung di dalam lambung. Setelah tabung ini dipasang, mereka dapat menggunakannya untuk memberi pemakainya makanan dan obat-obatan yang mereka butuhkan.


Arwaa hanya mengatupkan bibir selama Grace menceritakan tentang kesedihannya, mencoba untuk mengerti dan manafakuri segala sesuatu yang telah terjadi di hidupnya ternyata tidak seburuk yang harus dilewati Grace.


Gadis berumur 22 tahun itu memang mudah sekali naik berat badannya, meski hanya makan sedikit. Ditambah katanya dia sangat berbeda dengan anggota keluarganya yang bisa dibilang memiliki wajah yang rupawan, dan otak yang encer.


Ibunya seorang pembawa acara. Ayahnya seorang pengacara handal yang dipercaya banyak orang. Dan Kakak perempuannya seorang model yang terkenal. Sedang dirinya hanya anak terakhir yang sama sekali tak orangtuanya harapkan, terlebih wajah dia sedikit berbeda dengan keluarganya karena hanya dirinya yang memiliki freckles.


Karena itulah dirinya selalu gelisah dan tidak percaya diri setiap saat. Dan lama-kelamaan diapun jadi enggan untuk makan, sekalinya makan pastilah akan muntah-muntah. Itulah kenapa sekarang dia menggunakan feeding tube agar tetap ada nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya setelah sebelumnya dia harus dirawat hampir sebulan karena kekurangan gizi.


Darah Arwaa berdesir. Betapa hebatnya gadis yang lebih muda 2 tahun dari dirinya ini. Bisa sekuat ini menghadapi cobaan hidup yang begitu berat.


Begitulah awal mereka menjadi sahabat. Tak jarang mereka juga berangkat bersama ke kampus ketika memiliki jadwal yang sama. Grace juga selalu menginap di tempatnya.


"Aku bisa tidur nyenyak jika di tempatmu Arwaa. Apalagi saat kau membaca kitab sucimu, tenang sekali hatiku rasanya," begitu yang ia katakan.


Arwaa senang mendengar itu. Dia berharap Allah pun akan menurunkan hidayah pada sahabatnya itu suatu saat nanti. Melihat bagaimana Grace sangat penasaran tentang segala sesuatu yang berhubungan tentang Islam.


***


Drrt... Drrt...


Arwaa menengok ponsel Grace yang ada di atas meja makan.


'Marius', nama yang terpampang di layar ponsel sahabatnya itu.


Arwaa bingung, haruskah dia mengangkatnya karena Grace sedang di kamar mandi.


Yasudahlah daripada dibilang lancang nantinya, Arwaa pun mengetuk pintu kamar mandi.


"Grace ada yang menelpon," ucap Arwaa setelah suara air di kamar mandinya berhenti.


"Siapa?" Teriak Grace dari dalam membuat Arwaa terkekeh kecil.


"Marius."

__ADS_1


"Oh, kamu angkat saja. Dia sepupuku, bilang saja padanya aku sedang poop."


Arwaa menggaruk kepalanya bingung. Sedekat apapun Arwaa dengan Grace, dia belum pernah bertemu ataupun berbicara dengan anggota keluarganya yang lain.


Dengan sedikit ragu Arwaa menyentuh tombol hijau di layar ponsel Grace.


"Hal..."


"GRACE KAMU DIMANA? KENAPA TAK ADA DI RUMAH MALAM BEGINI. JANGAN BERTINDAK BODOH LAGI!!"


Arwaa menjauhkan ponsel Grace begitu orang di seberang berteriak membuat telinga Arwaa sedikit berdenging.


"Grace... Grace... HALLO! Kau di sana kan?! Hei jawab aku!!"


Arwaa kembali menempelkan ponsel Grace ke telinganya begitu mendengar si penelepon berbicara lebih pelan.


"Hallo..."


Diam sejenak. Tak ada sahutan dari si penelepon.


"Um... Hi, aku Arwaa teman Grace. Grace sedang di toilet, jadi dia tidak bisa mengangkat teleponmu..."


"Kalian dimana?"


Suaranya terdengar begitu dingin cukup membuat Arwaa bergidik.


"I... Itu, di tempat sa..."


"Dimana?!"


Arwaa menggerutu kesal karena sedari tadi ucapannya terus dipotong.


'Tut'


Arwaa menatap tak percaya layar ponsel Grace yang sudah mati itu. Tidak sopan sekali sepupunya Grace.


'Tiiing...'


Suara bel apartemen Arwaa berbunyi. Dengan menghentakkan kakinya ia pun menuju ke depan setelah ia mengenakan kerudung instannya yang digantungkan di kursi.


Sudah dapat Arwaa perkirakan siapa orang yang membunyikan bel apartemennya. Sedikit mengambil nafas, menenangkan diri agar bisa menyambut tamunya dengan ramah meski sebenarnya hati Arwaa menggerutu kesal. Bagaimanapun juga tamu harus dihormati bukan?!


'Cklek'


Seorang pria berperawakan besar dan tinggi, berdiri dengan alis yang bertaut memandang Arwaa dari depan pintu. Ia memperhatikan cara berpakaian Arwaa yang bisa dibilang cukup asing untuknya.


Sedang Arwaa sendiri sempat terpesona dengan ketampanan pria yang ada di depannya ini. Dengan alis yang tebal, rambut pirangnya, rahang yang tegas, dan mata yang bisa membuat siapapun yang melihatnya seolah terhisap ke dalamnya.


Astaghfirullah!


Arwaa berjengit. Ia langsung menggeleng, menyadarkan dirinya. Hampir saja ia tergoda oleh bisikan syaitan untuk terus menikmati keindahan salah satu ciptaan Tuhan yang sudah jelas tidak boleh.


Allahuakbar... Allahuakbar...


"Kau teman Grace?" Tanya pria itu membuat Arwaa mendongak menatapnya, tapi seketika kembali menundukkan kepala.


Dahi pria berambut pirang itu berkerut mendapati sikap Arwaa yang menurutnya aneh. Tapi tak ia pedulikan karena dirinya langsung menerobos masuk setelah berucap jika Grace sedang ada di apartemen Arwaa.

__ADS_1


"Berarti dia di sini!"


Arwaa mencebik melihat pria yang sepertinya sepupu Grace masuk begitu saja ke apartemennya, padahal belum ia persilahkan.


Matanya membulat saat melihat pria yang ia ketahui bernama Marius dari nama yang tersimpan di ponsel Grace itu mau membuka kamar Arwaa.


"Hei!" Teriak Arwaa langsung berlari dan menahan tangan Marius yang mau membuka kamarnya.


"Kenapa kau tidak sopan sekali. Main menerobos ke apartemenku dan sekarang hendak masuk ke kamarku," seru Arwaa menyingkirkan tangan Marius dari gagang pintu kamarnya.


"Kau pikir aku percaya."


"Apa?"


Arwaa menatap heran pria berambut pirang tersebut.


"Kau bilang dirimu temannya Grace bukan?!"


"Aku memang temanny..."


"Bullsh*t!"


Tangan Arwaa mengepal. Apa maksud dia sampai mengumpat seperti itu.


"Kau adalah orang kesekian yang mangatakan jika diri mereka adalah teman sepupuku. Nyatanya yang mereka lakukan hanya memanfaatkan dan menyakiti Grace,"


"Jadi apa tujuanmu mendekatinya? Uang? Hah baiklah aku akan memberikannya untukmu asal kau tidak mengganggu Grace lagi!"


Arwaa membuang nafas kesal dan memejamkan matanya sejenak sebelum ia menatap sepupu dari sahabatnya itu tajam.


"Alright, kamu ingin bertemu Grace bukan? Kalau begitu silahkan keluar dan tunggu sepupumu itu di apartemennya. Aku akan langsung meminta Grace menemuimu setelah dia menyelesaikan urusannya di toilet. Ok?!"


"Pintu apartemenku masih terbuka lebar. Silahkan pergilah dulu karena aku tidak menerima tamu kurangajar seperti mu," tekan Arwaa dengan tangan yang mempersilahkan sepupu Grace itu keluar ✋🏻.


Arwaa menghela nafas melihat Marius yang hanya diam di tempatnya dengan sorot mata yang menusuk ke arahnya.


"Come on, follow me. In case you can't find the way out, I'll guide you!" [Ayo, ikuti aku. Jika kamu tidak bisa menemukan jalan keluarnya, biar kutunjukkan!] Sarkas Arwaa menggendikkan kepalanya agar Marius mengikutinya menuju pintu apartemen.


Baru saja Arwaa berjalan beberapa langkah membelakangi Marius, pria itu tiba-tiba langsung menarik tangannya dan mendorong Arwaa hingga ke dinding, dan Marius mengurung Arwaa dengan kedua tangannya.


Susah payah Arwaa berusaha mengalihkan wajahnya supaya tidak bersentuhan dengan wajah Marius yang hanya 5 cm di depannya.


Dalam hatinya Arwaa tak henti merapal do'a dan beristighfar agar bisa menghadapi cobaan ini. Tak boleh dirinya menjadi lemah dan menyusahkan orang lain. Terlebih Paman Jhonny.


"Sepertinya kau tidak mengenalku hum?! Baru kali ini orang yang mengaku sebagai teman Grace berani memperlakukanku seperti tadi."


Sebelah alis Arwaa terangkat dan tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan ketakutannya. Tak boleh sampai pria itu melihat dirinya sebagai wanita lemah. Sudah cukup banyak kerikil kehidupan yang bisa membuatnya berdiri sendiri.


"Tentu saja aku mengenalmu," sahut Arwaa menjeda kalimatnya.


"You're someone who need oxygen to live, like me and everyone else on this world. Am I right?!" [Kau adalah orang yang membutuhkan oksigen untuk hidup, seperti aku dan semua orang di dunia ini. Benar kan?!]


Arwaa menjawab begitu semata-mata hanya ingin menunjukan pada pria itu jika bagi Arwaa tak ada yang perlu ditakuti ataupun disegani selain Sang Pencipta.


Namun sepertinya jawaban yang diberikan Arwaa malah membuat Marius semakin tersinggung, sampai ia mengangkat sebelah tangannya hendak memukul dinding berniat membuat Arwaa takut.


"Aaaa....!"

__ADS_1


***


__ADS_2