
Hati Aldair terasa begitu panas mendengar apa yang dikatakan kakaknya.
Hah jodoh katanya? Enak saja!
Aldair memang berpikir untuk segera menceraikan Arwaa tapi jika sudah begini, dirinya justru semakin merasa tertantang. Belum lagi bendera perang yang dikibarkan kakaknya, membuat dirinya menjadi enggan untuk melepas sang istri.
"Aku menarik kata-kata ku..."
"Aku tidak akan menceraikan Arwaa."
Aldair menatap tajam punggung Attalaric yang menghentikan langkahnya ketika mendengar apa yang dia katakan. Perlahan sang kakak berbalik dan juga menatap tak kalah tajam kearahnya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada jalangmu yang sedang hamil itu? Menelantarkannya? Membiarkannya mengemis di jalanan sambil menggendong anak kalian? Ck tidak bertanggungjawab sekali."
Tangan Aldair mengepal, wajahnya pun memerah karena marah atas cacian sang kakak pada kekasihnya, dan ibu dari calon anaknya.
Aldair memejamkan matanya dan mengambil nafas panjang. Berhadapan dengan Attalaric butuh kesabaran ekstra karena pria itu sangat ahli dalam memainkan kata hingga mudah sekali memancing emosi orang.
Aldair menyeringai seakan merendahkan sang kakak.
"Kenapa kau berpikir sejauh itu kak? I'm not you! Seorang ayah yang menelantarkan anaknya sendiri sehingga anakmu mencari kasih sayang dari orang lain."
Aldair tersenyum licik melihat sang kakak mengepalkan tangannya.
"Aku tidak akan menceraikan Arwaa dan aku juga tidak akan menelantarkan kekasihku karena aku akan segera menikahinya. Tidak masalah bukan? Aku bisa berpoligami."
Sekarang Aldair yang terlihat tenang seolah telah memenangkan peperangan di antara mereka. Dengan santai dia melangkah mendekati kakaknya yang terlihat sangat murka.
Baru saja dia akan membisikkan sesuatu seperti yang Attalaric lakukan tadi, tubuhnya dibalikkan paksa oleh seseorang yang tak lain adalah adiknya.
'Bugh'
Arrazi memukul wajah kakaknya membuat pria itu tersungkur.
"Poligami katamu? Kau pipis saja belum lurus br*ngs*k, sekarang kau ingin berpoligami? Jawab aku, apa selama pernikahan kalian, kau sudah berlaku adil pada istrimu? Tidak, bukan. Kau bahkan tidak datang ke pemakaman mertuamu. Kau juga menutup komunikasi beberapa hari ini karena tak ingin terganggu waktu berhargamu dengan si ****** itu, membiarkan istrimu dirundung kesedihan karena kematian ayahnya sendirian! Kami memang ada disana, menenangkannya, menghiburnya, tapi asal kau tahu, dirimu lah orang yang paling dibutuhkannya b*jing*n!"
Arrazi menendang angin, melepas amarahnya.
"Asal kau tahu saja, dirimu jauh dari kata adil untuk dapat berpoligami. Jika kau memaksakan, kau akan berakhir mendzolimi istrimu. Karena aku yakin mbak Arwaa lah yang paling terdzolimi ketika kau tidak menceraikannya. Jangan menambah dosamu yang sudah menggunung kakak."
'Cih'
Aldair meludahkan darah dari bibirnya yang terluka karena bogem mentah yang dihadiahkan adiknya. Ditatapnya tajam wajah kedua saudaranya.
Selama hidupnya dia tidak pernah bertengkar sampai seperti ini dengan saudara-saudaranya. Mereka memang jarang berkumpul bersama karena kesibukan masing-masing, namun mereka tentu selalu meluangkan waktu untuk saling memberi kabar melalui via telepon.
Mereka baik-baik saja. Ya, mereka saling menyayangi...
Sebelum sosok Arwaa datang menjadi menantu di keluarga Arsawijaya!
Aldair mengatupkan bibirnya, dia tidak peduli dengan luka yang ada disana karena pukulan dari adiknya itu. Perasaan benci menguar didalam dirinya terhadap sang istri.
Perlahan Aldair berdiri, tangannya mengepal erat.
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang dilakukan wanita itu sehingga membuat kalian mati-matian membelanya bahkan sampai rela bertengkar denganku yang notabenenya keluarga kalian sendiri hanya untuk orang asing sepertinya. Asal kalian tahu wanita itu adalah pembawa si..."
"Kalau begitu ceraikan aku!!"
Ketiga bersaudara tersebut seketika menoleh kearah pintu masuk, terlihat disana ada Arwaa yang sedang menahan tangan sang paman agar tak kehilangan kendali atas kata-kata yang diucapkan suaminya.
Arwaa menoleh pada pamannya, tersenyum lembut dan menggeleng seolah mengisyaratkan agar pamannya tidak terbawa emosi.
Arwaa berusaha terlihat tenang seolah-olah ucapan sang suami sama sekali tidak mempengaruhi hatinya. Meski begitu, siapapun yang melihat dirinya akan mendapati kepedihan dan kekecewaan dimata teduh itu.
Perlahan Arwaa melepaskan pegangan tangannya pada sang paman dan melangkahkan kakinya mendekati pria yang hampir dua tahun ini menjadi suaminya.
Sekarang pasangan suami istri tersebut berhadapan dan saling memandang mendalami arti perasaan yang tergambar dalam netra masing-masing.
Organ kehidupan dalam diri Aldair berdegub kencang saat melihat mata teduh istrinya. Disana dirinya melihat ada kerinduan, namun lebih besar pancaran kesedihan dan kekecewaan.
Seketika rasa sesal menyeruak dalam hatinya mengingat perkataan yang diucapkan tentang sosok wanita dihadapannya ini.
Dirinya tak bisa menampikan jika nama sang istri telah menempati sedikit tempat dalam hatinya, bersamaan dengan sosok sang kekasih hati.
"Ma..."
"Ceraikan si orang asing ini mas, agar tidak ada lagi kesialan dalam hidupmu."
Tubuh Aldair menegang tatkala mendengar kalimat yang diucapkan Arwaa. Perasaan benci yang tadi bergejolak dalam hatinya pada sang istri kini menghilang dan berganti menjadi keengganan untuk melepas sosok wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Tidak." Tegas Aldair.
"Menjilat ludah sendiri heh!" Ledek Arrazi.
Seolah tak peduli lagi dengan siapa pun, Aldair tak mengalihkan pandangannya dari sang istri barang seinchi. Arwaa memandang sendu wajah suaminya.
"Mas..."
"Jadi kau suami keponakan saya?"
Aldair mengalihkan pandangannya pada pria yang tadi datang bersama istrinya.
"Saya ayahnya!"
Aldair mengernyit, bukankah mertuanya baru saja meninggal beberapa waktu lalu.
"Ayah mertua sudah mening..."
"Bagaimana kau tahu? Kau bahkan tidak menyaksikan pemakaman mertuamu." Sarkas Paman Jhonny.
"Hanya demi wanita yang sedang mengandung anakmu. Dan... setahuku wanita itu bukan putriku!"
Paman Jhonny melangkahkan kakinya mendekati Arwaa dan dia menarik tangan keponakannya untuk menjauh dari Aldair.
Mata Aldair berkilat marah menatap sosok asing yang menyembunyikan Arwaa dibalik tubuhnya.
"Sejak awal saya tidak berniat untuk membawa Arwaa kemari, hanya saja saya tak sampai hati melihat putri dari mendiang kakak saya menangis semalaman mengkhawatirkan keadaan suaminya yang justru malah sedang mencaci maki dirinya."
__ADS_1
Paman Jhonny membalas tatapan suami dari keponakannya itu datar sebelum kemudian ia menyeringai dan mengulurkan tangannya pada Aldair.
"Perkenalkan saya Jhonny Lau Dodger. Kakak dari mendiang ibu istrimu, dan sekarang menjadi orang yang bertanggungjawab atasnya setelah ayahnya meninggal."
Aldair menghiraukan uluran tangan dari Paman Jhonny membuat pria dihadapannya itu menarik kembali tangannya.
"Pantas saja kamu diperlakukan seperti itu sayang. Suamimu bahkan tidak bisa menghormati orang yang lebih tua darinya."
"Paman..." Lirih Arwaa menggoyangkan lengan Paman Jhonny agar pria baya itu berhenti memancing emosi suaminya.
"Baiklah maafkan paman."
Paman Jhonny mengelus kepala keponakannya yang tertutupi hijab sebelum kembali memandang Aldair. Sedangkan pria itu sejak tadi hanya bergeming mencoba mencuri pandang pada istrinya yang terhalangi tubuh besar Paman Jhonny.
"Keputusan saya sepertinya semakin bulat untuk membawa Arwaa pergi ke Canada setelah melihat sendiri bagaimana sosok suami dari keponakan saya ini. Untuk itu, Pak Ahmad..."
Paman Jhonny berbalik dan menatap mertua dari keponakannya yang tadi turun karena mendengar keributan di ruang keluarga, masih dengan menyembunyikan Arwaa dari jarak pandang suaminya.
"Saya ingin berterimakasih pada keluarga anda karena telah tulus menyayangi dan menjaga keponakan saya, tapi tentu saja tidak dengan pria yang ada dibelakang saya."
Paman Jhonny terkekeh kecil atas humornya sendiri, meski orang-orang yang ada diruangan itu hanya fokus menunggu kelanjutan ucapannya.
"Tapi seperti yang saya katakan tadi, saya akan membawa Arwaa pergi ke Canada, dengan atau tanpa izin dari suaminya." Tegasnya.
Namun siapa sangka, semua orang yang berada disana terkejut karena Aldair dengan tiba-tiba membalikkan tubuh paman dari istrinya itu dan melayangkan pukulan pada wajahnya.
Paman Jhonny sedikit terhuyung karenanya meski tak sampai jatuh tapi hal itu membuat Aldair bisa menggapai tangan Arwaa dengan mudah dan dia menarik istrinya dengan paksa untuk pergi dari tempat itu.
Seperti kesetanan, Aldair mendorong Arrazi dengan keras hingga adiknya itu terjatuh, begitu pula Attalaric yang mencoba menghalangi jalannya, dihadiahkan tendangan diperutnya membuat pria itu tersungkur hingga terbatuk-batuk.
Sesaat dia menatap sang ayah yang terlihat memancarkan kemarahan dan kekecewaan dimatanya dengan tangan yang memegang dada, sepertinya penyakit yang dideritanya kambuh karena Aldair.
Arwaa pun sejak tadi terus berusaha melepaskan cengkraman Aldair dipergelangan tangannya, namun tidak membuahkan hasil karena yang ada tangannya semakin terasa sakit saking eratnya cengkraman tangan suaminya itu.
"Mas lepas mas, istighfar!"
"Diam kamu!!"
Arwaa tersentak mendengar bentakan Aldair. Meski selama ini suaminya selalu bersikap dingin padanya, tapi tidak pernah sampai membentak Arwaa seperti itu.
Aldair mendorong tubuh istrinya masuk kedalam mobil dengan kasar. Dan setelahnya dia pun menutup pintu mobilnya dengan keras.
Arwaa semakin ketakutan melihat suaminya dikuasai oleh amarah. Bahkan suaminya itu menjalankan mobil seakan-akan ingin menjemput ajal. Sepanjang perjalanan Arwaa hanya memejamkan mata yang sesekali meneteskan air matanya sembari memegangi pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman suaminya tadi.
Aldair sebenarnya tak tega melihat Arwaa ketakutan seperti itu. Namun hanya dengan begitu dirinya bisa membawa pulang sang istri kembali ke rumah. Dirinya bahkan sudah tidak peduli lagi dengan keadaan keluarganya karena yang terpenting istrinya itu tidak akan pergi kemanapun.
Aldair sendiri bingung kenapa hatinya tiba-tiba tidak ingin kehilangan Arwaa.
Ditambah fakta bahwa Attalaric juga menyukai Arwaa membuat dia semakin yakin untuk mengurungkan niatnya menceraikan sang istri.
🍂🍂🍂
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️
__ADS_1