Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Dilema


__ADS_3

Kedatangan Attalaric yang tiba-tiba cukup membuat kinerja jantung Arwaa bekerja lebih cepat. Jika dulu dirinya biasa saja ketika sedang bersama Hanna dan Attalaric. Sekarang justru Arwaa merasa mereka memang sudah seperti keluarga kecil yang sebenarnya.


Sungguh, Arwaa tak bisa berhenti merutuki dirinya yang terus menerus terlena hanya karena perhatian kecil yang diberikan Attalaric. Sebisa mungkin Arwaa mencoba untuk mengatur ekspresi agar tak begitu terlihat jika pipinya senantiasa memerah tiap kali tak sengaja bertubruk pandang dengan Attalaric. Dia belum boleh terjatuh terlalu jauh hanya karena ungkapan cinta dari mantan kakak iparnya itu.


Sedikit banyak, kalau boleh jujur ada kegetiran di hati terdalam Arwaa karena ketidakhadiran Aldair pada makan malam mereka saat ini. Pria itu memberi kabar padanya jika dia tidak akan kembali ke apartemen hingga esok pagi dengan alasan yang ambigu. Arwaa sendiri merasa bersalah akan kemungkinan jika dirinya telah merusak hubungan kakak beradik Aldair dan Attalaric yang baru saja terjalin kembali setelah kejadian waktu lalu yang juga karena dirinya.


Haruskah Arwaa menyerah sebelum mencoba menjalin bahtera rumahtangga yang ditawarkan mantan kakak iparnya itu? Logikanya menyuruh Arwaa untuk mundur, dia tak ingin lagi menjadi duri dalam keluarga Arsawijaya yang telah tulus menyayanginya semenjak dirinya menjadi istri Aldair, bahkan sampai sekarangpun kasih sayang mereka masih sama, walau dengan status dirinya yang bukan lagi menantu dari keluarga itu.


Namun hatinya pun tak bisa berbohong akan getaran-getaran cinta yang mulai tumbuh sejak Arwaa menyadari akan perhatian yang diberikan Attalaric bukan hanya sekedar perhatian kepada adik iparnya saja. Ditambah dengan ungkapan cinta Attalaric yang berhasil memporak-porandakan tembok tinggi yang telah ia bangun dalam dirinya akan cinta yang baru semenjak perpisahan dia dengan Aldair.


"Ar... waa..."


"Ya...?"


Attalaric dan Bu Hayya terhenyak melihat setetes air mata yang bergulir di pipi Arwaa. Gurat kekhawatiran tergambar jelas pada pasangan ibu dan anak itu.


"You crying?" Tanya Attalaric menyadarkan Arwaa dari lamunan panjangnya tentang keganjalan dalam kehidupan cintanya.


"Ma-maaf. Aku pamit duluan ke kamar Bu, Mas. Assalamu'alaikum."


Arwaa langsung beranjak setelah ia mengelap pipinya yang sedikit basah karena air mata yang seenaknya keluar.


"Wa'a...laikum...salam..."


Hanna memandang punggung Bundanya bingung, lalu menoleh pada Daddy dan juga Neneknya yang terlihat sedang saling berpandangan. Ada sendu yang jelas dalam mata mereka ketika Hanna bertanya, "Bunda kenapa Nek, Dad? Bunda sakit?"


Bu Hayya melemparkan senyum lembut pada sang cucu, "Iya, Bunda lagi gak enak badan. Jadi malam ini Hanna tidur sama Daddy dulu ya biar Nenek obatin dulu Bundanya. Hanna juga kalau sakit kan suka Nenek obatin," bohong Bu Hayya yang langsung diangguki Hanna tanpa banyak bicara lagi.


Dari gelagat Arwaa yang sejak kedatangan Attalaric terlihat menjadi lebih pendiam, begitu juga dengan rona wajahnya yang berubah murung. Bu Hayya berpikir jika Arwaa sedang mengalami dilema sehingga dia butuh waktu untuk menenangkan dirinya karena itulah Hanna ditempatkan dengan Attalaric agar Bu Hayya bisa menjadi tempat curhat Arwaa.


"Hanna abisin makannya ya. Nenek mau obati Bunda dulu," Bu Hayya mengelus rambut cucunya sayang sebelum menoleh pada anak sulungnya dan berbisik, "Ibu akan bicara dengan Arwaa. Kamu temanilah Hanna!"


"Iya Bu," jawab Attalaric, ada setitik ketakutan dalam hatinya akan perubahan sikap Arwaa yang seperti itu. Ia hanya takut jika di akhir perasaannya tidak akan bisa berlabuh dalam hati gadis yang sudah dianggap seperti Ibu sendiri oleh Hanna, putrinya.

__ADS_1


***


Tok... Tok... Tok


"Arwaa, boleh Ibu masuk?"


Arwaa terbangun dari posisinya yang menelungkupkan diri di atas kasur. Matanya merah karena dia memang menangis sejak kembali dari meja makan.


Sejenak dipandanginya pintu kamar dengan nanar. Namun sedetik kemudian Arwaa beranjak dan membukakan pintunya untuk sang ibu, "Masuklah Bu," ucap Arwaa memaksakan senyumnya.


Bu Hayya memandang sendu wajah Arwaa yang terlihat jelas jika dirinya habis menangis, "Terimakasih sayang. Ibu tidur di sini ya. Hanna ingin tidur dengan Daddy-nya," pinta Bu Hayya yang diangguki Arwaa.


"Kamu gak apa-apa nak?" Tanya Bu Hayya begitu mereka duduk di atas tempat tidur.


Arwaa menatap wajah wanita baya yang dihiasi dengan keriput halus, tapi tetap terlihat cantik walau di usianya yang tak lagi muda,"Hmm," gumam Arwaa.


"Apa ini tentang Aldair dan Attalaric?"


"Maaf," cicit Arwaa menunduk. Besar kekhawatiran dalam dirinya kalau kalau dia menjadi penghancur keluarga Arsawijaya.


"Hmm... Aku benar-benar minta maaf Bu, karena kehadiran aku justru membuat ikatan persaudaraan anak-anak Ibu jadi rusak," air mata Arwaa mulai membasahi pipinya lagi membuat Bu Hayya tersenyum iba.


"Jangan bicara seperti itu sayang. Kamu tidak merusak apapun. Apalagi ikatan persaudaraan Attalaric dan Aldair. Mereka sudah cukup dewasa untuk memilih bagaimana mereka berprilaku,"


"Ibu tahu, kenyataan bahwa Attalaric menyimpan rasa padamu tentulah menyakiti Aldair. Tapi apa boleh dikata, dirinya ataupun kita tidak punya kuasa untuk memilih kepada siapa kita jatuh cinta," ujar Bu Hayya membuat Arwaa menatapnya dalam.


"Bukan Ibu memihak salah satu dari kedua anak itu. Bagaimanapun juga keduanya adalah anak-anak Ibu dan Ibu menginginkan yang terbaik untuk mereka. Dulu Ibu dan Ayah menikahkan Aldair denganmu adalah karena kami berpikir jika kamu bisa merubah Aldair menjadi pria yang lebih baik, tapi nyatanya justru dia yang menyakitimu,"


"Sejak dulu Ibu dan Ayah memang tidak mengizinkan anak-anak untuk menjalin hubungan spesial sebelum menikah. Jika pun ada gadis yang mereka sukai, kalau itu Atta dan Razi mereka selalu terbuka pada Ibu, tapi tidak dengan Aldair. Sampai pada akhirnya kami tidak pernah tahu jika anak itu ternyata sudah berhubungan sampai sejauh itu dengan yang bukan muhrimnya, terlebih dirinya telah menikah denganmu," mata Bu Hayya mulai berembun.


"Jika saja Aldair memang mau terbuka dan memberitahu kami tentang perempuan itu. Pastilah Ibu dan Ayah tidak akan menikahkan kalian yang akhirnya malah menjadi kenangan buruk untukmu. Maafkan Ibu dan Ayah yang sudah gagal mendidiknya untuk bisa menjadi Imam yang baik."


Arwaa terenyuh dan memeluk mantan mertuanya,"Ibu apa yang sudah terjadi saat ini bukanlah kesalahan Ibu dan Ayah. Bukankah Ibu bilang tadi jika kita tidak bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta? Begitu pula dengan Mas Genta, dirinya tidak bisa memilih kepada siapa dia ingin memberikan hatinya. Mas Genta yang jatuh cinta pada kekasihnya pun itu hal yang wajar, tapi yang tidak seharusnya terjadi adalah Mas Genta terlalu dibutakan oleh cintanya sehingga melupakan.cinta yang sesungguhnya, yaitu cinta pada Sang Pencipta,"

__ADS_1


"Mas Genta juga tidak pernah memperlakukan aku dengan buruk Bu. Mas Genta sangat baik dan bertanggungjawab. Dan apa yang terjadi ketika aku dibawa pulang olehnya waktu itu adalah karena Mas Genta sedang terkena emosi sesaat saja karena kecelakaan yang menimpa kekasihnya," tutur Arwaa berniat menenangkan mantan mertuanya tapi justru malah membuat hati Bu Hayya semakin sakit dengan kenyataan begitu lembutnya hati Arwaa karena setelah apa yang terjadi padanya karena Aldair, dia tetap membicarakan yang baik tentang mantan suaminya itu.


"Kamu ikhlas menerima apa yang telah diperbuat Aldair padamu nak?"


Arwaa terdiam. Ikhlas? Benar, perkara itulah yang selama ini selalu menghantui dirinya. Jika dibilang sadar, tentu Arwaa sadar dengan semua perkataan baiknya tentang Aldair karena memang Aldair adalah pria yang baik jika saja tidak terlalu dibutakan oleh cintanya pada manusia sehingga lupa ada yang lebih berhak mendapat cintanya.


Saat ini, dengan keadaan seperti ini. Arwaa berada di persimpangan jalan, dimana dirinya harus memilih akan kembali melangkah, tentu dengan perasaan ikhlas akan masa lalunya.


Sejenak Arwaa memejamkan matanya dan tersenyum lembut begitu ia membukanya kembali.


"Inshaallah Bu aku ikhlas. Apa yang telah terjadi di masa lalu akan aku jadikan pelajaran yang berharga untuk kedepannya."


Bu Hayya terlihat lebih tenang dengan senyum kecil yang disunggingkannya.


"Lalu bagaimana tentang Attalaric?"


Arwaa sedikit terperanjat dengan pertanyaan Bu Hayya yang tiba-tiba. Wajahnya tanpa sadar memerah karena perasaan malu yang seketika datang. Melihat itu Bu Hayya tersenyum, "Kamu juga memiliki perasaan yang sama pada anak sulung Ibu nak?"


Arwaa mencoba mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan untuk menenangkan dirinya agar tak salah tingkah. Ditatapnya Bu Hayya dengan sendu seraya berkata, "Aku tak ingin menyakiti Mas Genta dan merusak keluarga Ibu," lirih Arwaa membuat tangan Bu Hayya mengelus lembut kepalanya.


"Sayang, apa yang ditanam itulah yang akan dituai. Sama halnya dengan Aldair. Dia tidak menanamkan cinta padamu tetapi justru kepedihanlah yang ia berikan, maka dari itu dia menuai hasilnya saat ini meski dengan keadaan hati yang sudah condong pada dirimu, tapi itulah yang memang harus ia dapatkan. Mengingat bagaimana dirimu selalu mendukung Aldair dan membelanya meski dia saat itu bersama perempuan lain. Biarlah sekarang dia belajar mengikhlaskan apa yang telah dan akan terjadi karena perbuatannya sendiri. Seperti dirimu bilang agar bisa menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan kenangan," ucap Bu Hayya.


"Attalaric sendiri sudah menyampaikan tentang perasaan dan juga niat baiknya terhadapmu pada semua anggota keluarga, termasuk Aldair."


Bu Hayya tersenyum melihat raut sedih yang masih senantiasa tergambar di wajah Arwaa.


"Sayang, kamu berhak bahagia bersama orang yang kamu cinta. Jangan paksakan dirimu terlalu jauh demi kebahagiaan orang lain. Itu hanya akan menyakitimu," ujar Bu Hayya menghapus lembut air mata di pipi Arwaa.


"Tujuan Ibu yang sebenarnya kemari adalah karena ingin melamarmu untuk Attalaric. Bagaimana sayang?"


Bu Hayya tersenyum. Dirinya sudah begitu yakin dengan keputusannya untuk mendukung Attalaric. Bukan untuk menyakiti anaknya yang lain.


Ia hanya ingin membuat Aldair sadar bahwasanya hidup tidak akan serta merta berjalan sesuai keinginan hati yang bila dipaksakan justru malah akan menyakiti. Maka tak ada jalan lain untuk menenangkannya selain mengikhlaskan diri.

__ADS_1


***


__ADS_2