Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Kehidupan Baru Arwaa


__ADS_3

Attention, please!!


Untuk bab yang berlatarbelakang kan Kanada, anggap saja percakapannya dengan bahasa Inggris ya ☺️


Dan terimakasih atas dukungan kalian sebelumnya πŸ€— πŸ’•


***


Rutinitas Arwaa setiap harinya adalah membantu di toko roti milik Bibi Claire yang merupakan adik dari Catya, alm ibu Arwaa.


Arwaa menjalaninya dengan penuh senang hati karena dirinya memang suka sekali membuat roti dan juga kue-kue kecil. Jika saat di Indonesia, dirinya juga selalu membuatkan kue untuk gadis kecil kesayangannya.


Dia memejamkan mata dan mendongakkan kepala menahan agar air matanya tak menetes. Selalu saja seperti ini, rasa rindu akan tanah air dan keluarganya disana pasti berhasil membuat suasana hatinya kelabu.


Bukan berarti dia tak bahagia disini, hanya saja ya tadi, dirinya harus bisa menyesuaikan dengan tempat dia tinggal sekarang.


Jika kalian penasaran apakah Arwaa mengalami culture shock, jawabannya adalah Ya.


Pertama kali dia menginjakkan kaki di kota terbesar di negara yang terkenal dengan pohon maple ini, dia belum mengetahui perbedaan waktu antara Indonesia dan Toronto, sehingga dirinya kebingungan ketika sudah memasuki waktu sholat. Belum lagi saat itu bulan Desember yang di mana artinya adalah musim dingin.


Arwaa tentu saja terkagum-kagum ketika pertama kali melihat salju tapi dirinya juga di buat beku dan dianjurkan untuk beristirahat total selama seminggu karena tidak terbiasa dengan suhu dingin di sana yang bahkan bisa mencapai minus 40 derajat.


Namun seiring dengan berjalannya waktu dan juga dukungan dari orang-orang terdekat, Arwaa bisa melewati itu semua dengan baik, bahkan dirinya kini mulai fasih berbahasa Inggris dan sedikit bahasa Prancis, karena sebagian masyarakat di Kanada, terutama di kota Montreal menggunakan bahasa Prancis.


Tentu ada kesulitan tersendiri juga sebagai seorang Muslimah di negara yang mendukung pluralisme agama dengan mayoritas penduduknya yang beragama Kristen itu.


Dirinya tak jarang mendapat tatapan sinis dari orang-orang yang bertemu dengannya, belum lagi banyaknya vandalisme yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab pada mesjid-mesjid disana.


Meski begitu banyak juga orang-orang yang ramah padanya, apalagi para pelanggan toko roti bibinya itu yang selalu memberi hadiah kecil berupa sapu tangan, topi rajut, dan syal.


"Arwaa besok berangkat ke masjid Jami Toronto dengan Sean saja, biar sekalian dia mengantarkan pesanan roti dan kue untuk acara komunitasmu."


Arwaa menghentikan kegiatannya yang sedang meng-elap etalase roti.


"Tapi bukankah aku harus bekerja dulu?"


"Tidak apa-apa, kau bibi beri cuti satu hari."


Bibi Claire mengerlingkan sebelah matanya genit membuat Arwaa terkikik geli.


"Mom, stop it! You're already old."


Arwaa semakin tertawa melihat Sean, sepupunya, yang tak lain adalah anak dari Bibi Claire, mengaduh terkena pukulan sang ibu.


"Kau ini, iri saja jika ibu sedang dengan Arwaa."


Rona merah tercetak di wajah Sean, dirinya mendelik tak suka pada sang ibu.


"Jangan bicara yang tidak-tidak Bu," sahut Sean sambil sesekali mencuri pandang kearah sepupunya yang menggelengkan kepala dan tersenyum karena tingkah dirinya dan juga ibunya.


***


Seperti yang kemarin dikatakan Bibi Claire, Arwaa saat ini sedang berada diperjalanan bersama Sean untuk berangkat ke Masjid Jami Toronto.


Di masjid itu sedang diadakan pertemuan silaturahmi untuk para muslim muslimah di Kanada. Dirinya begitu senang hari ini karena bisa berkumpul dengan teman-teman sekomunitasnya. Ya, Arwaa bergabung dengan The Muslim Association of Canada (MAC) yang merupakan salah satu komunitas muslim terbesar di sana.


"Arwaa..."


Arwaa tersenyum melambaikan tangan saat matanya menangkap sosok gadis berkerudung merah berjalan kearahnya bersama seorang pria berjenggot tipis disebelahnya, ketika dia baru saja turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum." Ucap dua orang itu bersamaan.


"Wa'alaikumsalam Naina, Kak Mehmet."


Arwaa tersenyum dan memeluk Naina yang sudah merentangkan kedua tangannya lebih dulu.


"Aku pikir kamu akan datang siang."


"Bibi Claire memberikan cuti, jadi aku bisa datang lebih pagi dan sekalian mengantar pesanan untuk acara hari ini." Jelas Arwaa.

__ADS_1


"Ini siapa?" Tanya Mehmet pada pria disebelah Arwaa.


"Oh, ini Sean, sepupuku. Dan Sean, ini Naina dan Kak Mehmet, temanku." Jelas Arwaa memperkenalkan Sean dengan teman-temannya.


"Hallo."


"Hi."


Arwaa dan Naina tersenyum melihat interaksi dua pria itu.


"Ya sudah kakak dan Sean akan membawa pesanan ini ke aula masjid, kalian masuk duluan saja."


Mendengar itu Naina langsung menarik Arwaa dan melambaikan tangan pada Mehmet dan Sean.


"Iya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Hanya Mehmet yang menjawab salam karena Sean bukan seorang muslim.


***


"Bundaaa...!!"


Arwaa terkejut ketika sepasang tangan kecil memeluknya dari belakang saat dia sedang berbincang dengan teman-teman satu komunitasnya. Perlahan Arwaa menoleh kebelakang dan menutup mulutnya tak percaya melihat sosok gadis kecil yang hampir dua bulan terakhir ini dirindukannya.


"MashaAllah sayang."


Arwaa dan Hanna saling berpelukan erat melepaskan rindu yang telah lama memupuk. Orang-orang disana menatap bingung pada Arwaa, begitu pula dengan Mehmet, karena setahu mereka Arwaa memang belum menikah.


"Bunda Hanna rinduuu..." Lirih Hanna.


"Bunda juga rindu, sangaaat rindu Hanna."


Arwaa mengecup kening Hanna tulus membuat pria yang berdiri tak jauh dari mereka tersenyum bahagia melihatnya.


"Arwaa siapa itu?" Tanya Naina.


"My brother in law's daughter." [Anak iparku.]


Arwaa menjawab dengan bahasa Inggris agar tak membuat Hanna sedih. Dirinya harus berbicara begitu karena tak ingin ada kesalahpahaman.


"She called you mom tho?" [Tapi dia memanggilmu ibu loh?]


"Her mother passed away when she still a baby. So she thought of me as her mother, and I don't mind it, because I love her too." [Ibunya sudah meninggal sejak dia masih bayi. Jadi dia menganggap ku sebagai ibunya, lagi pula aku juga tidak keberatan, karena aku menyayanginya.]


Naina ber-oh ria sebelum matanya membulat menatap Arwaa terkejut karena menyadari sesuatu.


"Wait, Arwaa you married?"


Ah, kakaknya pasti akan patah hati.


Arwaa tersenyum simpul.


"Well, I don't know for sure. Everything just complicated, that's why I'm asking for your parents present. Ada banyak hal yang ingin aku pastikan."


Naina belum bisa merasa lega atas jawaban Arwaa, karena dirinya belum mendapat jawaban yang dia inginkan.


Orangtua Naina dan Mehmet sendiri adalah pengurus masjid Jami Toronto ini. Mereka juga seorang ustadz ustadzah yang selalu memberi kajian-kajian rutin keagamaan setiap minggunya.


"Arwaa, Assalamu'alaikum."


Arwaa menoleh ke belakang melihat kakak dari suaminya itu.


"Wa'alaikumsalam mas."


Arwaa mengangguk sopan yang dibalas dengan senyuman oleh Attalaric.


"Daddy..."

__ADS_1


Hanna merentangkan tangannya meminta gendong pada sang ayah.


"Waah Hanna sudah besar masih suka di gendong Daddy ternyata." Goda Arwaa membuat anak kecil itu bersembunyi dileher Attalaric dan terkikik geli.


"Kenapa mas gak kabari aku kalau mau kemari?" Tanya Arwaa khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada kedua orang itu di kota terbesar di negara penghasil syrup maple.


"Hanna pengen kasih kejutan buat kamu."


Dan tentu dirinya juga...


"Waah kalau begitu kejutan Hanna berhasil dong. Soalnya bunda gak kepikiran Hanna dan Daddy bisa ada disini, padahal kemarin malam waktu Hanna video call bunda, Hanna masih dirumah nenek."


Hanna tersenyum bangga mendengar bahwa dirinya berhasil membuat kejutan untuk sang bunda.


"Tapi bagaimana mas bisa tahu aku disini?"


"Paman Jhonny yang memberitahu."


Arwaa menganggukkan kepalanya mengerti. Dia pun membawa Hanna dan Attalaric untuk duduk di meja yang disediakan, sebelum dia membawa beberapa hidangan disana untuk dinikmati bersama.


Arwaa terkekeh geli melihat keponakan Aldair yang menikmati makanannya dengan begitu lahap.


"Hanna sempat kena jetlag jadi nolak untuk makan karena mual. Dan Alhamdulillah akhirnya disini dia mau makan, mungkin karena ada bundanya juga ." Ucap Attalaric ambigu.


Sedang Arwaa hanya tersenyum simpul mendengarnya.


"Ayah, Ibu, dan Mas Razi, apa kabar mas?"


"Alhamdulillah mereka baik, tapi ya ibu kadang-kadang suka nangis kalau ingat kamu."


Wajah Arwaa berubah sendu. Tentu bukan hanya ibu mertuanya saja yang merindu, karena dirinya pun merindukan semua hal yang ada di tanah air.


"Padahal hampir setiap hari loh ibu itu video call aku sama Hanna." Ucap Arwaa memaksakan senyum padahal dia ingin menangis. Ih, cengengnya.


"Ya, namanya juga terlanjur sayang."


Aku juga...


Arwaa tertegun mendengarnya dan sejenak memandang Attalaric yang juga sedang tersenyum lembut kearahnya membuat dia seketika memalingkan wajah.


"Um... Mas Genta bagaimana mas?" Arwaa menunduk ketika menanyakannya.


Attalaric mengatupkan bibirnya sedikit tak suka Arwaa bertanya tentang pria yang sudah mengurung dan juga menyiksanya.


"Dunno." [Tidak tahu.]


Arwaa mendongak menatap sang kakak ipar yang terlihat menyibukkan diri dengan makanan yang terhidang, seolah enggan untuk membahas tentang adiknya.


Aah, dia jadi merasa tidak enak karena telah menanyakan tentang Aldair pada pria dihadapannya ini. Arwaa tidak menyangka ternyata mereka belum berbaikan.


"Maaf mas, aku..."


"Kau tidak salah bertanya tentangnya Arwaa, hanya yakinlah bahwa pria itu baik-baik saja, terlebih sekarang dia sudah memiliki anak."


Arwaa tersenyum kecut mendengar perkataan kakak iparnya. Benar, suaminya itu pasti sedang berbahagia karena Fani sudah melahirkan dan dia bisa segera menikah dengan wanita yang dicintainya.


"Kalau aku tidak baik-baik saja."


Arwaa mengangkat sebelah alisnya bingung mendengar ucapan Attalaric yang tiba-tiba.


"Maksudku, aku tidak baik-baik saja karena bingung harus menenangkan Hanna yang setiap hari selalu menanyakanmu."


"Eeh maaf," ucap Arwaa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Rona merah menjalar diwajah Attalaric, dia mengutuk dirinya sendiri karena keceplosan bicara.


Sedang di sisi lain ada seorang pria yang memandang tak suka melihat kedekatan Arwaa dengan Attalaric dan Hanna karena mereka terlihat seperti keluarga yang Bahagia.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚

__ADS_1


Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih β™₯️


__ADS_2