
Sejujurnya perasaan Aldair sungguh cemas sejak malam tadi ketika ia memberitahu Mehmet kalau dirinya ingin mengunjungi rumah keluarga Arwaa.
Tapi ternyata perasaan cemas itu benar-benar hilang begitu saja dan berganti menjadi rasa haru juga sesal dalam dirinya.
Bagaimana tidak, keluarga Arwaa sungguh menyambutnya dengan sangat ramah. Aldair bahkan sempat menganga terheran-heran dibuatnya, hingga Mehmet menyadarkan dirinya.
Paman Jhonny pun tidak terlihat menyimpan dendam atas apa yang pernah Aldair lakukan padanya waktu itu.
Hatinya terasa perih merasakan kehangatan di keluarga Arwaa.
Andai saja...
Andai saja...
Argh! Ingin dia berteriak sekeras mungkin, berharap bisa mengikis rasa penyesalan yang begitu besar dalam dirinya.
Mungkin jika saat ini Aldair sedang sendirian. Dia pasti sudah mengacak rambut dan memukul angin, meluapkan emosinya yang juga membuncah.
Terlebih melihat kedekatan Mehmet dengan sanak saudara Arwaa, hatinya tercubit.
Ah, dia cemburu...
Dia cemburu melihat betapa dekatnya saudara-saudara mantan istrinya itu dengan Mehmet.
Pasti mereka akan menerima Mehmet dengan senang hati untuk menjadi suami Arwaa.
Apakah mereka akan menyambutku dengan ramah juga, jika diriku masih berstatus suami Arwaa?
"Mas..."
Aldair berjengit begitu mendengar suara wanita yang saat ini memiliki separuh hatinya.
"A... Arwaa."
Aldair menggeser duduknya sedikit grogi, menyisakan tempat untuk diduduki Arwaa di sebelahnya.
Wajahnya memerah seketika saat Arwaa tersenyum kikuk dan menunduk, meminta maaf, lalu memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan Aldair yang terhalang oleh sebuah meja di tengah-tengah mereka.
Bodoh! Dia bukan lagi mahrammu Aldair!
Hati Aldair tak henti merutuk diri sendiri, lupa dengan kenyataan bahwa dirinya sudah tak lagi bersama wanita berwajah teduh di hadapannya itu.
__ADS_1
"Terimakasih banyak ya Mas, sudah menyempatkan untuk bersilaturahmi kemari," ucap Arwaa tulus.
Aldair terus berusaha menenangkan dirinya agar tidak salah tingkah.
"Bukan masalah. Lagipula memang sudah seharusnya Mas datang untuk meminta maaf, sekalian ingin berpamitan juga pada keluargamu."
Arwaa tersenyum sendu. Dirinya tak mengira jika pernikahan yang selalu ia harapkan sebelumnya akan berakhir juga.
Keadaan diantara Arwaa dan Aldair terlihat canggung karena keduanya memang bingung ingin membicarakan apalagi.
"Oiya soal perceraian kita, boleh aku minta tolong Mas untuk mengurusnya sendirian saja di Indonesia?" Tanya Arwaa memecah keheningan.
Aldair tersenyum kecil meski dalam matanya tergambar jelas kesedihan dan penyesalan yang besar.
"Kamu gak akan ke Indonesia lagi?" Tanya Aldair memastikan.
"Untuk dekat-dekat ini aku sama sekali belum ada rencana untuk kembali ke Indonesia," jawab Arwaa.
"Begitu ya... Hanna dan Ibu pasti akan sangat merindukanmu," lirih Aldair walau sebenarnya, dirinya lah yang khawatir tidak akan bertemu lagi dengan Arwaa sekembalinya dia ke Indonesia.
"Hanna sering kemari ko Al, jadi rindu kami masih bisa saling terobati. Tapi Ibu hanya bisa berhubungan via video call saja. Tapi Insha Allah aku akan menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi juga ke Indonesia dengan Paman Jhonny."
"Hanna sering kemari?"
Jangan katakan kakaknya juga memang suka kemari?!
"Ah!"
Arwaa merasa tak nyaman melihat reaksi Aldair saat dirinya membahas gadis kecil itu yang tak langsung juga akan berkaitan dengan Attalaric. Meski Arwaa tahu mereka bersaudara, tapi hubungan kedua pria itu belum bisa dibilang baik-baik saja. Dan semua karena dirinya.
"Jadi benar kamu suka bertemu dengan kakakku, bahkan ketika dirimu masih berstatus istriku?" Desis Aldair.
Tatapannya berubah tajam membuat Arwaa menelan ludah.
"Buka..."
"Atta memang kemari, tapi tidak bertemu berduaan dengan Arwaa. Dia hanya mengantarkan Hanna, dan menghabiskan waktu dengan Kakek Arwaa."
Paman Jhonny yang menangkap ketegangan diantara Arwaa dan Aldair, memilih untuk ikut campur.
Ia menepuk pundak Aldair, menenangkan mantan suami dari keponakannya itu agar tak kehilangan kendali disini, di rumah keluarga Dodger.
__ADS_1
"Bukan aku membela keponakanku, tapi Arwaa memang menjaga dirinya meski saat jauh darimu. Dia sangatlah menghormati dan memikirkanmu, meski saat itu kau memperlakukannya dengan buruk," sindir Paman Jhonny membuat Aldair menunduk dan mengepalkan tangannya, menahan diri agar tak terkuasai amarah.
"Paman!" Tegur Arwaa merasa tak enak pada Aldair atas apa yang dikatakan Pamannya.
Paman Jhonny terdiam, memperhatikan keponakannya sejenak sebelum menghela nafas.
"Baiklah, Paman mengerti. Tapi bisakah kamu tinggalkan Paman dengan Aldair, ada yang ingin Paman bicarakan dengannya," pinta Paman Jhonny.
Dengan ragu Arwaa menganggukkan kepalanya dan berpamitan pada Aldair, namun hanya diabaikan oleh pria itu, membuat Arwaa melangkah pergi meski merasa tak enak.
"Jangan bilang kau cemburu pada kakakmu?" Tanya Paman Jhonny begitu keponakannya sudah bergabung dengan saudaranya yang lain.
Aldair menghela nafas lelas dan sedikit mengacak rambutnya, sebelum menyandarkan diri pada sofa yang didudukinya.
"Aku sendiri tidak tahu, yang jelas diri ini tak suka melihat kedekatan Arwaa dengan Attalaric. Lebih ke perasaan takut mereka akan bersama. Bagaimanapun juga pria itu adalah kakakku," ucap Aldair menatap kosong langit-langit rumah.
"Asalkan Paman tahu, meski berat, aku rasa aku lebih setuju jika Mehmet yang menjadi penggantiku dibanding Attalaric," lanjut Aldair.
Paman Jhonny tersenyum kecut.
"Well, itu pendapatmu. Kau bisa memikirkan apapun yang kau mau, selama tidak mengganggu keputusan Arwaa. Dia bisa memilih dengan siapa dia ingin bersama, lagipula anak itu sedang ingin lebih fokus pada pendidikannya saat ini."
"Arwaa akan melanjutkan studinya?"
"Ya. Lagipula Arwaa masih muda, dan Paman yakin dia punya cita-cita yang ingin diraihnya," jelas Paman Jhonny.
Aldair sedikit bernafas lega. Entahlah dirinya merasa senang saja karena Arwaa tidak langsung memikirkan untuk mencari penggantinya dengan segera.
Setidaknya sampai Aldair bisa mengikhlaskan kepergian mantan istrinya itu.
☘️☘️☘️
Masih ngegantungkan?
Hihi iya, soale memang belum tamat. Masih ada perjalanan kehidupan Arwaa selanjutnya di Season 2.
Oh right, di season 2, aku akan pakai Arwaa Point of View ya. Disana juga Arwaa akan ketemu banyak teman, dan juga pengalaman baru hidup di Negara yang terkenal dengan pohon Maple-nya itu. Dan Inshaallah Arwaa pun akan ketemu jodohnya disana 🤭
Kalau penasaran, ditunggu tanggal mainnya ya 😊
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya.
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk dukungannya selama ini 🤗 🥰