Pengantin Yang Terbuang

Pengantin Yang Terbuang
Honeymoon


__ADS_3

Gemerlap malam pemandangan Kota Toronto dari lantai 10 Hotel The Ritz-Carlton yang begitu memukau, memikat Arwaa untuk tak mengalihkan pandangannya.


Sampai sepasang tangan yang memeluknya dari belakang membuat Arwaa terkejut.


"Ma-as..."


Pria yang sudah sah menjadi suaminya itu terkekeh melihat kegugupan sang istri.


"You'll get used to it Baby," [Kamu akan terbiasa dengan hal ini sayang]


Sebuah kecupan kecil menempel di kepala Arwaa membuat wajah perempuan itu seketika memerah. Terlihat samar ronanya karena tertutupi oleh gemerlapnya malam.


"Maaf..." Lirih sang suami.


Meski ragu dan malu-malu, Arwaa mengelus lembut pergelangan tangan yang memeluk perutnya itu. Berharap bisa menenangkan kegelisahan yang nyatanya juga ia rasakan sejak acara pagi tadi.


Perlahan, pria yang mengenakan kaos putih itu membalik tubuh Arwaa. Menatap intens netra indah istri tercintanya.


"Jika saja Mas tahu kalau pria yang pernah melamarmu itu adalah putra dari Keluarga Ghifari. Mas pasti tak akan menyiapkan acara di Masjid itu, bahkan sampai meminta bantuan mereka."


"Kenapa Mas minta maaf? Itu bukan salah kamu Mas," Arwaa menempelkan tangannya di pipi sang suami membuat pria itu sejenak memejamkan matanya, merasakan kenyamanan dari tangan yang akan selalu ia perjuangkan untuk menuju kebahagiaan.


"Inshaallah tidak ada masalah yang terjadi antara aku dan Keluarga Ghifari Mas. Keluarga mereka sangatlah baik dan juga paham bahwasanya jodoh memang sudah ada yang mengatur,"


"Abba dan Amma, juga Naina, meski mereka tahu jika salah satu keluarganya ada yang mengharapkanku. Mereka tidak pernah menekan ataupun memaksaku akan hal itu. Sama halnya dengan Kakak Naina, inshaallah ia bisa ikhlas akan diriku yang tak berjodoh dengannya."


Sang suami tersenyum lembut dan menatap sendu Arwaa. Ada rasa hangat mendengar ucapan Arwaa yang terkesan mencoba untuk menjaga hatinya dengan tak menyebut nama pria lain di depannya.


Tak terkira rasa syukur yang ia rasakan karena bisa memperistri perempuan yang berhati dan bertutur lembut. Terlihat dari bagaimana Arwaa memperlakukan dan berucap pada dirinya, juga menyayangi dia beserta putri kecilnya, Hanna.


Memang ada kegelisahan tersendiri yang dirasa Attalaric ketika ia mengetahui jika yang menjadi pengurus Masjid tempat ia melakukan akad adalah keluarga yang pernah melamar Arwaa, istrinya.


Attalaric mengetahui hal itu dari Aldair yang menelponnya tadi. Adik-adiknya dan Hanna memang tidak ikut. Hanya Bu Hayya dan Pak Ahmad saja yang menemani Attalaric ke Toronto.


Attalaric sengaja hanya membawa kedua orangtuanya, terlebih Pak Ahmad juga yang menyuruh. Sekaligus Pak Ahmad ingin mengakrabkan diri dengan Kakek Arwaa, mengingat mereka pernah melakukan kerjasama bisnis bersama waktu dulu.


Sedangkan alasan Hanna tak dibawa itu sebenarnya ide Bu Hayya karena beliau ingin memberikan waktu berdua untuk Attalaric dan Arwaa, supaya Hanna cepat dapat adik, katanya.


Begitu pula dengan Aldair dan Arrazi, mereka bilang tak akan ikut karena ingin mengurus resepsi untuk dirinya dan Arwaa di Jakarta nanti. Seperti mimpi rasanya bisa mendapat dukungan dari seluruh anggota keluarganya, terlebih dari Aldair.


Setelah acara akad selesai, memang Attalaric dan Arwaa langsung disuruh pergi ke Hotel untuk bulan madu ditambah juga perintah dari Bu Hayya. Sedang Bu Hayya sendiri dan Pak Ahmad kembali ke rumah keluarga Arwaa. Mereka akan menginap dulu di sana sambil mendekatkan diri dengan keluarga menantunya.


"Ma...s..."


'Cup'


Attalaric tersadar dari lamunannya begitu mendapat kecupan di pipi.

__ADS_1


"Ei, mulai berani kamu ya..." Goda Attalaric menjawil hidung Arwaa.


"Lagian Mas dipanggil ngelamun aja," rajuk Arwaa mengusap-usap hidungnya membuat Attalaric menjadi gemas sendiri. Namun kemudian Attalaric kembali menatap sendu sang istri.


"Maaf... Mas hanya memikirkan kalau Mas benar-benar beruntung dan bersyukur karena bisa menikahimu. Begitu banyak alasan yang hampir membuat Mas menyerah. Sampai ada satu hal yang membulatkan tekad Mas untuk tetap memperjuangkanmu, yaitu karena Mas mencintaimu."


Arwaa menyeka air matanya yang mengalir begitu saja. Dirinya pun sama bersyukurnya dengan Attalaric karena akhirnya bisa menjadi kekasih halalnya dan juga Bunda dari peri kecilnya.


"Aku juga mencintaimu Mas, dan juga Hanna."


Attalaric tiba-tiba mencuri ciuman singkat di bibir ranum Arwaa membuat istrinya itu seketika menunduk dan memukul dadanya pelan, "Mas mah ambil kesempatan aja," gumam Arwaa malah menambah Attalaric gemas terhadapnya.


"Ya gak apa-apa dong sayang kan udah halal, jadi pahala loh godain istri sendiri. Kamu aja tadi cium pipi Mas," goda Attalaric mengangkat dagu istri manisnya itu.


"Be-beda itu Mas," ucap Arwaa gugup dengan suara kecil sambil mengalihkan pandangannya


"Ayoo beda gimana coba. Kalau yang beda itu seperti ini."


Perlahan Attalaric mendekatkan wajahnya pada sang kekasih halal membuat istrinya itu bertambah gugup seketika, tapi tak menghindar.


Melihat reaksi Arwaa yang langsung memejamkan mata, Attalaric tersenyum kecil sebelum menautkan bibirnya di bibir ranum sang istri tercinta. Tak lama, karena selanjutnya Attalaric menempelkan dahinya pada dahi Arwaa, dan menatap dalam mata yang selalu ingin ia pandangi itu.


"Sholat sunah dulu yuk!"


Blush


Belum Arwaa menjawab, Attalaric langsung mengangkat tubuh Arwaa, "MAAS!" Pekik Arwaa terkejut bercampur malu setengah mati yang hanya dibalas kerlingan nakal sang suami.


"Kita buat adik untuk Hanna sayangku," goda Attalaric mencium kening Arwaa yang berada di gendongannya membuat Arwaa pasrah, dan menyembunyikan wajahnya di dada Attalaric.


***


Attalaric terbangun begitu ia merasakan gerakan kecil di sebelahnya. Perlahan matanya terbuka dan tersenyum lembut melihat pemandangan yang akan menjadi favoritnya itu. Dengan pelan Attalaric merapikan rambut Arwaa yang menutupi wajah cantiknya.


Ah, betapa bahagianya Attalaric saat ini. Ingin sekali dia berteriak mengeluarkan gejolak haru di hatinya. Malam tadi ia begitu dibuat terpesona dengan keindahan kekasih halalnya.


Rambut hitam Arwaa yang bergelombang sepunggung, ditambah mata biru istrinya yang selalu membuat ia terpukau tiap kali menatapnya.


Ya Allah, begitu indah ciptaan-Mu.


Attalaric tak berhenti mengucap syukur di dalam hatinya sambil menatap Arwaa yang masih tertidur nyenyak. Mungkin istrinya sangat kelelahan setelah pergumulan mereka malam tadi.


Ugh, mengingat kejadian semalam membuat gairah Attalaric terbakar kembali. Diliriknya jam yang menempel di dinding, masih dini hari. Haruskah ia membangunkan istrinya, dan memenuhi serangan fajarnya?


Tapi Attalaric tak tega, mengingat semalam pun Arwaa sempat kesakitan ketika melakukan itu karena memang semalam adalah yang pertama kalinya bagi sang istri.


Tapi dirinya juga tak kuat untuk menahan hasrat yang semakin bertambah. Karena itulah dengan pelan Attalaric menowel-nowel pipi Arwaa membuat istrinya itu perlahan terbangun.

__ADS_1


"Maas..." Gumam Arwaa dengan suara serak akibat semalam tak berhenti mendesah.


"Um... Bangun yuk," ajak Attalaric malu-malu. Dirinya jadi terlihat seperti anak kecil yang sedang merayu sang ibu.


Arwaa sendiri sedikit heran dengan tingkah aneh suaminya. Meski begitu perlahan Arwaa mulai bangun sambil menahan selimut yang menutupi tubuh polosnya agar tak terlepas.


"Apa apa Mas? Lapar?" Tanya Arwaa mencoba menyembunyikan rona malunya begitu ia teringat kejadian semalam.


Melihat Attalaric mengangguk, Arwaa pun langsung mengambil ponsel di nakas sebelah kasur mereka.


"Kamu ngapain sayang?" Tanya Attalaric merasa bingung karena Arwaa malah terfokus pada ponselnya.


"Cari restoran yang buka dekat sini. Siapa tahu bisa terima pesanan jam segini."


Attalaric menganga, tak percaya dengan kepolosan sang istri. Yang dirinya maksud dengan lapar itu adalah lapar yang lain, bukan lapar makanan.


Ya Allah, jadi gemas sendiri dia.


"Jangan sayang. Gak usah," ucap Attalaric mengambil ponsel Arwaa membuat Arwaa berbalik menatapnya bingung.


"Tadi Mas bilang ingin makan?"


"Ya iya siih, tapi bukan makan itu..."


"Makan apa dong?"


"Makan kamu..."


Attalaric menatap wajah Arwaa yang mulai memerah, sepertinya istrinya itu sudah mengerti apa yang ia maksud.


"Ma-aas... Semalam kan sudah?"


"Um, kamu gak mau sayang?" Tanya Attalaric memasang wajah sedih.


"Bu-bukan begitu. Tapi aku..."


"Masih sakit?"


Malu-malu Arwaa mengangguk menjawab pertanyaan sang suami karena memang dengan dirinya yang tadi beranjak bangun saja, tulang-tulang di tubuhnya terasa seperti keropos semua saking pegalnya. Terlebih rasa perih yang tersisa di bawah sana.


"Mas janji akan lebih pelan dan lembut. Ya ya ya sayaaang..."


Attalaric terus memohon membuat Arwaa merasa tak enak sendiri. Apalagi suaminya memang berhak atas hal itu.


"Pelan ya?" Tanya Arwaa memastikan yang langsung dijawab anggukan cepat Attalaric sebelum pria itu kembali menyerang sang pujaan hati.


Dengan lebih lembut tentunya.

__ADS_1


***


__ADS_2