
Di sebuah restoran hotel di kota Calgary. Terlihat dua orang pria yang sedang duduk berhadapan. Meja mereka dipenuhi makanan untuk sarapan, hanya saja belum ada yang tersentuh.
Mereka adalah Aldair dan Attalaric. Setelah kemarin Attalaric berpesan agar Aldair menginap di hotel. Pria itu menurutinya karena memang dia pun ingin mendengar langsung tentang apa yang hendak disampaikan Kakaknya, meski dia bisa menebaknya.
Attalaric sendiri mengambil penerbangan pagi dari Bandara Soetta ke Bandara YYC Calgary. Tanpa di jemput oleh siapapun, Attalaric langsung pergi ke hotel yang telah diberitahukan Aldair begitu ia sampai di Bandara YYC Calgary.
"Makanlah dulu," ucap Attalaric memecah keheningan diantara mereka sambil menyeruput kopi yang dipesannya.
Aldair menghela nafas panjang sebelum memandang Attalaric, "Aku kehilangan nafsu makanku," singkat. Aldair menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam.
Ada sedikit lara saat Attalaric memperhatikan wajah adiknya yang terlihat menyimpan begitu banyak beban.
"Kau tak tidur semalaman?"
Aldair terkekeh mendengar pertanyaan Kakaknya. Isn't it obvious?! [Bukankah sudah jelas?!]
Bagaimana bisa dirinya tidur dengan lelap saat mengetahui jika Attalaric akan melamar mantan istri adiknya sendiri.
"Bicara saja langsung ke intinya Kak. Tidak perlu basa-basi. Aku lelah," ujar Aldair membuka mata dan menatap langit-langit restoran itu kosong.
"Maafkan aku. Bukan aku ingin menyakitimu, aku hanya ingin menggapai kebahagiaan yang baru untuk Hanna dan juga diriku. Dan keinginanku membicarakan ini denganmu adalah karena aku masih menghargaimu sebagai adikku, juga mantan suami dari gadis yang akan kulamar."
Attalaric menatap mata adiknya lamat-lamat. Ada kesedihan dan kekecewaan terpancar dari mata Aldair, sedikit mengusik hatinya.
"Apa kamu bersungguh-sungguh ingin menikahi Arwaa Kak?" Tanya Aldair memastikan kembali jika semuanya hanya mimpi.
Attalaric mengangguk membuat setetes air mata lolos di pipi Aldair. Attalaric sendiri terhenyak, tidak menyangka adiknya akan sampai menangis seperti ini.
"Maaf... Aku hanya... Haa... Entahlah."
Aldair mengusap wajah dan menyugar rambutnya. Hatinya benar-benar sakit, terasa seperti dikhianati. Padahal tak ada yang mengkhianatinya. Baik itu Arwaa maupun Kakaknya.
Melihat respon sang adik, Attalaric tersenyum miris. Haruskah ia menyerah sebelum mencoba melamar gadis yang menempati hatinya. Keadaan Aldair membuat ia teringat pada dirinya sendiri ketika ditinggal mati oleh istri tercintanya. Attalaric takut, Aldair akan stress hingga berujung depresi jika ia memaksakan keinginannya, atau mungkin keegoisannya.
"Maafkan aku Kak. Aku tidak bisa menahan perasaan ini. Padahal kemarin aku sudah berbicara dengan Arwaa," jelas Aldair begitu dirinya merasa sedikit lebih tenang.
Attalaric menatap Aldair, "Kau membicarakan apa dengan Arwaa?"
__ADS_1
"Tentang kesempatan kedua," ujar Aldair membuat Attalaric terkekeh getir. Pikirannya sudah melanglang buana membayangkan jika Arwaa menerima adiknya kembali.
Sekarang Aldair yang memandang Attalaric sendu. Kesedihan terpancar di wajah Kakaknya itu. Kemungkinan memang Attalaric sudah mengambil kesimpulan sendiri dari perkataan Aldair.
Tapi sekali lagi. Aldair sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak egois, terlebih tentang Arwaa. Mengingat bagaimana respon gadis itu ketika membicarakan Kakaknya. Meski berbaur dengan kesedihan, tapi juga ada cinta yang terpancar di matanya.
Dia tak mau menjadi penghalang kebahagiaan Arwaa setelah apa yang pernah ia perbuat pada gadis itu. Ya, Arwaa berhak bahagia dengan siapapun itu, kecuali diri Aldair. Karena sudah tak ada lagi tempat berarti di hati mantan istrinya itu bagi Aldair.
"Lalu, apa yang Arwaa katakan?" Tanya Attalaric gugup, gelisah dengan kemungkinan terburuk.
"Dia memberiku kesempatan..."
Attalaric menatap tak percaya ucapan adiknya. Hatinya seperti tertusuk sembi...
"Kesempatan untuk menjadi adik iparnya."
"Apa?!"
Sontak Attalaric mendongak menatap Aldair dalam, memastikan jika apa yang telah didengarnya bukan sebuah kesalahan.
Melihat tampang Kakaknya membuat Aldair terkekeh kecil sebelum kembali bersandar di kursi sambil melipat kedua tangannya di atas dada, dan memberikan senyum sendu pada Sang Kakak.
Meski ada perih yang menyapa, tapi suasana hatinya sedikit membaik melihat rona bahagia di wajah Attalaric. Apakah mungkin dirinya akan bisa mengikhlaskan semua tentang masa lalunya untuk menjadi masa depan Sang Kakak?
***
Di lain tempat, Arwaa dengan Hanna dan Bu Hayya sedang berjalan-jalan di taman dekat gedung apartemen Arwaa mengingat hari ini adalah hari libur.
Sesekali Arwaa menyahut dan melambaikan tangan bersama Bu Hayya dari kursi taman ketika melihat Hanna yang memanggil mereka dari kotak pasir. Arwaa berusaha untuk tidak menunjukan perasaannya yang sedang dilanda kesedihan sejak pertemuannya dengan Aldair kemarin.
Arwaa sendiri merasa bingung dengan hatinya. Dia merasa seperti orang jahat karena telah mematahkan harapan Aldair. Naif memang, tapi tetap saja dia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. Terlebih Arwaa pun perlahan mulai mengharapkan kebahagiaan bersama Attalaric.
Entahlah Arwaa sebegitu yakinnya tentang perasaan Attalaric semenjak pria itu mengutarakan perasaan padanya.
"Arwaa..."
Arwaa menoleh ke arah Bu Hayya yang tengah memperhatikan Hanna di depan sana.
__ADS_1
"Ada apa Bu?"
"Kamu... apa kamu bahagia selama menjadi menantu Ibu?" Lirih wanita baya yang justru sudah lama Arwaa anggap seperti orangtua sendiri.
Arwaa memegang tangan Bu Hayya, "Kenapa Ibu bicara seperti itu? Tentu saja aku bahagia, bahkan bagiku Ibu sudah seperti Ibuku sendiri."
Senyum haru Arwaa tersungging begitu ia mendapati air mata Bu Hayya menetes. Dengan lembut Arwaa menghapusnya dari pipi Bu Hayya.
"Maafkan Ibu. Ibu hanya sedih mengingat besok Ibu dan Hanna sudah harus kembali ke Indonesia. Ibu ingin selalu berada dekat denganmu, Hanna juga pasti besok tak akan mau pulang."
"Ibu..." Lirih Arwaa mengelus lembut punggung mantan Ibu mertuanya itu.
Arwaa tidak tahu harus menjawab apa lagi. Dirinya pun sama masih ingin Bu Hayya dan Hanna berada di sini bersamanya. Tapi tak mungkin Arwaa memintanya karena bagaimanapun juga Bu Hayya pasti harus kembali untuk mengurus Pak Ahmad. Begitu pula Hanna yang sudah masuk sekolah.
Alis Arwaa berkerut ketika Bu Hayya tiba-tiba nampak gelisah sambil sesekali melirik ke arahnya.
"Arwaa sebenarnya..." Belum Bu Hayya menyelesaikan kalimatnya teriakan seorang pria yang mereka kenali memotongnya.
"IBU! HANNA! ARWAA!!"
Tubuh Arwaa menegang mendengar suara yang sangat ia kenali, dan rindui sejak kemarin. Bu Hayya terlihat beranjak dari duduknya, dan Hanna yang langsung berlari mendekat sambil berteriak, "DADDY!!"
Perlahan Arwaa pun mulai berdiri dan menoleh ke arah pria yang memakai t-shirt hitam beserta jeans dengan warna senada yang entah mengapa membuat sosok pria itu semakin berkharisma di mata Arwaa.
Astaghfirullah...
Arwaa langsung menundukkan kepalanya. Dia bisa merasakan jika wajahnya pasti memerah. Rasa gugup pun tiba-tiba menderanya membuat dia tak bisa berhenti memainkan jari-jari tangannya.
"Bundaaa, look! Daddy dataaang!"
Kepala Arwaa mendongak ketika suara Hanna memanggilnya. Matanya langsung beradu dengan mata pria yang merupakan Kakak dari mantan suaminya.
Debaran jantung Arwaa tak bisa terkontrol lagi ketika Hanna beserta Ayahnya berjalan mendekati dirinya. Arwaa sendiri tak tahu kenapa kedatangan Attalaric yang begitu tiba-tiba memberikan dampak yang luar biasa, sampai bisa membuat darahnya berdesir seketika, juga dengan gelora hangat di dalam hatinya.
Bu Hayya memandang haru ketiga orang yang disayanginya itu. Berbeda dengan seorang pria yang memandang pemandangan itu dengan hati yang terluka dari jarak yang cukup jauh namun masih bisa menangkap pemandangan menyakitkan itu dengan jelas.
Pria itu adalah Aldair.
__ADS_1
***