
Selama seminggu setelah kepulangan Aldair dari Calgary yang lebih cepat dibanding Ibu dan Kakaknya. Aldair memilih untuk tinggal sementara di ruang kerja di restoran miliknya.
Ya, memang semenjak kejadian dulu ketika Aldair diusir dari rumah. Dia sudah tidak lagi memegang tanggungjawab di perusahaan milik keluarganya karena tanggungjawab itu sudah dialihkan pada Attalaric. Karena itulah meski saat ini Aldair sudah mendapat maaf dari keluarganya, dia masih tahu diri untuk tidak meminta kembali jabatannya di perusahaan.
Terlebih dia memang ingin mandiri seperti Attalaric yang sudah mempunyai perusahaan startup-nya sendiri di Negeri Paman Sam yang sekarang ia percayai pada para sahabatnya.
Aldair menghela nafas panjang dan menyenderkan tubuh ke sofa di ruangan kerja di restorannya. Ia memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya perlahan.
Raganya lelah karena sekarang bisnis restorannya sudah berkembang pesat, ditambah dengan kerjasama barunya dengan seorang Chef di Calgary sana. Tapi bukan hanya itu saja, karena selain raganya, hatinya pun tak kalah lelah dengan pikiran-pikirannya tentang pernikahan Attalaric dan Arwaa.
Pastilah keadaan di rumahnya saat ini sedang sibuk untuk mempersiapkan lamaran Attalaric karena setahunya Attalaric memang akan melamar Arwaa terlebih dahulu di Toronto, di rumah keluarganya.
Ditengoknya jam yang terpasang di dinding menunjukkan hampir pukul setengah 3 sore. Mungkin sudah waktunya ia pulang ke rumah. Tak mau sampai keluarganya berpikir jika Aldair terpuruk karena pernikahan Attalaric dan Arwaa. Walaupun memang dia sedikit merasakan hal itu, tapi logikanya lebih dominan untuk tidak dikuasai oleh emosi sementara.
Aldair beranjak dan mengambil kunci mobilnya di atas meja. Dia berniat pergi ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli buah-buahan.
10 menit perjalanan, Aldair telah sampai di supermarket dekat situ. Dia pun keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam.
Aldair yang tengah fokus memilih buah-buahan, tak melihat ada orang yang berdiri dibelakangnya. Sama-sama sedang memilih buah, sehingga ketika Aldair berbalik, ia tak sengaja menyenggol wanita di belakangnya membuat buah-buahan yang baru saja diambil, jatuh menggelinding.
"Maaf saya tidak sengaja," ucap Aldair langsung berjongkok berniat mengambil buahnya yang jatuh. Namun dia sedikit heran karena sosok wanita yang tersenggol olehnya hanya diam saja, tak berniat mengambil buah miliknya yang jatuh.
"Mas..."
Tubuh Aldair membeku begitu ia mendengar suara wanita yang sangat ia kenali. Aldair mendongakkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan wanita itu.
Mata Aldair membulat seolah tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Perlahan Aldair berdiri. Sekarang mereka benar-benar berhadapan.
Aldair memperhatikan penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga kakinya. Wanita yang pernah mengisi hatinya itu sungguh terlihat berbeda dari yang dia ingat di masa-masa kebersamaan mereka.
Wanita itu adalah Fani. Mantan kekasihnya, orang yang pernah begitu ia cintai hingga melupakan segalanya, wanita yang telah memberikannya seorang putri cantik namun juga mengambilnya kembali.
Setelah pertemuan yang tidak disengaja bersama Fani. Mereka menyempatkan untuk berbincang sebentar sampai adzan ashar berkumandang.
Hati Aldair menghangat mendengar cerita bagaimana mantan kekasihnya itu memilih untuk berhijrah. Ya, Fani sekarang sedang mencoba memperbaiki diri. Dan yang membuat Aldair terkejut tadi adalah penampilan Fani yang sekarang menutup auratnya dengan sempurna.
Dia juga ingin dipertemukan dengan Arwaa untuk meminta maaf atas semua kesalahannya yang telah menyakiti Arwaa. Sepertinya Fani memang berpikir jika Arwaa dan Aldair masih berstatus sebagai suami-istri.
Walaupun begitu Aldair juga tidak berniat untuk menceritakan semua yang telah terjadi pada kisah dirinya bersama Arwaa karena tak mau membuat Fani menjadi lebih merasa bersalah. Jadi Aldair mengiyakan permintaan Fani dengan waktu yang belum ditentukan karena Aldair hanya memberitahukan jika saat ini keadaannya belum memungkinkan.
***
Semenjak Aldair kembali ke rumah orangtuanya. Dia agak bingung karena keadaan di sana sangatlah tenang. Bukankah Attalaric akan melamar Arwaa, pikirnya.
Sebulan...
Dua bulan...
__ADS_1
Tiga bulan...
Aldair semakin merasa aneh dengan suasana di rumahnya. Semua orang menjadi pendiam, tentu saja kecuali keponakan manisnya. Selain itu yang membuat Aldair bertanya-tanya adalah kenapa Attalaric dan Arwaa tidak segera menikah, karena setahu Aldair Kakaknya itu ingin segera menjadikan Arwaa sebagai istrinya. Tapi sudah tiga bulan ini, orang-orang di rumah justru hanya disibukkan oleh kegiatan sehari-hari mereka.
Aldair menghela nafas. Sejak tadi dirinya hanya berdiam di kamar karena pusing dengan keadaan membingungkan di rumahnya ini.
Aldair beranjak begitu pintunya diketuk seseorang yang ternyata adalah adiknya, Arrazi. Dia menyuruh Aldair untuk segera bersiap karena sudah mau memasuki waktu Maghrib.
Seusai berjamaah di Masjid dekat rumahnya bersama Ayah, dan kedua saudaranya. Merekapun langsung pulang dan berkumpul di meja makan untuk makan malam.
Suasana di meja makan agak membuat Aldair tak nyaman karena anggota keluarganya itu seolah menyimpan beban pada diri masing-masing, kecuali Hanna yang tengah berceloteh ria menceritakan tentang kegiatan di paudnya pagi tadi.
"Ehmm."
Aldair menoleh pada sang kakak yang baru saja berdeham. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum Attalaric mengalihkan pandangannya.
"Ada yang ingin aku sampaikan," ucap Attalaric membuat Aldair berpikir jika kakaknya itu akan mengumumkan tentang tanggal pernikahannya dengan Arwaa.
"Aku akan kembali ke Amerika."
Dahi Aldair berkerut. Ia tak mengerti maksud Attalaric, bukankah seharusnya ke Toronto? Menikahi Arwaa?
"Kenapa Amerika? Bukannya Toronto?"
"Untuk apa ke sana?"
Bu Hayya menatap khawatir pada Pak Ahmad yang hanya dibalas dengan tatapan mata yang maksudnya, "Biarkan anak-anak menyelesaikan masalah mereka," Arrazi sendiri memilih untuk diam dan memperhatikan kedua Kakaknya.
"Loh? Tentu saja untuk menikahi Arwaa. Bukankah Kakak akan melamar dan menikahi Arwaa?"
Attalaric terkekeh kecil membuat Aldair sedikit tersinggung.
"Tidak ada pernikahan apapun adikku sayang," ujar Attalaric menatap Aldair dengan seringainya, tapi tetap menampakan kesedihan di matanya.
Sayangnya Aldair tidak begitu peka. Sehingga dia tersulut emosi dengan pernyataan mencengangkan Attalaric. Bukankah pria itu sendiri yang memberitahunya jika dia ingin meminang Arwaa, tapi kenapa akhirnya malah jadi seperti ini.
"JANGAN BICARA OMONG KOSONG!!" Teriak Aldair menggebrak meja membuat Bu Hayya buru-buru membawa Hanna ke atas agar tak menyaksikan perdebatan orang dewasa.
"Well, that's the truth."
Attalaric hanya santai menanggapi Aldair, bahkan pria itu mulai menikmati makan malamnya membuat Aldair semakin marah. Sedang Pak Ahmad menggeleng tak percaya dengan tingkah anak sulungnya itu, sama halnya dengan Arrazi yang mencoba sabar agar tak ikut emosi karena kepengecutan Kakak pertamanya.
Aldair mengacak rambutnya frustasi.
"Jangan bilang ini semua karena aku?" Geram Aldair.
Entahlah hanya saja instingnya berkata pembatalan niat Kakaknya itu adalah karena dirinya.
__ADS_1
"Nope. Arwaa yang memintanya," kilah Attalaric tapi tak membuat Aldair langsung percaya karena dirinya ingat bagaimana Arwaa meminta Aldair untuk membiarkannya bahagia.
Namun Aldair mencoba mendinginkan kepalanya. Berhadapan dengan Attalaric tidak akan menang jika dengan emosi, terlebih Kakaknya itu pandai bermain kata.
Aldair membuang nafas kasar dan menyenderkan tubuhnya di kursi. Ia tatap sang kakak yang sejak tadi memang menatapnya juga.
"Baguslah kalau begitu," ucap Aldair datar membuat sedikit perubahan pada raut wajah Attalaric.
"Cukuplah Arwaa tidak bahagia bersamaku. Jangan sampai dia pun tidak bahagia dengan pernikahannya bersamamu karena kepengecutanmu itu Kak."
Tangan Attalaric mengepal.
"Cukuplah dia merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangannya denganku. Jangan sampai denganmu juga," ujar Aldair mengalihkan perhatiannya pada makanan di atas meja.
Dia mulai menyendokkan nasi dan mengambil lauknya santai tanpa peduli dengan raut wajah Attalaric yang siap menerkam siapa saja.
"I'm not you," geram Attalaric yang dijawab oleh angkatan bahu Aldair.
"Tentu saja. Aku bukan pengecut sepertimu. Aku hanya kurang bertanggungjawab saja, itu juga dulu hehe," kekeh Aldair malu karena memuji diri sendiri di saat yang tak tepat walau nyatanya berhasil menyulut emosi sang kakak karena sekarang giliran Attalaric yang menggebrak meja membuat Aldair balik menyeringai menatap Kakaknya.
"Kenapa, bukankah itu benar Kak?"
"Waktu itu saja Kakak meminta izin padaku untuk menikah dengan Arwaa dengan alasan ingin menggapai kebahagiaan yang baru untuk Hanna dan juga dirimu. Bahkan sampai membuatku menangis, memalukan sekali."
Aldair mengibaskan tangannya di wajah karena malu mengingat dirinya yang menangis di depan sang kakak.
"Tapi nyatanya itu hanya omong kosong belaka. Padahal Arwaa sampai menangis memohon padaku untuk mengikhlaskan dirinya mencapai kebahagiaan denganmu. Dia memang tidak mengatakan itu secara langsung, tapi matanya tidak bisa berbohong. Aku dapat menangkap ketulusan dan kebahagiaan ketika kami berbicara tentangmu."
"Jangan bicara omong kosong!"
Attalaric memandang tajam Aldair.
"Well, that's the truth," jawab Aldair meniru gaya Attalaric ketika mengatakan itu.
"Yasudahlah Kak. Biarkan malam-malam panjangku yang mencoba mengikhlaskan Arwaa bersamamu menjadi sia-sia dan tak berguna. Mungkin selamanya Arwaa akan terus menganggapku sebagai pria jahat karena sudah menghalangi kebahagiaannya,"
"I'm a baaaaad guuuuy. Duh!"
"Pfft! Hahahahaha!!"
Tawa Arrazi seketika pecah mendengar Aldair yang menyanyi penggalan lagu Billie Ellish, Bad guy. Dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya dan hal itu membuat Aldair ikut tertawa. Sama halnya dengan Pak Ahmad yang juga ikut tertawa, meski sebenarnya dia tak begitu mengerti.
Sedang Attalaric langsung merasa lemas seketika dia menyadari kesalahannya. Namun sedetik kemudian dia mulai ikut tersenyum kecil saat melihat Ayah beserta kedua saudaranya tertawa. Dengan membulatkan tekadnya Attalaric memundurkan kursinya membuat mereka yang tertawa seketika terdiam dan memperhatikan Attalaric.
"Aku akan menghubungi Paman Jhonny!"
Pak Ahmad dan Arrazi tersenyum melihat kobaran semangat di mata Attalaric. Begitu pula Aldair mengangkat tangannya yang mengepal, "Semangat Kak!"
__ADS_1
***