
"Assalamu'alaikum."
Ustadz Zahid, Mehmet, Aldair, dan Sean telah tiba dirumah keluarga Ghifari.
"Wa'alaikumsalam," jawab Amma yang muncul dari arah dapur dan langsung mengambil tangan suaminya untuk dikecup.
"Ayo ke ruang makan, sudah Amma siapkan untuk kalian."
"Naina?"
Amma tersenyum mendengar pertanyaan anak sulungnya itu. Dia mengerti jika sebenarnya anaknya itu ingin bertanya tentang Arwaa.
"Amma akan panggilkan Naina dan Arwaa kebawa..."
"Arwaa?"
Semua orang menoleh pada Aldair yang terkesiap karena mendengar nama wanita yang selama ini dia cari keberadaannya.
"Hmm... Iya Arwaa, teman Naina, sepupu Sean," jelas Mehmet merasa bingung dengan sikap Aldair.
Tanpa sadar air mata Aldair menetes membuat semua orang yang melihatnya terkejut.
"Maaf!" Ucap Aldair sebelum dia melangkah dengan terburu-buru ke lantai dua, menuju kamar Naina.
Aldair tahu letaknya karena untuk ke kamar tamu, dia harus melewati kamar adik dari rekan bisnisnya itu terlebih dahulu.
Mehmet dan Sean yang merasa aneh dengan sikap Aldair pun mengikuti pria itu. Dan berhenti ketika melihat Aldair yang terdiam didepan kamar Naina.
"Maafkan aku jika aku mengecewakan keluargamu. Tapi keadaan ku saat ini tidak memungkinkan untuk memikirkan perasaan pria lain."
Sayup-sayup terdengar suara wanita yang beberapa bulan terakhir ini sangat Aldair rindukan.
"Apa maksudmu Arwaa?"
"Aku sudah meni..."
"She is married!"
Aldair tiba-tiba masuk kedalam kamar Naina membuat orang yang berada disana terkejut.
"Mas Genta..."
Arwaa tidak bisa mempercayai matanya saat menangkap sosok pria yang selalu membuatnya merasa tidak tenang itu.
"Apa maksudmu?"
Mehmet yang bertanya kali ini. Pria itu merasa tak suka dengan celetukan Aldair yang mengatakan jika teman adiknya itu sudah menikah.
"Ku bilang, dia sudah menikah!"
Suara Aldair terdengar dingin.
Dirinya tersadar.
Jadi selama ini wanita yang selalu dibicarakan oleh keluarga Ghifari sebagai calon istri Mehmet adalah istrinya.
Jangan harap!
"Kenapa kau bisa bicara begitu?"
__ADS_1
Suara Sean terdengar. Pria itu cukup mengetahui alasan kenapa sepupunya bisa berada di Kanada.
"Karena aku suami..."
Belum sempat Aldair berbicara. Tubuhnya tiba-tiba dibalik paksa oleh seseorang yang tak lain adalah Sean, sepupu Arwaa.
'Bugh'
"Aaa!!"
Naina berteriak sedang Arwaa menutup mulutnya melihat Aldair terhuyung karena pukulan yang diberikan Sean.
Sean tidak bisa mengendalikan dirinya, dia terus memukuli Aldair sampai Mehmet yang sejak tadi mencoba mencerna apa yang terjadi, turun tangan, menahan Sean yang seperti kesetanan.
"Sial! Lepaskan aku! Biar ku hajar pria brengsek itu!!" Rancah Sean yang terus berusaha melepaskan diri dari Mehmet.
Ustadz Zahid dan Amma yang mendengar keributan dilantai 2 pun segera berlari menuju kesana. Mereka terkejut melihat keributan yang terjadi disana.
"ADA APA INI?!"
Suara Ustadz Zahid menggelegar, terdengar cukup mengerikan membuat semua orang yang berada dikamar putrinya pun terdiam.
Mehmet melepaskan Sean yang terlihat lebih menahan emosinya namun masih menatap tajam Aldair yang sudah terduduk dengan bibir yang terluka dengan hidung yang juga mengeluarkan darah.
***
Setelah keributan dikamar Naina tadi. Saat ini Aldair, dan Arwaa sedang berada diruang tamu berhadapan dengan Ustadz Zahid. Sedang Sean pergi entah kemana.
Sebenarnya Mehmet dan Naina juga sempat ingin ikut berada disana namun Amma melarang karena itu berurusan dengan kehidupan pribadi Arwaa dan Aldair, yang baru-baru ini mereka ketahui jika dua orang itu adalah pasangan suami-istri.
Luka pada wajah Aldair pun sudah diobati oleh Arwaa tentunya, karena memang pria itu yang memintanya.
Ustadz Zahid terlihat memandang dalam pada kedua orang yang berada dihadapannya. Dia cukup tercengang mendengar penjelasan dari Aldair tentang apa yang telah terjadi diantara mereka.
Terlebih setelah dia mendengar kajian tentang pernikahan tadi. Jelas sekali betapa berdosanya dia pada Arwaa selama ini.
"Apa benar yang dijelaskan oleh Aldair itu, Arwaa?" Tanya Ustadz Zahid memastikan.
"Benar Ustadz."
Arwaa mengangguk yakin. Meski tadi dirinya sempat dibuat gelisah dengan keberadaan Aldair, tapi dia merasa bahwa memang sudah seharusnya mereka membicarakan tentang hal ini.
"Sebenarnya aku sudah lama ingin membicarakan tentang hal ini dengan Ustadz, karena aku sendiri pun masih belum mengetahui statusku yang sekarang, apakah sudah diceraikan atau belu..."
"Mas tidak akan menceraikanmu Arwaa!" Tegas Aldair menatap tajam Arwaa yang hanya dibalas oleh helaan nafas lelah.
Bagaimanapun juga keadaan Arwaa saat ini belum benar-benar pulih, terlihat jelas dari wajahnya yang begitu pucat.
"Sebelumnya maaf, tadi kamu bilang tidak pernah menyentuh istrimu selama hampir 2 tahun pernikahan kalian. Benar begitu Aldair?"
Aldair mengangguk meski tak nyaman atas pertanyaan yang diajukan Ustadz Zahid.
"Apakah alasan kamu melakukan itu karena istrimu membangkang dan tidak taat padamu?"
Aldair menatap Ustadz Zahid dengan tatapan risau. Haruskah dirinya memberitahu alasan tentang hal itu. Dia menoleh mencoba melihat reaksi sang istri yang ternyata hanya menunduk, menghindar dari menatapnya.
Ustadz Zahid menghembuskan nafasnya.
"Begini Aldair, seorang suami tidak boleh mendiamkan istrinya di atas ranjang selama beberapa waktu, kecuali sang istri melakukan nusyuz atau membangkang, tidak taat kepada suaminya, tidak menunaikan hak suaminya, maka dibolehkan bagi sang suami mendiamkan istrinya sampai dia bertaubat,"
__ADS_1
"Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur'an surat An-Nisa ayat 34. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar."
Aldair menunduk mendengar Ustadz Zahid membacakan sepenggal surat yang berarti perempuan dalam Al-Qur'an itu.
"Jika tanpa adanya nusyuz maka tidak dihalalkan bagi sang suami untuk mendiamkannya karena diwajibkan seorang suami menjaga kehormatan istrinya, dan mensetubuhi istrinya sesuai dengan kebutuhannya dan kemampuan suami tersebut,"
"Adapun jika seorang suami mendiamkan istrinya di atas tempat tidur lebih dari empat bulan, sengaja menelantarkannya, tanpa ada keteledoran istrinya untuk menunaikan hak-hak suami, maka suami tersebut berada di bawah hukum pengadilan, meskipun tidak bersumpah, disetarakan dengan hukum ilaaβ atau bersumpah tidak mau mensetubuhi istrinya. Kalau selama empat bulan suami tersebut belum juga kembali kepada istrinya dan menggaulinya, padahal dia mampu melakukannya, tidak pada masa haid dan nifasnya, maka dia disuruh untuk menceraikannya, namun jika dia menolak untuk kembali kepada istrinya dan tidak mau menceraikannya, maka hakim yang menceraikannya atau membatalkan pernikahannya, jika pihak wanita memintanya demikian," jelas Ustadz Zahid membuat Aldair sontak mendongak.
Tubuh Aldair menegang mendengar penjelasan Ustadz Zahid. Bukankah itu berarti mereka bisa bercerai jika Arwaa memang memintanya karena bagaimanapun juga dirinya telah mengabaikan segala nafkah lahir dan batin terhadap istrinya itu selama pernikahan mereka.
"Bagaimana Arwaa, apa kamu melakukan sesuatu yang tidak diridhai suamimu sehingga membuat suamimu mendiamkanmu?"
Arwaa menggeleng, perlahan dia menoleh pada suaminya dengan air mata yang menggenang.
"Suamiku... Apakah istrimu ini melakukan sesuatu yang tidak kau ridhai?" Lirih Arwaa mencoba menahan air matanya agar tak menetes.
Bagaimanapun dirinya tetaplah seorang wanita yang terluka ketika disakiti, merasa tak berguna ketika tak dihiraukan.
Aldair menatap nanar mata istrinya yang siap menumpahkan air mata itu. Dia tiba-tiba berdiri dan berlutut didepan kaki istrinya.
"Astaghfirullah maaas!!!"
Arwaa yang mendapati Aldair melakukan itu pun sontak beranjak dari duduknya dan ikut berlutut mensejajarkan diri dengan sang suami.
"Mas jangan seperti ini, aku mohon!"
Aldair menggeleng cepat dengan air mata yang juga ikut menetes.
"Tidak Arwaa, tidak. Memang sudah sejak dulu seharusnya mas melakukan ini padamu. Mas tidak tahu lagi apa yang bisa mas perbuat untuk mendapat maafmu atas semua kesalahan yang sudah mas lakukan. Mas buta, benar-benar dibutakan oleh nafsu dunia hingga tidak bisa melihat sosok bidadari yang Allah berikan untuk mas selama ini."
Air mata Arwaa sudah tak tertahan lagi. Sekecewa apapun dirinya terhadap Aldair, tetap dia tak mau jika suaminya itu sampai berlutut hanya untuk mendapat maafnya.
Aldair menundukkan kepala tak ingin Arwaa melihatnya menangis seperti ini dengan tangan yang erat memegang tangan istrinya.
Arwaa dapat merasakan air mata Aldair yang menetes ditangannya membuat hatinya terenyuh, betapa suaminya ini telah menyesali perbuatannya.
"Mas..." Panggil Arwaa lembut dengan tangan yang juga membalas pegangan sang suami membuat Aldair mengangkat kepalanya.
"Duduk dulu ya. Aku tidak bisa jika seperti ini."
Aldair menggeleng dan mengeratkan genggaman tangannya. Dia begitu takut jika genggamannya terlepas maka istrinya pun akan pergi lagi.
"Aku mohon!" Pinta Arwaa memberikan senyum lembut yang sangat dirindukan Aldair.
Perlahan Aldair bangkit dan mendudukkan dirinya kembali masih dengan memegang tangan Arwaa.
Ustadz Zahid tersenyum melihat pemandangan pasangan suami-istri dihadapannya itu.
"Arwaa kamu memaafkan suamimu?" Tanya Ustadz Zahid.
Sebenarnya dia sedikit kecewa ketika tahu jika perempuan yang diharapkan untuk menjadi menantunya ini ternyata sudah menikah.
"InshaAllah Ustadz."
Aldair menoleh cepat dan memandang tak percaya pada Arwaa yang tersenyum kearahnya.
Jika boleh jujur, ada sedikit keraguan dalam hati kecil Arwaa namun dirinya mencoba berbesar hati memaafkan sang suami. Terlebih dia ingat wasiat Abu Al-Darda kepada istrinya, Raudah Al-Uqala.
'Jika aku sedang marah, maka ridhalah engkau kepadaku. Begitupula ketika engkau marah, maka aku akan berusaha ridha kepadamu. Kalau kita tidak seperti ini, maka niscaya akan begitu cepat kita berpisah (bercerai).'
__ADS_1
πππ
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih β₯οΈ