
"Apa maksudmu tidak bisa melacak keberadaan istriku, Ryan?"
Aldair menatap kesal kearah pria berambut gondrong yang sedang menikmati mie instan di depannya.
"Seperti yang ku beritahu, keberadaan istrimu sangat sulit dilacak, seakan memang keberadaannya sengaja disembunyikan oleh seseorang."
Ryan hanya memutar bola matanya malas melihat Aldair mendengus.
"Apa kau mencurigai seseorang yang kemungkinan melakukan hal ini?"
Aldair terdiam sejenak sebelum matanya membulat dan menggebrak meja membuat Ryan hampir tersedak.
"Kau...!"
"ATTALARIC!!"
Sekarang Ryan juga membulatkan matanya mendengar nama yang tentunya cukup terkenal dikalangan orang-orang IT.
"Wah, aku sampai lupa tentang kakakmu Al. Jika menghilangnya istrimu itu ada hubungan dengan Attalaric, kemungkinan besar dia yang membuat semuanya sulit untuk melacak keberadaan istrimu," ucap Ryan sedikit terkejut dan juga terkagum-kagum dengan kemungkinan itu.
Bagaimana pun juga Attalaric dan perusahaan start-up yang ia bangun bersama para sahabatnya cukup berpengaruh dalam perkembangan teknologi di negara berflower tersebut. Jadi tak heran jika memang benar dialah yang membuat dirinya sulit melacak keberadaan istri temannya itu.
"F*ck!"
Aldair menyenderkan punggungnya pada sofa dan mengacak rambutnya geram.
"Hei Al jika boleh jujur aku sedikit penasaran dengan wanita yang kau bilang istrimu itu. Maksudku, bukankah Fani, wanita yang selalu kau bawa kemana-mana. Seingatku juga kau pernah bilang jika Fani adalah calon istrimu. Jadi sebenarnya siapa wanita bernama Arwaa ini?"
Aldair memandang temannya tak suka karena pertanyaan itu. Dia menghela nafas sebelum mengusap wajahnya, lelah.
"Dia istriku, kami sudah menikah 2 tahun lalu. Namun karena satu dan lain hal, dia pergi," wajah Aldair berubah sendu mengingat ketika dirinya menyakiti Arwaa.
"Satu dan lain hal itu Fani, maksudmu."
Aldair memejamkan mata, malas meladeni temannya yang cerewet seperti perempuan itu.
"Ah, sepertinya aku mengerti apa yang terjadi diantara kalian. Jadi kau sudah menikah dengan istrimu, tapi kau masih berhubungan dengan Fani dibelakangnya, dan ketika istrimu mengetahuinya, dia memilih pergi meninggalkan rumah?"
"Kurang lebih seperti itu," ujar Aldair lemas.
"Wah, kau memang benar-benar kurang ajar."
Ryan bertepuk tangan sambil menggelengkan kepalanya, mengejek Aldair yang hanya membalas delikan tajam pada pria berambut gondrong itu.
"Jadi kau tidak bisa menemukan keberadaan istriku yan?" Tanya Aldair lagi memastikan.
"Hooh. Aku angkat tangan jika harus berurusan dengan kakakmu, bukan karena takut atau apa, tapi skill kami memang benar-benar jauh," Ryan kembali memakan mie instannya yang hanya tersisa setengah.
Aldair tiba-tiba teringat sesuatu dan menggebrak meja lagi, kembali membuat temannya itu tersedak.
"ALDAIR KAU GI..."
"Jhonny... Ya, Jhonny!"
Ryan mengurungkan niatnya untuk memaki Aldair ketika melihat pria itu menatap tajam kearahnya dan menyeringai seperti memenangkan lotre.
"Coba kau cari keberadaan pria bernama Jhonny itu yan. Jhonny Lau Dodger namanya," jelas Aldair bersemangat.
"Memangnya sia..."
'Drrt... Drrt...'
Ryan mendengus, lagi-lagi ucapannya terpotong.
"Hallo, Assalamu'alaikum."
"..."
"APA?"
"..."
__ADS_1
Rahang Aldair menegang mendengar ucapan seseorang di sebrang sana.
"Iya, saya akan segera kesana!"
'Pip'
Tangan Aldair mengepal erat. "Kau coba lacak keberadaan pria bernama Jhonny Lau Dodger itu, jika sudah dapat segera hubungi aku. Aku akan mentransfer bayaranmu ketika kau sudah menemukan orang itu," jelas Aldair dingin yang hanya diangguki oleh Ryan karena dirinya menciut melihat aura kemarahan tergambar jelas di wajah tampan Aldair.
***
Aldair berlari sembarangan, beberapa kali juga menabrak orang. "Bu Ina...!" Seru Aldair dengan nafas terengah.
"Kia kenapa Bu?" Tanya Aldair panik.
"Kamu tenanglah dulu. Kia sedang ditangani oleh dokter di dalam, kita tunggu penjelasan dari dokter."
Pak Beni yang tak lain adalah ayah Fani menepuk pundak Aldair, meminta pria itu untuk tenang. Bagaimanapun juga mereka sedang berada di depan ruang UGD RS Medika.
Aldair mengambil nafas banyak-banyak, menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi pada anaknya.
"Sudah berapa lama Kia di dalam?" Tanya Aldair ketika dirinya sudah mulai tenang.
"Kurang lebih sepuluh menit," jawab Pak Beni.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Aldair memandang kedua orangtua Fani meminta penjelasan.
Pak Beni menghela nafas. "Sudah 4 hari Kia tidak bab, sebelumnya hanya dengan dipijat pasti langsung membaik tapi tadi Kia malah terus menangis, perutnya pun terasa sangat keras, wajahnya juga sedikit membiru, jadi kami langsung membawanya kemari," jelas Pak Ahmad.
Bibir Aldair terkatup rapat, giginya bergemelutuk. "Fani dimana?"
Pak Beni dan Bu Ina saling memandang saat mendengar suara dingin Aldair yang membuat mereka menelan ludah.
Merasa tidak mendapat jawaban dari kedua orang baya itu, Aldair pun mengambil gawainya hendak menghubungi ibu dari anaknya.
"Assalamu'alaikum ma..."
"Dimana kamu?" Desis Aldair.
"Adik sedang di salon dengan Maya mas."
Aldair memijat keningnya mendengar jawaban wanita yang tak lain adalah ibu dari anaknya yang sekarang sedang berada di rumahsakit.
"PERGI KE RS MEDIKA SEKARANG JUGA. JIKA DALAM 5 MENIT KAU BELUM DATANG, KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!" Tekan Aldair.
Fani begitu panik mendengar nada suara Aldair yang seperti orang kesetanan. "Mas ada apa sebe..."
'Pip'
Aldair mematikan sambungan telepon secara sepihak. Dia bersender di kursi tunggu ruang UGD, kepalanya mendongak dengan mata terpejam.
Kekhawatiran, kekecewaan, kemarahan terpatri jelas di wajah letihnya.
Belum dia berhasil menemukan Arwaa, sekarang sudah diberi masalah perihal kesehatan sang anak, ditambah wanita yang sebulan lagi akan ia nikahi, benar-benar menguras emosinya.
"Pak, apa Fani tidak diberitahu tentang Kia?"
"Dia tidak menjawab teleponnya ketika dihubungi," ujar Pak Beni menghela nafas, dirinya juga kesal dengan sikap anak perempuannya.
"Ya Allah..." Lirih Aldair yang langsung merunduk dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Pak saya mengerti jika saya juga turut andil dalam membuat keadaan Kia seperti ini karena saya terlalu sibuk mengurus bisnis yang sedang saya bangun. Tapi saya harap bapak dan ibu dapat mengerti keputusan yang akan saya ambil setelah mendapat kabar tentang Kia."
Wajah Pak Beni dan Bu Ina memucat mendengar ucapan Aldair.
"Saya memang mencintai Fani, sangat mencintainya. Tapi jika sesuatu terjadi pada anak saya, saya tidak tahu apakah perasaan saya akan tetap sama pada putri bapak dan ibu. Karena saya yakin bapak dan ibu juga mengetahui alasan kenapa saya akan menikahi Fani, selain karena perasaan cinta saya, juga karena sosok malaikat kecil yang telah dilahirkannya," sambung Aldair menghembuskan nafas berat.
Begitu pula dengan kedua orangtua Fani yang terlihat pasrah dengan segala kemungkinan yang terjadi nantinya.
'Krek'
Aldair dan kedua orangtua Fani sontak berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
"Dok bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Aldair tak sabar.
Sang dokter memandang keluarga pasien dengan tatapan sedih sarat akan keputusasaan. Melihat itu Aldair tahu, bahwa dirinya sudah yakin akan keputusan yang akan dia ambil.
"Maafkan saya. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin namun infeksi usus yang diderita pasien memang sudah sangat parah. Pasien Alkia sudah meninggal dunia."
Bu Ina menangis histeris mendapat kabar itu, begitu pula Pak Beni yang berusaha menahan tangisnya dan menenangkan sang istri, bagaimanapun juga mereka berdua lah yang mengurus Alkia sejak dia dilahirkan.
"Sebelumnya saya minta maaf, saya hanya ingin memastikan sesuatu, apakah pasien diberi ASI eksklusif oleh ibunya?"
Aldair menggeleng sebagai jawaban dan sang dokter yang mengangguk mengerti.
"Jadi pasien diberi sufor ya? Kalau begitu benar perkiraan saya jika infeksi usus yang diderita pasien disebabkan oleh kolik karena tidak diberi ASI dan pemberian sufor memang tidak cocok untuk beberapa anak karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan."
Ekspresi Aldair kian menegang dengan urat leher yang terlihat menonjol.
"Mas!"
Aldair sontak berbalik mendengar suara Fani, ditariknya kasar tangan sang kekasih, pergi menuju taman rumahsakit yang terlihat sepi karena hari memang sudah menjelang malam.
'Plak'
Fani memegang pipinya yang terasa perih karena tamparan Aldair.
Dia mendongak dan menatap tak percaya pada pria dihadapannya.
"Mas... apa maksudnya ini? Kenapa mas menampar adik?" Tanya Fani dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa katamu? KENAPA?! GARA-GARA KAU PUTRIKU PERGI UNTUK SELAMANYA!!" Bentak Aldair.
"Apa maksudmu mas? Kia...?"
"YA! ALKIA SUDAH MENINGGAL DUNIA DAN ITU SEMUA SALAHMU SIALAN!"
Fani tersentak mendengar makian Aldair, tangannya mengepal menahan marah.
"Salahku kau bilang? Kau tau apa tentang anakmu itu, kau bahkan jarang datang ke rumah untuk sekedar melihat keadaan anakmu. Kenapa menyalahkan aku!" Tantang Fani menatap Aldair tajam.
"Alkia meninggal karena dia tidak mendapatkan ASI brengs*k. Kau lebih memperdulikan penampilanmu dibanding anakmu sendiri. Dan asal kau tahu alasanku jarang mendatangi kalian..."
"Aku sedang berusaha menaikkan bisnis baru yang sedang kurintis dan itu semua untuk kalian berdua. Karena itulah aku meminta waktu hingga Kia berusia 3 bulan untuk menikahimu karena aku percaya kau bisa menjaga anak kita dengan baik. Bukannya malah seperti ini!!" Berang Aldair.
"Halaaah alasan! Kau pikir aku tidak tahu jika kau disibukkan dengan pencarian wanita binal yang tak lain adalah ist..."
'Plak'
Sekali lagi Aldair menampar Fani, kali ini karena dia tak terima istrinya dimaki seperti itu.
"Jaga mulutmu! Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Dan tentang diriku yang mencari keberadaannya, itu hal yang wajar ku lakukan karena dia masih istriku, tanggungjawabku, jadi sudah seharusnya aku mencari dirinya."
"Istri katamu...? Lalu bagaimana dengan ku dan anakmu, kami juga tanggungjawabmu!" Pekik Fani.
Aldair mendengus. "Ya, kau benar. Tapi hal itu berlaku jika kita telah menikah, maka kau adalah tanggungjawabku. Dan meski anak yang kau kandung adalah anak di luar nikah yang tidak wajib bagiku bertanggungjawab atasnya, sejak awal aku sudah bertekad untuk menyayangi dan mengurusnya tanpa mempermasalahkan status anak itu. Tapi lihatlah apa yang terjadi, kau bahkan sebagai ibunya sama sekali tidak memperdulikan dia, kau justru memberikan Kia untuk diurus oleh orangtuamu,"
"Dan sekarang, anak kita, putri kita, buah hati kita, meninggal dunia karena keteledoran mu, dan kelalaianmu yang tidak memberikan ASI padanya hanya karena alasan khawatir bentuk tubuhmu berubah."
Aldair mengusap wajahnya. Dia sudah lelah atas semua yang terjadi saat ini. Kehilangan istrinya, kehilangan keluarganya, dan sekarang dirinya harus kehilangan putrinya juga.
"Ku rasa aku sudah yakin dengan keputusanku sekarang untuk tidak melanjutkan rencana pernikahan kita," lirih Aldair.
"Jangan gila! Kau sudah berjanji padaku!" Jerit Fani.
"Aku berjanji padamu karena memang ada alasan kenapa aku ingin bertanggungjawab pada saat itu, walau sebenarnya tidak perlu. Alasannya adalah rasa cintaku dan juga anak yang telah kau lahirkan, tapi dengan meninggalnya Alkia, dengan itu juga rasa cintaku padamu telah hilang, dibawa pergi oleh putriku, untuk menemani dirinya di surga sana," Aldair menyugar rambutnya, entah kenapa dia merasakan kelegaan setelah mengatakan itu.
Fani menahan baju Aldair yang hendak pergi. "Tidak mas, jangan. Adik mohon, maafkan adik," lirihnya dengan air mata yang mulai menetes.
"Maaf, semuanya sudah berakhir di antara kita. Sudah cukup aku kehilangan istri dan keluargaku demi dirimu, tapi untuk yang satu ini, aku benar-benar tidak bisa memaafkanmu."
Aldair melepaskan pegangan tangan Fani dari bajunya dan melangkah pergi, tanpa memperdulikan Isak tangis dari wanita yang pernah sangat dia cintai.
🍂🍂🍂
__ADS_1
Jangan lupa untuk support aku dengan like, comment, dan vote cerita ini ya. Terimakasih ♥️